“Ehm, ini …. “ Lelaki itu menggantungkan kalimatnya. Ia menoleh kearah Danisa, seakan menunggu reaksi dari gadis cantik berambut panjang itu. “Dia sepupu saya,” ucap Devan yang lolos begitu saja. “Sepupu, Pak?” tanya Danisa lirih. Meskipun kalimat itu masuk ke indra pendengaran Devan, lelaki itu seolah tak mendengar. Ia turun dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk wanita yang baru datang tersebut. “Tentu boleh, Ra. Rumah kamu masih di tempat yang lama kan? Belum berubah?” “Iya, aku masih tinggal di sana.” Danisa menatap kesal. Ia yang biasanya menjadi satu-satunya wanita yang diprioritaskan kini seperti tak dianggap kehadirannya. Apalagi, ketika Devan tak menjawab pertanyaaan dan justru meratukan wanita baru itu. Danisa kesal. Ia cemburu. Tangannya mengepal dengan tatapan si

