"Gue denger-denger, kemaren dapet job. Punya duit dong sekarang?" Leo bicara sambil tersenyum menyeringai.
"Tunggu di sini."
Arga mengambil jaket di atas kursi, mengeluarkan amplop berwarna putih, lalu kembali ke pintu, menyerahkan amplop tersebut kepada Leo. "Ambil! Gue udah nggak ada urusan lagi sama lu."
"Oke thanks." Leo menepuk-nepuk amplop tersebut di tangannya, lalu melirik ke belakang punggung Arga, tersenyum melihat ke arah Elea. "Gue udah bantuin lu. Boleh dong kapan-kapan gue mampir."
Arga yang tahu akan maksud Leo, tanpa menjawab, pintu ditutup secara kasar, lalu menguncinya dari dalam.
"Kenapa pintunya ditutup? Orangnya kan masih ada di depan," ucap Elea sedikit bingung dengan sikap mereka berdua.
Tanpa menjawab pertanyaan Elea, Arga mengintip dari jendela, melihat ke luar dan Leo sudah tidak ada.
"Yang tadi siapa, Om?" Kembali bertanya setelah pertanyaan pertama tidak mendapatkan jawaban.
Arga memutar tubuhnya hingga mereka berdiri saling berhadapan, lalu memegang bahunya seraya berkata, "Dengerin gue. Yang tadi itu namanya Leo. Kalau lu ketemu dia di jalan, lu harus lari. Dia satu-satunya orang yang harus lu hindari. Paham!"
Elea menganggukkan kepalanya tanpa berkata, lalu Arga melanjutkan bicaranya. "Dan, satu lagi. Kalau gue nggak ada di rumah, terus cowok tadi dateng lagi ke sini, jangan pernah lu bukain pintu, lu langsung telepon gue."
"Aku nggak punya handphone, Om."
"Oh, iya. Gue lupa. Ya udah, nanti gue beliin lu handphone. Tapi, yang biasa aja, ya. Duit gue tinggal dikit, udah gue setor semua sama si Leo."
"Banyak banget ya utangnya?" tanya Elea penasaran. Bisa-bisanya Arga kehabisan uang padahal saat Arga membayar sate, ia melihat uang kertas dengan pecahan seratus ribuan masih penuh di dalam dompet.
"Nggak perlu tau. Yang penting utang gue udah lunas, urusan gue sama si Leo juga udah kelar. Tapi, lu tetep harus hati-hati sama dia. Paham?"
"Iya, iya. Terus, soal baju aku gimana? Aku pengen mandi," pinta Elea kembali merengek.
"Tunggu di sini," titah Arga.
Sementara Elea menunggu, Arga pergi ke kamarnya. Tidak lama setelah itu, ia pun kembali sambil menenteng sesuatu di tangannya. "Nih pake!"
"Apa ini?"
"Baju."
"Baju siap?"
"Nggak usah banyak tanya, udah sana mandi!"
"Galak banget, sih." Elea berjalan menuju kamar mandi sambil menghentakkan kakinya, kesal.
Tidak ada bathtub, tidak ada shower. Yang tersedia di sana hanya ada satu gayung, bak mandi berukuran sedang yang mana isinya tinggal setengah. Lantainya yang licin membuat Elea harus selalu berhati-hati saat berjalan. Ia berdiri di dekat bak mandi, lalu mulai mengguyur badannya secara perlahan, Elea mandi dengan ketersedian yang apa adanya. Bahkan sabun batangan saja tinggal setengah dan hampir patah.
Apakah Elea bisa menyesuaikan itu? Tentu jawabannya adalah tidak. Dia menghabiskan waktu tiga puluh menit di dalam kamar mandi, setelah itu baru selesai. Bukan karena betah berada di dalam kamar mandi, melainkan karena kebingungan dengan keadaan yang sangat minim, bagaimana tubuhnya bisa bersi? Tidak ada lagi pilihan. Dia harus menyesuaikan diri jika ingin tinggal di sana, jika tidak, Arga akan kembali memarahinya.
"Lama banget." Arga menggerutu sambil berdiri. "Mandi apa semedi?"
"Biar bersih," jawan Elea singkat. Dia duduk di kursi, sedangkan Arga pergi ke kamar mandi.
Saat melihat keadaan bak mandi yang kosong, sabun mandi yang tinggal setengahnya sudah habis, bahkan shampo yang kemarin ia lihat masih banyak, juga ikutan habis.
"Tuh anak gimana cara mandinya, sih? Kenapa semua serba abis?" geram Arga sambil berkacak pinggang di depan bak mandi yang sudah tidak ada isinya. Jika mengikuti hawa nafsu, ingin sekali rasanya Arga berteriak memarahi Elea, atau mungkin mengusirnya, karena kehadiran Elea benar-benar menguras emosi Arga. Namun, hal itu tidak ia lakukan mengingat sekarang Elea adalah tanggung jawabnya.
"Cepet banget mandinya, Om?" tanya Elea saat melihat Arga berjalan dari arah dapur menuju kamar.
"Gue nggak mandi," jawabnya ketus.
Tidak berani bertanya kenapa, karena ia sudah tau jawabnya. Pasti karna semua yang ada di kamar mandi habis. Elea menyadari itu dan ia merasa bersalah. Tidak lama Arga keluar dari kamar, membawa tas ransel berwarna hitam, berjalan ke arah pintu.
"Om Arga mau ke mana?" Ia bangkit dari duduknya, berjalan mengikuti Arga dari belakang.
"Mau ke bengkel."
"Kok bawa ransel? Isinya alat-alat, ya?"
"Baju ganti."
"Kenapa bawa baju ganti?" tanya Elea semakin penasaran.
Tepat di samping mobil, setelah pintu dibuka, Arga melihat ke arahnya. "Gue mau numpang mandi di bengkel. Lu nggak mau tanya kenapa Gue sampai mandi di bengkel?"
"Maaf," lirih Elea sambil menunduk.
Arga menarik nafas dalam, lalu menghembuskan secara perlahan demi mengontrol emosi yang semakin memuncak. "Pusing gue sama lu. Lama-lama gue bisa stres tau nggak. Minggir!"
Elea melangkah mundur, lalu Arga masuk ke dalam mobil. Setelah mesin dihidupkan, mobil pun pergi meninggalkan rumah dengan kecepatan tinggi.
"Maafin aku, Om. Aku malah jadi beban buat kamu," gumam Elea di dalam hati, matanya terus melihat ke arah mana Arga pergi bersama mobilnya. Sebuah rencana tiba-tiba melintas di pikiran Elea.
***
Waktu berjalan, saat ini jam menunjukkan pukul sembilan malam. Seharusnya pukul empat pun Arga sudah pulang, tetapi karena hari ini bengkel ramai pelanggan, jam kerja pun bertambah lima jam. Lembur sampai jam sembilan, lumayan ada tambahan pendapatan.
"Gue pulang duluan," pamit Beni sambil mencuci tangan di keran depan. Sedangkan Arga sedang menutup rolling door bengkel.
"Oke."
Selesai menutup pintu, Arga merapikan peralatan di depan, lalu memasukkan alat tersebut ke dalam kotak berukuran cukup besar. Setelah memastikan semua dalam keadaan rapi dan aman, Arga pun menutup gerbang, menguncinya menggunakan gembok, lalu pulang menggunaan mobil mewah yang dengan sangat terpaksa pagi tadi ia bawa ke bengkel, karena kesal kepada Elea.
Sebetulnya jarak antara bengkel dengan kontrakan Arga tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki, tetapi karena hari ini pergi ke bengkel membawa mobilnya, ia pun harus memutar arah lewat jalan utama.
Begitu sampai di rumah, Arga cukup terkejut saat melihat lampu rumahnya dalam keadaan mati. Segera ia turun dari mobil, langsung menghidupkan lampu utama setelah berada di dalam rumah.
"Ke mana tuh bocah?" gumam Arga sambil membuka pintu kamar, menghidupkan lampunya, lalu berjalan menuju dapur juga menghidupkan lampu di sana dan kamar mandi. Setelah mencari ke semua tempat dan Elea tidak ada, Arga kembali ke ruang tengah duduk di kursi lalu menghubungi Beni.
"Ada apaan?" tanya Beni setelah sambungan telepon terhubung.
"Elea nggak ada, Ben."
"Ke mana?"
"Gue nggak tau."
"Lu curiga Elea dibawa Leo nggak sih? Tadi pagi Leo ke rumah lu, kan? Dia ketemu sama Elea?"
"Maksud lu Elea diculik sama si Leo?" tebak Arga mulai panik.
"Bisa jadi, kan?"
"b******k!" pekik Arga sambil berdiri. "Tunggu gue di perempatan, kita ketemu di sana!"
Setelahnya sambungan telepon terputus. Arga mengambil kunci mobilnya di atas meja, lalu melihat ada selembar kertas berada di bawah vas bunga. Arga mengambil kertas tersebut, pada tampilan depan terdapat ucapan, "Untuk orang baik, Om Arga." Arga segera membuka surat tersebut, lalu membacanya.