“Sama foto kamu sendiri mesti cemburu?” tanya Devan tersenyum kecil. Ia melepas kertas penutup itu dengan sempurna. Sepasang suami istri berdiri dengan buku nikah di tangannya. Tampak juga senyum di kedua mempelai yang dipaksakan. “Kenapa nggak bilang kalau itu foto pernikahan kita, Mas? Tahu gitu Nisa bantu. Kalau tadi fotonya jatuh bagaimana?” tanya Danisa yang beranjak dan mendekat ke arah suaminya. “Kan tadi saya sudah bilang, foto wanita kesayangan saya. Siapa lagi kalau bukan fotomu?” Danisa tersenyum tipis, “Bilang saja foto istriku yang cantik gitu, Mas. Jadi Nisa langsung paham.” Devan menggeleng sambil menarik sudut bibirnya. Tingkah manja istrinya terus saja membuat hidupnya terus berwarna. “Kurang kiri dikit, dikit lagi. Eh, kelebihan, Nganan lagi, Mas,” seru Danisa ketik

