Hamil? Bagaimana mungkin Arga mempertanyakan hal seperti itu? Pertanyaan yang mampu membuat Elea merasa gugup dan bingung akan menjawab apa, karena di malam itu, saat Elea mengantarkan Arga pulang yang dalam keadaan mabuk, di antara mereka memang tidak terjadi apa-apa. Tuduhan bahwa Arga sudah menodainya kesuciannya adalah bohong, hanya karena Elea ingin memiliki tempat tinggal yang nyaman setelah melarikan diri dari rumah.
"Kok diem?" Suara Arga menyadarkan Elea dari lamunannya.
"I–iya, Om?" Ia tergugup.
Arga harus mengulang kata yang sama, karena belum mendapatkan jawaban. "Apa belum ada tanda-tanda kehamilan?"
Elea menggelangkan kepalanya. "Belum, Om."
"Atau mungkin nggak jadi hamil?" tebak Arga.
"Nggak tau. Emangnya kalau nggak hamil, Om nggak bakal jadi nikahin aku?"
"Ya nggak, dong. Aku tetap bakal nikahin kamu. Cuma kalau kamu nggak hamil, aku lebih santai kerjanya. Kalau kamu hamil, otomatis mau nggak mau kita harus nikah buru-buru."
"Aku nggak tau. Lagian kan belum juga satu bulan."
"Iya, sih." Mobil berhenti di persimpangan lampu merah, Arga kembali mengajukan pertanyaan. "Boleh aku tanya lagi?"
"Apa?"
"Kamu nggak malu nikah sama Om-om kayak aku? Usia kita terpaut dua puluh tahun, loh. Apa nggak dipandang kayak anak sama bapaknya?" Arga bertanya demikian, karena merasa insecure dengan usia dia yang sudah menginjak kepala empat, sedangkan Elean masih gadis berusia dua puluh tahunan.
"Kenapa mesti malu? Om nggak kelihatan usia empat puluh tahun, kok."
"Bohong banget ini anak. Buktinya aja dia manggil gue Om," gumam Arga dengan suara pelan.
Elea yang mendengarnya pun, menyahutinya. "Aku bingung mau manggil apa. Nggak mungkin kan aku panggil sayang?"
"Kalau kamu nggak malu," balas Arga tidak bisa berhenti tersenyum.
"Aku nggak malu, tapi kan nggak mungkin aku panggil Om sendiri dengan panggilan Sayang. Apa kata orang nanti? Mereka taunya aku keponakan kamu."
"Good girl." Arga mengusap puncak rambut Elea, lalu mobil kembali melaju setelah rambu merah berubah hijau.
Setelah Arga banyak mengajukan pertanyaan, sekarang giliran Elea yang ingin bertanya, "Sekarang aku yang tanya."
"Silakan. Kamu mau tanya apa?"
"Om nggak malu punya istri kecil kayak aku? Bahkan aku merasa mbak Ratih jauh lebih pantas untuk Om jadikan seorang istri. Dia keliatan lebih dewasa, mandiri, bisa segalanya."
"Tau dari mana Ratih bisa segalanya dan mandiri?" tanya Arga sesekali melihat ke arah spion, memastikan keadaan di belakang aman terkendali.
"Menurut pendapat aku aja. Keliatannya sih kayak gitu. Tapi, apa mungkin mbak Ratih sama kayak aku nggak bisa apa-apa?" Elea terkekeh atas ucapannya sendiri.
"Nggak, semua yang kamu bilang itu benar."
"Yang mana yang benar? Yang bisa segalanya atau yang nggak bisa apa-apa?" tanyanya lagi untuk memastikan.
"Iya, dia memang bisa segalanya. Mandiri, dewasa, juga pintar. Pokonya idaman para pria banget, deh."
"Termasuk kamu?"
"Pria normal menginginkan sosok seperti itu, bukan orangnya, tapi karakternya."
"Aku yang nggak bisa apa-apa, bukan idaman siapa pun." Raut wajah Elea berubah sedih.
"Makanya belajar membangun karakter yang lebih baik lagi. Jangan pasrah begitu aja, nggak ada usahanya untuk memperbaiki diri. Siapa yang mau?"
"Aku nggak pasrah, aku juga selalu berusaha mandiri, berusaha lebih baik lagi."
"Aku kan nggak bilang itu kamu."
"Tapi, secara tidak langsung Om mengatakan itu seolah untuk aku."
"Itu cuma perasaan kamu aja," ucap Arga sambil tersenyum.
Elea yang terlanjur kesal, memilih diam, memalingkan wajahnya ke arah jendela dan mengabaikan panggilan Arga yang terus memanggil namanya. Elea tidak perduli, bahkan saat Arga menggengam tangannya pun Elea tidak mau membalasnya.
"Marah, ya?"
"Kalau gitu nggak usah jadi nikahin Aku. Nikah aja sama mbak Ratih, wanita idaman sejuta kaum pria. Iya, kan?" Perasaannya semakin tidak bisa dikontrol, Elea benar-benar marah saat Arga memuji karakter Ratih yang menurutnya sempurna.
"Nggak, ah. Kalau nikah sama Ratih itu nggak asik, dia terlalu mandiri, terlalu bisa segalanya. Aku rasa menikahi karakter yang begitu sempurna akan membosankan. Iya nggak, sih?"
"Mana aku tau," jawab Elea dengan ketus. Dia menarik tangannya dari genggaman Arga.
Arga menepikan laju kendaran di bahu jalan, lalu Elea bertanya. "Kenapa berhenti?"
"Mana tangan kamu?"
"Mau ngapain?"
Arga menarik tangan Elea, menautkan pada lengannya. "Tetap seperti ini, kalau nggak aku marah."
Melihat ekspresi Arga, membuat Elea takut, sehingga mau tidak mau ia pun melingkarkan tangannya pada lengan Arga.
***
"Adlan!" Willy yang saat ini berada di ruang keluarga, tengah duduk di sofa bersama sang istri, memanggil putranya dengan suara lantang, yang baru saja pulang setelah pergi selama dua hari.
Adlan menghentikan langkahnya saat berjalan menuju tangga, menyahuti panggilan sang ayah. "Ada apa, Ayah?"
"Dari mana aja kamu?" Willy bangkit dari duduknya, begitupun dengan Lena.
"Dari rumah temen," jawab Adlan singkat.
"Selama dua hari?"
"Iya, emangnya kenapa?"
"Anak kurang ajar! Berandalan! Ayah nggak pernah didik kamu sekurang ajar ini, Adlan!"
"Kurang ajar apa, sih? Cuma nginep di rumah saudara Ayah bilang aku kurang ajar? Aku berandalan? Dari mana sisi berandalannya? Aku nggak pernah tauran. Nginep juga di rumah saudara, di rumah om Heru, adik Ayah sendiri. Yang kayak gitu yang Ayah bilang anak kurang ajar dan berandalan?" Adlan bicara dengan meninggikan suaranya, lalu menatap tajam ke arah sang ibu tiri yang saat ini tengah tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa bahagia telah berhasil membuat sang suami mempercayai semua ucapanya, sehingga tidak ada satu pun anaknya yang Willy percaya.
"Ngapain kamu tidur di sana? Kamu nggak punya rumah?"
"Aku punya rumah, tapi aku nggak punya rasa nyaman di rumah ini."
"Itu karena kamu tidak pernah mau menerima kenyataan dan terlalu menutup hati terhadap mamah kamu. Sekarang ibu kamu adalah Lena, Adlan. Dia begitu baik terhadap kamu. Tapi apa? Kamu tidak pernah bersikap baik terhadap dia!"
Dia yang saat ini sedang bersandiwara, memegang lengan Willy seraya berkata, "Mas, jangan terlalu memaksakan anak-anak untuk bisa menerima kehadiran aku. Aku cukup tau diri siapa aku di sini, aku hanya ibu sambung untuk anak-anakmu, Mas."
"Kamu liat bagaimana ibu kamu memposisikan dirinya di rumah ini? Gara-gara sikap kamu yang seperti anak kecil, membuat ibu kamu merasa tidak nyaman. Dia merasa rendah dan selalu membela kalian, tetapi apa? Kalian malah membalasnya dengan kebencian."
Adlan memilih diam, dia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil menggerutu di dalam hati. "Liat aja, suatu saat gue bakal bongkar kebusukan nenek lampir ini."
"Adlan!" panggil Willy dengan suara membentak.
"Apa lagi?"
"Dengarkan ayah. Sekali saja kamu mengganggu kenyamanan ibu kamu, ayah tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini. Paham!"
"Silakan, aku nggak pernah takut. Bagus Elea pergi dari rumah, karena berada di rumah ini bagaikan ada di neraka." Setelah berkata demikian Adlan pun memilih pergi. Dia menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan berjalan cepat.
Tidak ingin ketinggalan momen yang sangat pas, Lena menghampiri sang suami, coba menenangkan dengan membawa Will ke dalam pelukannya seraya berkata, "Sabar ya, Mas. Kita hadapi ini bersama tanpa emosi.
"Seandainya saja mereka mau membuka diri, hati, dan pikiran yang jernih untuk bisa menerima kamu, pasti kita berlima bisa hidup bahagia."
"Iya, Mas. Aku juga maunya kayak gitu. Tapi, kenyataannya anak-anak kamu belum bisa menerima aku. Nggak apa-apa, aku sabar kok nungguin mereka."
"Terima kasih, Lena. Kamu memang istri sekaligus ibu yang baik."
"Sama-sama, Mas. Kamu juga Ayah sekaligus suami yang baik, Terima kasih sudah menyayangiku sebesar ini." Di balik itu semua, Lena tersenyum puas atas pencapaian yang ia dapatkan.