Seminggu berlalu, di mana mereka habiskan untuk terus berduaan. Pertengkaran selalu menghiasi pernikahan mereka, dengan candaan di dalamnya. “Bisa tidak perginya dibatalin aja?” tanya Danisa manja yang tidur di pangkuan suaminya. “Jika kamu memang keberatan, saya akan batalin.” Devan meraih ponsel di atas meja yang masih dalam jangkauannya. “Jangan, jangan, jangan!” Danisa merebut benda dalam genggaman suaminya itu. “Kenapa?” “Nisa gak ingin menjadi hambatan karir Mas Suami. Kata papa, uji kompetensi itu bagus untuk karir Mas Suami.” Devan tersenyum, “Saya prioritaskan istri saya, bukan karir saya.” “Tapi ... Ah, sudahlah.” Danisa menggerutu. Devan yang mengenakan celana pendek, terlihat bulu-bulu kakinya. Gadis itu kembali iseng dengan mecabut helaian rambut itu. “Dek ist

