***
Ayla memilih beberapa kaus kaki bayi yang lucu-lucu dan penuh motif boneka.
"Arka, liat. Lucu kan ini? Bagus gak buat baby aku?"
"Baby kamu, itu anak aku!" As Raka berdecak kesal.
Ayla hanya tertawa pelan melihat Arka seperti itu.
"Iya, bagus, tapi beli yang itu aja. Ada sayap lebahnya gitu."
Arka memilih baju bayi bergaya lebah madu, sangat lucu. Sekali lagi Arka sangat tidak sabar menanti buah hatinya.
"Selimut, bantal, apalagi ya? Lucu-lucu."
Begitu antusias Arka memilih.
"Apa ya, baby box? Kayaknya butuh deh. Aku kan nggak bisa tidur tenang, takut bayinya malah ketindih sama aku lagi."
"Boleh, mau pilih yang mana? Selimutnya biru aja, sesuaiin sama warna box bayinya. Biar lucu."
Momen ini kembali terulang saat kehamilan Kayla. Ini benar-benar seperti mimpi bagi Arka, tidak bisa melepas momen yang indah dan tidak pernah terulang.
"Silahkan pak, buk. Sedang ada promo untuk pembelian satu set dengan selimut, juga bantal gulingnya. Nanti bisa dapat voucher undian berhadiah untuk brand ini pak." ucap pramuniaga yang menawarkan barang promosi.
"Undian mbak? Hadiahnya apa aja?" tanya Arka.
"Ada sepeda motor, rice cooker, satu set panci penggorengan dan masih banyak lagi." Jelas pramuniaga.
"Yang, pilih gih! Seru deh kayanya. Ada undian kan lumayan juga, barangnya oke deh kayanya."
"Ayuk, warna biru kan? Turutin aja kali ya mbak, mau om nya." Kata Ayla, dia senang sekali menggoda Arka di dekat orang lain. Selalu mengatakan bahwa Arka adalah om nya.
"Masa om nya sih mbak, kan papanya. Awas loh nanti anaknya seratus persen mirip papahnya."
Ayla hanya tertawa, kemudian menyengir ke arah Arka.
"Biasa mbak, calon mama muda itu begitu. Yaudah pilih gih."
Tengah memilih, dari jauh tetap saja ada penggemar dari Ayla.
"Kaaakkk, Kak Ayla. Ah dia sama suaminya. Ayoooo minta foto!" Tiga orang perempuan yang notabennya adalah penggemar Ayla langsung berlari mendekati Ayla.
Mereka langsung menyerbu untuk memeluk Ayla. Nyaris Ayla kehilangan keseimbangan karena terkejut.
"Eehhh, astaga ya ampun. Haaiii kalian."
"Kak, minta fotonya dong...."
Arka yang di dekat Ayla tidak menjauh dari kerumunan, tetap menjaga Ayla agar tidak jatuh ataupun tersenggol.
"Tolong ya, hati-hati jangan berdorong. Kasihan istri saya sedang hamil." kata Arka.
Rasanya beginilah seorang selebritis. Arka sendiri sangat kesal dengan tingkah mereka. Karena bisa membahayakan.
Tidak sengaja seorang perempuan muda hampir membuat Ayla jatuh, dengan sigap dan tanggapnya Arka menahan tubuh Ayla.
"Eh! Hati-hati!"
"Awsshh, perut aku ketekan."
"Astaga maaf, Kak. Maaf kita nggak sengaja, Kak. Kakak nggak kenapa-kenapa kan?" Dia ikut khawatir karena dia benar-benar tidak sengaja saat hampir membuat Ayla celaka.
"Kak, minta fotonya ya. Sama suaminya juga."
"Iya, boleh. Tapi jangan desak-desakan, saya pusing."
"Tolong kasih ruang, jangan berdorong. Saya nggak larang untuk berfoto sama istri saya, tapi saya mohon untuk jangan membahayakan istri saya."
Kali ini Arka bisa memaklumi, sekali lagi seperti ini tidak akan dia mengizinkan bersuafoto lagi.
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, mereka mengucapkan banyak terimakasih dan mendoakan mereka agar tetap selalu bersama.
"Lama-lama aku keluar pakai masker ini biar gak ada yang tau."
Tidak jauh dari sana Ada Alan dan Hana yang selesai memilih baju dan beberapa alat untuk keperluan dapur yang baru. Tidak lupa, Alan menggandeng tangan Hana. Tidak sedikit pun dilepaskan.
"Yang, itu Ayla sama Arka kan? Samperin yuk! Ajak makan deh, kita masih kepagian juga kesini."
Alan mendorong troli belanjaan berisi barang yang sudah terbeli.
"Ayuk..." Hana langsung memeluk lengan Alan, kemudian berjalan mendekati Arka dan Ayla
Dilihatnya Ayla sedang duduk di atas kursi sambil memegangi perutnya. Kening Hana berkerut bingung.
"Kamu kenapa, Ay?"
"Eh, Hana. Ini perutnya agak keram, udah fasenya sering keram begini." Ayla mengelus perutnya.
"Nggak, tadi tuh ada fansnya Ayla. Mereka yang nggak sabar gitu, gue bilang jangan dorong-dorong. Maksa juga, mau gue usir nanti diviralin." sepertinya Arka masih kesal.
"Terus gimana? Lo bawa kursi roda nggak? Emang netizen itu susah dibilangin. Kasar sedikit viral, nanti juga lo liat aja di sosial media pasti ada." Alan sudah menebak bagaimana seorang yang tidak jauh dari rumor.
"Terus gimana? Itu aman nggak? Takut nanti bayinya kenapa-napa." Kata Hana ikut khawatir.
"Enggak perlu, beneran deh. Aku tuh cuma keram aja, dari tadi jalan ke sana kesini kan cari keperluan buat baby."
Tetap saja Hana merasa khawatir. Apalagi kandungan Ayla belum memasuki usia 7 bulan. Sebab rasanya itu sangat berbahaya.
"Lain kali aku nggak akan bagi izin ke mereka. Takutnya kamu jatuh terus fatal, itu yang paling aku nggak bisa tinggal diam. Nggak ada privasi banget loh." begitu kata Arka.
"Bawa istri lo istirahat di cafe aja Ar. Sekalian kita ngobrol aja gimana? Biar rileks." ucap Alan.
"Nah bener kata Alan, sekalian kita makan. Belum pada makan kan pasti? Kalau nggak salah dekat sini ada Kafe yang enak kan, Lan?" Tanya Hana pada Alan.
"Yaudah yuk, kayaknya udah semua deh. Nggak ada lagi, minyak udah, telor udah, semua udah sih ini mah."
Hanya berjarak naik satu lantai, mereka sampai di kafe yang dituju.
Suasanya sangat nyaman kekinian, bergaya anak muda jaman sekarang. Kafe yang mengusung tema vintage ini selalu ramai dikunjungi anak-ank muda maupun mahsiswa.
Kali ini mereka datang dijam yang tepat. Masih tidak terlalu ramai karena baru jam sebelas siang lebih tigapuluh menit.
"Biasanya ramai, rezeki kita nih." ucap Alan bergurau.
"Haha bener banget, kalau udah ramai mah kita nggak kebagian tempat duduk lagi deh."
Hana kemudian duduk di kursi yang sudah dipersiapkan Alan. Di satu meja mereka duduk berempat. Sesekali tertawa saat melihat Alan yang menggoda Hana dengan gemas.
"Kenapa ya, Han. Cowok itu suka banget ngegombal." Kata Ayla terheran-heran. Sebab Arka sama seperti Alan, suka menggoda dan mengeluarkan kata-kata manis yang membuat d**a seakan dikelilingi euforia.
Kadang dia juga geli sendiri mendengar gombalan dari sang suami yang kadang terdengar sangat receh.
"Tapi biasanya cewek itu suka digodain, bilangnya aja nggak suka. Eehhh malu ternyataa... ahaha." kata Alan.
"Semalam kan gitu, Yang. Iya kan?" sambung Alan lagi.
Ayla yang mendengarnya langsung paham.
"Jangan di sini doonggg pasutri hahahha."
"Gitu apa sih?" Hana mencubit perut Alan dengan keras
"Enak banget Lo, Lan. Kalau gue mah nunggu mood istri gue baik!"
Kedua mata Ayla melotot.
"Kan lagi hamil, jadi suka capek. Makanya malas."
"Hahah, ya kan kamu suka gitu. Kenapa? Nggak ngaku?" Alan belum menyerah.
Selama menunggu 30 menit, akhirnya makanan yang dipesan sudah tersaji di meja yang mereka pesan.
"Ada yang mau dipesan lagi mas, mbak? Bisa langsung hubungi waiters kami ya. Silahkan dinikmati." sapa ramah seorang waiters.
"Iya makasih mbak." balas Ayla.
"Alan!" Air muka Hana sudah berubah, pertanda moodnya menjadi buruk.
Diam-diam Ayla dan Arka tertawa
Tidak lama setelah itu ada dua orang perempuan duduk di meja yang ada di samping mereka. Pandangannya beralih pada Hana.
"Eh, itu si Hana kan? Cewek gamon yang ditinggal pacar sampai sekarang gak laku-laku?"
"Iya sih gue denger juga gitu, banyak yang bilang jadi simpanan om-om. Segitunya nggak laku ya."
Pembicaraan itu terdengar di telinga Alan. Meradang seluruh emosi Alan, ingin membuat peringatan, tapi ini tempat umum. Memang mulut manusia ini! Hanya bisa berkomentar.
"Biasalah, perempuan murahan sama siapa aja oke, nggak bisa lupain mantan jadinya ngegatel sana-sini."
Kedua mata Hana terpejam, kenapa banyak sekali orang-orang yang memandangnya sebelah mata.
"Kayaknya itu orang belum rasain deh diserang netizen. Kalau aku ajak nih fans aku serbu mereka kayaknya bisa deh." Ayla memakan steak yang ada di depannya.
Alan yang mendengarnya mulai meradang dan ingin sekali membalas. Belum tahu saja mereka kalau Hana menikah dengan pemilik mall ini, atau bagaimana mereka mendengarnya kalau Hana memiliki suami yang kaya dan seorang pengusaha properti.
"Temui saya di kafe lantai dua, bawa surat perjanjian brand yang dari Amerika kemarin." begitu percakapan Alan disambungan teleponnya.
Han, Arka, dan Ayla saling melemlar pandang tidak mengerti apa maksud dari Alan.
"Sorry Ar, gue sambil kerja. Karena ini proyek besar jadi gue haru tandatangani sesegara mungkin." ucap Alan menjelaskan maksudnya ditelepin tadi.
"Oh, santai aja Lan." ucap Arka.
Selang beberapa menit kemudian, manager mall ini datang bersama dua asistennya menemui Alan di kafe.
"Selamat siang Pak Alan. Maaf mengganggu...." sapa manager ramah.
"Duduk, kita satu meja saja ya karena ini yang paling DEKAT!" ucap Alan penuh penekanan di akhir katanya.
Alan mengintruksikan pada pelayang kafe untuk mematikan musiknya sementara. Setelah musik berhenti barulah Alan membahasnya.
"Biasalah, simpanan orang kaya. Atau orang pura-pura kaya kali ya, Hahaha...."
Lirikan mata Alan semakin tajam menatap mereka yang semakin mengeluarkan kata-kata pedas.
"Eh Lo ingat nggak sih, si Dimas itu kan hobi banget nyelingkuhin dia. Bahkan saat mereka pacaran aja dia itu dijadiin pacar nomor sekian. Bodoh banget jadi perempuan, mau-maunya menjalin hubungan sama laki-laki yang nggak bisa bertahan sama satu perempuan."
Teman perempuan itu menganggukkan kepala pertanda setuju dengan apa yang dikatakannya. Karena pada dasarnya, tidak ada satu perempuan pun yang mau diduakan.
Untuk menghilangkan rasa yang menohok saat mendengar dua perempuan itu berbicara, Hana memilih untuk berbicara dengan Ayla.
"Eh, Ayla. By the way ni lucu banget ya baju bayi-bayinya. Jadi gemas liatnya."
Alan memanas tidak ingin tinggal diam.
"Terimakasih pak sudah mengundang saya makan siang." kata Manager mall.
"KAMU JELASKAN KALAU BESOK ADA BRAND TERKENAL MASUK KE MALL SAYA, DAN BERITAHU MEREKA KALAU NANTO ADA EVENT FASHION SHOW MINGGUAN DI SINI. ADA UNDIAN JUGA, NANTI ISTRI SAYA SEBAGAI PEMILIK MALL INI, PAKAI BRAND ITU LANGSUNG." Alan sengaja meninggikan suaranya karena emosi.
"Oh, baik, Pak. Jadi nanti ibu Hana langsung ya yang akan memakai rancangan pertama baju itu. Saya akan menyelesaikan semuanya dalam dua hari ini."
Bukan hanya Ayla saja yang terkejut, melainkan Hana. Hana bahkan tidak tahu kalau ternyata suaminya itu juga pemilik mall tempat dia berbelanja sekarang.
Yang Hana tau, Alan hanya memiliki Hotel dan Perusahaan saja. Sisanya Villa-villa yang ada di beberapa tempat.
Berbeda dengan Arka, sejak jaman kuliah dia sudah mengenal Alan. Dia tahu kalau Alan memang seorang anak dari pengusaha yang memiliki beberapa saham-saham di Jakarta, bahkan di Bali.
Ternyata hal itu malah tidak ada pengaruh apa-apa bagi keduanya. Mereka bahkan menganggap Alan hanyalah orang yang mengada-ada.
Sebenarnya Arka tau kalau Alan seperti itu karena risih dengan Mulu kedua perempuan yang duduk tak jauh dari mereka.
Alan beralih dari tempatnya duduk, dia langsung menuju panggung kecil yang sedang di isi oleh penyanyi kafe.
"Ekhem! Perhatian untuk pengunjung Kafe Kopilo. Saya akan mengumumkan beberapa info penting. Hari ini, birthday istri saya dan untuk merayakannya saya traktir sepuasnya makan di kafe ini TANPA BATAS! Satu lagi...." Alan belum melanjutkan perkataannya.
Semua pengunjung kafe terkejut bukan main. Alan mengacungkan debit card hitam tanpa batas.
".....Saya selaku PEMILIK dari mall ini, mbak yang berada di meja nomor 10 dekat dengan meja saya. Manager! Tolong blacklist dua orang itu tidak ada transaksi atau pembelian di mall saya. Sekian terimakasih!"
Yang mendengar hal ini merasa sangat terkejut, apalagi dua teman Hana yang sudah menggunjing istri pemilik mall yang bukan main sadisnya.
"Eh seriusan si Hana istri?" Tanya perempuan itu pada temannya, Istaka namanya.
Dia pikir Hana hanya benar-benar simpanan saja. Atau sekadar pelampiasan untuk melepaskan nafsu seorang pria.
Mendengar pernyataan Alan, kedua bola mata Hana berotasi, menatap setiap penjuru arah. Kini semua mata seakan tertuju kepadanya.
"Kamu ulang tahun, Han? Serius?" Tanya Ayla satu bulan ya lalu dia juga baru saja merayakan ulang tahunnya.
"Iya, ini ulang tahun aku yang ke 25 tahun."
"Wah, sama. Ya ampun happy birthday ya, Han. Semoga panjang umur, dan semoga cepat dapat garis dua juga." Ayla merapalkan doa untuk Hana. Mendengar itu Hana hanya tersenyum.
"Serius, Pak? Kita makan gratis hari ini?" Tanya salah satu punggunjung kafe yang ada di sana.
"Serius, apapun yang dipesan, saya yang bayar. Khusus hari ini, dan nanti besok ada pergaan busana dari brand Amerika special edition hanya sati hari. Ada undian, ada promo menarik."
Trik marketing Alan dikeluarkan. Apapun harus terlihat hebat dan harus dibuat senewah mungkin.
Mereka semua bersorak ramai.
"Kalau gini ceritanya tajirnya Arka kalah nih. Aku mau dong jadi istri keduanya Alan."
Ayla melirik ke arah Arka dilayangkannya senyuman menggoda. Arka hanya membalas menirukan bibir Ayla.
"Haha, yang tajir belum tentu setia Ay. Alan kalau nggak ada waktu, dia bisa 2 hari di kantor. Ambisinya terlalu besar, apalagi soal bisnis." terang Hana.
Alan yang sudah puas mengoceh di panggung, kembali duduk di sebelah Hana.
"Keren lo, Lan. Gue pikir Lo bakal labrak itu orang berdua." Kata Arka, dia melemparkan senyum remeh ke arah dia perempuan itu.
"Kamu nggak perlu kayak tadi tau, Lan. Orang-orang kan pada liat ke sini."
"Ya terus kenapa? Aku bicara memang faktanya, untuk dua orang ini memang aku yang buat aturan baru, blacklist dari mall. Aku yang punya suka-suka aku dong!"
Hana hanya mengembuskan napas, dia serahkan semuanya pada sang suami.
***
Bersambung