Bekal untuk Tuan muda

1044 Kata
Alya buru-buru keluar dari ruangan dan berlari ke koridor yang tampak panjang. Beberapa kali ia bertanya pada setiap orang yang ia temui, namun tak satu pun yang memberi arahan yang jelas. Bahkan, beberapa orang hanya menunjuk tanpa bersuara, seakan-akan mereka takut untuk berbicara dengan pegawai baru seperti dirinya. Tiba-tiba, saat Alya berbelok dengan tergesa-gesa, ia hampir menabrak seorang remaja lelaki yang tiba-tiba muncul di depan matanya. Lelaki itu mengenakan seragam sekolah, dengan jas hitam yang pas di tubuhnya, dasi merah terikat rapi, dan celana panjang hitam yang sepertinya baru disetrika. Sepatu hitam mengkilap menambah kesan rapi pada penampilannya. Wajahnya cukup tampan, dengan kulit cerah dan rambut hitam yang pendek, sedikit berantakan namun tetap terlihat teratur. Matanya yang tajam memancarkan kesan percaya diri, dan senyum lebar di bibirnya membuatnya tampak lebih ramah. Alya dengan cepat mengerem dan mundur sedikit, hampir saja terjatuh karena terkejut. "Maafkan saya," ucap Alya panik, menunduk dengan cepat untuk meminta maaf. Pria itu tersenyum santai, sedikit tertawa kecil. "Tidak apa-apa," katanya, "Kamu hampir menabrakku, tapi untung saja aku sempat mundur." Alya meliriknya sekilas, masih agak canggung. "Sekali lagi, saya minta maaf," ujarnya. Pria itu mengangguk dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. "Kamu kelihatannya buru-buru. Ada yang bisa aku bantu?" Alya mengangguk, sedikit ragu. "Ah, iya, saya mencari dapur." "Ah, dapur? ikuti aku," jawabnya dengan nada yang ramah, sambil melangkah mendahului. "Dapur ada di sana," katanya sambil menunjukkan arah. Alya mengikutinya, masih agak bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. "Terima kasih," ucapnya, mencoba menenangkan dirinya. "Namaku Jiho," pria itu menoleh, memperkenalkan diri dengan senyum lebar. "Kamu?" "Alya," jawabnya singkat, sambil mengangguk. "Alya," Jiho tersenyum. Akhirnya mereka berdua pun sampai, begitu pintu dapur terbuka, Alya merasa sedikit cemas. Dapur yang luas dengan perlengkapan modern memandanginya tanpa ampun. Dindingnya penuh dengan rak, lemari, dan berbagai peralatan masak, sementara meja dapur yang besar tampak sepi. “Oh... ini... besar sekali” gumamnya pelan. Seorang wanita setengah baya, yang mengenakan pakaian pelayan, menyapanya dari belakang. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu dengan senyum ramah. Alya mengangkat berkas yang ia bawa. "Saya... diminta untuk membuat bekal untuk Tuan Muda, tapi saya... saya tidak tahu harus mulai dari mana." Wanita itu melirik ke arah berkas yang dipegang Alya, lalu tersenyum tipis. "Bekal Tuan Muda, ya?" tanyanya dengan nada yang agak datar, sebelum berbalik dan berjalan ke arah lemari di sisi dapur. Alya mengangguk, berharap wanita itu akan menawarkan bantuan. Namun, wanita itu hanya membuka lemari dan mulai mencari sesuatu dengan sangat hati-hati, seolah-olah tidak mendengarkan Alya sama sekali. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung. Alya mencoba bertanya lagi, "Bolehkah saya meminta sedikit bantuan untuk menyiapkan bekal? Saya masih baru di sini." Wanita itu berhenti sejenak, menatap Alya sekilas dari sudut matanya, lalu melanjutkan mencari barang di dalam lemari dengan gerakan yang tenang. "Maaf, saya hanya bisa memberi petunjuk," jawabnya pelan, seolah menyampaikan bahwa ia tidak berhak memberi bantuan lebih jauh. Alya merasakan ketegangan di udara, dan tanpa ada pilihan lain, ia hanya bisa mengangguk pasrah, sambil melanjutkan pekerjaannya sendiri. Tiba-tiba, remaja laki-laki yang tadi menunjukkan jalan ke dapur itu muncul kembali. "Tuan Jaewon biasanya lebih suka bekal yang cepat dan sederhana. Nasi, sayuran, sedikit daging ayam, dan sesuatu yang segar," jelasnya sambil melihat berkas yang Alya pegang. “Dan pastikan rasa sedikit asin, tidak terlalu manis.” Alya memandang Jiho dengan ragu. “Makasih, tapi... aku tidak tahu harus mulai dari mana.” Jiho tersenyum lagi. “Biarkan aku bantu. Kamu hanya perlu mengikuti instruksi ini,” ujarnya dengan ringan, lalu bergerak ke berbagai rak, mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Alya hanya bisa mengikutinya, sementara hatinya masih penuh kebingungan. Namun, dengan bantuan Jiho, bekal untuk Jaewon mulai terbentuk. Setiap gerakan pria itu tampak terampil dan sangat yakin, memberikan panduan yang tepat di setiap langkahnya. Alya hanya bisa mengikuti tanpa banyak bertanya, meski dalam hati ia merasa gugup. Setelah beberapa menit yang penuh ketegangan, bekal pun selesai. Alya memandang hasil akhirnya, berharap Tuan Muda akan puas. "Terima kasih banyak Jiho," katanya, meski rasa terima kasihnya terhalang oleh rasa bingung dan cemas. "Jangan khawatir," jawabnya sambil tersenyum lebih lebar. "Ayo, kamu harus buru-buru." Alya berlari keluar dari dapur, bekal di tangan. Ia merasakan degup jantungnya semakin cepat saat ia mendekati ruang tengah. Kang Jaewon sudah berdiri di sana, memandangi jam tangannya dengan ekspresi yang tak bisa ditebak. “kamu terlambat lima detik.” katanya, suara rendah dan tajam. Alya hampir saja mengumpat, namun ia menahan diri. "Maaf, Tuan Muda," ujarnya pelan, merasa kesal dengan dirinya sendiri. Ia ingin sekali berhenti, tapi menyadari itu bukanlah pilihan yang bisa ia ambil. Tanpa berkata lagi, ia mengikuti Jaewon yang sudah bergerak menuju mobil. Ia berniat duduk di belakang, merasa itu tempat yang tepat untuk pegawai baru sepertinya. Namun, Jaewon menoleh ke belakang dengan tatapan sinis. “Alya,” ujarnya, nadanya datar namun keras. “Kamu tidak duduk di belakang saat tuanmu duduk di depan. Ini bukan tempatmu.” Alya terkejut, kebingungannya makin menjadi. “Lalu saya duduk di mana?” Dengan santai, Jaewon menjawab, “Naik mobil yang lain. Itu sudah disiapkan untukmu.” Alya menatap mobil besar dan elegan yang terparkir di sebelahnya. Mobil itu tampak seperti mobil yang biasa dikendarai oleh Jaewon, dengan sopir yang duduk di dalamnya, siap menunggu. Di belakang mobil itu, ada satu mobil lagi yang juga terparkir, mobil yang sepertinya disiapkan khusus untuknya. Mobil itu terlihat lebih sederhana dan berbeda dari yang Jaewon kendarai, namun tetap terlihat rapi dan nyaman. Dua orang baru saja keluar dari rumah, seorang pria dan wanita, keduanya mengenakan seragam sekolah, jas hitam dengan dasi merah dan celana panjang hitam yang rapi. Pria itu, yang ternyata Jiho, tersenyum lebar dan menganggukkan kepala ke arah Alya sebelum dia melangkah lebih jauh. Alya terdiam sejenak, matanya menyipit saat melihat wanita di samping Jiho. Tiba-tiba, dia ingat ucapan Arka kemarin tentang keluarga Kang yang memiliki dua anak kembar, anak bungsu. Seorang pria dan wanita. Tanpa sadar, dia menyimpulkan bahwa Jiho pasti adalah adik laki-laki Jaewon. Jiho tersenyum lebar dan memberi jempol pada Alya sambil mengangkat tangannya dengan riang. Jaewon memandang adiknya sejenak, kemudian kembali menatap Alya. “Jangan sampai terlambat lagi,” perintahnya, Alya hanya mengangguk, dengan perasaan campur aduk. Dia masih memegang bekal yang baru saja selesai dibuatnya, dan merasa seperti hari ini baru saja dimulai, namun sudah penuh dengan kejutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN