Sejak pertama ia merasa gelisah, Arga sudah menyadari bawah sesuatu terjadi kepada dirinya. Hal itu terjadi bukan karena satu jenis minuman yang ia konsumsi, melainkan ada campuran lain yang secara diam-diam mereka masukkan ke dalam gelas milik Arga seperti obat misalnya, karena sebelumnya pun ia pernah mengkonsumsi semua jenis minuman yang tersedia dan tidak pernah mabuk walau mengkonsumsinya jauh lebih banyak dari sekarang.
Tidak bisa terus berada di sana. Arga mengiyakan ajakan Cassandra pergi ke kamarnya bukan untuk beristirahat, tetapi demi bisa keluar dari sana. Begitu berada di dalam kamar, Arga mendorong tubuh Cassandra ke dinding dengan kasar, lalu menginterogasinya. "Apa yang lu campur ke minuman gue, Cassandra?"
"Maksud lu?" Pura-pura tidak tahu.
"Jangan pura-pura di depan gue! Lu masukin obat ke minuman gue, kan?"
"Obat apa? Minuman yang mana?"
"Sekali lagi gue tekanan. Tidak ada hubungan fisik dalam kerja sama ini. Sekalipun lu ngasih gue obat perangsang, itu nggak bakal mempan buat gue. Paham!"
"Gue tau itu, Arga. Dan, gue nggak pernah masukin apa-apa ke minuman lu," kilah Casandra seraya meraih tangan Arga, dengan cepat Arga mengibaskan tangannya.
"Lu mau bilang mungkin temen-temen lu yang lakuin itu dan lu nggak tau apa-apa? Omong kosong!" Arga melangkah mundur, lalu berjalan menuju pintu hendak pergi dengan sempoyongan.
Tidak ingin kehilangan kepercayaan dari Arga, Cassandra mengikutinya dari belakang sambil mencoba menjelaskan. "Itu bisa aja terjadi, Arga. Tadi gue sempet nerima telepon di kamar, mungkin aja temen gue iseng sama lu, karna yang mereka tau lu adalah cowok gue."
Tidak ingin lagi menanggapi penjelasan apa pun dari Cassandra, Arga tetap memilih untuk pergi. Dia membuka pintu, kembali menutupnya dengan kasar, sampai-sampai empat orang yang ada di ruang tengah pun semua melihat ke arahnya. Arga tidak memperdulikan saat orang-orang bertanya kenapa, dia terus berjalan menuju pintu utama, lalu pergi meninggalkan unit menuju parkiran mobil, yang memang letaknya lebih dekat dari kafe di mana Toni menunggu.
Setelah berada di parkiran mobil, Arga menghubungi sang sahabat. "Toni, gue ada di garasi. Buruan lu ke sini! Keadaan gue nggak memungkinkan buat nyamperin lu."
Cara bicara Arga terdengar aneh. Napasnya terdengar tersengal-sengal, membuat Toni sendiri merasa bingung. "Lu kenapa, Ga?"
"Jangan tanya kenapa. Buruan lu ke sini! Bawa gue pulang!" titahnya lagi dengan tegas.
"I–iya, gue segera ke sana." Setelahnya sambungan telepon pun berakhir.
Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, berjongkok sambil memegang kepalanya yang terasa semakin pening, suhu tubuh mulai tidak teratur, merasa gerah, gelisah. Dengan susah payah Arga melawan itu semua.
Tidak terlalu lama menunggu, akhirnya Toni pun datang. "Kenapa lu, Ga?"
"Buka pintu mobil!" titahnya.
Toni langsung membuka pintu sisi sebelah kiri, lalu Arga masuk. Merasa ada yang tidak beres, Toni segera membawa Arga pergi meninggalkan apartemen. Setelah mobil melaju, Toni mulai bertanya kepada Arga. "Ada apa ini? Lo kayak orang yang habis dikasih obat."
"Iya, gue kena pengaruh obat. Gue yakin secara diam-diam mereka masukin obat perangsang ke minuman gue," jawab Arga dengan deru napas yang memburu.
"Apa? Seriusan lu?"
Arga menganggukan kepalanya. "Iya, gue yakin banget. Gue bisa ngerasain reaksi yang berbeda."
"Terus sekarang gimana?" tanyanya lagi.
"Mampir ke apotik, beliin gue obat anti pengar."
"Oke."
Toni mempercepat laju kendaraannya, lalu berhenti di sebuah apotek, membeli salah satu jenis obat yang Arga sebut. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Toni kembali ke mobil, lalu Arga meminum obat tersebut sebanyak dua tablet. Setelah memastikan sang sahabat sudah meminum obatnya, ia pun kembali melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju Jakarta.
Menempuh perjalanan selama 3 jam, akhinya mereka pun sampai di tempat tujuan. Toni segera keluar dari mobil, membantu Arga masuk ke dalam rumah dengan susah payah, karena postur tubuh Arga yang cukup besar.
"Om Arga?" Elea yang baru saja dari dapur terkejut dengan kondisi Arga yang terlihat sangat kacau. Dia menghampirinya, lalu memegang kedua pipi Arga, seraya bertanya, "Ada apa, Om? Apa yang terjadi?"
Arga yang kesadarannya belum kembali normal, mengibaskan tangan Elea dan memilih terus berjalan menuju kamar walau sambil tertatih. Elea bingung, ia mengikutinya dari belakang. Setelah berada di dalam, ia membantu Arga berbaring di atas ranjang.
"Apa yang terjadi, Om?" Elea bertanya kepada Toni sambil duduk di tepian ranjang, memegang tangan Arga dengan erat.
"Arga dalam pengaruh obat, tapi gue udah ngasih penawarnya," jawab Toni yang saat ini berdiri di ujung ranjang, memperhatikan kondisi Arga sambil berkacak pinggang.
"Obat apa?" tanyanya lagi.
Belum sempat menjawab, ponsel milik Toni berdering. Dia merogoh benda pipih tersebut dari dalam saku celana, terkejut saat melihat nama Cassandra tertera jelas pada layar ponselnya. Dia menggeser ikon berwarna hijau ke atas, meletakkan benda pipih tersebut ke dekat telinga.
"Apa yang terjadi, Nona?" Tidak ingin pembicaraannya didengar oleh Elea, akhinya Toni pun keluar, meninggalkan Elea dengan Arga berduaan di dalam kamar.
"Elea, keluar dari kamarku!" titah Arga dengan lembut. Dia memejamkan mata sambil memijat keningnya.
Elea menggelengkan kepalanya. "Nggak, aku nggak mau. Aku mau di sini nemenin Om Arga."
"Jangan. Untuk sekarang tolong biarin gue sendiri!" pintanya walau perintah tersebut bertolak belakang dengan keinginan yang bergejolak di dalam dirinya.
"Kenapa? Apa aku ganggu kamu?" Raut wajah Elea terlihat sedih, panik bercampur menjadi satu.
"Nggak, Lea. Kamu sama sekali nggak ganggu, tapi Untuk saat ini, tolong tinggalin aku dulu. Aku butuh waktu sendiri."
"Apa itu artinya Om Arga ngusir aku?"
"Nggak, bukan kayak gitu."
"Ya udah aku nggak mau ke mana-mana, aku mau tetep di sini, aku mau nemenin Om."
Arga membalas genggaman tangan Elea berusaha untuk duduk, lalu Elea membantunya sampai Arga berhasil duduk dengan tegak.
"Aku sedang dalam pengaruh obat. Bisa bahaya kalau kamu tetap ada di sini."
Dahi Elea mengerut. "Obat? Om mengkonsumsi obat-obatan terlarang?"
"Bukan itu. Kamu nggak ngerti, Elea."
"Kalau gitu kasih tahu aku biar aku ngerti."
"Nggak. Aku nggak bisa ngasih tau. Pokoknya sekarang kamu keluar dari kamar aku, tinggalin aku sendiri! Lakukan ini demi kebaikan kamu."
"Aku nggak mau, Om." Kekeh Elea. Dia tidak tega jika harus meninggalkan Arga sendiri dalam keadaan seperti ini. Pikirnya, tidak apa-apa Arga istirahat, dia akan menjaga dari dekat. Namun, keadaan tidak seperti yang Elea pikirkan, dia tidak tahu kalau dengan adanya dia di sana, justru akan membuat Arga semakin tersiksa dan obat pengar yang ia minum sebanyak dua tablet akan percuma.
"Elea, tolong!"
"Aku bilang nggak, ya nggak." Elea bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu, lalu menutup bahkan menguncinya dari dalam.
"Apa yang kamu lakuin?"
"Aku akan tetap di sini. Aku mau menemani kamu."