Author POV
Ara melangkah cepat setelah insiden di depan kamar mandi tadi, ia bahkan mengumpat saking kesalnya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dapur.
"dasar b******k, sialan!" geramnya tertahan.
"siapa ra?" tanya bagas, koki di ruang itu.
"oh, gak papa Om" hampir semua karyawan di cafe memanggil Bagas dengan sebutan Om.
"ya sudah mana lada nya?"
gadis itu lalu menyerahkan bubuk lada hitam di tangannya, tadi bagas meminta ara mengambilkan stok lada hitam di ruang penyimpanan yang letaknya memang se arah dengan letak toilet. sialnya malah bertemu pria b******k yang yah, mungkin karena kesalahannya yang berjalan terlalu terburu buru.
setelahnya ia mulai melanjutkan aktifitasnya, mencatat menu dan mengantar pesanan. pasalnya setelah insiden tadi, resto kedatangan tamu sekeluarga yang membuatnya mau tak mau harus fokus bekerja.
jam menunjukkan pukul 22.00 sudah waktunya tutup dan hanya tinggal beberapa orang saja yang masih tinggal untuk menyelesaikan urusan makannya di resto, sedangkan beberapa pegawai sudah mulai berbenah dan membersihkan area yang sudah tak di gunakan lagi.
setelah 15 menit berbenah kini para pegawai siap untuk pulang setelah di pastikan semua pekerjaannya beres.
"ra, bener kamu jadi resign ra?" tanya indah, teman se perjuangan sejak dua tahun lalu.
"kalau aq udah resmi jadi karyawan GSC nda. kamu doain ya, semoga aja kinerjaku bagus terus bisa jadi karyawan resmi di sana deh" ara menjawab dengan cengiran, sebenarnya ia tak enak pada temannya itu. tapi yah bagaimana, menjadi karyawan GSC itu sudah jadi impiannya dari sebelum masuk kuliah.
mereka berpisah setelah sampai di area parkiran restoran, indah menaiki motor maticnya dan melambai ke arah ara sebelum melajukan motornya menuju rumahnya.
karena rumah kosnya tak jauh dari resto tempatnya bekerja, gadis itu memilih untuk berjalan kaki saja, lagian apa yang perlu di takuti karena kawasan sekitar resto memang tempat yang ramai mesti tak banyak yang berkeliaran di jam seperti ini. lagipula orang tak berkepentingan mana yang mau menculik dirinya yang notabane tak punya apa pun itu, kecuali jika tujuannya menjual organ gadis itu. hiii ara memang sempat takut jika mengingat kemungkinan itu.
ceklek..
pintu kos di dalam gang itu terbuka, menampakkan ruang tamu sederhana, dua kursi dan satu meja kecil. ara terus malangkah setelah sebelumnya ia menutup pintu dan langsung mengunci nya. rencananya sekarang ia hanya akan mandi dan tidur, entah kenapa akhir akhir ini ia merasa sedikit cepat lelah.
***
"aahhhh....."
desahan perempuan itu terdengar setelah mendapatkan kenikmatan dari kegiatan yang ia lakukan dengan pria di atasnya.
sedangkan pria itu masih saja memompa miliknya tanpa memberi jeda pada si wanita.
"ahhhhh, alex... engghhh ahhh".ia melenguh nikmat saat di rasa milik pria itu membesar dan pria di atasnya terus mempercepat dengan tempo tak beraturan.
wanita itu mengalungkan tangannya ke leher sang pria, dan perlahan turun ke bawah mencoba membelai d**a sang pria dengan masih terus mendesah tak karuan. tapi sang pria mencengkram pergelangan tangannya dan mengunci di atas kepalanya sambil memompa lebih keras.
"aaahhhh.... aahhhhh" kembali sang wanita mencapai puncaknya bersamaan dengan si pria yang menyemburkan cairannya ke di dalam wanita itu.
sang wanita terlihat memejamkan mata dengan mulut sedikit terbuka merasa apa yang baru saja ia lakukan luar biasa, berbeda dengan si pria yang langsung berdiri setelah hasratnya tersalurkan, ia kembali memasang wajah datarnya setelah b******u tadi, bahkan ia tak sedikitpun mengelurkan desahan, baginya hanya sebatas menyalurkan hasratnya sebagai pria normal.
biarpun mengeluarkannya di dalam, ia tak pernah ambil pusing karena aturan main semua perempuan yang di tidurinya adalah hamil=mati. pernah satu kali seorang wanita datang dan mengaku hamil anaknya, dan besoknya karir sang wanita sudah di ambang kehancuran.
pria itu menyambar handphonenya di atas nakas sebelum kembali meletakkannya dan berjalan ke kamar mandi dengan full naked.
suara percikan air berhenti terdengar dan
cekleekk
pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan pria dengan tubuh berototnya yang hanya berbalut handuk sebatas pinggang hingga lututnya.
"kau masih di sini?"
"oh ayolah lex, tak bisakan kau izinkan aku sekedar mandi di sini?" jawab wanita itu dengan mata memohon.
"kau tau aturannya, freya" alan menjawab permohonan tak berguna wanita yang ia sebut freya.
"ohh, kau sangat kejam. baiklah, tapi..."
freya melangkah maju dan mengulurkan tangannya hendak menyentuh d**a pria itu.
"sudah aku transfer bayaranmu, jadi pakai pakaianmu dan keluar, b***h!" desis alan dengan nada tak sukanya, pasalnya ia memang tak suka sembarangan di sentuh.
"okey okey, kau kaku sekali"
kemudian wanita itu memunguti pakainnya yang berserakan dan memakainya di tempat, sedangkan alan menuju mini closednya untuk berganti pakaian.
setelah keluar dengan pakaian santai dan celana pendek se lutut alan tak lagi melihat b***h sewaanya di sana, baguslah.
langkahnya kini berhenti di jendela besar kamar hotel itu, melihat pemandangan pusat kota dari lantai teratas hotel miliknya. alan tak sudi membawa wanita sewaanya untuk sekedar b******u di apartemennya, jadilah ia selalu melepaskan hasrat di sini.
lama mengawasi lalu lalang kendaraan di ibu kota, tiba tiba alan teringat gadis tadi, teringat tatapan mata nyalangnya pada alan. oh ayolah, bahkan freya, si model terkenal victoria secret saja mendesah untuknya tadi, dan jangan lupakan tatapan mendamba wanita itu pada alan.
tak terasa alan tersenyum sambil menunduk, tak menampik jika ia tertarik pada gadis mungil itu yang kini ia ingat namanya dayana.
alan melangkah menuju nakas dan mengambil handphonya, mendial nomor asistennya.
" selamat malam tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya yang di sebrang sana.
"sudah kau dapatkan informasinya? yang ku tanyakan tadi". alan bertanya langsung saja tanpa berbasa basi.
"saya sudah mendapatkan informasi dasarnya, dan sisanya akan saya sampaikan kepada tuan besok siang. apakan tuan mau informasi dasarnya sekarang"
"emm"
"baiklan akan saya kirimkan ke email anda tuan"
tut..
sambungan di matikan begitu saja tanpa mau bersusah menjawab pertanyaan dari sebrang.
dulu alan tak se kaku dan se dingin sekarang, dulu ia masih punya banyak ruang hangat di hatinya. tapi itu dulu, sebelum kejadian yang membuatnya medinginkan hatinya, terbawa hingga hari ini. dulu, tujuh tahun yang lalu.
kini alan kembali menatap ke arah luar sana, kembali melihat lalu lalang manusia yang sibuk dengan urusan mereka. hingga satu pesan masuk, membuyarkan lamunannya.
ia membuka email yang tadi di maksud tian tadi dan membacanya.
"dayana safara"
dayana safara, 21 tahun
mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik matematika
yatim piatu
bekerja di chicago resto & caffe sebagai pramusaji sejak 5 tahun yang lalu
karyawan magang devisi keuangan GSC
informasi terakhir itu membuatnya tertarik, jadi bukan hanya bekerja di resto, ternyata gadis itu karyawannya juga. ia tersenyum membayangkan apa yang harus ia lakukan pada gadis kecil nya. gadis kecilnya? ahhh, apapun itu sepertinya alan memang berniat menjerat gadis malang itu.
bibir itu, membayangkan bagaimana ia melumat bibir lembut gadis itu, meremas b****g sintalnya, mengukung di bawah kuasanya, membungkamnya dengan kenikmatan hingga gadis itu mendesahkan namanya.
"eenggghhh..."
hingga tak sadar alan melengguh sambil terpejam.
"oh, s**t!!!"
ia segera beranjak pergi dari kamar hotel setelah menyadari ada yang mengeliat di bawah sana hanya karena membayangkan kenikmatan bersama gadisnya, menuju apartemen pribadinya sebelum ia kelepasan dan menyewa wanita lagi malam ini.