Rencana Buruk Cassandra

1132 Kata
Bukan di sebuah hotel. Kali ini mereka mengadakan pertemuan di apartemen milik Cassandra yang berada jauh dari kota Jakarta, yaitu Bandung. Begitu pintu dibuka oleh sang pemilik, Cassandra langsung tersenyum saat melihat Arga. Pria yang dinanti sejak tadi." "Hai." Cassandra menyapa ramah. "Siang, Non. Saya membawakan pesanan Anda," balas Toni. "Oke." "Kalau begitu, saya permisi." Setelah berpamitan kepada Cassandra, ia bicara kepada Arga setengah berbisik. "Gue tunggu di kafe." Arga menganggukkan kepalanya, lalu Toni pun pergi meninggalkan mereka berdua. Setelah Toni pergi, Cassandra mengajak Arga masuk. "Ayo masuk!" Arga melangkah masuk, lalu bertanya, "Kenapa Anda memanggil saya ke sini?" "Temen-temen gue mau ke sini. Kita mau kumpul-kumpul." Ia menutup pintu setelah Arga masuk, menguncinya, lalu berjalan di belakang Arga. "Acara apa?" tanyanya lagi. "Ngumpul aja. Makan-makanan, senang-senang. Mereka juga bawa pasangan masing-masing." "Termasuk pesta minum-minum?" tebak Arga saat melihat beberapa botol minuman keras berkadar alkohol tinggi, dengan harga puluhan juta per satu botolnya di atas meja. Arga mengetahui harga juga rasanya, karena memang ia pernah meminumnya bersama beberapa klien sebelum Cassandra. Cassandra melihat ke arah meja, lalu menjawab, "Iya dong, biar seru. Kumpul bareng temen tanpa minum, mana seru." Setelah berada di ruang tamu, Cassandra mempersilahkan Arga untuk duduk. "Duduklah! Gue ambil gelas dulu." Sementara Arga duduk di sofa, Cassandra berjalan ke pantry hendak mengambil gelas. "Kapan teman-teman Anda datang, Nona?" tanya Arga sambil meraih salah satu botol minuman di atas meja dengan merek tertentu yang ia tahu rasanya sangat enak dan harganya paling malah di antara jenis minuman yang ada di sana. "Sebentar lagi. Kita masih punya waktu buat berduaan." Arga langsung memicingkan mata ke arah Cassandra. Dia yang mengerti akan tatapan itu pun melanjutkan bicaranya. "Bercanda. Serius amat nanggepinnya." Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Wanita itu kembali menghampiri Arga. "Anda tau aturannya, Nona. Jangan sampai saya menolak untuk yang kesekian kalinya," ucap Arga seraya kembali meletakkan botol minuman yang sempat dia ambil ke tempat semula. "Iya gue tau. Padahal kalau lu mau, gue bisa bayar lebih." Sampai di ruang tengah, Cassandra duduk di samping Arga, lalu meletakkan di atas meja dua gelas yang ia bawa. "Saya memiliki prinsip, saya tidak akan melakukan hal itu selain kepada istri saya nanti." Kata istri yang baru saja Arga ucapkan, mengingatkan ia pada sosok gadis cantik yang ada di rumahnya. Gadis kecil yang berhasil mengusik perasaan Arga setiap waktunya. "Tapi gue kaya, lu bisa dapat apa aja dari gue. Kerja di perusahaan bokap gue lu bisa pilih jabatan, enak, kan? Kenapa kita nggak nikah aja!" ajaknya tanpa berpikir. "Kita partner kerja, tidak lebih." "Sampai kapan?" "Sampai kapan pun." Cassandra menganggukkan kepalanya. "Oke, oke." Dia meraih salah satu botol minuman di atas meja, membuka tutupnya menggunakan alat, lalu menuangkan isinya ke dalam gelas. Setelah dua gelas terisi penuh, ia meletakan kembali botol tersebut, tidak lama setelah itu bel pintu berbunyi. "Apakah itu teman-teman Anda, Nona?" tanya Arga. "Kayaknya sih, iya. Gue buka dulu pintu. Tapi inget, di depan mereka lu harus bersikap lembut sama gue. Lu harus memperlakukan gue layaknya seorang kekasih," ucap Cassandra seraya mengingatkan. "Baik, Nona." Setelah mendengar jawaban dari Arga, Cassandra bangkit dari duduknya, lalu pergi untuk membuka pintu. "Halo, Cassandra!" Salah satu wanita yang menjadi temannya menyapa sangat antusias. Beberapa orang lainnya juga ikut menyapa, lalu mereka pun masuk menuju ruang tengah, bertemu dengan Arga yang saat ini sudah berdiri, tersenyum ke arah mereka. "Gila, ganteng banget. Keren." Salah satu teman Cassandra memuji ketampanan Arga tanpa mengedipkan mata, menatapnya penuh rasa kagum, sehingga salah satu kekasih wanita itu menegurnya karena sudah bersikap berlebihan. Cassandra menghampiri Arga, memeluknya dari samping. "Iya, ini cowok gue. Nggak mungkin seorang Cassandra memilih pria biasa saja untuk menjadi kekasih." "Uuu ...." Semua bersorak. "Udah, sini pada duduk! Siapa tadi yang bawa pizza? Cepetan taro!" titah Cassandra. Mereka berjalan menuju sofa, meletakkan apa pun yang mereka bawa di atas meja. Saat akan duduk, ponsel Arga berdering. Dia merogoh saku celananya, melihat nama Beni yang tertera pada layar ponselnya, lalu menggeser icon berwarna hijau ke atas, meletakkannya di dekat telinga. "Ada apaan?" ucap Arga. "Om Arga," panggil Elea dalam sambungan telepon. Arga terkejut ketika mendengar suara Elea. Dia langsung meminta izin kepada Cassandra untuk ke toilet. Setelah Cassandra mengizinkan, ia pun segera pergi ke toilet untuk bisa bicara dengan Elea. "Ada apa, Lea?" tanya Arga setelah pintu kamar mandi ditutup. Bukannya menjawab, Elea malah bertanya, "Apa aku mengganggu waktumu?" Karena yang ia tahu, kalau saat ini Arga sedang bekerja. Iya, memang sedang bekerja, tetapi menjadi kekasih bayaran. Profesi sampingan Arga yang tidak diketahui oleh Elea. "Nggak, tapi aku nggak bisa lama-lama. Katakan ada apa, Lea?" "Tetangga kamu ke rumah bawa baju. Aku boleh beli? Ibu itu bilang, boleh kok bayar bulan depan." "Ya udah kamu beli aja. Nanti aku bayar pas pulang." "Om punya uang?" tanyanya lagi. "Ada. Ini kan lagi dicari." "Syukur deh kalau gitu. Makasih ya, Om." "Iya, Lea. Sekarang kasih handphonenya ke Beni." "Nanti dulu!" "Kenapa?" "Buru-buru banget sih." "Iya. Ada apa, Lea?" "Nanti Om pulang jam berapa?" "Aku nggak tau, mungkin tengah malem." "Nggak bisa lebih sore lagi?" tanyanya penuh harap. "Nggak tau, nanti aku usahakan. Emangnya kenapa?" "Aku mau kasih Om kejutan." "Kejutan apa?" tanya Arga penasaran. "Namanya kejutan, ya nggak boleh dikasih tau dong." Arga tersenyum sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi. "Oke, oke. Nanti aku usahakan pulang lebih cepat." "Janji ya, Om." "Iya, Elea. Sekarang kasih handphonenya ke Beni, ya." "Iya, Om." Tidak lama ganti Beni yang bicara, "Bocil maksa telepon lu." "Lu gimana sih? Gue lagi kerja." "Udah gue bilang jangan telepon, tapi dia maksa." "Ya udahlah, pokoknya lu jagain Elea. Sebisa mungkin jangan hubungin gue lagi." "Halah, jangan hubungin lu gimana? Lu nya aja kesenangan ditelepon tuh bocah." "Masa iya gue omelin tuh anak. Gue pasti ngomelin lu, dong. Udah tutup! Gue mau nemenin Cassandra lagi." "Iya, iya. Awas kalau gue nggak dibagi." Setelahnya sambungan telepon pun berakhir. Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Sambil memandang wajahnya di cermin, Arga berkata, "Setelah uang terkumpul dan ada kerjaan lain yang lebih baik dari bengkel, gue bakal nikahin lu, Lea. Gue bakal bawa lu jauh dari Jakarta," monolog Arga. Selesai mencuci tangan, ia pun keluar dari kamar mandi, kembali menghampiri sekumpulan orang-orang kaya yang suka dengan kebebasan, hura-hura, dan berhubungan tanpa ikatan. Saat Arga keluar dari kamar mandi, wajah teman-teman Cassandra terlihat panik. Entah apa yang mereka sembunyikan, yang pasti wajah-wajah itu sangat mencurigakan. Arga kembali duduk di tempat semula, menenggak minuman yang tadi ia tuang, ikut keserua mereka layaknya sepasang kekasih yang sedang menikmati kebersamaan. Waktu berjalan. Setelah habis dua gelas, tidak lama Arga merasa pusing, dia duduk bersandar seraya memijat pangkal hidungnya, lalu Cassandra mendekat, berbisik di dekat telinganya. "Sayang, kamu mau tidur?" Arga menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hanya butuh istirahat sebentar." "Ayo istirahat di kamar. Aku akan menemanimu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN