“Menikah?” tanya Danisa sok tak paham. “Kejadian malam itu, Pak Devan marah sama Randy dan membawamu pergi. Kamu wanita yang sedang digosipkan itu?” “Gosipkan apa si, kamu gak jelas, Yu.” “Kami itu sahabatmu, Nisa. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan hubunganmu itu.” Danisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia meringis, menampakkan jejeran giginya yang putih nan rapi, “Kalian pikirannya berlebihan. Aku dan Pak Devan hanya saudara.” “Saudara? Gak usah aneh-aneh.” “Iya. Ternyata aku dan dosen menyebalkan itu sepupu. Gak enak banget kan?” “Gak mungkin sepupu bisa semarah itu. Pak Devan tuh hampir memukul Randy, Nis.” “Iyakah? Aku malah gak tahu. Aku gak ingat apapun.” “Serius, berarti yang dibilang ….” “Apa sih? Kalian nyembunyiin apa dari aku.” “Tuh, Si Randy. Dia ….” “Dia apa

