Firdaus POV
Aku tidak tahu, kenapa aku sangat marah saat mengetahui Dita masih saja berbicara dengan Charlie. Padahal sudah aku larang berkali-kali. Begitu pintu ruangan terbuka, bukan Dita yang masuk. Tapi Lady. Dia tersenyum manis dengan pakaian ketat miliknya.
Dia berjalan ke arahku, dan duduk di pangkuanku. Tangannya yang lentik membelai wajahku dengan ahli. Aku memejamkan mata saat dia memijat kepalaku dengan lembut. Setelah pelantikanku tadi, aku benar-benar merasa senang.
Bibirnya menimpa bibirku. Aku meraih pinggangnya untuk memperdalam ciuman itu. Rasanya manis, membuatku mabuk kepayang. Tapi, Lady tidak pernah memberikan sensasi seperti apa yang Dita berikan. Namun kali ini keputusanku sudah bulat. Dita akan segera aku ceraikan, karena Lady akan memperkenalkanku kepada keluarganya.
Sebenarnya aku tidak tega. Tapi Lady akan marah besar jika aku terus menunda.
“Sudah kau rencanakan?”bisiknya, setelah ciuman panas itu lepas.
“Malam ini, aku akan menyelesaikan semuanya. Bagaimana dengan bayi kita ini?”aku mengelus perutnya. Sebagai lelaki, aku senang sebentar lagi akan memiliki seorang anak.
“Dia tidak sabar untuk mengesahkanmu sebagai ayahnya. Aku harus ke kantor papa, ada yang ingin aku sampaikan. Oh iya, ini.”
Sebuah kotak kecil Lady berikan padaku. Keningku mengerut. “Apa ini?”
“Buka sendiri saja, kamu pasti senang.”
Penasaran. Aku segera membuka bungkusnya. Mataku berbinar. Memang kotaknya kecil, tapi apa yang ada di dalamnya besar. Sebuah kunci mobil Ferrari edisi terbatas. Beberapa hari lalu aku memang melihat-lihat mobil itu, dan Lady seperti biasa tahu apa yang aku inginkan.
Lihatlah Dita, inilah perbedaan antara kau dan Lady.
“Sayang, makasih. Aku…aku benar-benar tidak bisa berkata-kata.”
“Itu hadiahmu. Selamat naik jabatan, pak Direktur.”
Aku mengangkat Lady, dan memutarnya. Tawanya lebar, membuatku ikutan tertawa. Segera. Aku akan menceraikan wanita tidak berguna itu.
***
Hari ini aku pulang lebih awal, duduk di sofa sambil menunggu Dita.Hingga beberapa jam kemudian, barulah pulang. Saat ini dia sedang menuju dapur, namun aku menahannya.
“Kita makan di luar saja, kau ingin memakan steak bukan?”
Dia berhenti mengeluarkan stok makanan dari lemari pendingin, dan terlihat terkejut. Lihatlah wajah lusuh yang tersenyum seolah baru mendapat sumbangan itu. Lama-lama dia membuatku jijik, dan aku benci akan hal itu. Bajunya lusuh. Kumuh sekali. Seolah tidak ada kehidupan.
“Serius, Mas?”
“Hmmm. Segera ganti baju, aku akan menunggumu.”
Tidak butuh waktu lama, dia keluar dari kamar dengan pakaian ketinggalan zaman. Sungguh, terkadang aku muak melihatnya tidak pernah berdandan. Bajunya norak sekali, dan dia hanya mengenakan lipstik. Tidak seperti Lady yang make-upnya benar-benar sempurna. Biarlah. Aku tidak banyak mengomelinya hari ini karena ini adalah hari terakhir kami bersama.
Aku akan pindah, dan apartemen ini aku juga berikan atas nama dia. Awalnya mama tidak setuju, menganggap bahwa pemberianku ini terlalu besar. Tapi dibandingkan apa yang aku dapat, ini tidak apa-apa.
Kami tiba di WolfGang’s SteakHouse. Salah satu restoran steak terkenal di ibu kota. Aku turun lebih dulu, dan membuka pintu untuknya. Bisa kulihat dia terkejut, dan bahkan takut-takut denganku. Apa aku semenakutkan itu?
Berjalan dengan dekat, aku sedikit ingat moment dulu sewaktu aku mendekatinya. Dulu dia itu sangat cantik sekali dimataku. Dan tidak ada alasan kenapa aku bisa menyukainya. Yang penting, saat berbicara dengannya, aku merasa nyaman.
“Makasih, Mas. Jarang sekali kita makan di luar seperti ini. Apalagi ini restoran kesukaan aku.”
“Pesanlah sesukamu, hari ini aku senang karena sudah resmi menjabat Direktur.”
“Aku bisa memesan beberapa macam, Mas?”
Dasar kampungan. Tapi aku mengangguk juga akhirnya.
Tidak menunggu lama, pesanan kami datang. Dari mulai waiters, chef, dan juga satpam. Semuanya benar-benar bekerja sesuai dengan job mereka. Overall, aku juga menyukai restoran ini. Mereka menjual pelayanan, disamping rasa steak yang tidak butuh tenaga untuk mengunyahnya.
Prang
Aku menatap Dita. Sialan. Dia membuatku malu. Sendoknya baru saja terjatuh dan hendak memungutnya. Lihatlah, dia benar-benar tidak tahu table manner. Padahal bukan kali pertama dia makan di restoran mewah seperti ini.
“Ma…maaf, Mas. Tadi gak sengaja….”
“Gak usah di pungut,”aku menaikkan dua jari. Memanggil waiters. “Mbak, tolong ambilkan 1 set alat makan lagi ya.”
“Baik, pak. Ditunggu sebentar.”
Dita menundukkan wajahnya. Itu semakin membuatku kesal. Berarti keputusanku malam ini tidak lagi salah. Aku memang mengingkari janji yang sudah aku ucapkan saat upacara pernikahan kami. Bahwa aku tidak akan menyakiti, atau menceraikannya sampai ajal menjemput.
Tapi, aku juga punya masa depan. Menikahi Dita adalah salah satu keputusan yang salah dalam hidupku. Dia tidak memberikanku apa-apa. Andaikan dulu aku mendengar nasihat mama, mungkin aku tidak akan sempat menjalani hari-hari buruk seperti ini.
Akhirnya dia selesai makan. Wajahnya sudah kembali cerah. Dengan ragu aku mengeluarkan amplop berisi surat cerai di tanganku. Ya, aku akan mengakhiri hubungan kami.
“Mas, selamat ya. Aku juga punya kado buat Mas. Maaf tapi kalo gak seberapa.”
Jujur aku terkejut, dan tidak expect bahwa dia akan memberiku sebuah kado. Aku menarik paper bag hitam itu dan menatap sebuah kota di dalamnya. Begitu membukanya, aku sedikit tersentuh. Itu adalah jam tangan Rolex yang sudah lama ingin aku beli. Aku menggigit bibir, dan menatapnya.
Tidak. Aku tidak bisa gagal untuk menceraikannya malam ini.
Tapi dia punya uang dari mana? Aku yakin gaji Dita tidak seberapa jika dibanding denganku. Di hari ulang tahunnya, aku bahkan melupakannya tahun lalu.
“Ada yang ingin aku katakan padamu sebenarnya, Dita.”
Dia mengerutkan keningnya. “Iya, Mas? Ada apa? Apa jam tangannya tidak bagus?”
“Bukan. Ini masalah yang lain.”
“Ada apa, mas?”
Mengepalkan tanganku, dengan berani aku menatap maniknya tanpa memasang ekspresi. Sangat berbanding terbalik dengan ekspresi Dita yang gugup.
“Kita sudah 5 tahun menikah, dan tak kunjung punya anak. Sebagai lelaki, aku merasa tidak sempurna karena kau tidak bisa memberinya. Aku ingin mencari wanita yang bisa melahirkan anakku kelak. Sayangnya itu bukan kamu. Jadi…aku ingin kita bercerai.”
Prang.
Gelas di tangan Dita pecah. Dia mendadak panik.
“Aduh…maaf. Aku menggenggamnya terlalu erat.”
Waiters segera datang. Semua pengunjung menatap kami, meskipun tidak lama.
“Tidak apa-apa, madam. Biarkan saya saja.”
“Maaf mbak,”ujar Dita.
5 menit meja kembali hening. Dita menundukkan wajahnya. “Apartemen atas namamu, karena aku tidak bisa memberikan apapun.”
“Mas.”suara Dita serak. Matanya berkaca-kaca.
Aku memalingkan wajah, setidaknya agar tidak melihatnya. Dan begitu menatap ke arah meja paling pojok, Lady ada di sana. Dia menatapku datar, dan memberikan instruksi bahwa aku harus segera menyelesaikan semua drama sialan ini.
“Benarkah hanya karena kita tidak punya anak, sehingga mas ingin menceraikanku? Atau ada wanita lain mas?”
“Jaga bicaramu, Dita. Aku muak dengan drama ini. Tiga minggu lagi kita akan bertemu di pengadilan, siapkan pengacaramu.”
“Mas. Aku sudah memeriksakan diri ke dokter, dan aku tidak mandul. Kamu yang mandul, asal kamu tahu ya mas.”
Emosiku tersulit mendengar ucapan Dita yang sedikit kurang ajar. “Apa aku salah dengar? Jelas-jelas kau yang mandul, karena aku…aku.”mendadak aku ingat bahwa jika mengatakan sudah punya anak dengan wanita lain, maka aku yang terkesan buruk. Jaga citramu Firdaus.
“Apa mas?”bentak Dita, suaranya meninggi. Dia menangis.
“Sudahlah. Yang penting kita akan cerai.”
“Mas…tega ya mas kamu melakukan ini padaku. Kenapa mas? Apa karena penampilanku yang sudah berubah? Atau wajahku yang tidak lagi muda? Aku bisa merubahnya jika itu penyebabnya. Tapi please, jangan seperti ini mas.”
Dita beranjak dari kursinya dan berlutut di bawahku. Aku menelan ludah. Ini memalukan. Karena kini semua mata memandang ke arah kami, seolah ini adalah pertunjukan gratis.
“Bukan sialan. Menyingkir dariku, dasar wanita cacat. Aku menceraikanmu karena kau itu mandul, dan tidak bisa berdandan. Aku muak. Sekarang menyingkir.” Aku menyingkirkannya.
“Mas…”
Dia menahan kakiku. Benar-benar memalukan. Lady sudah keluar lebih dulu, sebuah mobil sudah terparkir di luar pintu restoran.
“Mas…aku mohon mas. Jangan begini, aku minta maaf kalau perkataanku tadi menyinggungmu. Tapi aku ini istrimu Mas. Jangan begini, aku mohon.”
Air mata Dita semakin deras. Aku menelan ludah kasar, dan berusaha menarik kakiku.
“Lepaskan aku, kau ini hanya wanita miskin yang beruntung menikah denganku. Sekarang pergilah, dasar manusia miskin.”
Brugh
Tubuh Dita terantuk meja. Aku menelan ludah. Berniat menghampirinya, tapi ponselku sudah bergetar. Pertanda Lady sudah berada di luar. Aku segera mengambil dompetku dan segera pergi dari sana. Sialan, semuanya menatapku. Aku melihat Dita mengejarku.
“Ayo pergi.”
Lady langsung tancap gas, dan meninggalkan daerah restoran. Untungnya tadi aku tidak membawa mobil ke sana. Semuanya sesuai rencana. Dari kaca spion, aku bisa melihat Dita berteriak dan menangis kencang.
“Sudah, honey. Wanita miskin kebanyakan seperti itu. Tidak tahu malu, dan tidak punya harga diri.”
Aku hanya diam, hanya mengangguk sebagai respon atas ucapan Lady. Hujan mulai turun, dan aku merasa bersalah. Dita tidak punya salah, dan kata-kataku tadi juga sedikit berlebihan. Tapi Lady menggenggam tanganku. Tersenyum lembut, seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Well. Ini adalah keputusanku.
“Kau menginap saja di rumahku malam ini.”
***
Dita POV
Menangis bak orang bodoh di depan restoran. Aku tahu bahwa alasan Mas Firdaus menceraikanku adalah karena Dokter Lady. Tadi sore, saat dia memintaku datang, aku melihat dengan jelas mereka berciuman. Kata-kata merendahkan itu seolah sengaja mereka ucapkan.
Dengan kaki gemetar, aku melangkah memasuki restoran. Semua mata tertuju padaku. Miris. Aku pikir makan malam kali ini karena Firdaus merasa bersalah sudah menduakanku. Tapi karena dia ingin cerai. Air mataku menetes lagi.
Buruk bukan? Aku mengambil tas, dan surat cerai itu. Tidak memedulikan darah yang keluar dari dahiku, karena tadi terbentur ke meja dengan keras.
“Madam, pakai ini dulu. Kasihan darahnya keluar.”
“Gak mbak, saya pulang saja.”
Aku bergegas keluar dengan perasaan hancur. Tubuhnya rasanya remuk. Pikiranku dipenuhi dengan berbagai macam pikiran. Bahkan jika Firdaus menduakanku, rasa cintaku lebih besar untuk pura-pura tidak tahu hal itu. Dan memaafkannya.
Katakan saja aku adalah wanita bodoh. Tapi Firdaus adalah sumber kehidupanku. Semua kebaikannya dulu tidak akan pernah bisa lupa dari ingatanku. Hingga saat ini. Aku pikir dia itu lelaki yang berbeda. Tapi aku tahu, bahwa waktu bisa mengubah semuanya. Aku membiarkan hujan mengguyur basah tubuhku untuk berjalan menuju halte. Aku tidak yakin bisa bertahan setelah ini. Bodohnya aku, masih ingin Firdaus.
Klik
Pintu apartemen terbuka. Dan dua makhluk paling menjijikkan di muka bumi ini ada di dalam sana. Nyonya Lim, ada di sana. sedangkan Bella sedang sibuk menonton sambil makan kuaci. Kulitnya dibuang begitu saja ke lantai.
“Darimana saja kau hah? Sudah larut, tapi tidak pulang. Mana sopan santunmu?”teriak Lim.
Aku berjalan melintasi mereka. Yang aku inginkan saat ini adalah ketenangan. Aku butuh kesendirian, aku butuh bicara dengan Firdaus. Tapi dia tidak kembali.
“Hey p*****r miskin. Apa kau tuli?”
Tarikan di lenganku membuatku berhenti. Kini aku menatap Lim dengan wajah kosong.
“Kau berani menatap ibu mertuamu hah? Dasar kurang ajar kau ya.”
“Apa aku salah? Katakan dimana letak kesalahanku, nyonya Lim. KATAKAN SIALAN.”
Mereka terkejut. Setelah sekian tahun, akhirnya aku bisa marah. Dan kali ini lebih parah.
“Wahh…sudah berani membentak orang tua kau ya. Dasar mandul, rasakan ini.”
Plak.
Aku terkejut. Begitu juga dengan Nyonya Lim dan Bella. Karena tanganku baru saja menangis, dan balas memberikan tamparan kepada Nyonya Lim. Aku menatapnya nyalang.
“SIALAN KAU YA. Berani kau menamparku, mandul.”
“Dengar nyonya Lim yang terhormat, kau bukan lagi orang tua yang patut aku hargai. Kau tidak lebih dari lintah darat. Aku tidak mandul, tapi putramu lah yang mandul. Asal kau tahu.”
“Wah, kau sudah berani menghina ibu dan kakaku? Darimana datangnya nyalimu hah? Apa kau hilang ingatan?”
“Arghh…”aku meringis saat tidak siap dengan serangan Bella. Dia menarik rambutku. Dan itu sangat sakit. Aku berusaha melawan, tapi tidak bisa. Tanganku terasa lemas. Darah kembali keluar dari pelipis dan juga hidungku.
Tubuhku terjatuh ke lantai. Dan mereka menarikku keluar.
“Dasar bodoh, sekali lagi kau berani menginjakkan kakimu di sini dan menghina putraku. Kau akan merasakan seperti tadi. Ayo masuk Bella, biarkan si miskin ini di luar.”
Pintu ditutup. Aku terkekeh, menatap bagaimana mereka mengusirku dari rumahku sendiri. Menghela nafas, aku benar-benar hancur. Bahkan ibuku saja tidak pernah memperlakukanku seperti ini. hidup menjadi b***k keluarga suami selama 5 tahun.
Kenapa si miskin selalu mendapatkan bagian menyedihkan seperti ini? Aku benci miskin. Benci kehidupanku ini.
Aku diamkan selama ini, karena dulu Firdaus masih membelaku. Tapi tidak dengan 2 tahun terakhir ini. Dia diam, tidak mendengarkanku lagi. Aku berjalan keluar, hujan bertambah deras. Tanpa tujuan aku berjalan menyisiri jalan.
Saat menyebrang. Aku tidak menyadari ada kendaraan yang lewat begitu kencang. Tubuhku terpelanting bermil-mil jauhnya. Rasanya aneh. Begitu badanku terjatuh ke tanah. Aku tersenyum. Aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Tapi aku masih sempat melihat seseorang berlari ke arahku.
Dan setelahnya, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Semuanya hilang. Biarlah, mungkin ini adalah jalan terbaik yang dialami oleh si miskin sepertiku. Berakhir tragis. Tapi jika aku punya satu kesempatan lagi, aku akan membalaskan semuanya ini. Semua rasa sakitku. Aku pasti akan membalasnya.