Bab 34

1210 Kata
*** Tiga hari Hana mendapatkan perawatan di rumah sakit dan sudah melakukan operasi pada bagian luka bakarnya. Tinggal pemulihan saja, Hana akan segera sembuh. Tidak lama kemudian pintu kamar inap Hana terbuka menampilkan sosok Arka dan Ayla. "Gimana bro? Istri Lo udah mendingan kan?" "Oy! Mendingan, ini istri lo? Waaahhh... mau punya anak lo. Siapa tau Hana juga nanti ketularan hamilnya." "Lo kapan nikah emang Lan? Iya, ini istri gue. Udah hamil 5 bulan. Sebenarnya anak pertama kita ada, cuma meninggal karna suatu insiden. Kalau ada sekarang umurnya udah 9 tahun." "Kemarin lusa. Han, itu istrinya Arka. Siapa tau kalian nanti bisa berteman." "Hai, aku Hana. Istri Arka." kata Hana memperkenalkan diri. "Gue turut berdukacita, Ar. Kalau boleh tau anak Lo meninggal kenapa? Sakit?" tanya Alan hati-hati. "Ayla...." menyapa ramah Hana dengan sanyum manis. "Nggak juga sih, hehe.. udah jangan di bahas. Hasil CT scan istri lo udah dapet? Obatnya? Yang terbaru jangan pakai obat yang lama." "Tenang, bahkan yang termahal bisa gue kasih buat istri gue." "Hahaha, Lo nggak berubah dari dulu. Songongnya minta ampun." Mendengar itu Alan tertawa. Rasanya kembali dibawa ke zaman dahulu saat dia dan Arka sibuk mengejar mendidikan. *** Hari ini Hana sudah diperbolehkan pulang. Kondisi luka bakarnya sudah mulai membaik. Sesampainya di rumah, Hana disambut hangat oleh keluarga Alan. Tante Sabrina dan Tante Tasya memeluk Hana secara bergantian. "Alhamdulillah akhirnya Hana bisa pulang. Kamu nggak boleh ngapa-ngapain, intinya kalau ada apa-apa bisa langsung panggil Bibik yang ada di rumah ini." Hana menganggukkan kepala mendengar peringatan tante Sabrina. "Alan, kamu bisa langsung datang ke hotel? Papa kamu sedang ada pertemuan besar dengan klien yang baru saja datang dari Rusia. Mengenai pemukiman yang kamu ratakan kemarin, mereka ingin menanam saham di sana saat hotel baru kamu didirikan." Kata Tante Tasya pada Alan. "Rusia? Bukannya sudah dibatalkan dari tahun kemarin? Itu proyek memang bukan untuk dilelang atau pun dibuka untuk kerjasama. Alan sendiri yang akan membangun Apartemen untuk cabang pertama. Kenapa jadi Papa yang dahului?" "Makanya kamu datang aja, papa kamu mau tanya, baiknya gimana." "Harusnya Papa bilang dulu, ini kenapa jadi seenaknya begini. Kan nggak sesuai prosedur dari perusahaan kita, hampir kita bangkrut. Terus mau jalan seperti apa nantinya?" Tante Sabrina dan Tante Tasya tidak berani komen apa-apa. Sebab mereka tahu bagaimana watak Alan. "Kamu jangan salah paham dulu Alan. Coba tanya baik-baik dulu sama papa," kata Hana mengingatkan suaminya itu "Bukan aku salah paham atau apa, aku nggak suka aja papa kayak gini." "Yaudah, kamu coba tanyain baik-baik sama papa. Jangan pakai emosi, aku nggak suka laki-laki yang lebih ngedepanin emosinya, apalagi sama ayahnya sendiri." "Tanpa diskusi dulu masalahnya, aku nggak suka cara yang tiba-tiba tanpa rencana dulu." Alan menekan tombol panggil di ponselnya. "Mungkin papa sengaja nggak kasih tau dulu karena kamu lagi nemanin aku di rumah sakit, Lan." Hana terus melakukan cara agar Alan tidak emosi lagi. "Halo, Alan?" Mario mengangkat panggilan dari sang anak. "Jangan dulu Papa tandan tangani surat perjanjiannya, ada hal yang harus Alan selesaikan dulu dengan mereka." "Iya, ini belum tanda tangan apa-apa. Kamu langsung saja datang ke kantor." *** Setibanya di kantor, Alan yang datang tanpa persiapan apapun hanya berpakaian kemeja berwarna abu-abu dan celana hitam, sepatu sneakers putih, benar-benar santai. Biasanya selalu menampilkan aura rapih dan maskulin. Dia melenggang masuk melewati lobi. Jennie dan Hans suaminya tidak sabar untuk bertemu dengan Alan. Jennie adalah perempuan asal Indonesia yang menikah dengan lelaki asal Rusia. Dulu memang sempat menetap di Indonesia tapi setelah putri ya berusia enam tahun mereka memilih tinggal di Rusia untuk melanjutkan bisnis sang suami. "Alan masih lama datangnya?" Tanya Jennie pada Mario "Mungkin dia di jalan, kita tunggu saja." Hans dan Jennie menunggu di ruangan Mario. Ruangan yang bergaya classic eropa menjadi ciri khas seorang Mario, di setiap sudutnya selalu di hiasi lukisan antik, patung-patung tua, dan juga rak buku terpajang rapih di sisi kanan temboknya. "Lalu apa Apa sudah memiliki kekasih?" "Kenapa kamu menanyakan hal privasi tentang anak saya?" tanya Mario heran. "Mungkin putriku bisa mendampingi Alan, misalnya." "Mendampingi Alan? Itu ti..." "Tidak masalah kan? Ah iya, saya tau pasti pak Mario tidak mungkin kan asal pilih menantu. Sepertinya memang Alan itu cocok dengan Sesilia." Kata Jennie penuh semangat, terlalu bangga dan sangat terlihat bersemangat untuk menjodohkan putrinya dengan Alan. Kedua bola mata Mario berotasi menatap Hans dan Jennie. "Tidak, Alan itu ke..." "Pak, tidak masalah. Alan dan Sesilia memang belum mengenal. Jika ketemu saya yakin, Alan dan Sesilia pasti saling menyukai," seperti dikelilingi euforia, Jennie tersenyum tanpa beban. Suara pintu ruangan Mario, menampakkan Alan yang di ambang pintu. Wajahnya dengan penuh kesal dan sangat ingin mencaci maki clientnya dari Rusia ini. "Biar anak saya yang jelaskan..." ucap Mario. "Ahhh Mario? Ternyata kamu memang sangat tampan ternyata. Benar kan sayang?" tanya Jennie pada sang suami, reaksi wajahnya seakan meminta dukungan atas ucapannya. Hans menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ucapan sang istri. "Saya senang bisa bertemu langsung dengan Anda. Anak muda yang bisa sukses diusianya. Tadi, istri saya sudah bercerita dengan ayah kamu. Barang kali, kamu mau berkenalan dengan anak kami, namanya Sesilia. Lulusan S1 terbaik di Rusia. Sekarang dia sedang melanjutkan S2." Alan sama sekali tidak tertarik dengan cerita keluarga Hans maupun tentang anaknya. "Tidak, termakasih. Saya lebih tertarik dengan pembahasan saham, bukannya kita batalkan di hari itu? Apa belum jelas tentang isi perjanjiannya?" kata Alan. "Kenapa kita tidak bisa bekerjasama dengan baik?" "Dalam perjanjia tertulis bahwa tidak bisa lagi mencampuri urusan pribadi dengan perusahaan. Cukup jelas bukan?" "Iya, kalau kita tidak bisa jadi partner, tentu jadi keluarga bisa, kan?" Jennie seakan memaksakan bahwa dia benar-benar sangat ingin menjadikan Alan menantunya. Sebab jika dengan Alan pasti hidup Sisilia bisa terjamin Jari tangan kanan Alan tersemat cincin di jari manis. "Oh ya? Hahaha.... belum beredar kabar tentang saya?" "Humm, kabar apa itu." "Papa sudah menjelaskan, tapi mereka tidak beri kesempatan, lebih baik kamu yang jelaskan." Kata Mario pada Alan "Saya sudah menikah, satu minggu yang lalu." "Menikah?" Muka Jennie tampak tidak suka. "Istri kamu siapa? Pasti kamu hanya nikah kontrak kan?" "Pernikahan saya sah, tanpa ada keterpaksaan. Besok saya kenalkan untuk kalian." 'Tidak, bisa. Apapun caranya aku harus bikin rumah tangga mereka hancur. Karena hanya anak saya yang pantas bersanding dengannya.' Kata Hans dalam hati. "Ohh, baiklah. Tapi tidak ada salahnya juga kan, kamu berkenalan dengan putri saya?" tanya Jennie sekali lagi. Tampaknya penolakan Alan secara halus tidak direspon sama sekali "Kenapa? Ingin memaksa lagi? Kalau begitu, silahkan mundur dari proyek ini. Tidak akan saya bertindak sejauh itu hanya demi rumah tangga saya hancur." "Kenapa? Ayolah Alan. Tidak salah kan berteman dengan anak saya?" "Bayarlah dulu hutang perusahaan kalian, selebihnya tuhan yang berkehendak." "Kondisi Hana bagaimana? Dia sudah lebih baik?" kali ini Mario yang bertanya. Dia pun juga ikut cemas dengan kondisi menantunya itu "Jauh lebih baik dari sebelumnya Pa. Jadi, perihal proyek ini saya sarankan pak Hans untuk mundur." "Saya rasa pertemuan kali ini cukup sampai di sini. Anak saya sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan proyek ini." "Oke baiklah. Mungkin kita bisa satu partner di proyek lain. Mmmhh malam ini mungkin kami akan datang ke rumah kamu, membawa Sisilia. Yaa sekedar untuk silaturahmi." Siapa sangka, Alan menyetujui apa yang merek inginkan. Sebab Alan pun akan dengan bangga memperkenalkan Hana sebagai istrinya. Perempuan yang benar-benar sangat dia cintai, sangat lebih dari apa pun. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN