"Selamat malam, Om. Kalau Om Arga udah baca surat ini, itu artinya aku udah pergi. Maaf aku nggak pamitan secara langsung, bukan karna aku nggak tau diri, tapi aku takut buat Om marah lagi. Selain maaf yang aku sampaikan, aku juga mau menyampaikan ucapan terima kasih. Terima kasih sudah mau menerima aku tinggal walau hanya beberapa hari dan selama beberapa hari itu juga aku udah sering bikin Om Arga marah, Om pasti pusing menghadapi aku. Tapi, Om tenang aja. Gadis yang hanya menjadi beban di hidup Om ini udah pergi. Sekarang Om Arga bisa bahagia seperti saat belum bertemu denganku. Sekali lagi maaf dan terima kasih. Dariku, Elea si gadis manja yang merepotkan."
Arga meletakkan surat tersebut di atas meja, lalu Arga kembali duduk seraya berpikir, memikirkan keberadaan gadis manja yang merepotkan itu di mana sekarang. Bukankah dengan perginya Elea dari rumah wajib Arga syukuri? Wajib ia rayakan semeriah mungkin, karena selain kerepotan setiap saat, tidak akan ada lagi yang meminta pertanggungjawaban darinya, tidak ada yang merengek minta ini dan itu, tidak perlu mencari uang tambahan, tidur nyaman di kasur sendiri, dan masih banyak hal lagi. Namun, sepertinya raut wajah Arga menggambarkan suasana hati yang berbeda. Arga terlihat khawatir dan bingung akan mencarinya atau membiarkannya begitu saja?
Terus melamun, hingga akhirnya dering ponsel menyadarkan Arga dari lamunannya. Ia mengambil benda pipih itu dari dalam saku celana, melihat nama Beni pada layar ponselnya, lalu menggeser icone warna hijau, meletakkan ponsel tersebut ke dekat telinga. "Iya?"
"Di mana? Gue udah di perempatan jalan, nih."
"Gue di rumah," jawabnya lemas, bingung. Kalau mau mencari, akan mencari ke mana? Kalau Leo yang menculik, Arga pasti sudah tahu di mana tempatnya.
"Kok di rumah? Tadi lu bilang gue suruh nunggu di perempatan, gimana sih?" kesal Beni.
"Elea bukan diculik si Leo, dia pergi."
"Pergi gimana maksud lu?"
"Iya, dia pergi dari rumah."
"Lu udah periksa semua ruangan? Atau mungkin tuh anak lagi maen di tetangga."
"Udah gue cari, nggak ada. Elea ninggalin surat dan gue udah baca barusan."
"Ah gila. Kok bisa sih? Lu apain tuh anak nyampe kabur? Lu omelin?"
"Sembarangan aja lu. Tapi, pagi tadi emang gue sempet kesel sama dia."
"Nah, kan. Gue sih udah yakin."
"Ah elah. Gue cuma kesel, bukan berantem hebat atau ngomel-ngomelin dia, masa cuma kesel aja sampe pergi. Lucu."
"Susah ngomong sama orang yang nggak punya hati kayak lu. Cewek beda sama cowok, Bro. Jangan lu samain."
"Ah, taulah. Repot banget sih."
"Ya udah nggak usah debat, buruan sini jemput gue! Kita cari Elea."
Arga diam tidak menjawab, Beni kembali memanggil Arga, "Woy, Arga! Lu denger gue nggak sih?"
Arga segera menyadarkan diri dari lamunannya, lalu menjawab, "Nggak usah."
"Nggak usah gimana maksudku lu? Elea pergi, masa nggak lu cari?"
"Dia pergi atas kemauannya sendiri. Biarin aja nggak usah dicari. Bagus dia pergi, gue nggak usah repot-repot nyari duit buat nikahin dia."
"Kalau ada apa-apa sama tuh anak gimana?"
"Biarin aja. Salah sendiri dia malah pergi keliaran di luar."
"Ya nggak bisa gitu dong, Ga. Dia kan tanggung jawab lu sekarang. Dia calon istri lu, gimana sih?"
"Biarin ajalah, pusing gue jadinya." Untuk saat ini tidak menerima usulan apa lagi nasihat. Setelah bicara dengan Beni, Arga mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi sambil memijat dahi yang terasa pening.
"Sialan! Kenapa gue jadi gini? Harusnya gue merayakan kepergian Elea, bukan malah bengong kayak anak ilang," gumam Arga seraya merubah posisi duduknya menjadi tegak. Ia mengeluarkan rokok dari dalam saku celana, mengambil satu batang, lalu membakar ujung rokok tersebut menggunakan korek gas.
"Enak juga nggak ada tuh anak." Arga menghisap rokok, membuang asapnya jauh ke udara membentuk huruf O. "Selamat tinggal, Elea. Anak manja yang merepotkan. Bagus lu pergi, gue nggak bakal kesusahan lagi."
Menghabiskan satu batang rokok, Arga bangkit dari duduknya, berjalan menuju kamar mandi sambil membawa sabun, shampo hendak membersihkan diri. Sesuatu yang membuat Arga bertanya-tanya saat ia berada di dalam kamar mandi. Air yang tadinya kosong kini sudah terisi penuh, padahal baru saja Arga mengirim pesan kepada pemilik kontrakan untuk menghidupkan keran air. Bukan hanya air, sabun, shampo pun yang tadi dihabiskan oleh Elea, sekarang sudah kembali tersedia. Arga terkejut untuk yang kedua kalinya.
"Siapa yang ngasih? Nggak mungkin Elea yang beli, dia punya duit dari mana?" gumam Arga seraya membuka kaosnya, lalu membuka celana jeans yang penuh dengan noda oli. Dia menyimpan pakaian kotor tersebut di dalam ember yang sudah disediakan dan mulai membersihkan diri.
Tidak terlalu lama, setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi, akhinya Arga keluar memakai handuk sebatas pinggang. Saat berjalan menuju kamar, ia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu sambil memanggil namanya, "Arga!"
"Iya, Mpok! Sebentar!" Tidak mungkin keluar dalam keadaan d**a terbuka, Arga mengambil kaus berwarna putih dari dalam lemari terlebih dahulu, lalu memakainya sambil berjalan menuju pintu utama dan membuka pintu tersebut secara perlahan. "Ada apa, Mpok?"
"Nih nasi goreng buat lu." Wanita paruh baya itu menyerahkan keresek hitam berisi nasi goreng sebanyak satu bungkus.
Arga menerima keresek tersebut, lalu bertanya, "Ada acara apaan nih ngasih saya nasi goreng? Tumbenan."
"Laki gue pulang kerja beliin nasi goreng. Eh, si Mamat malah kagak mau. Makanya gue bawa ke sini. Masih utuh itu, belum gue buka acan."
"Iya, makasih ya, Mpok."
"Iya, jangan lupa bagi ponakan lu, jangan dimakan sendiri bae."
Kening Arga mengerut. "Ponakan?"
"Iya ponakan lu si Lea. Pan katanya dia pindah ke sini mau cari kerjaan."
"I–iya," jawab Arga terbata. "Tapi, Mpok kok bisa ketemu keponakan saya?"
"Tadi pagi jam sepuluh ponakan lu dateng ke rumah minta dinyalain aer, katanya habis."
"Dia tau rumah, Mpok?" tanya Arga penasaran. Pasalnya dia tidak pernah memberikan info atau arahan apa pun mengenai kontrakannya. Info pemilik kontrakan, bagaimana sistem buka tutup air, dan siap yang mengatur itu semua. Lalu, bagaimana Elea bisa pergi ke rumah pemilik kontrakan dan meminta dinyalakan air.
"Mpok kurang tau, Gak. Tau-tau dia ke rumah bilang kalau dia ponakan lu sama minta dinyalain aer, ya udah gue nyalain. Kenapa? Cewek itu bukan ponakan lu?"
Arga diam untuk sesaat, pemilik kontrakan itu kembali bertanya, "Jawab, Ga. Elea itu ponakan lu bukan?"
Arga menjawabnya dengan sedikit terbata, "I–iya, Mpok."
"Respon lu bikin gue kaget aja. Takutnya tuh cewek maling. Udah ah, gue mau pulang dulu, sono makan nasi gorengnya mumpung anget."
"Ntar dulu, Mpok!" cegah Arga.
"Kenapa?"
"Mpok ngasih duit nggak ke ponakan saya?" Arga mulai menyelidik dari mana uang yang Elea gunakan untuk membeli sabun juga shampo.
Pemilik kontrakan itu menggelengkan kepalanya. "Kagak, ada juga harusnya lu yang bayar kontrakan sama gue."
"Pan belum tanggalnya, Mpok."
Pemilik kontrakan itu tertawa. "Tau gue, tau. Becanda kali."
"Mpok bisa aja. Sekali lagi makasih ya, Mpok."
Pemilik kontrakan itu hanya mengangguk, lalu pergi. Sedangkan Arga masih berdiri di sana coba berpikir. Bisa-bisanya Elea melakukan itu padahal yang Arga tahu ia tidak bisa berbuat apa-apa selain banyak minta dan merengek, tetapi kenyataannya gadis berusia dua puluh tahun itu bisa melakukan hal yang tidak terduga. Ada rasa sedikit penyesalan sudah memarahi Elea tadi pagi, tetapi dengan cepat Arga menentang perasaannya sendiri.
"Nggak, pasti si Beni yang udah ngajarin tuh anak. Nggak mungkin Elea bisa ngelakuinnya sendiri," gerutu Arga sambil melangkah mundur, lalu menutup pintu. Dia berjalan ke arah kursi, menyimpan kantung kresek itu di atas meja, lalu mengeluarkan isinya. Tidak bisa dipungkiri jika saat membuka isi kantung keresek tersebut, hatinya bertanya-tanya sendiri. "Lea, apa lu udah makan?"
Jangankan menghabiskan satu bungkus nasi goreng, satu sendok pun nasi goreng itu tidak ada yang bisa Arga telan. Yang ada di dalam pikirannya saat ini hanya ada Elea yang sedang tidur di pinggir jalan, kedinginan, belum makan, dan sekitarnya dikelilingi para preman dan berandalan.
"b******k!" pekik Arga seraya melempar sendok ke lantai. Saking kencangnya sendok tersebut sampai terpental jauh ke dekat pintu utama. "Kurang ajar! Bisa-bisanya itu anak ganggu pikiran gue." Ia bangkit dari duduknya, lalu menyambar kunci mobil. Entah akan mencari Elea, atau sekedar ingin menengkan diri.