Alya duduk diam di dalam ruangan luas yang hanya diterangi oleh sinar matahari dari jendela besar di belakang meja kerja. Interiornya didominasi warna hitam, putih, dan abu-abu, dengan rak-rak penuh buku serta beberapa lukisan abstrak di dinding. Tidak ada yang berantakan di sini, semuanya tertata dengan sangat rapi.
Ia melirik jam di dinding. Sudah hampir sepuluh menit ia menunggu di sini sendirian. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu harus berharap seperti apa saat bertemu dengan atasannya untuk pertama kali.
Tiba-tiba, suara klik terdengar dari gagang pintu.
Alya menoleh.
Perlahan, pintu terbuka.
Seorang pria melangkah masuk dengan tenang.
Jas hitamnya membingkai tubuh tegapnya dengan sempurna, dasinya terikat rapi, dan kemeja putihnya bersih tanpa lipatan. Rambut hitamnya tersisir dengan gaya yang tampak santai tapi tetap elegan. Wajahnya tajam dan berkarisma, rahang tegas, hidung lurus, serta sepasang mata yang dalam dan tajam, seperti seseorang yang bisa membaca isi kepala orang lain hanya dengan satu tatapan. Ada aura dingin dan berwibawa mengelilinginya, seolah dunia ini bergerak sesuai keinginannya.
Ia menutup pintu di belakangnya tanpa terburu-buru, langkahnya tetap stabil saat menuju kursi di balik meja kerja. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursinya dan duduk dengan tenang.
Alya bahkan belum sempat berkedip.
Kang Jaewon membuka berkas di tangannya, matanya menyusuri tulisan di atas kertas dengan ekspresi datar.
"Alya Wijayakusuma," gumamnya, suaranya rendah tapi terdengar jelas di ruangan yang sunyi. "Lahir di Jakarta, 14 Mei tahun 2000. Tinggi 165 cm. Lulusan Administrasi Bisnis dari Universitas Indonesia, dengan IPK 3,75. Wisuda pada bulan September tiga tahun lalu."
Alya menelan ludah. Tidak menyangka kalau biodatanya akan dibacakan seperti ini.
"Riwayat pekerjaan..." Kang Jaewon melanjutkan, matanya masih terpaku pada berkas. "Mantan karyawan PT Mandala Jaya di Jakarta. Dipecat karena kasus korupsi uang perusahaan."
Alya sontak mengangkat wajahnya, kaget. "Itu tidak benar, saya difitnah!"
Kang Jaewon mengangkat alis tipisnya. "Begitu?" Nada suaranya datar, seolah tidak terlalu peduli apakah Alya bersalah atau tidak.
Alya mengepalkan tangannya di atas pahanya, berusaha menahan rasa kesal yang muncul seketika. Ia ingin menjelaskan lebih lanjut, tapi melihat ekspresi pria di depannya, ia sadar kalau itu tidak ada gunanya.
"Berhijab, tidak bisa makan daging babi, tidak minum alkohol," lanjut Jaewon dengan nada netral, seperti sedang membaca daftar belanja. "Pintar mengatur jadwal, cukup cekatan dalam pekerjaan administratif, tapi tidak memiliki pengalaman dalam fine dining dan etiket kelas atas."
Alya menggigit bibirnya. Dari cara Jaewon membaca data itu, seolah-olah dirinya hanyalah daftar informasi yang bisa dianalisis tanpa emosi.
Setelah beberapa detik, Jaewon menutup map itu dengan satu tangan dan akhirnya menatap Alya langsung.
"Mulai sekarang, kamu bekerja untukku," katanya tanpa basa-basi. "Dan karena aku tidak suka penyebutan yang aneh-aneh, cukup panggil aku ‘Tuan Muda’ saat bekerja."
Alya mengangguk refleks. "Baik, Tuan Muda."
Kang Jaewon mengambil map lain yang lebih tebal, berbeda dari berkas sebelumnya. Ia membuka beberapa halaman dengan hati-hati, kemudian menggesernya ke arah Alya.
"Baca halaman 27," perintahnya.
Alya segera membuka halaman yang dimaksud. Isinya daftar kebiasaan, jadwal rutin, serta hal-hal yang disukai dan tidak disukai oleh Kang Jaewon. Semuanya tersusun dengan rapi dan sangat detail.
Namun, belum sempat ia membaca setengah halaman, suara Jaewon kembali terdengar.
"Kita pergi ke kantor dalam lima belas menit," katanya, membuat Alya langsung menegakkan punggungnya.
"L-lima belas menit?"
"Ya," jawabnya datar. "Tapi sebelum itu, buatkan aku bekal."
Alya berkedip, memastikan ia tidak salah dengar. "Bekal?"
Jaewon mengangguk. "Buka halaman 32."
Alya buru-buru membalik halaman dan menemukan daftar menu makanan yang disesuaikan dengan preferensi Jaewon. Tidak boleh terlalu manis, tidak boleh terlalu asin, tidak boleh ada makanan berbau tajam, dan harus dibuat dalam waktu sesingkat mungkin.
Ia menelan ludah.
"Buatkan dalam sepuluh menit," ujar Jaewon sambil melihat jam tangannya. "Aku tidak suka menunggu."
Alya langsung berdiri dengan panik. "B-baik, Tuan Muda!"
Dengan langkah cepat, ia keluar dari ruangan, berusaha menemukan dapur secepat mungkin. Jantungnya masih berdebar kencang.
Baru pertama kali bertemu, dan pria itu sudah membuatnya kewalahan.
Dan ini baru awal.