Devan mengulum senyum. Ia menyadari kecemburuan istrinya ketika Maura masuk ke ruangan. “Duduklah! Kerjakan soal ini,” ucap Devan sambil mendekatkan sebuah buku dengan halaman yang sudah terbuka. “Ulangan, Pak?” Devan mengangguk. “Dev, maaf ya mengganggu waktunya. Saya harus ke sini pagi-pagi.” “Ya, sangat mengganggu,” ucap Danisa lirih menjawab pertanyaan wanita menyebalkan itu. “Ini keponakanmu itu kan?” tanya Maura menunjuk ke arah Danisa. “Kenapa harus mengerjakan di sini? Bukannya bisa dikerjakan di kelas?” “Kenapa? Ganggu Tante? Pak Devannya saja gak masalah,” ucap Danisa nyolot. Devan menoleh ke arah Danisa, membuat gadis itu bungkam dan kembali menatap ke lembar pertanyaan. Maura dan Devan terus mengobrol tentang dunia perkuliahan yang Danisa tak pahami. Netranya menatap

