Grafik masih menunjukkan peningkatan. Dita koma sudah sekitar 2 minggu. Tabung oksigen membantunya untuk bertahan. Beberapa orang lelaki berpakaian hitam berjaga di depan pintu, tidak pernah meninggalkan ruangan itu barang sejenak pun.
Mereka menunduk begitu seseorang berjalan dari jauh. Menuju ke ruangan itu.
“Tauke Muda.”
“Apa dia sudah sadar?”
“Belum Tauke Muda, tapi dokter yang menangani mengatakan Nona Dita sudah ada perkembangan.”
Charlie mengangguk. Dia melepas jaketnya. Salah satu petugas itu cekatan mengambilnya. Charlie masuk pelan, tidak mau menimbulkan keributan. Mengganti bunga di vas. Lalu duduk di kursi, dan mengambil tangan Dita yang terasa dingin.
Dia adalah orang yang menabrak Dita.
Malam itu begitu sibuk. Dia buru-buru ke rumah sakit, karena salah satu anggota keluarganya tertembak, dan dia harus memastikan operasi berjalan dengan lancar. Lalu di tengah jalan, dia tidak menyadari ada seorang yang tengah menyebrang.
Charlie hampir kehilangan kesadaran begitu melihat Dita adalah sosok yang dia tabrak. Dengan menangis dia membawanya menuju rumah sakit. Merawatnya di ruangan VVIP, di rumah sakit milik pribadi keluarga Clark.
“Dita, please bangunlah. Katakan sesuatu. Maafkan aku, malam itu aku benar-benar kacau.”
Kembali meracau seperti biasanya. Charlie tidak tahu kenapa sejak kali pertama melihat Dita, ada sebuah rasa ketertarikan yang gadis itu pancarkan dari tatapannya. Untuk alasan yang dia tidak tahu, Charlie diam-diam menyelidiki tentang Dita.
Dengan mudah dia mendapatkan semua informasi mengenai gadis itu saat masih diperguruan tinggi. Sayangnya mereka tidak berjodoh. Jika kata Tauke Besar—kakeknya, ‘jangan pernah memaksakan takdir’. Jadi saat itu, Charlie yang sempat melakukan komunikasi singkat dengan Dita menghilang sepenuhnya.
Pada akhirnya, dia melarikan diri dengan menerima tawaran kakeknya. Menjadi Tauke Muda, dan belajar menjalankan bisnis dengan profesi sampingan sebagai dokter. Keluarga mereka itu sedikit. Hanya ada dia dan suadari perempuannya—Curis. Yang juga menjadi tangan kanan Tauke besar.
Ada perasaan marah di hati Charlie saat menyadari bahwa Dita koma karena dia.
Charlie meletakkan kepala di pembatas ranjang. Mengamati wajah Dita tanpa lelah. Sampai pergerakan ringan dari tangan Dita membuatnya langsung terjaga.
“Panggilkan aku dokter,”teriaknya kepada para pengawal.
“Baik, Tauke Muda.”
Sambil bergetar, Charlie tidak mengalihkan pandangannya barang sedetikpun dari Dita. Dia menunggu respon berikutnya. Dokter keluarga Clark sudah datang. Dan memeriksa keadaan Dita.
“Sepertinya nona Dita akan segera sadar, Tauke Muda.”
Mengangguk paham. Charlie kembali mendekat, dan mengamati wajah Dita. Bibir wanita itu mulai bergerak, diikuti dengan pergerakan mata. Bahkan untuk kali ini, Charlie berusaha menahan air matanya. Dia begitu senang karena akhirnya Dita sadar.
Perlahan mata Dita terbuka. Beberapa menit masih menyesuaikan cahaya terang di ruangan. Hal pertama yang Dita dapati adalah wajah tersenyum Charlie. Lelaki itu menatapnya haru. Masih belum sepenuhnya sadar, kepala Dita mulai terasa pusing.
Semua bayang-bayang kejadian itu kembali berputar di otaknya.
Cahaya. Mobil. Hujan. Surat cerai.
Air matanya mendadak menetes. Dia masih hidup. Betapa mirisnya. Sialnya, Dita juga ingat semua memori itu. Akankah lebih baik jika dia tidak mengingat apapun.
“Hey, kenapa menangis? Apa ada yang sakit?”
Dita menggeleng. Tubuhnya bahkan terasa ringan, entah karena pengaruh obat. Tapi kali ini Dita ingin sendiri lebih dulu. Dia ingin marah pada dirinya, dan juga yang menabraknya. Kenapa orang itu harus menyelamatkannya segala? Dan kenapa Charlie yang hadir?
Bahkan Dita ragu Firdaus tahu dia kecelakaan. Lelaki itu pasti sedang bersenang-senang bersama Lady. Kemarahan di hati Dita membuat tangannya mengepal.
“Maaf, Tauke Muda. Saya akan memeriksa nona Dita dulu.”
“Saya ingin sendiri.”
***
1 jam setelah sadar, Dita masih saja diam dan tak kunjung bicara. Membuat Charlie mulai gugup. Untuk kali ini dia tidak ingin mengakui bahwa dialah yang menabrak Dita. Dia ingin berbohong. Takut bahwa Dita akan membencinya karena hal ini.
Charlie memutuskan mengawasi Dita dari kamera pengawas. Sengaja. Untuk memberikan privasi pada gadis itu. Hanya beberapa perawat yang masuk untuk memeriksanya.
“Sepertinya ada juga gadis yang berhasil meluluhkan hati bekumu itu, Brat.”
“Kau masih di sini? Bukankah seharusnya kau sudah kembali ke Rusia, Curis?”
Gadis dengan ikatan tinggi itu mengambil apel yang baru saja Charlie potong. Memakannya tanpa rasa takut. “Came on, Brat. Aku harus memeriksa beberapa hal di sini sebelum kembali ke Rusia. Kau tidak mengunjungi rumah beberapa bulan ini.” Curis ikut menatap layar CCTV.
“Bagaimana kabar mereka?”
“Orang tuamu masih bernafas. Setidaknya begitulah kabarnya. Kau juga tidak pernah pulang ke rumah, untuk apa memaksaku?”
“Sialan.”umpat Charlie. Ikut memakan apel itu.
“Aku sudah mengirimkan data yang kau butuhkan. Ingat Tauke Muda, kau harus segera mengurus bisnis keluarga, karena kakek akan segera meninggal. Dia sudah bau tanah. Selain itu, jika kau menyukai wanita itu, kau harus segera menyatakan perasaanmu. Aku mendukungmu kali ini. Kau hampir gila 2 minggu terakhir ini aku perhatikan.”
“Sialan kau, Curis. Pergilah.”
Mengambil potongan terakhir, Curis angkat kaki dari sana. Menepuk bahu saudaranya itu. “Aku akan terbang pukul 2 ini. Siapkan pesawat pribadi, aku tidak ingin berdesak-desakan.”
“Baik, Nona Muda.”
Curis pergi. Meninggalkan Charlie yang masih betah duduk di ruangannya. Sesekali bibir Charlie terangkat membentuk senyuman melihat Dita yang mulai celinguk-celinguk menatap seisi ruangan. Tanpa ragu dia beranjak dan menuju ke ruangan wanita itu.
***
Pintu terbuka, Dita sedikit kaget. Tapi melihat Charlie yang datang, membuatnya legah.
“Sudah lebih baik?”
“Ya. Maaf ya, kau pasti bingung dengan sikapku tadi.”
“Tidak masalah. Aku tahu kamu masih panik. Oh iya, aku ingin jujur padamu.”
“Ada apa?”
Charlie menarik nafas. Dia sudah memikirkannya baik-baik. Jika Dita marah, itu wajar. Karena dialah yang bersalah. Bahkan jika ingin menempuh jalur hukum, dia bersedia. Tapi anehnya, Charlie tidak mendapat satupun pihak yang mencari keberadaan Dita. Termasuk suami wanita itu.
“Kenapa malah diam, Charl?”
“Begini. Terkait dengan kecelakaan itu. Akulah yang menabrakmu. Malam itu hujan lebat, ada panggilan darurat dari rumah sakit. Aku tidak terlalu memperhatikan jalan, dan berakhir menabrak seorang wanita. Dan itu adalah kamu. Ini murni kesalahanku. Jika ingin menempuh jalur hukum, aku bersedia. Semua pengobatan juga aku yang akan membayarnya. Aku hanya ingin jujur, dan minta maaf padamu.”Charlie menunduk. Menatap jari-jarinya, tidak berani menatap Dita.
“Ohh, ya udah.”
Respon Dita tidak sesuai dengan harapan Charlie. Dia sudah siap jika mendengar umpatan atau bentakan. Tapi kenapa malah hanya itu? Mengerutkan keningnya, Charlie memberanikan diri untuk menatap Dita yang malah berusaha meraih buah jeruk.
Dia mengambilnya untuk Dita.
“Thank’s.”
“Tunggu dulu, Nona. Kenapa kau tidak marah?”
“Untuk apa?”kekeh Dita. Dia bahkan tidak tahu alasan tertawa melihat Charlie yang bingung.
“Maksudku, harusnya kamu marah gak sih? Karna aku, kamu jadi seperti ini.”
“Ya, aku marah.” Dita meletakkan buah jeruknya. Menarik nafas dalam. “Kenapa kau menyelamatkanku? Kenapa tidak membiarkanku saja?”ujarnya dengan bibir bergetar. Emosi Dita kembali menguasainya. “Aku bahkan berniat untuk pergi ke jembatan. Hidupku tidak berguna, Charl. Tapi kau malah jalan yang diberikan untukku. Kenapa kau malah membantuku? Aku tidak ingin hidup. Tidak ada keadilan untukku.”
Jantung Charlie berpacu lebih cepat. Tanpa sadar, dia bangkit berdiri dan memeluk Dita. Meski tidak mengerti maksud Dita, tapi satu hal. Selama ini Dita tidak bahagia.
“Kenapa…kenapa aku tidak mati saja. Kenapa kau harus menyelamatkanku.”tangan Dita mulai memukul dadanya sendiri.
“Hey…hey, hentikan. Aku tidak tahu masalahmu, tapi hidupmu lebih berarti daripada masalahmu itu, Dita. Kau lebih berharga dari apapun.”
Dita tidak kuasa menahan air matanya. Dia menyandarkan kepalanya pada Charlie. Membiarkan rasa hangat itu menjalar hingga ke pikirannya. Semuanya masih membekas di hati Dita.
Melepas pelukannya. Charlie menatap wajah Dita yang masih pucat. Dia menghapus jejak air mata itu. Seorang Anindita tidak layak untuk menangis. Air mata wanita itu terlalu berharga.
“Tenanglah. Aku di sini.”
Hati Dita tersentuh untuk beberapa saat ketika mendengar perkataan itu. Tidak ada yang Dita pikirkan untuk saat ini. Perasaannya sulit untuk dijelaskan.
“Firdaus menceraikanku demi seorang wanita yang sanggup memberinya kehidupan dan jabatan yang lebih baik,”bisik Dita pelan. Pada akhirnya dia memilih untuk menceritakan isi pikirannya. “Dan malam itu, adalah hari dimana aku berada di titik terendah. Aku marah dengan diriku sendiri. Kenapa aku masih mengharapkannya, di saat aku sudah tahu dia selingkuh selama ini? Aku bodoh, hingga rasanya ingin mengakhiri hidupku. Tapi malah terjebak di sini.”
“Hey…”Charlie menelan ludah. Dia ikut marah mendengar penuturan itu.
“Selama ini, aku berusaha untuk kuat. Meskipun Firdaus sudah berubah 2 tahun belakangan ini, dan mertua dan adik iparku tidak pernah menganggap bahwa aku adalah manusia. Aku terlalu naif, bahwa Firdaus akan tetap sama. Tapi bodohnya aku tidak bisa membuka mata. Aku hanya sebagai pesuruh di keluarganya. Aku marah.”
Air mata Dita kembali luruh. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia yang dulu. Buluk, bodoh, tidak pernah marah, dan tidak mementingkan penampilan. Karena bagi Dita, asal keluarganya baik-baik saja, maka semuanya akan berjalan sesuai keinginannya. Tapi itulah kenaifannya yang berujung petaka.
“Lalu, sekarang apa kamu ingin balas dendam kepada mereka? Aku bisa membantumu.”
Menatap Charlie. Dita kembali mendapatkan sebuah kepercayaan diri. Tapi tidak sepenuhnya dia bisa bergantung pada lelaki itu. Karena suatu saat, semua orang akan berubah.
“Benarkah, kau akan membantuku?”
“Itu bukan hal yang sulit, Dita. Apapun yang kamu inginkan, akan aku kabulkan.”
“Baiklah. Untuk pertama, aku hanya ingin masa perceraianku dipercepat. Kamu tidak perlu ikut campur setelahnya. Tapi tolong berikan aku fasilitas, dan juga sebuah tempat tinggal. Apa itu terlalu berlebihan?”
“Hanya itu saja?”
Dita mengangguk.
“Baiklah, aku akan menyerahkan semuanya padamu. Soal urusan cerai, kapan kamu bersedia, pengacara keluargaku bisa membantumu.”
“Baiklah. Terima kasih, aku akan membalas dendam pada mereka semua.”
Charlie tersenyum menatap api yang berkobar dari tatapan Dita. Well…kali ini alur hidup Charlie akan berubah sedikit. Balas dendam Dita akan di pantau.
Dita mengepalkan tangannya. Dia sudah memutuskan, bahwa kehidupan keduanya tidak akan menjadi sama seperti dulu. Karena dia tidak mati, maka itu artinya dia diberikan kesempatan untuk membalaskan dendamnya.
Kehidupan kedua. Tidak ada lagi Dita yang pengecut. Dita yang dulu sudah mati.