Tiga puluh menit menempuh perjalanan, akhinya Arga pun sampai di tempat tujuan. Dia melepaskan helmnya, lalu masuk ke dalam kafe dengan tergesa-gesa menuju ruang kerja Guntur. "Arga?" Guntur terkejut saat pintu ruangannya dibuka tiba-tiba. Dia meletakkan bolpoin di atas meja, lalu bertanya, "Ada apa, Ga?" "Elea ada?" tanya Arga dengan deru napas tersengal-sengal setelah berlari. "Mana gue tau. Gue dari tadi di sini. Lu mau ketemu dia? Biar gue suruh anak-anak yang manggilin." "Nggak usah, tunjukkin aja di mana Elea. Gue cuma pengen ngeliat." Guntur tersenyum meledek. "Ciee ... udah baikan nih kayaknya." "Malah ngeledekin gue. Udah buruan tunjukin di mana Elea!" titahnya sudah tidak sabar, karena saat ini pikiran buruk bersarang di kepalanya. Guntur bangkit dari duduknya, lalu mengaj

