Bab 43

1689 Kata
"Jadi kemarin aku gak sengaja nabrak dia pas lagi jalan. Emang sih aku yang salah karena aku fokus liat hape sambil jalan. Cuma nggak etis aja, masa dia sumpahin anak kita lahir prematur dan cacat. Padahal aku udah minta maaf, dianya tetap marah. Lebih parahnya lagi dia bilang kalau nanti aku lahiran dan terjadi apa-apa mereka nggak bakal tangani dengan baik, dengan artian mereka bakal biarin aku meninggal." "Seberani itu di bilang?! Astaga, aku cari siapa orangnya. Nggak mau tau, aku harus beri dia sedikit peringatan. Nggak etis loh, tenaga medis perlakukan masyarakat umum begitu." "Itu dia, yang megang pulpen." Ayla ikut menganggukkan kepala..dia juga tidak tinggal diam jika anaknya di doakan hal hal yang buruk. "Masa aku bohong sih, beneran dia kemarin bilang kayak gitu." "Kamu duluan ke ruangan aku ya, ini biar aku yang maju berhadapan sama mereka." "Oke, kamu mau ngapain mereka emangnya?" "Lihat nanti, aku dengar ini sering terjadi di departement spesialist anak. Nggak bisa aku sendirian, harus ada pihak lain yang menentang juga." "Yang lebih ngeselin itu tuh waktu gue lagi antar makanan ke pasien kamar 14 tuh. Mereka kan nggak bayar tuh tapi maunya ditangani dengan baik. Suruh cek kondisi anaknya terus, minta ganti infus malah nyuruh cepat. Mana pas gue ke sana ketemu orang hamil yang bikin gue makin bete lagi. Gue sumpahin aja tuh anaknya susah lahir, anaknya cacat atau matilah sekalian!" Suster Sista berkata dengan suara jengkel. Dia kemudian duduk di atas kursi sambil terus mengomel. Saat itu sudah Ada Arka yang mendengar dengan jelas perkataan Sista. Arka mendengar dengan jelas, ruangan itu hanya di sekat oleh tirai hijau menutup setengah jendela saja. Berdiri di sisi kiri ambang pintu yang terbuka, Arka dengan raut wajah yang memendam rasa ingin menyumpal mulut mereka satu persatu. "Suster baru? Berapa lama di sini?" Melipat kedua tangannya di atas d**a. "Tolong, ulang bagian kalimat terakhir. Saya mau dengar dengan jelas." "Do...dokter?" Suster Sista langsung kaget. Begitu pun lawan bicaranya. "Kalimat yang mana ya, Dok? Saya nggak ngerti apa maksud Dokter." "Oh begitu ya? Berapa lama kalian belajar keperawatan? Sudah di sumpah? Oh saya lupa, yang berhak mengatur segala tindakan medis di rumah sakit ini kalian?" "Maksud dokter apa? Saya nggak paham, Dok. Kami mengatur bagaimana?" Wajah Sista berubah drastis, seperti tidak terjadi apa-apa. "Jawab!" Arka menggertak. "Apa kalian di sini hanya untuk mencacimaki pasien atau mesumpah serapahi istri saya?!" "Tunggu-tunggu, maksud dokter? Menyumpahi istri? Saya saja nggak tau siapa istri dokter. Gimana saya mau nyumoahin Semakin mendengar alasannya, Arka semakin murka. Dengan gerakkan yang cepat menekan layar handphone memanggil dokter Rani. "Dok, keruang teratai nomor 34 sekarang! Mereka di sini." begitu kata Arka. Lalu mematikan ponselnya. "Hah! Jangan bersandiwara di depan saya. Apapun alasan kalian tidak bisa membuat saya sepercaya itu, masih belum mengaku? Saya ada buktinya, istri saya sendiri, pasien anak-anak dari dokter Rani, bukan hanya itu mereka ada snapchat yang tersebar luas di media sosial." Sista diam seribu bahasa. Ya dia ingat bahwa dia memang pernah memarahi seorang perempuan hamil. Sungguh dia tidak menyangka kalau itu adalah istri dokter Arka. Karena menunggu Arka terlalu lama akhirnya Ayla kembali dan melihat perdebatan antar suaminya dan beberapa suster di sina "Ih jadi ini istri dokter? Kamu fitnah banget ya, jangan mentang-mentang kamu orang kaya kamu fitnah saya. Kapan saya nyumpahin kamu!" Sista yang sudah terlanjur emosi menantang Ayla. Ditariknya tubuh Ayla dengan kasar. Terlanjur ketahuan lebih baik dia melepaskan emosinya Arka dengan cepat menampar Sista tepat didepan umum. "BERANI kamu sentuh istri saya?! Ini belum seberapa, saya bisa jauh lebih kejam daripada ini. Pasien yang kamu sakiti hari itu, bisa saya laporkan hari ini juga. Jangan pernah sandingkan sumpah kewajibanmu dengan k*******n fisik." Sorot kedua bola mata Arka benar-benar tajam. Sista memegang pipinya yang terasa perih. Memandang Arka dengan penuh dendam. "Arka, Arka, udah nggak usah di ladenin," Ayla menahan Arka agar dia tidak semakin membabi buta untuk menampar Sista "Kenapa? Belum puas menyakiti pasien di sini? Kamu lebih rendah dari predator binatang liar. Besok, saya jauh lebih dari pada ini. Satu sentuhan saja, saya bisa merobek isi perutmu detik itu juga." "Sayang, udah. Nggak usah diladenin. Kita tunggu aja pihak rumah sakit lakuin apa buat dia." Ayla menarik tangan Arka untuk keluar dari ruangan itu. Selanjutnya dokter Rani pun tiba, dia yang akan menyelesaikan kasus ini. Datang dengan tergegesah-gesah, dokter Rani sudah jera dengan sikap suster dan perawat baru ini. "Kalian masih ada urusan dengan saya! Tindakan kalian yang membuat pasien saya depresi mental! Ini nggak bisa dilanjutkan lagi. Besok kalian menghadap ketua dewan rumah sakit ini." "Tapi, Dok. Kita kan cuma tegas dengan pasien yang manja dan nyinyir!" "Diam! Semua bukti dari pasien sudah ada di tangan pengacara rumah sakit. Bersiaplah kalian untuk mendekam di jeruji besi." ucap dokter Rani. *** "Udah dong emosinya sayang. Dia kan udah ditangani. Liat kamu emosi kayak gitu bikin aku takut tau." Arka mengganti bajunya dengan kaos putih polos. "Gimana aku nggak emosi, korbannya istri aku sendiri nggak mungkin aku diam. Otak mereka nggak guna memang!" "Iya, tapi kan dia udah nggak ada di sini. Kamu bikin aku takut tau, marah-marah kayak gitu." "Udah suster baru kerja, belagu. Nggak bisa aku diam aja, coba kamu lihat tadi mereka mukanya santainya nggak ada beban rasa salah. Gila!" Ayla hanya diam, percuma bicara kalau Arka sudah mengomel seperti ini. "Aku lapar. Pengen buah nanas juga." "Sayaaanggg... makan yang lain aja. Masa iya harus nanas sih? Nanti bebinya keluar mendadak gimana?" "Kan kandungan aku udah gede, Yang. Terus kan juga makan nanasnya yang udah matang, nggak apa-apa kok. Aku lagi pengeeeen banget. Kayaknya lagi ngidam deh." "Aku pesan lewat aplikasi ya, yang rujaknya atau masih dalam bentuk buah?" "Buahnya dong. Terus kamu nanti makan mangga muda ya. Aku pengen liat kamu makan mangga muda pakai garam." "Kamu ketik sendiri ya, aku mau mandi dulu gerah banget ini." "Ih nggak mau, kamunya g pesanin Arka, gimana sih." Wajah Ayla berubah kesal. "Oohhh bilang aja, kamu nggak bisa pesan online makanan kan? Mau bakso nggak?" Arka mengetik pesanan yang akan di ordernya. "Mau, banyakin baksonya ya. Aku kan berdua sama baby-nya." Arka belum menyadari kalau Ayla sedang di live akun sosial medianya. "Kamu ngapain yang? Itu foto bukan?" Melambaikan tangan ke arah kamera. "Aku live, kenapa? Kamu kepo ya?" Arka membaca setiap komentar di live Ayla. "Memangnya aku viral? Kapan?" Sempat terkejut. "Kepo ya kamu. Pas kamu bilang aku drama. Di Twitter tuh. Itu kan pas kamu kasar sama aku" "Enggak, pas sekarang ini. Masalah penanganan rumah sakit." "Itu aku nggak tau sih." "Ini ada yang komentar, dari fans kamu. Mereka dapat videonya darimana sih?" "Eh ini pas aku tidur ya? Kamu gendong kan ke mobil?" "Kapan? Mereka nemu dimana videonya." Arka menscrolling beranda salah satu penggemar dari Ayla. "Nggak tau, ini kok ada aja sih yang vidio-vidio, aduh...." _Hai kak! Ih ganteng banget suaminya_ _Suami kita semua deh!_ _Ketemu kakak di parkiran pas mau anterin mama cek up_ _So sweet_ Arka yang membacanya begidik geli. "Dapat darimana ini? Ada aja yang tau kita lagi pacaran." "Nggak sih, mereka semuanya tau kalau suami aku itu kamu. Tapi ada juga sih netizen yang suruh aku minta pisah sama kamu. Tau nggak? Saat itu aku benar-benar mau gugat kamu loh, kalau nggak hamil pasti udah gugat. Terus aku sempat mikir pas anak ini lahir juga lanjut gugat kamu." "Terus? Sekarang masih mikir kaya gitu nggak? Kamu nggak termakan bujuk rayuan dari fans dan netizen kamu kan?" "Tergantung sih, kalau kamu selingkuh atau kamu kasar lagi ya aku gugat sih." "Ekspresi wajah Arka benar-benar berubah saat Ayla berkata seperti itu. "Emang sekarang aku gimana?" "Yaa sekarang kamu udah berubah sih, jadi lebih baik, lebih perhatian. Tapi ada satu nih yang gak aku suka. Kamu kebiasaan bentak aku, sakit hati tau." "Itu kan bukan kebaikan kamu juga, aku ngelarang karena ada sebabnya. Masa iya aku mau celakain istri aku sendiri, padahal dia yang udah mengandung anak aku." "Tapi kamu kan marah-marah, aku sebel jadinya. Emang kamu cinta sama aku? Sampai takut mau pisah?" "Takut bangetlah, masa aku bohong. Munafik banget, kemarin aku marah karena kamunya nggak mau dengerin aku. Coba kamu seharian di sini bau obat, bau rumah sakit, bau orang sakit, aku aja enek. Kamu mau disini, jangan ngeyel kalau sama aku." "Iya kan aku maunya Deket sama kamu terus. Itu juga kan kemauan anak ini." "Oke, nggak apa-apa aku nggak akan larang, hari ini kamu boleh di sini. Tapi..... kalau udah ngerasa mual dan pengen muntah kamu pulang ya, oke?" "Iyaaa, sayang." Ayla memeluk Arka dari samping. Akhir-akhir ini dia semakin lebih manja. "Nanti buahnya di antar ke sini, minta tolong ke satpam yang di depan suruh naik ke ruangan aku." "Kamu makan ya buah mangga mudanya. Pakai garam tapi." "Iya, nanti aku makan. Aku harus operasi pasien aku dulu." "Yaudah, aku di sini ya. Tungguin kamu sama nungguin nanasnya. Di kecupnya kening Ayla dengan manis, itu di saksikan sat siaran langsung di layar handphone milik Ayla. "Astagaaa, cium aku juga, Mas. Ayooo cium aku jugaaaaa." "Cium yang halal aja, kalau halal jadi berkah dan ibadah. Maka dari itu, mbaknya cepat nikah ya jangan jomblo terus!" "Maunya dinikahin sama mas dokter aja." "Yang katanya mau dinikahin kamu tuh. Mau nggak nikah lagi?" "Nggak!" Arka tida lagi satu frame di layar ponsle Ayla. Dia sibuk memakai baju khusus membedah, pakai masker hidung warna hijau dan penutup kepala juga. "Kalau istrinya satu udah bikin bahagia, ngapain cari yang lain mbak?" begitu kata Arka, tiba-tiba di muncul begitu saja. "Tuh suami aku nggak mau nikah lagi, dia emang secinta itu sama aku guys. Udah dulu ya kapan-kapan kita live bareng lagi. Babay..." Ayla mengakhiri live streamingnya. "Yang, ngomong dulu lah sama anak kamu. Dia udah lama banget tau nggak kamu ajakin ngomong." Arka menurunkan badannya tepat di depan perut Ayla. "Papa kerja dulu ya sayang, nanti kita mukbang makan buah nanti ya? Makan bakso juga, jangan nakal di dalam perut Mama ya sayang." "Tuh, tuh, dia nendang kan? Kerasa gak? Dia itu paling senang banget tau kalau diajakin ngobrol sama papanya. Kamu itu harus sering ajak dia ngomong yang." "Oh iya ya, gas banget sih aku." Perlahan Arka pun menciumi perut Ayla beberapa kali. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN