Sebuah Ancaman

1171 Kata
"Udah siap?" tanya Arga yang saat ini berdiri sambil bersandar pada dinding di dekat pintu kamar. Menunggu Elea yang entah sedang apa, tidak kunjung keluar dari kamar sejak satu jam yang lalu. "Sebentar," teriak Elea. Tidak lama setelah itu pintu pun terbuka. Tampak Elea memakai kaus berwarna putih milik Arga yang sedikit kebesaran, dipadu dengan celana jeans pendek milik Arga yang tadi siang dirombak oleh tukang jahit. Sederhana, tetapi tampak memukau saat Elea yang mengenakannya. Untuk sejenak pria berusia empat puluh tahun itu tampak diam, menatap kagum pada ciptaan tuhan yang begitu sempurna, tanpa cacat sedikit pun. Tidak ingin kekagumannya diketahui oleh Elea, Arga berpura-pura kesal. "Lama banget sih." "Nyari ikat pinggang kamu loh. Biar bajunya nggak keliatan gede banget." Elea menjawab seraya membetulkan posisi ikat pinggang yang belum pas. "Halah, bilang aja biar keliatan lekuk tubuhnya." Setelah berkata demikian, Arga berjalan lebih dulu menuju pintu, lalu diikuti oleh Elea dari belakang. "Enak aja. lagian salah sendiri kenapa aku nggak dibeliin baju? Masa aku cuma punya baju dua doang. Sisanya baju kamu yang udah nggak kepake," gerutu Elea tanpa menghentikan langkahnya. "Enak aja nggak kepake. Kamu pikir baju aku yang kamu pake itu baju jelek? Baju itu baru aku beli bulan lalu." "Oh, ya?" "Iyalah. Lagian, siapa yang nggak beliin kamu baju? Yang tadi sore aku bayar itu apa kalau bukan baju?" "Apaan, itu cuma baju tidur," gerutu Elea sambil memanyunkan bibirnya. "Salah sendiri milihnya baju tidur, kenapa nggak yang lain?" Saat ini mereka ada di teras rumah. Arga mengambil sandal miliknya juga Elea di atas rak sepatu, lalu meletakkannya di bawah. "Aku pilih itu, karna memang butuh. Aku kan nggak punya baju tidur." Ia memasukkan kakinya ke dalam sandal berwarna hitam, menyusul Arga ke mobil. "Harusnya yang kamu pilih itu baju yang bisa kamu pakai saat bangun juga tidur. Bukan buat tidur doang, jadinya gini, kan." Mereka sudah ada di dekat mobil, lalu Arga membuka pintu di sisi sebelah kiri, mempersilahkan Elea untuk masuk. "Ayo masuk." Elea masuk ke dalam mobil tanpa protes, lalu pintu ditutup oleh Arga. Saat Arga berjalan ke sisi kanan mobil, datang Toni menggunakan motor metiknya, berhenti tepat di depan mobil Arga. "Ada apaan?" Arga bertanya sambil berjalan menghampiri Toni. Toni menaikkan kaca helm, lalu bertanya, "Lu mau ke mana?" "Mau pergi, kenapa?" "Sama tuh bocah?" Terdapat nada sinis pada kalimat yang diucapkan. "Maksudnya lu tuh bocah, Elea?" Dahi Arga mengerut. "Dahlah nggak usah dibahas. Gue cuma mau ngasih tau lu kalau tadi Cassandra telpon ke nomer gue, dia minta lu temuin dia di apartemennya." Dengan cepat Arga menolak. "Nggak! Gue nggak mau." "Kalau lu nggak mau, dia minta ganti rugi uangnya dikembaliin berkali-kali lipat, Ga." "Apa?" Arga terkejut mendengarnya. "Ganti rugi?" "Iya, karna lu udah pergi sebelum tugas selesai, lu juga udah mempermalukan Cassandra di depan teman-temannya." "Yang seharusnya merasa kerugian itu gue. Kenapa dia masukin obat ke minuman gue?" "Katanya bukan dia yang ngelakuin, Ga. Tapi temen dia." "Omong kosong!" pekik Arga seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. "Serius, gue udah liat CCTV apartemen dia." "Kapan lu liat?" "Ini gue baru pulang." "Lu yakin?" "Iya gue yakin." Arga diam sebentar untuk berpikir, tidak lama setelah itu ia pun memberikan jawaban. "Nanti, gue bakal temui dia. Tapi nggak sekarang." "Cassandra minta lu dateng malem ini." "Malam ini gue nggak bisa. Gue mau pergi sama Elea." "Tapi Cassandra maunya lu nyamperin dia ke apartemennya sekarang." "Lu gila, ya? Jam segini nyuruh gue ke Bandung? Sakit lu?" seru Arga. "Bukan ke Bandung, tapi ke apartemen dia yang ada di Jakarta." "Nggak! Gue tetep nggak bisa malam ini, kalau besok oke." Setelah berkata demikian, Arga pun pergi meninggalkan Toni. Dia tidak perduli mau Toni bilang apa, Arga tetap memilih pergi dengan Elea dan akan menemui Cassandra besok. "Kalau ada apa-apa, jangan libatkan gue!" Toni berteriak saat Arga berdiri di dekat mobilnya. "Gue yang bakal nanggung semua," balas Arga. "Kalau dia nggak terima dan minta ganti rugi, bisa lu balikin?" "Biar itu yang jadi urusan gue. Tugas lu sekarang adalah, bilang sama dia kalau gue bakal nemuin dia di apartemennya besok." Setelah itu Arga masuk ke dalam mobil. Dia menghidupkan mesin, perlahan menginjak pedal gas keluar dari garasi, membunyikan klakson seolah berpamitan, lalu pergi meninggalkan kontrakan menuju suatu tempat, memenuhi janjinya kepada Elea. Raut kesal tampak jelas dari wajah Arga saat ini. Dia terus diam sejak meninggalkan rumah, sikapnya menjadi dingin setelah bicara dengan Toni. Elea yang tidak tahu apa-apa dan takut salah bicara atau bersikap, memilih diam sambil melihat ke arah samping. Namun, tiba-tiba saja mobil berhenti mendadak, karena ada seorang ibu-ibu yang menyebrang sembarang. Spontan Arga merentangkan tangan, menahan agar Elea tidak membentur ke depan, walaupun sabuk pengaman saja sebetulnya sudah cukup untuk melindunginya. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Arga khawatir. Elea menggelengkan kepalanya. "Nggak, Om." Arga menghidupkan klakson, seolah memberikan peringatan kepada ibu-ibu tersebut, lalu mobil kembali melaju, kali ini dengan kecepatan sedang. "Jangan ngebut-ngebut, Om. Kita nggak lagi diburu waktu, kan? Telat sedikit aja, ibu-ibu tadi bisa ketabrak loh," ucap Elea seraya mengingatkan. "Iya, maaf." "Lagian Om kenapa, sih? Dari tadi mukanya ditekuk terus. Aku ngelakuin kesalahan? Kalau iya, kasih tau aku. Nanti aku perbaiki." Tadinya Elea tidak mau membahas, tetapi karen Arga kehilangan konsentrasi, akhinya Elea pun bertanya. "Nggak, Lea. Kamu nggak ngelakuin kesalahan apa-apa." Arga menjawab sambil tersenyum, seakan baik-baik saja. Padahal otaknya saat ini sedang berpikir keras, bagaimana kalau Cassandra benar-benar meminta ganti rugi kepada dirinya, sedangkan keadaan dia sekarang saja sangat memperihatinkan. "Bohong. Aku liat dari tadi Om diem terus, kayak orang lagi marah, bingung." "Oh ya? Apakah wajah tampan ini tampak seperti orang yang sedang marah, kebingungan?" Dia menunjukkan ekspresi terbaiknya di depan Elea, hal itu membuat Elea tersenyum, lalu memukul bahu Arga. "Ganteng-ganteng kok jomblo." Elea meledek. "Bentar lagi juga nggak jomblo," balas Arga. "Oh, ya?" "Iya, dong. Nggak lama lagi aku bakal nikah." "Sama siapa?" "Sama cewek dong pastinya." "Cewek di dunia ini tuh banyak. Tuh cewek." Menunjuk ke arah luar pada wanita yang sedang duduk di bangku penjual pecel ayam, juga ke arah sekelompok wanita pejalan kaki. "Jadi, cewek mana yang mau Om jadikan istri?" "Menurut kamu?" "Aku mana tau," ucapnya sambil menggidikkan bahu. "Oke aku kasih tau, mungkin Ratih." Raut wajah Elea berubah dalam sekejap. Dia menganggap Arga serius dalam ucapannya dan memilih diam saat nama Ratih disebutkan. "Kok diem?" tanya Arga sambil menahan tawa. "Nggak." Ia memalingkan wajahnya ke arah luar, lalu Arga meraih tangan Elea, menggenggamnya dengan erat. "Marah, ya?" "Nggak," jawab Elea ketus. "Iya, iya. Aku bakal nikahin kamu. Tadi kan cuma bercanda. Lagian juga aku nggak mungkin lari dari tanggung jawab." Setelah mendengar pernyataan tersebut, Elea langsung melihat ke arah Arga. "Beneran?" "Iya, Lea. Kapan aku bohong?" Setelah itu Elea kembali tersenyum. Dia membalas genggaman tangan Arga. Entahlah, kenapa tiba-tiba perasannya menjadi aneh. Sandiwara yang sedang ia lakukan malah membuat Elea merasa nyaman dan keinginan untuk dinikahi Arga semakin besar. Bukan semata karena keharusan bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak Arga lakukan, melainkan karena ingin terus bersama dengannya atas dasar cinta. "Elea, boleh aku tanya sesuatu?" "Tanya apa?" "Apa belum ada tanda-tanda kehamilan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN