Bab 40

1456 Kata
Tiga jam belalu Arka menjalani tugasnya. Rasanya lelah tidak tertahankan. "Akhirnyaaa... selesai juga hari ini." "Alhamdulillah, ya dok akhirnya operasi bisa berjalan lancar. Saya dapat kabar katanya besok ada 2 dokter ahli syaraf. Jadi dokter jadwalnya sudah normal kembali." "Serius? Kalau soal jadwal, saya mau buka praktik di rumah aja sih." Arka bercengkrama dengan kedua perawat lainnya. "Iya, besok udah masuk, Dok. Ini dokter mau langsung pulang?" "Pulang deh, capek banget ini. Istri saya juga udah nunggu di ruangan saya." "Ohh baik, dokter. Terimakasih, sampai ketemu di operasi selanjutnya." Tiba di ruangan, Ark mendapati Ayla yang sudah tertidur di tempat bedrest miliknya. "Pulas banget tidurnya, apa biarin aja dulu ya?" Ayla tidak ada tanda-tanda akan bangun. Tidur adalah opsi paling tepat baginya. Sejak pagi hingga sore Ayla ada di sini "Sayang, mau pulang nggak? Biar tidur di rumah aja yuk. Nggak enak di sini sumpek begini loh." Ayla hanya bergumam kecil, mengubah posisinya miring ke samping. Kalau sudah tidur, Ayla paling malas untuk bangun. "Udah nggak bisa kalau begini, ganti baju dulu deh." Arka mengganti pakaiannya di ruangan yang sama. "Tidur di sini aja, aku capek banget. Malas bangun, malas jalan." Ayla menarik selimut dan kembali memejamkan mata. Arka yang tidak tega membiarkan Ayla di sini langsung mengamati barang miliknya dan tas milik Ayla juga dibawa. Tinggal menggendong Ayla dan membawanya pulang ke rumah. Sepanjang koridor rumah sakit orang-orang hanya berdecak kagum. Ingin jadi istri seorang dokter Arka. "Dok, istrinya kenapa? Ada masalah?" Seorang suster tampak khawatir saat Arka menggendong Ayla dengan kondisi mata Ayla terpejam "Tidur, nggak bangun dia, jadi saya gendong. Biasanya nggak akan bangun." kata Arka. Sepasang kamera memvideo aksi Arka yang menggendong Ayla namun itu tidak ketahui langsung olehnya. "Sus, tolong bukakan pintu mobil." "Ohh baik, Dokter. Mari saya bantu." Suster pun lantas mengikuti Arka dan langsung membukanya pintu mobil. "Pulas banget ya dok tidur, beruntung banget nona Ayla punya suami sebaik dokter." Arka hanya membalas senyum saja. Memakaikan seat belt pada Ayla lalu menancapkan gasnya untuk langsung menuju rumah. "Semoga nggak ngantuk, bahaya juga sih setir mobil begini." Saat dalam perjalan Ayla pun terbangun karena merasa aneh. "Arka?" Ayla mengerutkan kening, kemudian membuka mata. "Kok aku bisa ada di sini?" "Hmm? Udah bangun? Nggak apa-apa tidur aja sayang, ini sebentar lagi mau nyampe kok. Mau makan dulu di luar atau nggak?" "Kamu ngantuk, ya? Mata kamu merah banget loh. Aku aja yang bawa mobil gimana?" tanya Ayla. Dia mengusap wajah dan mengucek mata beberapa kali. "Ini sebentar lagi sampai rumah, mau makan apa? Nanti aku buatin." "Apa, Ya. Aku juga nggak tau, nanti aja deh makan kalau lapar, sekarang lagi nggak pengen makan. Ntar kalau muntah lagi gimana." Setelah perjalanan selama 30 menit dari rumah sakit, sampailah di rumah mereka. "Hooamm! Ngantuk banget, ngantuk berat aku sayang." "Yaudah yuk tidur. Si bibi kayaknya juga udah selesai beberes ini. Lagi nyuci kayaknya deh." Ayla kembali duduk di atas sofa. "Kamu tau nggak, kita belum beli apa-apa tau buat perlengkapan anak aku." "Besok kita beli ya, aku ngantuk banget nggak tahan matanya. Kalau malam takutnya nanti hujan." "Iya, besok aja. Sekarang istirahat aja dulu." Arka berlalu ke kamar langsung merebahkan badannya yang terasa lelah berlebihan. *** "Sayang! Ikannya nggak kasih kamu makan ya? Kok lemas gini sih." Alan berada di kolam ikan belakang rumah Hana. Ikan koi yang dibelinya hari itu di pasar bersama Hana. "Ya gimana aku mau kasih makan, kan kita kemarin-kemarin di rumah kamu." Hana datang sambil membawa kotak berisikan makanan ikan yang sudah mereka beli saat itu. "Kasihan ikannya, aku kuras aja kolamnya deh. Ini udah kotor begini takutnya mati ikannya." "Kamu mau nguras kolam? Yang bener aja? Emang kamu bisa?" "Bisalah, ini kan ukuran 2 meter doang. Nggak segede kolam renang kan?" "Iya, Iya, coba kamu kuras, ikannya dipindahin ke baskom aja. Bentar aku ambil dulu baskomnya." Hana kemudian berjalan ke dalam rumah, mengambil baskom yang ada di dalam kamar mandi. Tidak lama setelah itu dia kembali membawa baskom yang sudah berisi air bersih. "Taro sini dulu ikannya." Alan membersihkan kolam ikan dengan sangat teliti dan bersih. Menyikat lumut dipinggiran kolam, membuang semua kotoran yang menumpuk di tepi kolam. "Pakai selang air, kamu ada nggak?" "Ada, sebentar aku ambil dulu." Hana kembali ke dalam, mengambil slang air yang Alan minta. "Ini kan?" tanya Hana saat kembali menemui Alan "Salurin ke krannya, sama mesin pembersih air yang kemarin aku beli." "Oke...." Hana melakukan sesuai instruksi suaminya. Kemudian Hana kembali mendekati ikan-ikan yang sudah ada di dalam baskom. "Ih lucu banget sih ikannya. Gemes liatnya." Selesai membersihkan kolam ikan, berlanjut membersihkan ilalang yang menutupi teras belakang rumah Hana. "Kamu jarang bersihin tamannya? Nanti jadi sarang ular atau binatang buas loh. Mau aku cariin tukang kebun nggak?" "Biasanya aku suka bersihin. Ini karena dua Minggu nggak ke sini jadinya kayak gini. Gimana aku mau bersihin kalau aku aja selalu ada dekat kamu, nggak boleh kemana-mana." Hana pun ikut membersihkan rerumputan buang tumbuh menjalar. "Alan aku boleh tanya sesuatu gak?" "Tanya apa? Jangan tanyain yang aneh-aneh ya...." Kata Alan sembari Alan memotong rumput kering dengen gunting tanaman. "Nggak tanya yang aneh kok. Ini semisalnya, kalau aku nggak bisa kasih kamu anak gimana? Kamu kan sangat berharap punya keturunan buat jadi pewaris kamu." "Mau di kasih cepat atau lambat, itu semua rezeki masing-masing Han. Rumah tangga kita diuji keturunan ya bagi aku nggak masalah. Emangnya kenapa? Kamu mau buat perjanjian?" "Enggak, cuma aku harus sadar diri. Mungkin kita nggak bisa sama-sama lagi, karena aku pengen kamu punya keturunan." "Sabar, semua pasti dikasih. Aku nggak banyak nuntut banyak-banyak sama kamu. Yang penting kita hidup rukun berdua aja aku bersyukur." "Semalam, aku mimpi. Aku ketemu sama keluarga aku yang udah meninggal. Mereka bilang, kalau aku sama mereka akan segera berkumpul. Aku takut, aku takut ninggalin kamu, Lan." "Mimpi itu cuma bunga tidur, jadi kamu jangan ambil sisi buruknya. Ambil sisi baiknya, berarti kamu harus lebih baik dari sebelumnya." Alan berusaha untuk tidak terlihat panik. Meskipun sebanarnya dia sangat takut untuk kehilangan Hana. Hana kemudian menganggukkan kepala mengerti. "Ini udah bersih. Udah yuk, tangan aku perih ini, pada kena duri." "Biar aku aja bersihin, kamu istirahat bikinin aku makanan aja." "Kan tadi udah dibikin. Emang mau makanan apa lagi kamu nya?" "Mmhh... aku mau pisang goreng, belum pernah cobain juga. Gimana sih rasanya" "Mau pisang goreng? Boleh. Aku bikin dulu." Hana pun langsung masuk ke dalam rumah. Tidak lama setelah itu ponsel Alan berdering pertanda panggilan masuk sang papa Alan menghentikan sejenak aktivitas memotong rumputnya. "Ada apa, Pa?" Alan, kamu di mana? Kenapa kalian tidak ada di rumah. Papa dengar kamu dan Hana bertengkar? Sekarang bagaimana hubungan kalian Alan?" "Nggak kok Pa, kebetulan hanya salah paham aja perihal rumor yang pernah beredar. Dalangnya memang Marissa, dia penyeban semuanya." "Marissa! Perempuan itu benar-benar kertelaluan. Lantas kenapa kalian masih belum pulang? Kalian ada di mana?" "Alan di rumah lama Hana. Mungkin kita menetap di sini pa, apapun yang Hana mau. Alan turuti." "Alan.... Rumah papa besar, si sini lebih nyaman. Kamu anak papa satu-satunya, Lan. Ayolah, pulang " "Beri Hana pilihan pa, gimana pun Hana berhak memilih." "Yaudah, kamu coba tanya Hana." Alan mematikan ponselnya sementara. "Sayang, ada papa telepon. Dia mau kita balik ke rumah lagi, kamu mau nggak? Aku nggak maksa apapun dari kamu." "Balik ke rumah? Kamu kan udah janji sama aku mau tinggal di sini. Apa karena di sini nggak semewah rumah kamu ya?" Hana membawa sepiring pisang goreng yang baru saja dia masak untuk Alan. Gurih dan sangat wangi sekali. "Tunggu dulu, ini bukan aku yang mau. Papa yang tanyakan ini, aku sendiri lebih suka di sini. Tapi papa merasa di rumah itu sepi nggak ada kamu." Hana mengembuskan napas pelan tidak menjawab pertanyaan Alan. "Nih, cobain deh. Enak gak?" Alan mengambil satu potong pisang goreng. Rasanya berbeda dari makanan lainnya, gurih, renyah dan manis. "Humm?! Enak! Kok bisa sih... enak loh!" "Iya dong, kan aku bikin pakai cinta. Makanya enak. Mau nambah gak?" Tanya Hana pada Alan. "Boleh, bikinin teh hangat juga ya. Pakai daun mint." Tiga potongan di telan habis oleh Ala. Rasanya tidak pernah makan gorengan seenak ini. "Yaudah, sebentar. Kamu tunggu di sini. Aku bikinin dulu. Pelan aja makannya." Kata Hana, dia mengisap bibir Alan yang terkena sisa makanan saat memakan pisang goreng. "Jangan pakai gula yaa!" Begitu kata Alan, dia baru saja diperhatikan oleh seorang perempuan seperti Hana saja sudah meleleh, apalagi ada seorang anak. "Iya, kan nggak perlu. Aku kan gulanya jadi kamu cukup liat aku biar kerasa manis, kan?" Kata Hana menggoda. Dilayangkannya tatapan maut pada Alan sambil menaik-turunkan kedua alisnya "Haha, genitnya istriku. Jadi kapan dapat lagi? Kan janjinya hari ini aku dapat." "Dapat apaan? Dapat undian?" Alan yang mendengar langsung tidak bersemangat. "Nggak, nggak jadi. Yaudah bersehin sendiri kolamnya, udah janji juga." *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN