Hampir Tertangkap

1225 Kata
Sesuai dengan yang Elea katakan. Rumah itu bak istana megah, tetapi di dalamnya tidak ada kenyamanan, kepercayaan, dan kasih sayang. Rumah itu dipenuhi oleh keegoisan, keserakahan, juga kebodohan Willy yang dengan mudahnya mempercayai Semua ucapan Lena, tanpa mencari tahu dulu kejadian yang sebenarnya. Elea merasa beruntung sudah keluar dari istana terkutuk itu dan sekarang tinggal di rumah sederhana bersama orang yang bisa membuat ia nyaman dan merasa bahagia. Seperti saat ini, menikmati keindahan kota Jakarta di malam hari, di atas ketinggian ratusan meter dari permukaan tanah. Yaitu Monas. "Aku nggak nyangka Jakarta seindah ini kalau malam hari," ucap Elea yang saat ini sedang melihat ke bawah, menggunakan teropong di atas puncak Monas. "Apa ini pertama kalinya kamu naik ke atas puncak Monas?" tanya Arga yang saat ini berdiri di belakang Elea. "Iya," jawab Elea singkat, sambil menggerak-gerakkan teropong tersebut ke beberapa sisi. "Kamu serius?" "Dulu, waktu kecil suka main ke Monas, cuma buat olah raga aja sama ayah, nggak pernah naik ke puncak." "Wah, kalau begitu kamu harus banyak-banyak berterima kasih sama aku, karena aku bisa membawa kamu ke puncak Monas untuk yang pertama kalinya melihat keindahan kota Jakarta di malam hari." "Apakah ucapan terima kasih aja cukup?" Jakarta terlalu indah, bahkan saat bicara saja Elea sampai tidak mau melepaskan teropongnya. "Ya nggak, dong. Kamu harus membalas lebih dari ucapan terima kasih." "Apa?" Belum sempat Arga menjawab, tiba-tiba saja Elea menjerit. Membuat kaget semua pengunjung dan hampir semua orang melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. Elea langsung menutup mulut dengan tangannya, dia meminta maaf karena sudah membuat semua orang terkejut. "Maaf." "Ada apa?" tanya Arga. "Aku ngeliat sesuatu," jawab Elea setengah berbisik. "Sesuatu apa?" "Kamu nggak boleh liat!" "Kenapa nggak boleh liat?" "Nggak kenapa-napa, pokoknya nggak boleh." Elea merentangkan kedua tangannya, menghalangi Arga yang ingin melihat apa yang sudah Elea lihat. Siapa pun, semakin dilarang malah semakin penasaran. Arga memaksa untuk berdiri di dekat teropong, melihat ke bawah sambil memeluk Elea dari belakang, karena gadis itu menolak turun dari pijakan yang sengaja pihak Monas sediakan untuk para pengunjung yang tinggi badannya kurang pas. "Wow, pemandangan yang sangat indah." Elea mendorong tubuh Arga, menutup teropong tersebut dengan tangannya. "Dibilangin jangan ngeliat." "Kenapa?" "Malu tau." "Malu kenapa? Kamu pernah kayak gitu ya sama mantan pacar kamu," ledek Arga. "Enak aja. Pernah pacaran juga nggak, apa lagi ngelakuin hal kayak gitu." "Sama aku?" tanya Arga seraya mengingatkan kejadian saat ia mabuk. Elea menganggukkan kepalanya, membuat senyum agar mengembang sempurna. Ada rasa bangga, hanya saja sangat disayangkan dia tidak ingat apa-apa, karena insiden malam itu hanya sebuah cerita. "Kenapa senyum?" kening Elea mengerut. "Andai aja waktu itu aku nggak mabuk, aku pasti ingat semuanya." "Om Arga!" Dia melayangkan pukulan tepat di lengan Arga. "Kapan lagi, kan?" "Udah ah jangan ngomong kayak gitu. Nanti orang-orang pada tau." "Iya, ya. Aku ke toilet dulu, ya. Kamu tunggu di sini." "Iya, Om." Setelahnya Arga pun pergi ke toilet untuk buang air kecil. Selesai dengan hajatnya, Arga mencuci tangan di atas wastafel, lalu ponselnya berdering, menandakan notifikasi sebuah pesan baru masuk. Ia merogoh saku celananya, membuka pesan dari Toni yang berisi, "Berterima Kasihlah sama gue, karna Cassandra bersedia nunggu sampai besok. Kalau lu sampai nggak dateng, itu artinya lu memutus tali persahabatan kita." Arga tidak membalasnya. Setelah membaca, ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu keluar dari toilet, menghampiri Elea. *** Keesokan harinya, Arga yang tidak mau dicap sebagai sahabat yang tidak tahu diuntung, dengan sangat terpaksa menui Cassandra di apartemennya. "Untuk apa Anda memanggil saya ke sini?" tanya Arga yang saat ini masih berdiri di depan pintu Apartemen milik Cassandra. "Lu udah bikin gue nunggu selama dua puluh empat jam, Arga. Harusnya lu dapat hukuman dari gue. Tapi, karna gue baik hati, lu bebas dari hukuman." Senyum Cassandra mengembang sempurna. Yah, walaupun ada sedikit perasaan kesal, karena harus menunggu sejak malam. "Masih beruntung saya masih mau menemui Anda, Nona. Setelah kejadian semalam, saya memutuskan untuk tidak lagi bekerja dengan Anda." "Kita bicarakan ini di dalam, Arga," pinta Cassandra. Kali ini tidak ada rencana apa pun, yang Cassandra inginkan hanya mendapatkan kembali kepercayaan dari Arga, karena sebuah rencana besar menanti mereka di depan dan hanya Arga yang bisa melakukannya. "Kenapa? Mau mengadakan pesta lagi? Anda mau menjebak saya lagi?" Senyum Arga menyeringai. "Jangan pernah melakukannya lagi, Nona. Saya tidak akan mau memberikan maaf untuk yang kedua kalinya." "Nggak ada pesta, Ga. Lagian juga bukan gue pelakunya, temen gue yang ngelakuin itu. Lu bisa liat rekaman CCTV apartemen gue yang di Bandung. "Iya dan tujuan saya ke sini hanya untuk melihat rekaman CCTV itu." "Makanya ayo masuk! Tadi anak buah gue udah kirim rekamannya." Demi sebuah bukti dan terbebas dari ganti rugi, Arga pun masuk ke dalam apartemen milik Cassandra. Lima ratus juta. Nominal yang harus Arga kembalikan jika dia tidak mau menemui Cassandra. Uang dari mana sebanyak itu? Tentu Arga mengalah demi terbebas dari denda. *** Di tempat lain, Elea yang ingin bekerja, semalam meminta bantuan kepada Arga untuk mendapatkan pekerjaan. Arga menghubungi salah satu temannya dan Elea dipanggil ke kafe untuk melakukan interview. "Lu serius mau kerja, Lea?" tanya Beni kepada Elea. Saat ini mereka berada di belakang salah satu kafe kota Jakarta. Menunggu giliran dipanggil oleh personalia untuk melakukan interview. Dengan keyakinan penuh Elea menganggukkan kepalanya. "Iya, aku pengen bantu kesulitan om Arga. Lagian juga aku malu setiap hari minta uang terus. "Ya, ya. Terserah lu deh. Semoga berhasil dan nggak bikin ulah, apa lagi bikin kafe rugi." "Ya nggak dong. Liat aja, aku bakal bikin kalian kagum." Tidak lama setelah itu, nama Elea pun dipanggil dari sekian banyak pelamar. Elea merapikan bajunya, lalu masuk bersama salah satu karyawan kafe. Sebetulnya interview ini hanya sekadar formalitas, karena pemilik kafe tersebut adalah teman masa kecil Arga. Setelah menunggu selama tiga puluh menit, akhinya Elea pun keluar dengan memasang ekspresi bahagia. Dia berlari menghampiri Beni sambil berteriak, "Aku diterima, Mas." Dia menunjukkan topi karyawan berwarna hitam yang diberikan oleh pihak kafe. "Wah, selamat ya, Lea. Selamat belajar hidup mandiri dan buat Arga bangga sama lu." "Pasti, Mas Ben." "Kapan mulai kerja?" "Besok. Tapi, aku nggak punya baju lagi. Ini aja kemeja sama celana punya adik Mas Beni. Gimana dong?" "Udah, lu tenang aja. Sebentar gue telepon dulu Arga, minta duit buat lu beli baju." "Emang om Arga punya uang?" "Hari ini dia lunasin kerjaannya, dia pasti pegang duit." "Oh ya? Kalau gitu, ayo minta uangnya ke om Arga, Mas. Kita ke butik sekarang!" ajak Elea. "Butik? Ke pasar woy, ngapain ke butik? Di sana, jangankan baju, perlengkapan dalam aja harga satunya bisa jutaan, mau bayar pake apa? jual kolor?" seloroh Beni membuat keduanya terkekeh. "Udah, udah. Gue mau telepon dewa penyelamat lu dulu, kita minta duit." Sementara Beni menghubungi Arga, Elea pun duduk di bangku bersama calon pelamar lainnya. Tidak memerlukan waktu lama, Beni langsung mendapatkan kiriman uang dari Arga sebanyak lima ratus ribu rupiah. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, mereka berdua pun langsung pergi ke pasar, membeli kemeja putih dan celana jeans hitam. Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, Elea bersama Beni keluar dari salah satu toko di pasar tersebut. Namun, baru saja ia keluar, tiba-tiba saja sekelompok pria berjas hitam memanggil namanya dari kejauhan. "Non Lea!" Beruntung Beni tidak mendengar. Elea yang tahu namanya dipanggil, menoleh ke arah sumber suara, lalu setelah tahu siap, ia langsung mengajak Beni pergi. "Mas Beni. Cepat pergi!" "Kenapa?" "Seseorang mencariku. Ayo cepat pergi!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN