Berada Dalam Satu Ruangan

1232 Kata
"Apa yang Arga lakukan? Kenapa dia pergi gitu aja? Dia sudah mempermalukan gue di depan temen-temen gue." Suara Cassandra memekik teling Toni. Dia sangat marah ketik Arga pergi begitu saja di tengah-tengah acara yang baru saja dimulai. "Saya tidak tau, Nona. Saya pikir pekerjaan sudah selesai, karna saat kita ketemu di area parkir, Arga sudah dalam keadaan mabuk berat, makanya saya langsung membawa Arga pulang," jawabnya berbohong. "Lagi pula, kenapa Anda menjebak Arga dengan memasukkan obat perangsang di minumannya? Arga sangat marah, Nona. Anda tahu sendiri apa prinsipnya. Tidak ada kontak fisik." "Gue tau! Dan, bukan gue yang ngelakuin itu. Itu murni sahabat gue yang iseng." "Tapi Arga meyakini kalau Anda yang melakukan itu." "Ya lu jelasin dong sama Arga. Bilang sama dia kalau bukan gue yang ngelakuin. Gue bisa ngasih buktinya, apartment gue dilengkapi CCTV, kalian bisa liat dengan jelas." Toni diam, Casandra melanjutkan bicaranya. "Gue ngga mau tau. Duit udah gue transfer semua dan lu berhutang sama gue. Besok, apa pun caranya lu harus bawa Arga ke hadapan gue! Gue bakal kasih lu uang lebih kalau lu berhasil bawa Arga ke apartemen. Tapi kalau gagal, bukan hanya mengembalikan uang yang udah gue transfer, lu harus bayar ganti rugi berkali-kali lipat. Paham!" Setiap kalimat yang diucapkan penuh penekanan. "B–baik, Nona." Setelahnya sambungan telepon pun terputus. Leo memasukkan handponennya ke dalam saku celana, lalu menendang kursi teras, karena bingung harus bagaimana. Satu sisi Arga adalah sahabatnya, tetapi di sisi lain dia juga tidak sudi mengganti kerugian dua kali lipat yang mana jika dijumlahkan nominalnya sangat besar. Tidak tahu harus berbuat apa, saat ini yang bisa Toni lakukan adalah menghubungi Beni di bengkel, untuk meminta bantuan darinya. *** "Sekarang aku lagi nggak butuh apa-apa. Kamu bisa nunggu di luar." "Aku nggak mau." "Elea," lirih Arga. Semakin dipaksa, gadis itu malah semakin menentangnya. "Aku emang nggak bisa apa-apa. Tapi untuk merawat yang sakit, aku bisa ngelakuin apa aja. Om mau minta pijitin juga aku bisa. Mana yang mau aku pijit? Kaki, tangan, kepala, atau punggung? Aku selalu melakukannya saat ayah sakit." "Ayah? Kamu bilang kamu nggak punya orang tua." "Oh, maksud aku. I–itu waktu ayah masih ada. Aku selalu ada di dekat dia kalau beliau sakit." "Oh, kirain kamu bohong tentang jati diri kamu." Sekarang kondisinya sudah mulai membaik, rasa gelisah sudah mulai berkurang, sehingga Arga bisa berinteraksi dengan Elea jauh lebih baik dari sebelumnya. Elea hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab. "Boleh aku minta tolong." "Apa?" "Tolong idupin kipas angin. Aku gerah," titah Arga menunjuk ke arah stopkontak yang ada di dekat pintu. "Kalau gerah, buka baju aja," ucap Elea menggoda sambil tersenyum, begitupun dengan Arga membalas candaan itu dengan senyuman. "Cepet idupin! Aku kegerahan," titahnya lagi. Sesuai dengan perintah, Elea pun menghidupkan kipas angin yang menggantung di atas dinding, lalu berjalan menghampiri Arga. "Kamu mau ngapain?" tanya Arga menjadi was-was. Pasalnya reaksi obat tadi belum sepenuhnya hilang. Jika mereka berdekatan, Arga takut hormon tidak normal itu kembali datang. "Aku pengen pijitin kepala Om, boleh?" tanya Elea tanpa menghentikan langkahnya. "Bo–boleh, tapi ...." "Tapi apa?" Elea duduk di tepian ranjang tepat di depan Arga, mereka menatap wajah satu sama lain dari jarak yang sangat dekat. "Jangan melampaui batas." Arga memeringatkan. "Batas apa sih? Orang aku cuma pengen pijit kepala doang." Elea mengangkat tangannya, mulai memijat kening Arga yang katanya masih pening. Tidak ada yang bisa Arga lakukan selain diam dan pasrah. Dia membiarkan Elea memijat keningnya dengan penuh kelembutan, sehingga membuat yang dipijat merasa keenakan dan sangat nyaman. "Oke juga pijitan kamu." Arga memuji sambil tersenyum. "Minimal aku punya keahlian walaupun cuma pijit kepala." "Belajar di mana?" "Cuma kebiasaan aja dulu sama Ayah. Nih aku kasih tau dari mana kita mulai memijat daerah kening. Mulai dari tengah alis." Elea meletakkan jari jempolnya di antara dua alis, memberikan sedikit tekanan, lalu menariknya ke atas dengan perlahan. "Aku akan melakukannya berulang kali. Pasti nanti ketagihan." Arga mengusap puncak rambut Elea, lalu Elea pun tersenyum. Terus ia melakukannya sampai beberapa kali pijatan di kepala dan Arga merasa kondisinya jauh lebih baik. Arga terus menatap wajah Elea tanpa berkedip, menatap penuh kagum pada gadis berusia dua puluh tahun itu dengan perasaan yang berbeda, perasan aneh yang baru kali ini ia rasakan. "Jangan menatap aku seperti itu, nanti Om bisa jatuh cinta." Arga mendesis sambil tersenyum. "Bukan aku yang suka. Kamu kali." "Kalau iya kenapa?" "Nggak apa-apa. Itu perasaan kamu, kamu bebas memilih suka sama siapa aja." "Serius aku boleh suka sama siapa aja?" tanya Elea tanpa menghentikan aktifitasnya yang sekarang sedang memijat tangan kiri Arga. "Untuk sekarang bebas. Kalau udah nikah, kamu harus belajar mencintai aku, karna nanti aku adalah suamimu." "Emang Om nggak cemburu kalau aku suka sama cowok lain?" "Kenapa harus cemburu? Sekarang kan kita belum nikah." "Oh iya aku lupa, cemburu itu cuma berlaku sama orang yang sedang jatuh cinta. Nggak berlaku bagi Om Arga, karna Om nggak punya perasaan itu." Dari cara Elea bicara, Arga bisa menangkap kalau saat ini gadis yang ada di depannya sedang merasa kecewa dan hal itu membuat wajah Elea terlihat lucu. "Mana lagi yang mau dipijat?" Dia bertanya dengan nada ketus. Pandangannya ke bawah, tidak ingin menatap wajah Arga, karena kesal. Bukannya menjawab, Arga malah bertanya, "Kamu marah?" "Nggak ada alasan buat aku marah." "Serius?" Arga meraih dagu Elea, lalu mengangkat wajahnya, mengarahkannya ke samping kanan, kiri, lalu terakhir ke depan hingga tatapan mereka kembali bertemu satu sama lain. "Kenapa diliat dari sisi manapun wajah kamu masih keliatan cantik, sih? Padahal lagi ngambek, kan?" goda Arga, membuat Elea menjadi salah tingkah, raut wajahnya kembali berbinar. Bohong jika keduanya tidak merasakan apa-apa. Buktinya saja saja wajah Elea terlihat lebih merona, detak jantungnya secar diam-diam bertalu-talu tanpa suara. Sedangkan Arga, suhu tubuh yang tadinya normal pun kini kembali ke pengaturan awal sama seperti saat pertama. Arga mendekatkan wajahnya sedikit miring, lalu Elea memejamkan mata seolah bersiap-siap akan menerima serangan. Elea tidak mengharapkan akan dicium, hanya saja posisi mereka saat ini memungkinkan untuk melakukan penyatuan bibir satu sama lain yang nantinya akan menghasilkan sensasi yang menarik. Namun, setelah beberapa saat Elea memejamkan mata, yang ditunggu-tunggu kok tidak kunjung datang? Dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, lalu setelah itu bukan melakukan penyatuan di bibir, Arga malah menjatuhkan kecupannya di kening Elea. Elea langsung membuka mata, ada sedikit perasaan kecewa saat hasil tidak sesuai dengan yang diinginkan, spontan Elea melayangkan protes. "Kok kening, sih?" "Terus aku harus cium di mana?" tanya Arga sambil menahan tawa. "Nggak tau ah." Elea merubah posisi duduknya membelakangi Arga, lalu Arga memeluknya dari belakang, menautkan dagu di atas bahunya. "Jangan marah, ya. Nanti malem kita jalan-jalan." "Serius?" Ia menatap wajah Arga dari samping dengan raut wajah berbinar. "Iya. Tapi, untuk sekarang. Kamu tinggalin aku sendiri dulu. Aku mau istirahat." "Tapi janji!" Elea mengacungkan jari telunjuk, meminta Arga untuk menautkan jari mereka tanda janji. Arga melakukan hal yang Elea inginkan seraya berkata, "Iya, aku janji." Setelah itu Arga melepaskan pelukannya, lalu Elea merubah posisi duduknya seperti semula. "Aku duduk di tengah rumah sambil nonton TV. Kalau butuh apa-apa, Om panggil aku, ya." "Iya, Lea." "Istirahat yang cukup ya, Om." Elea bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke arah pintu dengan perasaan gembira. Namun, baru memegang gagang pintu, Arga memanggilnya. "Lea!" Elea menoleh, lalu bertanya, "Ada apa?" "Bilang sama Toni suruh bawain aku obat yang tadi." "Obat apa?" "Obat anti pengar." "Pusing lagi?" Arga mengangguk. Dalam hati ia berkata, "Dan itu gara-gara aku ada di dekat kamu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN