Sepulang dari mall Alan dan Hana akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah Mario untuk beberapa saat saja. Mengingat Mario yang benar-benar sendiri membuat Hana tiba-tiba menjadi tidak tega. Tidak hanya itu, Mario pun sejak tadi berkali-kali menelfon Alan agar anaknya itu datang ke rumah.
Kini, keduanya sudah berada di teras, pintu utama lalu dibuka oleh asisten Alan.
Mario sudah berada di ruang tengah. Dia yang sedang duduk di atas sofa lalu berdiri sambil membawa kertas di tangannya.
"Akhirnya, kalian datang juga. Papa punya sesuatu buat kalian."
"Sesuatu?" Kening Hana berkerut bingung.
"Ini tiket untuk kalian ke Bali. Kamu bawa Hana liburan ke sana. Satu lagi, kamu harus mengurus proyek pembangunan cabang hotel kita di sana. Sudah hampir jadi, untuk beberapa saat kalian harus tinggal di sana. Oke?"
Kedua mata Hana langsung beralih menatap Alan.
"Gimana?"
"Hmmm..... kamu mau atau nggak? Bisa dipikirin baik-baik kok. Kalau aku ikut mau kamu aja." Alan mengalah.
"Ya harus mau dong, papa yang cari sendiri. Sekalian, kalian mau buka usaha kecil-kecilan kan? Biar kalian survei makanannya, konsepnya, tempatnya mau seperti apa. Coba keliling Bali sambil kalian liburan." begitu kata Mario.
Ada benarnya juga, terlepas dengan segala gosip yang beredar mereka harus mempulihkan otak masing-masing.
"Papa tau, kalian pasti shock berat dengan berita itu. Papa yang nantinya akan bereskan masalah wartawan. Tenang aja..."
"Yaudah, boleh. Lalu kan emang harus kerja di sana. Nggak apa-apa, kok. Tapi kalau untuk menetap di Bali. Kayaknya aku nggak bisa, Lan. Aku nggak mau ninggalin rumah nenek."
"Minggu depan kamu masuk kuliah loh, udah siap belum? Biar kamu ada pembekalan soal bisnis."
Rencana untuk meninggikan pendidikan Hana menang sudah dari awal planning Alan.
"Itu bagus, biar Hana itu nggak dipandang rendah. Papa dukung ya Han." ucap Mario.
"Soal tempat bisnisnya nanti, biar aku yang pilih. Kamu tinggal kelola aja nantinya."
"Tapi sebelum aku bisa kelola dengan benar, aku masih pengen kerja di hotel, ya. Please izinin, yaa seenggak ya kita bisa ketemu di tempat kerja kan?"
Hana yang memang masih berniat untuk bekerja di Hotel. Tidak akan berhenti sebelum masa kontraknya habis. Hal itu dia lakukan agar dia bisa profesional dalam bekerja
"Enggak, nggak ada kontrak kerja lagi. Kan kamu udah jadi istri aku. Pusing banget mikirin kerjaan belum kelar, biarin aja."
"Ayang, Please...." Hana merengek, memegang tangan Alan layaknya anak kecil yang ingin dibelikan mainan
"Tadi kamu dengar aku jawab apa? Kalau kamu mau disorot wartawan sehari-hari boleh aja. Asal aku nggak mau dengar rumor apapun, setiap hari keluarga kita selalu di sorot wartawan. Kamu mau?"
"Bilang aja kamu mau berduaan sama Marissa."
"Justru aku sehari-hari berudaan terus sama Niko. Nggak mungkin dong sayangkuuuuuu..... kan aku ada tingkat keamanan yang tinggi. Nggak sembarang orang yang masuk, kecuali kamu. Kamu bisa akses tanpa aku."
"Alibi kamu doang, pasti cuma alesan kamu kan larang aku ke Hotel, sengaja pisah kerja dari aku karena kamu bisa ketemu sama dia kan? Terus nanti kasih alasan kalau dia itu sahabat kamu?"
Mario yang mendengar hanya tertawa pelan.
"Sepertinya istri kamu cemburu, Lan."
"Gimana enggak, Pa, banyak tamu penting di sana. Apa kata mereka nanti? Udah bikin istri glowing, perawatan, cantik, ya nggak mungkinlah!"
"Udah, turutin aja dari pada dia ngambek. Kalau perempuan ngambek kita sebagai cowok susah, Lan." Mario berbisik pada anaknya itu.
"Yaudah ada satu syarat, kalau kamu mau banget kerja lagi.
"Apaan? Apa syaratnya? Ayo bilang sekarang, yang.*
"Interview ulang, ambil bagian administrasi. Berani? Kamu kan nikah sama aku otomatis kamu resaign dari kerjaan kamu yang dulu."
"Nanti kalau ada nggak suka gimana? Dan anggap aku pakai orang dalam? Udahlah, nggak apa-apa kok, kerjaan yang biasa aja, ya."
"Nggak, nggak bisa. Kamu udah bukan karyawan aku lagi, jadi otomatis kamu harus melalui tahap awal lagi. Kumpulkan berkas persyaratan untuk kerja, dan interview."
"Yang..... Ih ayolah, aku mau interview sama siapa, yang. Astaga, suami aku kenapa maksa sih."
"Kamu juga maksa. Yaudah, aku buat peraturan baru. Terima atau nggak itu kan terserah kamu, lagian kamu nggak kerja udah lebih dari satu bulan. Itu artinya kamu mengundurkan diri tanpa seizin dari aku."
"Iya, Iyaaaaa. Aku bikin lamaran baru." Kata Hana pada akhirnya.
"Oh iya, aku tadi liat hape kamu, dan ada pesan dari Marissa. Dia bilang dia kasih sesuatu buat kamu, dan itu ada di Niko."
"Iya, dia kasih kue buat Niko. Kenapa? Cemburu? Dan satu lagi, sesuair prosedur yang pada saat pelamar kerja ditolak, nggak akan bisa melamar lagi."
"Apaan sih, nggak bisa dong kayak gitu. Aku kan sebelumnya udah kerja dan diterima. Kalau gitu aku nggak usah ngelamar lagi."
"Loh, kan itu prosedur dari aku. Dulu kamu kerja dibagian cleaning service, sekarang administrasi ya beda jauhlah! Ikuti aja peraturan kerjanya, kamu nanti tau sendiri. Bagimana kerja dalam pengawasan aku."
"Yaudah, kalau gitu kamu nggak usah dijatah lagi." Hana berlalu meninggalkan Alan. Bibirnya tak hentinya mengomel pada Alan
"Yakin? Mau kerja nggak? Belum juga di coba, udah nyerah. Ah cemen!"
"Bodo amat!" Sesampainya di kamar, Hana mengganti pakaian. Jelas saja hal itu membuat Alan tidak bisa berkutik. Tubuhnya diam dalam beberapa detik.
Alan yang tepat diambang pintu, nyaris tidak ingin melepaskan momen ini. Mendekati Hana yang sedang membuka baju satu persatu.
"Jangan dekat-dekat, pokoknya kamu nggak bakal dapat lagi." Kata Hana penuh ancaman
Namun tenaga Alan jauh lebih besar dari Hana. Begitu mendekat langsung menerkam tubuh Hana dengan leluasa.
"Oohhh ini ancaman!?"
"Alasan, pokoknya kamu nggak bakal dapat kalau kamu nggak izinin aku kerja di hotel."
Hana yang bergerak seperti itu justru memancing Alan. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, pelukan itu semakin erat.
"Ya kan aku kasih kesempatan, posisi kerja jauh lebih tinggi dari cleaning service. Kamu mau kerja dekat aku atau bau tempat s****h? Di suruh-suruh karyawan lain? Kamu mau yang mana?"
"Iya-iya. Tapi nanti aku kerja bareng kamu. Kan kuliahnya bisa online sementara."
"Emangnya kamu siap begini terus di kantor?"
"Di kantor? Mau begitu di mananya?"
"Masa aku harus jelasin? Kan kamu tau hakikatnya seorang istri dan suami ya kan? Kalau aku nuntut itu di kantor boleh nggak?"
"Emang ada kamarnya? Kalau karyawan lain tau gimana?"
"Kalau kantor yang di pusat, nggak ada. Tapi kalau di seluruh cabang hotelnya, ada. Ya kan bisa aku sewa kamar hotel VIP khusus punyak ku."
"Iya, iya, oke boleh." Hana pun berbalik hingga tubuhnya dan Alan sangat dekat.
"Aku mau mandi dulu. Habis itu istirahat, capek banget."
"Kok istirahat sih? Kan belum mulai yaaanggggg....." Alan merengek.
"Oke, iya..."
***
Taman belakang rumah sakit masih terlihat sepi, Arka baru saja menemui pasien yang sedang dalam masa pemulihan.
"Mana sih, katanya ada perawat baru. Nggak muncul-muncul juga, mana ini mau jam sibuk."
Terlihat sekali Arka berjalan terburu-buru, perawat baru yang ditunggunya tidak kunjung datang.
Hari ini Arka kembali bertugas setelah mengambil hari libur 3 hari. Bukannya banyak pasien yang menunggu, tetapi sudah ada dokter yang menggantikan. Baru lulus cumlaude kedokteran spesialist bedah syaraf. Ini waktu luang yang lumayan Arka miliki, dia bisa pulang setelah ini.
"Dok, hari ini tim kita ada perawat dan dokter baru. Ada pertukaran shift jadi setidaknya tugas kita seterusnya tidak terlalu berat, Dok." ucap suster Siti. Suster senior yang ada di tim bedah syaraf Arka.
"Oh ya? Itu kapan mereka gabung? Kok saya nggak tau ya?" Arka sama sekali belum ada informasi lanjut menengnai ini.
"Baru kemarin siang dok, untuk tim dokter juga ada kok. Masih muda, dari tenaga perawat memang ketua departement yang pilih. Itu setau saya begitu." Lanjut sang suster.
"Ada berapa tenaga perawat yang ikut tim saya?" tanya Arka.
"Hhmm.. dua orang saja. Tapi sepertinya kita tidak boleh terlalu percaya pada orang baru. Tim dokter memang selalu mendapat apresiasi dari masyarakat kalau pelayanannya baik dan sopan. Semoga nggak ada rumor melenceng ya dok." begitu suster Siti mencemaskan.
Arka mengangguk sebagai jawaban. Semoga kedepannya rumah sakit ini akan jauh lebih baik lagi.
"Dok, saya sudah lama sekali tidak melihat suster Dinda. Apa dia sudah tidak bertugas di rumah sakit ini lagi? Maaf ya dok saya menanyakan hal ini, karena yang saya tau dokter lumayan dekat dengan suster Dinda."
"Apa itu juga termasuk urusan pribadi saya? Mau dia pergi atau pindah tempat bukan urusan saya. Kita kembali kerja."
Aeka memilih tidak menjawab pertanyaan partner kerjanya.
"Maaf, Dokter. Saya pikir dokter tahu." Mereka berjalan di koridor rumah sakit
"Dok, bukannya itu mbak Ayla ya?" Suster Siti menunjuk Ayla yang ada di parkiran mobil
"Yang!" Arka berteriak dari jauh berharap didengar istrinya.
Ayla yang mengenali suara itu langsung mencari sumber suara. Dia tersenyum saat melihat Arka.
Ayla berlari mendekati Arka. Bibirnya tersenyum menandakan senang bertemu dengan Arka.
"Kangen...."
"Eh! Tunggu! Awas ada motor!"
Arka bergegas lari, untungnya jarak antara parkiran tidak terlalu jauh.
Ayla yang kaget langsung mematung di tempatnya.
"Kamu ngagetin ih."
"Kamu yang bikin kaget, di bilang hari ini jangan ke sini. Itu motor kenapa nggak bisa slow banget!"
"Gimana sih? Kan hari ini aku mau kontrol kandungan. Ih dasar suami pikun. Katanya mau siaga. Masa lupa jadwa cake up istrinya." Ayla melihat motor yang sudah meleset jauh dari pandangan. Jika tertabrak mungkin saat ini Ayla akan berada di rumah sakit dengan luka yang tak terduga.
"Aku lupa hubungi kamu, kalau dokter Aretha hari ini nggak bisa. Ada acara penting mendadak di rumahnya, ponsel aku lupa charger jadi begini."
"Tuh kan, emang nggak sayang sama anaknya."
"Iya sayangku, maaf ya. Yaudah masuk yuk! Kamu bawa apa?" Tanya Arka sambil melihat lunch bag ditangan Ayla. Aroma masakan selalu menggugah selera lapar Arka.
"Makan siang buat buat kamu, yang. Kamu mah lupain aku terus ih. Nangis nih aku."
"Aku baru selesai operasi tulang belakang dari subuh sampai jam ini baru turun."
"Kasian suami aku. Nggak jadi marah deh. Sini aku kiss dulu." Saking mesrahnya, pemandangan ini jadi sorotan pejalan kaki yang melewati mereka.
"Udah yuk masuk, panas loh. Aku juga mau mandi."
"Kenapa nggak mandi di rumah aja? Aku mau ikutan mandi bisa nggak?"
"Kamu kan alergi, takutnya airnya nggak cocok. Jangan ya, kasihan bebinya."
Saat berjalan menuju ruangan Arka, sempat melewati ruangan suster dan perawat beristirahat. Sekilas, Arka mendengar percakapan mereka.
"Iya, iyaa. Aku nggak ikutan kok, cuma becanda aja." Dengan mesranya Ayla meluk pinggang Arka. Telingay juga mendengar percakapan para suster.
"Sayang, kok suster-susternya pada kayak gitu sih? Kenapa jadi kesal buat layani masyarakat yang biasa aja? Apa emang peraturan rumah sakit di sini kayak gitu? Jadi, kamu yang dokter nggak mau bantu keselamatan pasien dong?" Tanya Ayla heran
"Aku baru dengar tentang ini. Tapi untuk pasien aku nggak begitu kok, mungkin dokter lain yang begitu. Selama ini respon orang-orang yang cek up semuanya positif kok."
"Loh, itu kan? Itu kan suster yang kemarin ngata-ngatain aku." Ayla melihat salah seorang suster yang kemarin sempat mengatakan hal yang pedas padanya.
Sebenarnya Ayla tidak ingin cerita dan bermaksud mengadukan semuanya pada Arka. Hanya saja karena melihat kelakuannya membuat Ayla jadi geram.
Sepertinya dia memang suster baru yang ada di sini
"Dia bilang apa? Kok kamu nggak cerita sama aku. Kapan? Biar aku labrak nanti."
Arka dengan rasa penasaran dan ingin sekali mencacimaki kembali.
***
Bersambung