rok hitam di bawah lutut dan kemeja biru laut jadi pilihanku hari ini, 07.30 aku akan berangkat kerja di Giant Smith Company.
ah, sekedar informasi bahwa GSC adalah perusaan properti nomer satu di negeri ini. bukan hanya propertinya saja, tapi mulai dari konstruksi, maubel, arsitek, design interior bahkan peralatan rumah seperti hiasan dinding pun GSC punya. dan untuk bahan bangunan, dan mungkin cat, perusaan bekerja sama dengan perusahaan tersohor lainnya.
bagaimana aku yang notabane nya hanya mahasiswa bisa masuk jadi karyawan magang di sini? untuk itu aku sangat berterimakasih pada mbak nadya, dia tetangga kost ku yang baik sekali. dia merekomendasikanku pada perusahaan impian banyak orang ini, karena mbak nadya bagian HRD jadi mungkin sarannya di pertimbangkan dan ya, GSC juga donatur terbesar di kampus tempatku menimba ilmu, dan beasiswaku, juga di persembahkan oleh GSC. pasti mereka juga meminta data ku dari kampus, itu kenapa aku jadi satu dari ratusan mahasiswa yang beruntung. dan jika performaku bagus, aku akan jadi karyawan tetap tiga bulan lagi, semoga saja.
07.45 kantor pusat Giant Smith Company
aku akan jadi karyawan teladang dengan datang 15 menit lebih awal, bukan untuk menjadi penjilat, tali lebih kepada rasa syukur dan terimakasihku, juga aku tak mau nama mbak nadya menjadi buruk jika aku terlambat. karena mbak nadya yang merekomendasikanku di sini.
baru saja aku duduk di mejaku, di devisi keuangan. mas dimas, yang mejanya berhadapan dengan mejaku datang dan langsung menyapaku.
"pagi ra, rajin banget"
"eh, iya mas. pagi"
jangan salah paham, mas dimas ini sudah berkeluarga, anaknya sudah 2, kembar perempuan vanda dan vindi, duh mereka lucu sekali dan baru tiga tahun.
"eh ra, kamu tau nggak? proyek penthouse kemarin sukses besar ra". mas dimas memberitahuku dengan mata berbinar, tentu saja aku menyahuti dengan sama antusiasnya.
"oh ya? waaahh alhamdulillah ya mas"
"iya ra, dan kamu tau nggak? atasan muji tim kita karena bikin rancangan harga yang bener - bener nguntungin perusahaan".
aku hanya nyengir kuda sambil mendengarkan cerita mas dimas.
" waahhh, kamu emang. top banget ra. ide cemerlang kamu bisa bikin kita dapet bonus nih ra".
"oh ya mas? emang bakalan ada bonus gitu?" tanyaku,
"ya semoga aja ra, secara perusahaan dapet untung gede kan".
"ehm"
ombrolanku dan mas dimas berhenti saat ada bu dewi datang, beliau ini penanggung jawab devisi keuangan. atasan ku.
"pagi bu dewi" sapa kami bersamaan.
"pagi ra, dimas" beliau tersenyum manis, di usianya yang menginjak 40 tahunan bu dewi masih terlihat segar.
"bu dewi, gimana nih kita bakalan dapet bonus nggak nih. secara kan proyek yang kemarin sukses besar bu" ucap mas dimas blak blak an. mataku melotot tak percaya ke arahnya, bisa bisanya. karena sejauh ini yang ku tau bu dewi ini termasuk atasan yang killer, ya kadang kadang bisa bercanda juga.
bu dewi tersenyum geli sebelum menjawab
"insya'allah kalian akan dapet bonus, langsung dari pak alex ini. nanti bonusnya akan masuk bareng sama gaji bulan ini"
"wooooowwww, beneran bu dewi. wuadidaww"
aku terkejut karena di guncang bahuku dari belakang oleh mas rendi, yang satu ini lebih heboh dari mas dimas.
"makasih raaa, nggak salah emang kamu masuk tim kita. bawa berkah" yang ini mbak ike heboh sambil mencubit pipiku.
"awww" aku meringis, padahal sebenarnya tidak se sakit itu, akting.
"sudah sudah, sudah saya jelaskan tadi, jadi tidak perlu ada kehebohan lagi setelan ini ya, kerjakan tugas kalian masing masing. setelah ini kita akan dapat proyek baru"
"siap komandan" kami ber empat kompak menjawab beliau, kemudian berjalan ke arah meja masing masing.
devisi keuangan terbagi menjadi beberapa tim, dan aku masuk di tim perancang keuangan. tugas kami menentukan harga, menghitung persentase untung dan rugi proyek yang sedang di jalani. dalam tim ku terdiri dari 5 orang didalamnya ada mas dimas, mas rendi, mbak ike, aku, dan mbak nada yang sedang cuti sakit hari ini.
"iihhh, kita makan iga bakar yuk yang ada di resto sebrang. ya" ujar mbak ike
buuggh,
"iga bakar mulu otak lu" sambil memukul pelan bahu mbak ike dengan gulungan kertas.
"ih apaan sih ren, jail banget lu, gua kan ngajak ara. syirik aja lu"
mereka bersiap bertempur sebelum suara deheman bu dewi tergengar.
"ehmm" hanya deheman tapi mbak ike dan mas rendi sontak berhenti bertenkar dan mengangguk patuh sebelum bu dewi beranjak dari ruangannya. sudah ku bilang beliau killer
"rasain lu berdua" ejek mas dimas sambil melet dan aku hanya tersenyum saja. mbak ike dan mas dimas ini dulunya teman sekelas waktu SMA makanya lebih akrab dan saling jail. keduanya masih menjomblo sampai hari ini, harusya mereka jadian saja. entahlah.
~~~~~
Chicago Resto&Cafe 8pm
Alan POV
"selamat mr.Alex, penthouse GSC memang luar biasa"
ku lihat mereka tersenyum ke arah ku sambil meyiratkan kata pujian. padahal di mataku mereka tak lebih dari seorang penjilat. huh,
bagaimana tidak, sampai sekarang jam 8 malam harusnya aku sudah istirahat di kasur empukku, tapi mereka malah mengajakku makan malam di resto, sebagai ucapan selamat katanya.
seorang pramusaji masuk membawa beberapa pesanan makanan, tak ada niat untuk sekedar melirik perempuan itu. tapi saat ia berbalik, pandanganku langsung terarah padanya.
wanita ini, rambut panjang se pinggang yang di kuncir kuda, aku pernah melihatnya. tapi siapa??
binggo! dia gadis yang kulihat tempo hari di kampus saat aku mendiskusikan tentang donasi keluargaku.
rambutnya mengayun lembut seiras dengan langkah kakinya, seragam kerjanya terlihat pas di tubuhnya yang ehm, sexy tapi berisi.
"mr. alex, silahkan pesananmu sudah datang"
mr. ronald membuyarkan penilaian ku pada gadis tadi, oh sial. sekarang tubuhnya sudah tak terlihat, kembali ke tempatnya mungkin.
" bisa bawakan aku air putih?"
meminta air putih menjadi alasanku pada manager resto ini yang sedari tadi di sini ikut melayani kami.
"baik tuan, akan segera kami bawakan untuk anda"
dia kemudian pergi, ku harap gadis tadi yang akan kemari.
samar aku mendengar pintu VIP ini di buka dari luar, ku pandangi hingga terbuka sempurna.
gotcha!! ku rasa dia memang gadis yang tadi.
dia masuk, sedikit tertunduk. semakin mendekat kulihat wajah ayu nya, dia keturunan indonedia asli kurasa. kulitnya bersih dan pipinya sedikit chubbi, hidungnya kecil. bibirnya, errrrrr. bibir penuh itu membuatku menelan ludah kasar.
kemakin ke bawah, wow. dia berisi di bagian d**a, tapi pinggangnya ramping. ku rasa tingginya tak lebih dari 160cm. cukup tinggi untuk ukuran gadis indonesia.
tapi tunggu, dia terlihat seperti anak SMA. tapi masa iya bocah kecil punya body aduhai begitu.
" silahkan tuan, minuman anda"
suaranya lembut, tapi terdengar tegas. ia tersenyum ke arah ku. dan lihat, dia bahkan punya lesung di pipi bagian kanannya.
dia kemudian keluar begitu saja setelah tersenyum padaku.
~~~~
" terikasih jamuannya mr. ronald, apa tidak keberatan jika saya akan ke toilet terlebih dahulu?, anda bisa pulang tanpa menunggu saya".
kurasa aku perlu ke toilet sebentar setelah menjabat tangan mereka, biarlah mereka pulang lebih dulu, toh ada tian di sini.
"silahkan mr. alex, ku rasa aku memang harus pulang sekarang"
"baik lah terimakasih"
aku melangkah ke toilet yang letaknya tak jauh dari ruangan staf resto.
bruggg,
seorang pelayan menabrak bahuku, dia terhuyung, aku tak peduli. salah siapa jalan tak pakai mata.
"maaf tuan, saya sungguh tak sengaja, maafkan aku"
gadis tadi, dia menunduk beberapa kali dan meminta maaf.
belum sempat berkata lagi, ku tarik tangannya mengikuti langkahku. entah aku hanya ingin melihatnya lebih dekat.
" tuan lepaskan, apa yang anda lakukan tuan!"
suaranya sedikit meninggi, aku tak suka. ku rapatkan badannya di tembok toilet pria. aku mengukung badannya dengan kedua tanganku, benar saja dugaanku. see? dia hanya sebatas daguku saja.
"dayana"
lebih seperti menggumam, dayana, tertulis di name tag nya.
ku angkat tanganku, mengelus pipi chubby nya, imut sekali.
"tuan! apa yang anda lakukan?!!"
berania dia menepis tangan ku
." jangan berteriak padaku, manis"
" tapi jika begini sikapmu, kau pantas di teriaki!!"
matanya nyalang ke arahku, ku rasa di benar benar marah. aku mundur dua langkah dari nya, dan dia mendorongku lalu berlari bahkan tanpa melihat kembali ke arahku.
" you're mine girl"
rasa rasanya aku menemukan sesuatu yang menyenangkan.
dayana~~