Setelah semalaman beristirahat di apartemennya, pagi ini Alya akhirnya akan bertemu dengan keluarga yang menjadi tempatnya bekerja. Raka menjemputnya lebih awal, memastikan segalanya berjalan lancar.
Alya mengenakan dress berwarna krem yang anggun namun tetap sopan, dipadukan dengan jilbab berwarna senada. Penampilannya rapi dan profesional, tapi tetap terasa nyaman di tubuhnya. Begitu memasuki mobil Raka, ia mulai merasa gugup.
"Kira-kira, keputusan aku ini tepat gak ya?" tanyanya sambil menatap Raka yang sedang fokus menyetir.
Raka terkekeh. "Lho, baru sadar sekarang? Udah telanjur tanda tangan, Alya. Lagian, kamu gak bakal tahu kalau gak nyoba dulu."
Alya mendesah pelan. "Aku masih gak percaya bakal kerja buat keluarga sekaya itu..."
"Tunggu aja sampai lihat rumahnya," ujar Raka penuh arti.
Dan benar saja, begitu mobil mereka memasuki kompleks rumah keluarga Kang, Alya langsung terpana.
Rumah itu lebih mirip mansion mewah daripada rumah biasa. Bangunannya megah dengan arsitektur modern, dipadukan dengan elemen tradisional Korea yang elegan. Pilar-pilar besar berdiri kokoh di bagian depan, sementara jendela-jendela besar memberikan kesan lapang. Halaman luas dengan taman yang tertata rapi menambah kemewahan tempat itu.
Namun, mobil Raka tidak berhenti di pintu depan, melainkan berbelok ke area samping yang sepertinya adalah akses khusus untuk para pekerja.
"Aku gak nyangka bakal segede ini..." gumam Alya, masih tak percaya.
Raka tersenyum tipis. "Nah, kita masuk dari sini. Ingat, yang kerja di sini banyak banget. Jadi, jangan kaget kalau nanti kamu ketemu banyak asisten lain."
Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah pintu masuk khusus staf. Seorang wanita paruh baya sudah menunggu mereka di sana.
"Han Soyeon" ujar Raka pelan kepada Alya. "Dia kepala pelayan di sini. kamu bisa memanggilnya dengan Gwanri-nim"
Soyeon berdiri tegap dengan ekspresi tegas, matanya menilai Alya dari kepala hingga ujung kaki. wanita itu berpakaian rapi dengan setelan hitam dan dasi abu-abu, memberi kesan anggun sekaligus berwibawa.
"Kamu asisten yang baru?" tanyanya tanpa basa-basi.
Alya mengangguk, mencoba tetap tenang. "Ya benar Gwanri-nim, saya Alya."
Soyeon mengangkat sebelah alisnya, lalu melirik ke arah Raka. "Dia muslim, kan?"
Raka mengangguk. "Iya , dia seorang muslimah. Pakaian menyesuaikan keyakinannya."
Soyeon hanya mengangguk tipis, "Ngomong-ngomong khusus untukmu, panggil aku Soyeon saja.”
Raka sedikit terkejut apalagi Alya, karena ini untuk pertama kalinya Soyeon meminta staf keluarga kang memanggilnya begitu.
“Aa.. baik Soyeon”
Tak banyak bereaksi. Tanpa bertanya lebih lanjut, ia langsung berkata, "Ikut aku."
Alya melirik Raka, seolah meminta kepastian, tapi Raka hanya memberikan anggukan ringan. "Aku ada tugas dari Nyonya Seo, jadi kita pisah di sini. Kamu ikut dia dulu, nanti kita ketemu lagi."
Alya menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat. Tanpa Raka di sampingnya, ia tiba-tiba merasa benar-benar sendirian di tempat asing ini.
Namun, ia tak punya pilihan selain mengikuti Soyeon.
***
Alya dibawa melewati koridor panjang menuju ruang ganti khusus para asisten rumah tangga keluarga Kang. Ruangan itu cukup luas dengan loker-loker berderet rapi di salah satu sisi. Sejumlah asisten lain sedang berganti pakaian di sana, beberapa dari mereka melirik Alya sekilas sebelum kembali fokus pada urusan masing-masing.
"Seragammu ada di sini," ujar Soyeon sambil menunjuk satu loker kosong yang sudah disiapkan.
Alya membuka loker tersebut dan melihat seragam yang tergantung di dalamnya. Blus putih berkerah tinggi dengan aksen abu-abu, dipadukan dengan rok panjang hitam. Seragamnya tampak lebih rapi dan formal dibanding seragam asisten rumah tangga biasa.
"Kamu mendapat posisi yang lebih istimewa dibanding yang lain," lanjut Soyeon, "Kamu akan menjadi asisten pribadi, bukan sekadar staf rumah tangga. Dan yang paling penting..." Ia menatap Alya tajam. "Kamu langsung diterima oleh Tuan Muda Jaewon sendiri. Itu sudah menunjukkan seberapa besar harapan yang diberikan padamu."
Alya menelan ludah. "Langsung diterima olehnya?"
Soyeon mengangguk. "Ya. Biasanya, proses seleksi untuk posisi ini panjang. Tapi entah kenapa, kali ini dia langsung menyetujuinya."
Alya tidak tahu apakah itu pertanda baik atau justru buruk.
"Dan sebelum kamu mulai bekerja," lanjut Soyeon, "ada satu tahap yang harus kamu lewati."
Alya mengernyit. "Tahap?"
Soyeon menyilangkan tangan di dadanya. "Tes."
Alya terkejut. "Tes? Saya kira Saya akan langsung mulai bekerja."
Soyeon tersenyum tipis, entah itu senyum mengejek atau sekadar formalitas. "Keluarga ini tidak menerima orang sembarangan. Semua asisten pribadi harus diuji terlebih dahulu untuk memastikan mereka mampu menangani tekanan kerja di sini."
Alya menatapnya dengan hati berdebar. "Dan... tesnya seperti apa?"
Soyeon tidak menjawab langsung. Ia hanya berkata, "Ganti bajumu dulu. Aku tunggu di luar."
***
Setelah berganti pakaian dengan seragam yang diberikan, Alya mengikuti Soyeon ke sebuah ruangan yang lebih kecil namun tampak eksklusif. Di dalamnya, ada meja besar dengan beberapa peralatan kerja di atasnya, buku agenda, beberapa dokumen, nampan dengan cangkir teh, dan alat tulis.
"Tes ini akan menguji kesigapan, kecermatan, dan ketahanan mentalmu," kata Soyeon. "Pertama, kamu harus mencatat jadwal sehari penuh berdasarkan informasi yang diberikan dalam catatan ini."
Alya menerima catatan yang dimaksud. Saat membukanya, ia terkejut karena isinya tidak terstruktur. Tulisan tangan di dalamnya seperti ditulis terburu-buru, tidak jelas dan berantakan.
"Aku harus merapikannya?" tanyanya.
Soyeon mengangguk. "Dan pastikan tidak ada kesalahan. Jika ada, bisa berakibat fatal pada jadwal Tuan Muda Jaewon."
Alya menarik napas panjang dan mulai bekerja. Ternyata, membaca tulisan itu lebih sulit dari yang ia duga, apalagi tulisan itu menggunakan hangul. Namun, ia mencoba sebisa mungkin untuk mencatatnya kembali dalam bentuk yang lebih teratur.
Setelah beberapa menit, Seokjin mengambil catatannya dan mengecek hasilnya. Ia tak menunjukkan ekspresi, tapi Alya merasa cemas menunggu komentarnya.
"Baik," katanya akhirnya. "Sekarang, kita lanjut ke tahap berikutnya."
"Masih ada lagi?" tanya Alya terkejut
Han Soyeon menautkan jemarinya di depan d**a, ekspresinya tetap dingin. “Kau pikir bekerja sebagai asisten pribadi putra sulung keluarga Kang adalah pekerjaan biasa?” Dia berjalan perlahan mengitari Alya. “Tugasmu bukan hanya melayani, tapi juga memahami pola kerja, etiket, dan cara menangani berbagai situasi tak terduga. Jika kau gagal dalam tes ini, maka kau tidak akan mulai bekerja.”
Alya menelan ludah. “Baiklah"
Han Soyeon tersenyum tipis, tapi senyum itu lebih membuat Alya merinding daripada merasa lega. “Kita akan lihat seberapa cepat kau bisa beradaptasi.”
Tanpa memberi Alya kesempatan untuk bertanya lebih jauh, Han Soyeon bertepuk tangan satu kali, dan dua staf lain muncul dengan nampan di tangan mereka. Di atasnya, ada secangkir teh, selembar kain linen putih, serta satu set peralatan makan berwarna perak yang tampak mahal.
Han Soyeon menatapnya. “Pertama, sajikan teh dengan cara yang benar.”
Alya mengedip beberapa kali. “Eh?”
Han Soyeon mengangkat satu alis. “Apa kau tidak mendengar? Sajikan teh untukku, sesuai standar etiket yang benar.”
Alya menatap nampan itu dengan sedikit panik. Apa ini ujian beneran? Kenapa tiba-tiba terasa seperti masuk ujian kelas tata krama kerajaan?
Tapi dia tak punya pilihan. Dengan hati-hati, dia mengambil cangkir dan teko, mencoba mengingat semua hal yang pernah dia lihat di drama atau acara formal. Tangan Alya sedikit gemetar saat dia menuangkan teh ke dalam cangkir tanpa menumpahkan sedikit pun.
Han Soyeon mengamati dengan mata elangnya. “Sudah lebih baik dari yang saya kira.”
Alya sedikit menghela napas lega—tapi kesantaiannya hanya berlangsung sebentar sebelum Han Soyeon menunjuk ke peralatan makan. “Sekarang, tata alat makan untuk makan malam formal.”
Alya ingin menangis. Oke, ini jelas lebih sulit dari yang dia duga.
Dia menarik napas dalam-dalam dan mulai menyusun garpu, pisau, dan sendok, berusaha mengingat aturan dasar yang pernah dia baca di internet. Beberapa staf lain diam-diam mengamati dengan ekspresi tertarik, sementara Han Soyeon tetap berdiri dengan tangan terlipat di depan d**a.
Begitu Alya selesai, Han Soyeon melirik hasil pekerjaannya, lalu akhirnya mengangguk kecil. “Tidak sempurna, tapi cukup baik untuk seseorang yang baru pertama kali mencoba.”
Alya hampir pingsan karena lega.
Han Soyeon akhirnya menatapnya dengan lebih serius. “Terakhir, aku ingin kau mengingat satu hal.”
Alya menegakkan punggungnya. “Apa itu?”
“Putra sulung keluarga Kang, Kang Jaewon, adalah orang yang sangat perfeksionis dan tidak menyukai kesalahan. Dia tidak butuh asisten yang hanya bisa menurut, tapi juga yang bisa berpikir cepat dan bertindak dengan baik di bawah tekanan.”
Han Soyeon menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba menilai apakah Alya benar-benar mampu menghadapi tantangan ini.
“Kau yakin masih ingin melanjutkan pekerjaan ini?” tanyanya, suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya.
Alya menatap Han Soyeon, lalu mengingat semua yang sudah ia lalui. Ia sudah jauh dari rumah, dari kehidupannya di Jakarta, dari semuanya. Tidak ada jalan kembali.
Dengan napas yang stabil, Alya mengangguk. “Ya, saya siap.”
Han Soyeon menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Bagus.”
Dan dengan itu, ujian Alya pun selesai. Tapi yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Setelah lima belas menit yang terasa seperti seumur hidup, Soyeon akhirnya menghentikan ujiannya.
Ia menatap Alya sejenak, lalu berkata dengan nada datar, "Hasilnya cukup baik untuk pemula. Kamu diterima."
Alya menghembuskan napas panjang. "Sungguh, Soyeon?"
Soyeon mengangguk. "Selamat. Mulai sekarang, kamu adalah asisten pribadi Tuan Muda Jaewon."
Alya belum sempat merasa lega sepenuhnya saat satu pertanyaan muncul di kepalanya.
Di mana bos barunya?
Dan seperti membaca pikirannya, Soyeon berkata, "Kamu akan bertemu Tuan Muda Jaewon segera."
Alya hanya bisa menelan ludah. Ia tidak tahu apakah harus senang... atau justru takut.