Firdaus POV
Aku tidak tahu kemana Dita pergi setelah kejadian di rumah makan. Sudah 2 minggu dia tidak membalas pesanku sama-sekali. Sialnya. Besok kami harus bertemu di pengadilan untuk melangsungkan sidang. Aku tidak bisa terus-terusan bertahan dengan rengekan Lady.
Jalanan ibukota macet. Seperti biasa. Lebih lagi dengan libur lebaran, dan yeah, aku sebenarnya malas untuk tinggal di ibu kota. Macet, polusi, berserakan di mana-mana. But well, ada sisi baiknya juga di sini. Begitu memasuki apartemen yang dulu aku tempati, semua kenangan itu mendadak muncul kembali. Aku pikir Dita akan mengganti passwordnya, tapi sama saja.
Tidak ada perubahan sama-sekali. Juga, tidak ada orang. Bahkan semua barang-barang Dita ada di tempatnya.
“Dia tidak ada di sini, sir. Kami juga sudah mencari selama 2 minggu belakangan ini, dan….”
“Dan?”aku berbalik, dan menatap Partick. Sudah lebih dari beberapa minggu ini, dia menjadi pengawal pribadiku atas perintah Lady.
Sebuah surat dia berikan padaku. Melihat nama Dita disana, segera aku mengambil duduk di sofa. Membuka isinya pelan, dan membacanya pelan. Ternyata dia tidak akan datang ke pengadilan besok. Itu bagus sekali, karena pengadilan akan mempercepat proses. Sepertinya dia malu dengan kehadiran dirinya.
Tapi di atas semuanya. Perasaan bersalah melihatnya menangis kala itu masih menghantuiku. Tapi lagi dan lagi, aku tidak lagi mengkhawatirkannya. Karena sepertinya dia sudah membenciku.
“Kita segera ke rumah sakit.”
“Baik, sir.”
Inilah yang aku sebut, kenapa lebih untung menikah dengan Lady. See? Lelaki yang dulunya tidak bisa menundukkan kepalanya padaku. Sekarang melakukannya. Aku berjalan mendekati Justin, tersenyum mengejek melihat lelaki sialan itu. Dulu dia sering kali meremehkan seorang Firdaus. Dan sekarang, dia akan kena batunya.
“Apa kini kepalamu sudah punya engsel, Justin?”
Aku sangat tahu bahwa dia sedang menahan amarah. Dan itu semakin membuatku bersemangat.
“Maaf, sir.”
Hari ini ada pertemuan pribadi dengan Jhon Wang Abram–ayah Lady. Jadi, daripada mengurusi Justin, lebih baik aku segera berlalu. Bahkan melihatku saja, pasti dia kesal. Tentu, seorang direktur baru rumah sakit. Ya meskipun masih ada sosok yang lebih berkuasa daripadaku.
Jhon Wang Abram, salah satu pemilik rumah sakit. Sahamnya 40%, dan itu tergolong tinggi. Selain itu, aku tidak banyak tahu siapa kedua sosok pemilik rumah sakit lainnya. selama ini hanya Jhon saja yang memunculkan dirinya, karena dia memang menjabat sebagai direktur utama juga. Lady beruntung punya ayah seperti dia.
Entah kenapa dia memanggilku hari ini.
Tok…tok…tok
Sialan. Aku benci harus menunggu. Dia bahkan membuat waktu 10 menitku hangus sia-sia. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana. Seorang lelaki keluar dari dalam ruangannya, dan pergi tanpa menyapaku? Sialan. Siapa dia? Apa dia tahu siapa yang tadi dia tatap begitu saja?
“Masuk.”
“Pah.”
“Firdaus, masuklah.”raut wajah senang lelaki paruh baya itu menyambutku.
Ada satu rahasia yang tidak aku beritahu padanya. Itu juga dibantu dengan Lady, dan semua juga karena ide wanita itu. Aku tidak pernah memberitahu bahwa aku sudah menikah. Siapa juga yang mau menikahkan putrinya dengan lelaki yang pernah punya istri?
Tidak ada.
Jadi. Untuk menghindari masalah, dari awal keputusanku untuk merahasiakan status pernikahanku memanglah tepat.
“Duduklah, nak. Ada yang papah ingin bicarakan padamu, ini sedikit urgent.”
“Ada apa, pah?”
“Kau pasti melihat sosok lelaki yang tadi keluar dari ruangan bukan?! Dia itu adalah putra dari pemilik saham yang lain. Aku tidak tahu apa yang ingin dia lakukan, tapi munculnya dia sedikit membuat papah berpikiran yang lain. Maksud papa, bisakah kamu membantu papa untuk menyelidiki siapa dia?”
Aku tersenyum. Itu bukan persoalan sulit.
“Akan segera Firdaus lakukan, pah.”
“Baguslah, papa bangga punya menantu sepertimu. Oh iya, untuk urusan pernikahan, dan resepsi semua sudah ayah urus. Bagaimana dengan pihak keluargamu, apa mereka sudah memberi kabar kapan bisa datang?”
“Bisa, pah. Mama dan adik tinggal tidak jauh, mama sudah tua, jadi saya memintanya untuk dekat dengan saya. Adik juga sedang melanjutkan studi, jadi mereka dekat dengan saya.”
“Aigoo…”papa menepuk bahuku. “Kenapa tidak bilang dari awal jika keluargamu itu di sini juga. Segera bawa mereka, agar papa bisa mengenalnya. Nanti malam. Bagaimana?”
“Nanti malam Fir ada operasi dengan pasien VIP, Pa. Jadi tidak bisa dibatalkan, dan dia tidak mau dokter pengganti. Hanya mau Fir, dan Lady juga ikut membantu nanti.”
“Benarkah? Kalau begitu, setelah kalian berdua lebih longgar, segeralah datang ke rumah. Bawa keluargamu, jangan sungkan pada papa.”
“Baik, pa.”
“Jika masih sibuk, nanti saja kita lanjutkan bicaranya. Papa tahu menjadi manager pasti jauh lebih sibuk daripada dokter biasa. Tapi kau sudah terbiasa kan?”
“Tidak usah ragukan Firdaus, Pa. selagi masih muda, masih bisa melakukan banyak pekerjaan. Papa harus banyak beristirahat, jangan memaksakan diri.”
“Aigooo…Lady memang tidak salah memilih menantu.”
***
Ruang sidang di isi oleh beberapa pihak. Namun tidak seorangpun yang mewakili Dita.
“Sir, sepertinya perceraian ini akan lebih mudah. Karena Dita tidak datang.”
Aku mengangguk. Lady ikut menemaniku, dan memastikan informasi ini tidak bocor kepada siapapun. Aku masih duduk di tempat, berharap bahwa Dita akan memunculkan dirinya untuk kali ini. Dia membuatku seperti orang bodoh.
“Bagaimana saudara Firdaus? Apakah Saudari Dita tidak bisa hadir?”
“Saya…”
Langkah kaki dari ruang tengah membuat semua mata tertuju ke arah itu. Aku pikir yang datang adalah Dita, tapi seorang lelaki dengan pakaian serba hitam. Dia membisikkan sesuatu pada penjaga, dan mengisi posisi pengacara untuk Dita.
“Maaf yang mulia, tadi ada beberapa hal urgen yang membuat saya terlambat. Saya sudah menerima surat dari Nyonya Dita, bahwa dia menyetujui menceraikan Firdaus. Dengan hak yang diambil seperti apartemen, mobil, dan juga emas.”
“Mobil dan Emas?''tiba-tiba telingaku panas mendengar itu. Dia menjadi keterlaluan. “Apa juga maksudnya menceraikanku? Aku yang menceraikan wanita sialan itu, ya.”
“Tolong jaga perkataan Anda, suara Firdaus.”
“Sir, tolong tenanglah. Ini pengadilan, kita bisa dapat masalah jika membuat masalah.”
“Sialan, lepaskan aku.”
Segera aku duduk, dan menatap pengacara itu. Sepertinya dia menganggapku remeh. Bahkan dari tatapannya saja terlihat. Tapi karena Lady, aku harus menarik nafas panjang. Aku tidak ingin mempermasalahkan masalah ini.
“Silahkan pengacara dari pihak suadari Dita, lanjutkan.”
“Hanya itu saja yang mulia. Saudari Dita juga meminta agar proses penceraikan di lakukan secepatnya.”
“Baiklah. Saran diterima. Dari saudara Firdaus, apakah ada penolakan?”
“Tidak, yang mulia.”
“Baiklah, jika begitu. Syarat yang diajukan disetujui, dan silahkan datang untuk sidang kedua kalinya. Sidang selesai.”
Tok…tok…tok
Palu di pukul 3 kali, pertanda keputusan sudah final. Sialan, aku harus tahu dimana Dita. Ini benar-benar mempermalukanku. Aku melangkah keluar, dan mengikuti pengacara itu hingga ke basement. Dia berhenti, sepertinya tahu aku mengikutinya.
“Anda ingin tahu Nyonya Dita berada di mana, benar?”
“Tidak perlu aku tanya rupanya. Ya, aku ingin tahu dimana dia.”
“Well, Anda tidak punya hak untuk bertemu dengannya lagi, tuan Firdaus yang terhomat.”
“Sialan, berapa kau di bayar jalang itu huh? Aku akan membayarmu.”
“Hahaha…”
Kali ini amarahku benar-benar terpancing mendengar suara tawa lelaki di depanku ini. Tapi aku menyadari bahwa dia sesuatu yang berbahaya. Dari semua jenis pakaian yang dikenakan, tidak dari kelas rendahan. Bahkan mobilnya juga.
“Sampai bertemu di persidangan lagi, tuan Firdaus. Saya pamit dulu, anda tidak perlu mencari nyonya Dita sekarang. Anda mungkin tidak akan mengenalinya lagi.”
Berengsek. Dia meninggalkanku tanpa mendapatkan apa-apa.
“Fir, dari mana saja kau?”
Suara Lady mengacaukan pikiranku. Segera aku berbalik dan tersenyum. Menggenggam pinggangnya erat. “Hanya ada urusan sedikit, ayo bergegas pulang, honey. Aku ingin melakukan itu denganmu lagi.”
“Dasar, aku kira ada apa.”
“Tidak ada apa-apa.”