Langit mendorong bahu Mentari supaya dia bisa melihat mukanya. "Lo... Lo kangen sama gue?" Mata Langit berbinar ceria. Seakan tidak ada kepura-puraan di sana, mata jernih itu selalu sama seperti saat dia kecil hingga dewasa kala menatap Mentari. Sebuah tatapan yang hanya diperuntukkan untuk Mentari, sadar atau tidaknya dia. Langit sangat gembira mendengar Mentari juga merindukannya. "Iyah. Jadi gimana, udah kapok kan?!" "Kapok?" Kutip Langit tidak mengerti. Mentari sedikit mencubit pipi Langit gemas. "Yah, selama ini kan Lo selalu resek sama gue. Sekarang gue bales dong. Gimana..., gue lebih pinter dari Lo kan?!" Langit masih belum seratus persen paham. Tapi dia setidaknya tau Mentari berubah karena berniat membalas perbuatannya. "Maksud Lo. Semua sikap Lo yang aneh itu karena L

