(48) The Memory We Still Hold Dear

1630 Kata

25 tahun yang lalu. Necalista masuk ke Aula Besar Istana Neelendra. Ruangan kosong itu, tempat ia biasa bermain bersama Theodore sudah disulap menjadi ruang dansa indah dengan cahaya dari ratusan lilin menyinari. Tamu-tamu yang hadir melihat ke arahnya. Theodore menyentuh lengan Necalista pelan. “Sudah saatnya,” bisik Theodore mengingatkan. Benar, pikir Necalista. Sekarang aku bukan lagi anak yatim piatu. Necalista melenggang masuk. Tangannya mengapit lengan Theodore seperti Raja dan Ratu Neelendra yang berjalan di depan mereka. Gadis itu sering lupa bahwa sekarang ia sudah menjadi Putri Neelendra yang bernama Necalista. Ia kadang lupa bahwa perkataan dan perilakunya selalu dilihat banyak orang. Masalahnya adalah Theodore yang merupakan bagian kehidupan ini selalu membuat Necalista me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN