Bab 32

1142 Kata
*** "Uh! Segarnyaaaaaa...." Mengeringkan rambutnya dengan handuk mengusap di kepala Alan. "Lumayan hangat. Tapi kalau dingin gini rasanya pengen beli mie." "Mau turun masak mie?" "Yuk, aku lapar lagi. Nggak tau nih lapar terus." Hana hanya mengenakan kaos milik Alan. Tentu sangat besar bagi tubuhnya yang mungil. Kaos Alan menutupi hingga pahanya saja. Saat tengah berada di dapur, sekelompok ibu-ibu menyambangi villa milik Alan. Ini kali pertamanya Alan menerima teguran seperti ini. "Ribut-ribut di depan ada apa ya?" Terdengar suara kang Udin yang sedang membela si pemilik villa. "Itu kok kayak ribut ya, coba kita liat ke depan yuk. Matiin dulu kompornya." Hana langsung mematikan kompor. Kemudian pergi ke depan bersama Alan. "Lan, kok banyak ibu-ibu sih? Ini kenapa?" Alan dan Hana berdiri di teras villa. Terlihat lima orang ibu-ibu paruh baya, tiga orang bapak-bapak usia 40 tahunan, dan dua orang pemuda berusia 20 tahunan membawa obor di setiap tangan mereka. "Wah! Ini nih! Yang buat desa kita jadi tercoreng! Kumpul kebo di villa!" "Tenang dulu bapak, ibu, semuanya! Saya jelaskan ini teh bukan seperti yang kalian lihat! Ini anak majikan saya!" ucap kang Udin. "Halah, anak majikan terus kalau orang kaya bebas m***m di kampung kita? Liat aja itu perempuan yang jago menggoda, pakaian kok begitu!" Kata seorang laki-laki yang berbicara sambil menunjuk ke arah Hana. "Berani-beraninya kalian zina di sini. Di kota aja bisa kan? Banyak hotel di sana. Tunggu bukannya dia pemilik hotel? Ngapain nggak di hotel aja kalian kumpul kebo ha?!" "Udah seret aja!" Kata salah seorang pemuda. Mereka sudah terlanjur diamuk oleh emosi. "Iya betul! Bawa ke pak RT! Nggak bisa kita diam aja nih!" "Kalian jangan salah paham, saya sama Alan udah nikah. Emang salah kalau kita liburan ke sini?" "Tolong! Saya bisa jelaskan! Jangan main hakim sendiri seperti ini." kata Alan. Warga yang sudah diamuk emosi tidak mendengarkan Alan sama sekali. Dia menyeret Alan dan Hana dengan sangat kuat. Hana dipegang oleh ibu-ibu berbadan besan besar. Sementara Alan dipegang oleh dua laki-laki dengan sangat kuat "Telanjangin aja! Kita seret keliling kampung!" Kata Leni, perempuan berusia 20 tahun yang paling menjadi provokator dalam insiden ini. Dia melempar obor yang dia pegang pada Hana, hingga tangan Hana mengalami luka bakar. "Argghhh, sakit!" Hana berteriak histeris saat merasakan panas dan perih yang teramat. Tidak hanya itu, Leni juga menarik baju Hana agar baju itu lepas dari tubuh Hana. "Buk! Pegangin tangannya, kita lepas bajunya dan kita arak!" "Benar! Bikin malu aja datang ke sini! Kalian kalau begini mending nikah aja!" Srett! Leni berhasil menarik baju Hana hingga robek. Hana menangis, sakit hati atas tuduhan dari orang-orang kampung yang tidak mau mendengarkan penjelasan mereka. "Buk! Jangan kurang ajar sama majikan saya! Kalian bisa berurusan sama hukum nanti! Lepaskan bos saya!" Mang Udin berusaha membela, namun hasilnya nihil. Jumlah mereka yang banyak tidak mampu dikalahkan oleh Udin. Alan yang melihat itu semua merasa sangat sakit hati. Dihantamnya tubuh kedua lelaki yang memegang tangannya. "b******k! kalian memang kampungan!" Teriak Alan dengan penuh emosi. Dilihatnya Hana yang sudah bersimbah air mata. Diperlakukan seperti bintang tanpa harga diri. Tanpa Alan sadari, salah satu dari mereka memukul pundak Alan dengan balok besar. Alan terkapar merasakan pusing akibat pukulan itu. Warga yang sudah diamuk emosi, menyeret Hana dan Alan dengan begitu kasar. "Pezina! Beraninya berbuat tidak senonoh di kampung orang, jangan mentang-mentang kaya, malah berlaku seenaknya!" Sepanjang perjalanan mereka tak hentinya mencemooh Hana dan Alan. Tidak hanya itu, rambut panjang Hana bahkan ditarik beberapa kali dengan kuat. Alan yang termakan emosi, layaknya mengamuk seperti kerasukan jin dalam tubuhnya. Menghantam satu persatu orang yang melukai Hana tanpa ampun. Emosi yang Alan tidak terkontrol. Semakin mereka melawan, Alan semakin brutal membabi-buta memukul mereka tanpa ampun. "SAYA BAKAR KALIAN HIDUP-HIDUP! LEPASKAN ISTRI SAYA!" Mendengar warga yang ribut-ribut, Pak RT yang saat itu sedang dipanggil Warga lain langsung menghampiri mereka. "Ada apa ini! Hentikan!" Teriak pak RT "Apa yang kalian lakukan! Jangan main hakim sendiri!" "Gimana nggak main hakim, Pak! Mereka berzina di kampung kita!" Istri dari Kang Udin membawa Hana pergi dari amukkan warga, membungkus tubuh Hana dengan selimut yang dia bawa. Sementara warga dan Alan masih termakan emosi. "DIA ISTRI SAYA!! ISTRI SAH SAYA! PAKAI OTAK KALIAN KALAU MAU MENGHAKIMI SECARA BRUTAL!" Alan lepas kendali, menghajar habis si provokator tiada ampun. Suasana yang semakin heboh tidak bisa diatasi lagi. "Tolong! Hargai saya sebagai ketua RT di sini! Kita selesaikan di balai desa!" "Bu, saya... Saya nggak mau di sini." Hana menangis sejadinya, tidak hanya luka bakar yang dia alami, tapi di area tubuh lainnya ikut terluka, sudut bibi Hana ikut lebam kena pukulan. "SAYA DI SINI KORBAN! ISTRI SAYA DIHAKIMI MASSA SEPERTI INI, APA INI DI ANGGAP SELESAI?! SAYA BISA MENUNTUT INI SECEPAT MUNGKIN! SAYA BUAT DESA INI RATA DENGAN TANAH HANYA HITUNGAN HARI!" Alan mencekik leher pemuda yang menjadi provokator di desa ini untuk menghakimi Alan dan Hana. "Dan saya.... bisa membunuh satu persatu, saya hafal wajah kalian, hanya hitungan jam kalian bisa mati!" Persis psikopat yang sedang ingin menghabisi umpannya. "Halah, nggak usah sok paling benar. Ngaku-ngaku istri! Mana buktinya! Mana!" Teriak Leni lagi. Bagaimana tidak, dia juga sangat membenci keluarga Alan. Dulu, ayah Leni dipecat secara tidak hormat oleh keluarga Alan. Padahal ayahnya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Sejak di PHK Leni harus putus sekolah dan keluarganya hancur. Jadi, dia akan membuat Alan hancur dan malu. "Ini saya bawa buktinya, majikan saya bukan orang seperti itu! Tolong jangan berbuat k**i seperti ini." Kang Udin membawa bukti yang diminta oleh Alan, buku nikah. Seketika semuanya diam. Tidak mampu untuk berkutik lagi. Tidak lama setelah itu Alan menelfon salah satu pekerja proyek lahan bangun. Meminta mereka untuk mengirimkan empat Bulldozer yang akan menghancurkan bangunan-bangunan yang berdiri di atas tanah miliknya. Percuma berbuat baik kalau dia sendiri tidak dihargai di tanah yang dia miliki. "Pak Alan. Tolong jangan lakukan ini, jangan hancurkan desa kami. Untuk yang melakukan kesalahan, saya akan beri mereka hukuman." "Saya bukan manusia berhati malaikat, dan saya juga bukan orang yang suka memaafkan orang sesuka hati. Kapan pun saya bisa melakukan apa saja sesuka hati saya, sejauh tanah membentang di desa ini milik keluarga saya." Nada ucapan Alan penuh ancam. "Gara-gara kamu nih! Kamu yang salah! Kamu tadi yang ajak saya buat serang keluarga ini." "Kok saya! Kan memang mereka yang nggak benar!" Leni tetap tidak mau peduli. Setidaknya puas mempermalukan Alan dan istrinya itu "Ratakan pemukiman warga di desa ini!" ucap Alan di sambungan telepon miliknya. Alan dan Hana kembali ke villa mereka. Hana masih menangis karena shock dengan kejadian ini. "Den Alan, apa Aden yakin mau meratakan pemukiman desa ini? Kasihan den, penduduk di sini akan kehilangan pekerjaan mereka. Cuma karena beberapa orang lain lain ikut kena imbasnya." Mang Udin Sementara Hana luka-lukanya diobati oleh Murni istri pak Udin. Mereka berdua juga masih tidak menyangka bahwa akan ada orang yang tega sejahat itu. Tidak mau mendengarkan dan hanya main hakim sendiri. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN