Bab 33

2423 Kata
*** Hari ini, Alan memutuskan untuk kembali ke jakarta. Kejadian seperti ini mmebuat traumanya kembali di ingat. "Kita pulang ke Jakarta lagi, aku muak di sini." ucap Alan singkat. Hana hanya diam. Kejadian tadi malam membuatnya takut untuk keluar dari dalam ruangan. Belum lagi luka bakar yang ada di tangannya. Benar-benar terasa sangat sakit sekali. Di luar sudah ad akang Udin dan Murni istrinya. Mereka berdua sengaja Alan ajak untuk bekerja dan tinggal bersama mereka di Jakarta. Rumah Hana yang lumayan besar juga butuh dirawat agar tetap bagus. Jadi, Alan memutuskan untuk membawa dan mempekerjakan mereka di sana. Tidak hanya itu, Alan menyuruh Niko untuk datang ke desa ini membereskan permasalahan yang terjadi semalam. "Biar nanti saya yang bawa mobilnya Pak. Untuk masalah di sini sudah saya bereskan." ucap Niko. "Alan, gimana kalau masih ada mereka di luar. Gimana kalau mereka lakuin hal yang lebih kasar? Tadi malam mereka udah siksa kita." "Besok tempat mereka rata dengan tanah, nggak ada yang bisa melawan lagi." *** Kini Alan dan Hana sudah sampai di Jakarta. Kedatangan Alan dan Hana benar-benar membuat keluarga mereka terkejut. Tante Sabrina dan Tante Tasya masih ada di Jakarta. Beruntung sang nenek sudah kembali terbang ke Jepang karena sudah rindu dengan suaminya. Jika dia tahu kondisi Alan dan Hana pasti nek Catreen akan mengalami serangan jantung. Sabrina memegang tangan Hana yang mengalami luka bakar. "Ini sudah tindakan kejahatan, Alan. Tidak bisa diam saja. Mereka yang melakukan k*******n harus berhadapan dengan pihak berwajib. Setidaknya itu adalah efek jera. Kamu lihat, istri kamu terluka seperti ini." Kata Tante Sabrina terkejut. Tidak terima bahwa kedua keponakan diperlakukan buruk seperti itu. "Untung nek Catreen nggak tau. Kalau dia tahu, pasti dia tidak akan terima." "Sejauh ini Alan sudah perintahkan tim kontruksi untuk meratakan seluruh desa yang ada di sana. Mau jadikan apartemen megah bertema pegunungan? Menarik bukan? Alan diam bukan berarti menerima kekalahan, kita lihat nanti media meliput ini." Sisi lain dari Alan Pradikta adalah terkenal s***s dan sangat tidak kenal ampun. "Villa mama kamu di sana gimana Lan?" tanya Tasya. "Alan lelang dengan harga tertinggi. Mudah bukan?" kata Alan. "Villa itu memang milik Mama. Tapi kenangan buruk baru saja terjadi, apapun yang berkaitan penindasan Alan yang akan bereskan. Semua mudah dengan sesuai prosedur." "Bagus, jangan berikan mereka ampun. Mereka sudah menganggap keluarga kita buruk, jadi tidak usah merasa belas kasihan." "Tapi, bagaimana dengan mereka yang nggak ikut campur, Alan? Ibu Yanti pemilik warung itu?" "Ada pengecualian untuk untuk itu, mereka yang nggak ikut menghakimi massa tidak ada pembongkaran rumah." Hana tidak bisa berbuat apa-apa, sebab dia sendiri saja takut melihat wajah Alan seperti itu. Mungkin ini sisi lain Alan sebenarnya. Berubah menjadi monster saat emosi. "Alan, kamu bawa Hana ke rumah sakit. Takut terjadi sesuatu sama dia." Kata Mario menyarankan. Dia tidak ingin jika terjadi hal buruk pada Hana dan hal itu pasti akan berdampak pada Alan putranya. "Sudah tante hubungi kok, kasihan kalian kalau ke rumah sakit. Biar dokternya aja kesini." ucap Tasya. "Oke, baiklah. Semoga luka Hana tidak terlalu parah." Satu jam kemudian dokter yang dihubungi Tasya sudah tiba. Tak lain ialah teman Alan, Arka Pramuda. "Loh, kamu? Kamu Alan kan?" Arka yang baru tiba terkejut melihat Alan. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dengan teman lamanya itu. "Arka? Arka Pramuda?" Merkea saling menerka satu sama lain. "Astaga. Iya! Kemana aja? Gue kehilangan contact, Lo! Udah sepuluh tahun kita gak ketemu. Apa kabar Lo?" "Gue sehat, eh kita ngobrol nanti deh! Lo periksa dulu istri gue, takutnya kulit atau syaraf dia ada yang infeksi atau apa gitu." "Wah ternyata Lo udah nikah juga? Yaudah, mana istri Lo? Kok bisa kena luka bakar sih?" "Jadi, gue ke villa yang ada di Bandung. Ternyata orang-ornag di sana menyangka gue dan Hana bukan suami istri. Kita di hakimi massa, dan begini akhirnya. Menimbulkan trauma sekaligus rasa takut untuk bertemu orang." jelas Alan. Hana yang berbaring di atas tempat tidur merasa kalau semua orang baru pasti memiliki sifat seperti itu. "Bicaranya nanti saja Lan. Biarkan Hana tenang dulu." ucap Tasya. "Kalian kalau mau mengobrol panjang biar di depan, jangan di hadapan Hana." sambung Sabrina. Arka kemudian duduk di dekat Hana. "Maaf saya periksa dulu tangannya." Hana menganggukkan kepalanya pelan. Beberapa detik setelah itu Arka meraih pergelangan tangan Hana. Memeriksa luka Hana yang lumayan lebar. "Ini luka bakarnya tidak langsung ditangani? Ini lumayan parah loh, Lan." kata Arka pada Alan. Luka bakar Hana lumayan dalam menembus beberapa bagian lapisan kulit. "Besok Lo bawa istri Lo ke rumah sakit. Biar dilihat apakah ada kerusakan jaringan kulit atau tidak." Arka mulai membersihkan luka Hana dengan alkohol dan membalut dengan kain kasa. "Ini memang sedikit perih, tapi jangan dilepas, takut terkena debu dan infeksi. Alan, mungkin malam ini Lo akan begadang jaga istri Lo." "Sekarang aja bisa nggak? Biar daftar operasi atau apa bisa lebih dulu. Gue takutnya lebih parah dari itu." ucap Alan. Mau bagaimana pun ini harus segera ditangani dan tidak biar terjadi lagi hal yang lebih serius. "Han, kita ke rumah sakit sekarang aja. Nggak ada waktu untuk nanti, lukanya cukup serius. Kalau nunggu besok takutnya kering. "Oke, sekarang kita bisa ke rumah sakit. Lo tenang aja, gue bakal urus semuanya. Kita berangkat sekarang aja." Kata Arka "Alan, aku takut. Kayaknya ini udah mendingan. Aku baik-baik, aja." Hana seakan menolak mentah-mentah untuk datang ke rumah sakit apalagi harus melakukan tindakan operasi dadakan seperti ini. "Ini terlalu berisiko Hana. Kamu mau lukanya membekas di kulit kamu? Tolong, ini demi kebaikan kamu, kebaikan untuk kedepannya juga. Jangan khawatirkan apapun, semuanya akan baik-baik saja." Jangankan lalat mengigit kulit Hana. Sejengkal ular mendekat pun tidak ada izin untuk melukai kulit putih Hana. "Ya? Jangan tolak." ucap Alan lagi. "Istri Lo sama kayak istri gue. Keras kepala, padahal kita mau yang terbaik buat dia. Apalagi sekarang istri gue lagi hamil. Astaga, semuanya seenak dia." Arka menggelengkan kepala saat mengingat sang istri "Serius? Ya begitulah kaum hawa. Nanti kapan-kapan kita double date sakalian Hana juga biar ada temannya. Ya kan sayang?" tanya Alan pada Hana. "I---Iya... Boleh." Kini Hana dan Alan pun berangkat menuju rumah sakit diiringi oleh Arka. Sesampainya di rumah sakit, Hana langsung mendapatkan penanganan yang sangat baik. "Kamu temanan sama dokter itu udah lama?" tanya Hana tiba-tiba, di sampingnya ada suster yang sedang memakaikan infus dipunggung tangan Hana. Saat jarum ditusukkan pada pembuluh darah Hana, Hana pun langsung meringis, menahan perih pada bagian kulitnya. Berkali-kali Alan memperingati suster agar istrinya tidak merasakan sakit. "Mbak, napasnya nggak usah di tahan, ini nggak bisa loh." "Sakit, Sus." "Sus, tolong! Pelan-pelan bisa kan?" Kata Alan lagi. Sang suster tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Lan, kamu belum jawab pertanyaan aku." "Iya, dia teman SMA ku dulu. Kenapa? Oh ya, nanti kamu bisa kenalan sama istrinya Arka. Seumuran kamu kok, biar kamu ada temannya. Nggak keberatan kan?" tanya Alan. Mungkin dengan adanya Ayla dan Hana yang berteman, rasa trauma dan sifat introvert Hana perlahan hilang. "Temanan sama istrinya? Tapi aku canggung, Lan." kata Hana tak percaya diri. "Kamu bisa kok, aku yakin itu. Kenapa kamu nggak percaya diri begini? Kamu cantik, lebih cantik dari siapapun. Ratu Elizabeth jauh banget cantiknya, lebih cantik kamu malah." "Sshhh, aduh. Kayaknya hati aku lebih nyeri deh dari pada tangan aku yang kena tusukan jarum infus. Kamu gombalnya nggak romantis banget sih, bikin perut aku geli." Hana tertawa geli. Dipukulnya tangan Alan yang memegang tangannya "Hahaha, aku serius. Sebegitunya kamu nggak mau dengar aku romantis begini." Alah tertawa geli, baru kali ini dia merayu perempuan. "Wajar sih, orang jomblo dari lahir, mana bisa romantis-romantisan." "Iyaa... aku minta maaf ya, nggak bisa seromantis suami orang lain. Biasanya terkenal s***s di depan karyawan." "Ih kok baper sih, kan cuma becanda. Kalau baper aku pulang nih." "Habisnya aku bukan lelaki yang seromantis anak muda zaman sekarang. Emang aku keliatannya gimana?" "Ya makanya, ayo pacaran. Belum pernah pacaran kan? Tapi kok bisa cium?" "Ini lagi pacaran, apaan sih bikin bete deh." Alan memonyongkan bibirnya. "Iya ya. Padahal kemarin aku pengen ngakak kamu pacaran. Sayangnya nggak jadi karena ada insiden mengerikan itu. Aku nggak bakal mau deh ke situ lagi. Aku heran aja, kenapa sih orang-orang di sana pada anarkis. Kan udah dibilang kita nikah, tapi kok masih ngeyel. Seenggaknya kasih kita kesempatan buat kasih bukti kalau kita udah nikah. Ini malah keroyokan." "Maaf ya, aku jadi merasa bersalah sama kamu. Gimana pun aku yang ajak kamu ke villa dan berakhir kejadian begini." "Iya nggak apa-apa, tapi tangan aku jadi nggak mulus lagi gimana dong. Pasti kamu minder kan punya istri tangannya ada luka kabar?" "Ada perawatan khusus, jangan khawatir soal kulit kamu." "Maaf ya, kamu jadi harus biayain banyak. Aku jadi nggak enak sama kamu." "Kan kamu istri aku, apapun yang kamu mau, aku turuti selagi kamu suka dan bahagia. Uang bisa di cari," Hana hanya tersenyum tipis. Bahagia bisa diperlakukan baik oleh suaminya. *** "Arka kamu kok pulangnya malam banget? Ada banyak pasien ya?" Ayla membantu Arka melepas jas dokter miliknya. "Aku telfon kamu malah nggak angkat." "Lumayan banyak, Sayang. Soalnya bukan sembarang pasien, anggota dewan yang menjalani transplantasi organ jantung baru. Agak susah operasinya." "Pasti capek ya? Air hangat buat kamu mandi udah aku siapin. Kamu mandi aja dulu, masakannya biar aku panasin lagi aja." "Makasih istri ku yang baik hati...." Arka mencium kening Ayla. "Anaknya gak dicium? Dari tadi loh kangen papahnya. Ditendang terus akunya," Kata Ayla sambil menunjuk ke arah perutnya. Kini usia kandungan Ayla sudah lima bulan. Senang sekali dan tak sabar menunggu kelahiran sang anak. Meski belum tahu jenis kelaminnya, Ayla dan Arka tidak mempermasalahkan jenis kelamin anaknya kelak "Halooo anak Papa, udah makan belum sayang? Mama makan apa aja? Enak nggak? Besok mau apa? Papa beliin yang banyak biar kita mukbang bertiga." Arka menyamakan tinggi badannya dengan perut Ayla "Pengen permen kapas, Papa. Tapi yang karakternya upin-ipin ya. Biar lucu." Kata Ayla menyamakan suara akan kecil, seakan itu adalah sang anak yang menjawabnya. "Hahaha oke-oke kita beli ya. Ay, tadi aku ketemu Alan sama istrinya. Namanya Hana, barangkali dia bisa jadi teman kamu, nanti aku kenalin kamu ke mereka." "Alan? Hana? Siapa lagi? Hana siapa?" Tanya Ayla bingung. Dia duduk dipinggir ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Teror dari Dinda-- perempuan-- yang ingin merusak rumah tangganya saja belum masih belum selesai. "Bukan begitu, aku ada teman namanya Alan, dia sohib aku sejak SMA. Sekarang baru ketemu, dia punya istri pengen kenal sama kamu istri Alan nya, biar kalian kenal gitu loh. Nggak ada maksud lain kok." "Oohhhh bilang dong, kamu sebut nama cewek lain mendadak gitu. Ya aku kaget lah, suster Dinda aja belum ada kejelasan hubungan apa-apa sama kamu, masa kau harus ngebatin lagi? Udah sana mandi, kalau liat kamu nggak mandi aku emosi jadinya." Arka berlalu mandi, setelah beres dia langsung menemui Ayla yang sedang menghangatkan masakannya. "Masak apa hari ini?" "Sup iga kesukaan kamu. Ada ikan gurame juga sih. Tuh, kurang sayang apa aku sama kamu. Demi kamu, aku rela tuh masak ikan gurame, yaa walau yang bersihin Bibik sih, hahaha" "Sambalnya mana? Ya nggak apa-apa kan yang penting enak dimakan. Nanti pisah nyuci bajunya ya, baju yang bekas aku bawa dari dinas jangan di jadiin satu." "Iya, nanti aku bilangin sama bik Asih. Oh iya, mangga yang aku minta mana?" "Masih di mobil, Sayang, biar aku nanti yang ambil." Arka makan dengan lahap, karena 1 minggu full di rumah sakit, dia rindu masakkan rumah. "Nggak ada lagi kan nanti nginap di rumah sakit?" Ayla mengambil segelas air mineral untuk Arka minum. "Aku libur 1 minggu, nanti masuk lagi. Sekarang lagi susah ambil jatah libur, banyak dokter baru yang harus dibimbing senior." "Enak nggak masakannya? Itu di rumah sakit benar-benar nggak ada dokter lain? Klinik kamu juga udah lama banget itu kosongnya. Obat-obatan masih banyak banget loh." "Ada, tapi untuk ahli syaraf cuma aku sama dokter Ali aja, beliau udah sepuh udah mau pensiun. Jadi mau nggak mau harus aku yang gantiin, sampai ada dokter pengganti buat beliau baru aku bisa normal lagi dinasnya." "Yaudah. Pokoknya kamu semangat aja kerjanya. Jangan galak jadi dokter, kamu kan orangnya galak." "Kan sama kamu, aku jadi jinak. Kenapa emangnya?" "Pelan-pelan makannya. Kamu kayak orang nggak makan setahun aja. Nanti keseleg gimana?" Protes Ayla kesal. "Iyalah jinak, orang aku pawang kamu kok." "Aku jarang nemu masakkan rumah, sehari-hari makanan kantin sama katering bosan itu-itu mulu." "Besok aku ikut deh ke rumah sakit, kan kamu punya kamar pribadi di situ." "Nggak, itu terlalu berisiko buat kamu. Kan kamu lagi hamil, banyak obat kimia nanti bahaya loh." "Tuh kan, pasti nggak diizinin. Kenapa? Jangan-jangan benar ya kamu tidur sama selingkuhan kamu?" "Apasih sayang, kan aku udah bilang. Nggak ada apa-apa, nanti aku bawa kamu kenalkan ke istrinya Alan." "Iya, gampang itu. Tapi aku pengen ikut ke rumah sakit, Arka. Aku itu susah tidurnya kalau nggak dekat kamu, gimana sih. Nggak peka banget, aku itu lagi hamil anak kamu, tapi kamu tinggal terus!" Ayla mulai berkaca-kaca, entah kenapa dia merasa cengeng sekali dan selalu ingin ada di dekat Arka. "Iya nanti kalau jam makan siang kamu datang ya, sekarang ini kan banyak penyakit yang menular. Takutnya kamu kenapa-kenapa." Ayla berdecak kesal. "Yaudah, nanti aku bawa aja cowok lain tidur di sini! Ada tuh yang ngejar aku, Raka." "Iya Aylaaaaa.... nanti aku pikirkan biar kita tidurnya berdua. Aku di sana juga kerja kan? Nggak mungkin juga aku tidur satu jam dua jam." Ayla membuang muka ke samping. Padahal ini semua juga atas kemauan anak yang ada di dalam perutnya. Dulu, juga Ayla tidak terlalu masalah jika memang Arka tidak bisa pulang, tapi sekarang kondisinya sedang hamil. Lantas apa yang salah jika dia ingin dimana oleh Arka? Ponsel Arka berdering, pertanda ada pesan yang masuk. Hilang selama beberapa Minggu, kini Dinda kembali muncul. Tidak mengatakan apa-apa. Hanya mengirim sebuah foto yang benar-benar membuat Arka terkejut setengah mati. Saat itu, Arka yang menginap di rumah Dinda benar-benar tertidur dengan sangat pulas. Sampai tidak menyadari bahwa Dinda masuk ke dalam kamarnya dan ikut berbaring. Ternyata diam-diam Dinda mengambil foto mereka berdua yang sedang tertidur pulas, persis seperti orang yang habis bermesraan. Jantung Arka nyaris berhenti berdetak saat melihat foto yang Dinda kirim. Dengan cepat, Arka menghapusnya, menghilangkan jejak agar Ayla tidak mengetahui hal ini. "Siapa? Mau ke rumah sakit lagi?" "Ada orang konsultasi, tapi aku balas lagi nggak bisa. Capek banget badannya." "Yaudah, kamu habis ini langsung istirahat aja." "Iyaa, sayangku. Pokoknya malam ini aku mau sama kamu terus. Kita nikmati malam ini, oke?" "Iya, Arka." "Nggak romantis banget sih. "Nggak romantis gimana?" "Panggil sayang dong." "Astaga. Iya, Iyaaaaa, sayang." "Nah gitu kan enak dengarnya." Arka mengedipkan sebelah mata pada Ayla. "Dasar genit!" *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN