Car Free Day

1325 Kata
"Bagaimana, ada kabar bagus?" tanya seorang pria berusia enam puluh tahun bernama Willy Aglear kepada anak buahnya yang baru saja kembali dari tugas, mencari keberadaan putri tercinta yang sudah beberapa hari ini belum juga diketahui keberadaannya. Dua pria di depan Willy menunduk ketakutan, pasalnya sampai detik ini mereka belum bisa memberikan kabar baik kepada tuannya. "Belum, Tuan." "Bodoh! Udah berapa lama ini? Kenapa masih belum ketemu juga?" Suara Willy memekik seisi ruangan. "Kami sudah mencarinya ke semua penjuru Jakarta, Tuan. Kami juga sudah mengerahkan semua anak buah untuk mencari di pinggiran sungai, rumah sakit, juga ...." Dengan cepat Willy memangkas kalimat yang diucapkan anak buahnya. "Apa kamu bilang? Rumah sakit? Sungai? Kalian pikir anak saya akan mati?" "Bukan begitu, Tuan. Kami ...." "Pergi!" Bentak Willy seraya menunjuk ke arah pintu. "Pergi dari hadapanku dan jangan pernah kembali!" "Kami dipecat, Tuan?" "Iya, aku tidak mau mempekerjakan orang bodoh seperti kalian!" "Tolong beri kami kesempatan! Tolong beri kami waktu lagi untuk bisa menemukan putri Anda!" Salah satu anak buahnya itu merengek sambil melipat kedua tangannya, memohon. "Tidak! Kalian hanya membuang-buang uangku saja." Setelah bicara kepada kedua orang yang ada di depannya, dia memanggil kedua asisten yang ada di dekat pintu. "Pengawal!" "Iya, Tuan?" "Bawa mereka pergi dari sini! Aku muak melihat wajah mereka." "Baik, Tuan." Dua orang itu menolak, tetapi kedua asisten Willy dengan caranya, berhasil membawa mereka keluar. Sang istri, Lena yang juga ada di sana, memberikan segelas teh kepada suaminya. "Tenanglah, Mas. Putri kita pasti ketemu." Willy menerima secangkir teh dari sang istri, lalu menyeruputnya perlahan. Air minum yang sudah dicampur sesuatu tanpa sepengetahuan Willy. *** Ini pertama kalinya Elea bisa menikmati car free day setelah sekian lama sejak ibunya meninggal, lalu sang ayah menikah lagi dengan seorang wanita cantik tetapi memiliki hati yang busuk. Sang ibu tiri yang sudah membuat hidup Elea seperti di neraka, apa lagi perjodohan dirinya dengan keponakan sang ibu tiri yang juga disetujui oleh sang ayah. Puncak permasalahan, hingga akhirnya Elea memutuskan untuk melarikan diri. "Aduh," keluh Elea saat kakinya terpeleset saat berjalan di atas trotoar. Dengan sigap Arga menahannya agar tidak jatuh dengan meraih pinggangnya. "Hati-hati, Elea," ucap Arga dengan lembut, wajah mereka menatap satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat, lalu Elea tersenyum dan senyum itu membuat jantung Arga dalam keadaan tidak baik-baik saja. Arga yang menyadari itu, langsung menurunkan tangannya dari pinggang Elea, mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bukan hanya Arga, Elea pun merasakan hal yang sama. Sambil malu-malu kucing dia menautkan rambut panjangnya ke belakang telinga, menundukkan pandangan sambil merasakan detak jantungnya yang saat ini sedang bertalu-talu tanpa mengeluarkan suara. "Ka–kamu mau ke mana lagi?" tanya Arga tergugup. "Mmm ... ke mana, ya?" Ia meletakkan telunjuknya di bawah dagu, seraya berpikir. Melihat ke sekeliling, lalu menunjuk ke arah jasa sewa sepeda. "Itu. Aku mau naik sepeda." "Boleh. Kita sewa yang dua jok, ya." "Jangan! yang single aja." "Kalau satu, kamu mau duduk di mana?" "Di depan," ucapnya dengan senyum sumringah. Arga tahu maksud gadis itu. Dia mengulum senyum penuh arti. "Baiklah." Arga berjalan ke samping kiri, berjalan ke arah pemilik sewa sepeda sambil meraih tangan Elea, menggandengnya dengan erat. Hal itu membuat Elea terkejut, dia menutup mulut dengan tangannya, menatap tidak percaya ke arah tangan yang sedang digandeng Arga. "Apa ini? Kenapa tiba-tiba kerumunan orang ini seperti taman bunga? Kenapa rasanya aku mau melompat saja? Aku nggak bisa kalau berpura-pura tenang, sedangkan hati mengajak aku untuk melompat kegirangan." Sudah tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata mengenai kondisi hatinya sekarang. Yang pasti dia sangat bahagia. "Berapa?" tanya Arga kepada pemilik sepeda. "Yang satu jok tiga puluh ribu," jawab pemilik sepeda itu sambil memegang sepeda berwarna hitam di sebelahnya. "Yang satu jok aja." "Yang dua jok aja, Bos. Mbaknya bisa ikut ngayuh." Dengan cepat Elea menyebar ucapan orang itu. "Nggak ah, mau yang satu aja biar romantis." Pemilik sepeda itu tertawa. "Iya, iya. Benar juga. Dah nih bawa." Bukan hanya orang itu, Elea juga Arga pun ikut tersenyum. Arga yang mengayuh sepeda, Elea duduk di besi depan yang sudah diberi jok khusus bonceng depan. Dia merentangkan kedua tangannya ke samping saat Arga mengayuh sepedanya dengan kecepatan maksimal, menyusuri jalan sampai ke bundaran Hotel Indonesia, mengelilinginya sampai beberapa kali, lalu Arga mengayuh sepedanya lebih jauh lagi. "Kamu suka?" tanya Arga tanpa berhenti mengayuh sepeda. Elea menganggukkan kepalanya. "Sangat suka." "Kita cuma punya waktu satu jam. Harus puas-puasin." "Kalau gitu balik lagi ke bundaran. Habisin waktu di sana, terus beli eskrim." "Boleh." Arga memutar haluan. Mengayuh dengan kencang, mengitari bundaran HI sampai beberapa kali. Elea yang begitu bahagia tidak berhenti tersenyum, ia mendongakkan kepalanya, melihat ke samping wajah Arga, spontan mencium pipi Arga membuat pria berusia empat puluh tahun itu gugup sampai kehilangan kendali dan hampir menabrak kerumunan manusia, lalu ia pun memilih berhenti. "Elea!" Suara Arga menggeram. "Kenapa?" Ia tersenyum sambil menutup mulut dengan tangannya. "Aku nggak boleh cium, ya?" Arga tidak menjawab, dia ikut tersenyum malu sambil mencubit pipi Elea dengan gemas. "Awas kamu, ya." "Kenapa nggak dijawab? Boleh nggak? Kalau nggak boleh, aku mau minta maaf udah lancang cium pipi kamu." Arga turun dari sepeda, sedangkan Elea masih duduk di atasnya. "Kenapa turun?" "Udah satu jam, tuh pemiliknya nungguin," tunjuk Arga ke arah pemilik sewa sepeda. "Ayo turun. Mau aku kembaliin." "Aku nggak mau turun," kekeh Elea sambil memegang stang sepeda. "Kalau nggak turun nanti nambah jam. Uang aku udah mau habis, tau. Cuma ada buat makan siang sama makan malem." "Bodo amat, pokonya aku nggak mau turun. Jawab dulu pertanyaan aku, aku boleh cium nggak?" "Elea, pertanyaan Kamu itu aneh. Aku nggak bisa jawab," imbuh Arga menjadi salah tingkah. "Cuma bilang boleh apa nggak, itu aja." "Elea!" Suara Arga kembali menggeram. "Ya udah kalau nggak boleh," ucap Elea seraya turun dari sepeda, sambil memanyunkan bibirnya. Saat Elea melangkah hendak menjauh, Arga menarik tangannya, lalu berkata. "Boleh, aku nggak marah." Dalam sekejap raut wajah Elea kembali berbinar, kembali mencium pipi Arga di sisi sebelah kirinya. Membuat pria pemilik tubuh tinggi kekar itu menjadi semakin salah tingkah. Ia memegang pipi yang Elea cium. "Udah sana balikin. Habis ini kita beli bahan sayur buat dimasak," kata Elea. Sementara Arga mengembalikan sepeda, Elea menunggu sambil duduk di atas trotoar jalan. Tidak lama Arga pun kembali, Elea mendongak. "Udah?" "Udah. Kita beli bahan sayur di warung belakang kontrakan aja, ya. Masak di rumah," ajak Arga seraya mengulurkan tangan. Elea meraih tangan itu, lalu berdiri. "Emang Om bisa masak?" "Selain tampan, mengerti mesin, baik hati, aku juga bisa masak." "Oke, aku pengen tau gimana masakan Om Arga." "Enak dong, kamu pasti ketagihan. Ayolah, nanti takut keburu habis sayurannya." Baru berjalan beberapa langkah, datang Beni bersama Toni menghampiri mereka. "Akhirnya ketemu juga," ucap Beni sambil ngos-ngosan. "Mau ngapain?" tanya Arga. Bukan Beni yang menjawab, tetapi Toni. "Ikut sama gue, Ga. Ada kerjaan lagi." "Sama siapa?" "Sama yang kemaren." Dia yang sudah berjanji akan memasak bersama dengan Elea di rumah, melihat ke arahnya seraya berpikir, akan menerima job itu atau tidak? Tetapi karena ia membutuhkan uang untuk kelangsungan hidupnya, ia pun menjawab ajakan Toni. "Oke." "Om mau ke mana?" tanya Elea. "Ada pekerjaan," jawab Arga singkat. "Kerjaan apa? Terus masaknya gimana?" Raut wajah Elea mulai terlihat kecewa. "Hari ini nggak usah masak. Kamu beli aja lauk buat makan siang sampai malem." "Emangnya Om Arga mau pulang malam?" tanyanya lagi. "Kemungkinan besar, iya." "Aku sendirian dong di rumah?" "Nggak apa-apa, kan sekarang TV nya udah nyala." "Tapi ...." "Uang aku tinggal seratus ribu, Lea. Paling juga cukup buat satu hari, besok kita bakal makan apa kalau aku nggak punya uang? Aku cari uang dulu, ya." "Tapi, Om ...." "Ini uang aku. Kamu pegang buat beli makan siang sama malam. Jangan nungguin aku, aku bakal pulang malem banget." "Aku pulang sendiri?" "Kamu pulang sama Beni naik motor. Nggak apa-apa, ya." "Iya, Lea. Ini mendadak," ucap Beni menambahkan. "Ya udah deh." Pasrah. Mencegah pun tidak mungkin, karena memang orang hidup butuh uang. Dia menerima uang yang diberikan Arga, lalu Arga pun pergi bersama Toni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN