Zeline tengah mempersiapkan barang barang yang akan ia bawa pada saat pergi keluar kota, sambil bersenandung ia melipat baju lalu dimasukkan ke dalam koper berukuran besar. Suasana hatinya sudah cukup membaik dari sebelumnya tapi gadis itu masih tetap mendiamkan mamanya.
Zeline juga sama sekali belum bertemu dengan papanya, terakhir pada saat malam dimana ia mengetahui kebohongan orang tuanya selama ini.
Saat sedang asik asiknya mengemas baju, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Tok Tok Tok
Zeline tak menyahuti, tak seperti biasanya, zeline menguci pintu kamarnya. Gadis itu masih terus bersenandung dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
“Zeline ini mama nak, beri mama sedikit waktu untuk berbicara” ucap novi memohon.
Zeline tetap tak menghiraukan, ia malah mengeraskan suaranya bermaksut agar tak mendengar panggilan mamanya.
“Apa kamu masih menganggap mama ini sebagai orangtuamu zeline?” celetuk novi.
Degg
Sontak ia menghentikan pergerakannya, zeline mengigit bibir bawahnya. Apa sikapnya akhir akhir ini begitu keterlaluan dengan mamanya? Apakah ia seperti anak durhaka?.
Zeline menghela nafas berat lalu beranjak dari duduknya dan membuka pintu kamarnya.
Hal pertama yang novi lihat adalah raut wajah anak gadisnya sangat tak bersahabat dengannya, novi mencoba meraih tangan zeline namun dengan cepat anak gadisnya sadar ia langsung menyembunyikan tangannya dibelakang.
Perlakuan itu sempat membuat novi kaget tapi detik kemudian ia mengulas senyum, mencoba bersabar menghadapi anak gadisnya itu.
“Jika kamu membukakan pintu, berarti kamu masih menganggap mama sebagai orangtuamu” kata novi yang masih mempertahankan senyum diwajahnya.
Zeline tetap diam tak merespon ucapan wanita paruh baya didepannya, tidak sengaja novi melihat beberapa baju berserakan dilantai dan ada koper berwarna merah didalam sana.
“Kamu mau kemana nak? Apa kamu akan meninggalkan mama zeline?” tiba tiba novi melontarkan pertanyaan tersebut.
Raut wajah zeline terlihat gugup, ia bingung harus berkata apa. Posisinya seakan-akan membuatnya serba salah.
Gadis itu melipat kedua tangannya didada lalu sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan “apa urusan mama jika mama tau apa yang akan zeline lakukan?” jawab zeline.
Novi kembali mengulas senyum tipis lalu berkata, “apa sebegitu bencinya kamu pada mama zeline?.”
Novi memengang bahu anak hadisnya lalu mengusap pelan, ia sangat tau sifat zeline namun mengapa anak gadisnya itu berubah jadi keras kepala. Wanita itu berfikir mungkin kehancuran keluarganya mempengaruhi mental zeline.
“ze-zeline gak tau” sanggah zeline, ia membuang wajah kearah lain.
“mama tidak akan meninggalkanmu zeline, biarlah papa meninggalkan mama asal kamu tidak meninggalkan mama nak” ujar novi.
Zeline membeku, apa maksut mamanya tidak akan meninggalkannya, bukankah sang mama akan menikah lagi.
“Bukankah mama akan membina rumah tangga baru dengan pria selingkuhan mama? Memang apa perdulinya mama dengan zeline dan kak caka?” tuduhnya.
“Nak, mama tidak akan menikah lagi, kamu tetap disisi mama saja sudah cukup untuk mama” ungkap novi memberi pengertian untuk anaknya. Namun zeline tetap bersikeras dengen pemikirannya.
Zeline tersenyum geli, “hah? Apakah aku tidak salah dengar? Hahaha” gadis itu tertawa mengejek. Novi seperti tak mengenal perubahan sikap anaknya, gadis didepannya ini bukan seperti anaknya yang penurut dan tegas.
“Aku bahkan bila mengingat saat mama berzina dengan pria lain dikamarku, membuatku jijik dan ingin muntah” ucap zeline berapi api . “Aku juga sebenarnya tidak sudi tidur dikamar bekas mama b******u dengan laki laki selingkuhan mama” imbuh gadis itu.
DUARRRR.
Seperti tersambar petir novi terkejut mendengar ucapan zeline, apakah begitu hinakah dirinya hingga anaknya sendiri risih bila berdekatan dengannya.
Tubuh novi bergetar, air mata yang sejak tadi tak ingin ia keluarkan jatuh dengan sendirinya. Sedangkan zeline setelah mengucapkan kalimat yang menyayat hati mamanya merasa tak berdosa.
“zelinee” teriak suara bariton dari samping kamarnya, zeline sontak menoleh kecuali novi yang masih tertegun dengan ucapan yang dilontarkan anak gadisnya.
PLAKKKK
Tangan kekar itu mendarat dengan keras dipipi zeline, gadis itu meringis merasakan pipinya yang panas.
“caka apa yang baru saja kamu lakukan?” tanya novi tak percaya.
“a-apa ini sakit nak?” tangan novi terulur untuk menyentuh pipi zeline tapi dengan cepat zeline menepisnya.
Sedangkan caka masih mengatur nafasnya yang tidak teratur, pria itu cukup terkejut dengan perkataan zeline. Memang sejak tadi caka mendengarkan pembicaraan antara mama dan adiknya, namun lama kelamaan ia geram sendiri dengan sikap adiknya.
“jika kamu tau yang sebenarnya jangan menyesal zeline” cetus caka.
Mata zeline berkunang kunang, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Sambil menangkup pipi bekas tamparan, gadis itu perlahan melangkah mundur. Saat sudah tiga langkah zeline masuk kedalam kamar dan menutup pintunya dengan keras
“seharusnya kamu jangan melakukan itu pada adikmu nak, ia masih belum cukup mengerti dan menerima kenyataan” tegurnya.
“ta-tapi ma-“
“tidak ada tapi tapian” tandas novi lalu meninggalkan caka yang berdiri disampinya.
Caka mengacak rambutnya kesal, “sial.”
*
*
*
Disinilah zeline, didalam pesawat yang sudah 15 menit yang lalu lepas landas dari bandara juanda surabaya. Sejak pesawat jalan hanya menengok keluar jendela dan melihat pemandangan yang ada diluar sana, banyak hal yang ia fikirkan namun susah sekali bila dijelaskan.
Ada segores perasaan bersalah pada sang mama yang sudah ia sakiti akibat perkataannya kemarin, gadis itu tidak mengerti mengapa emosinya tidak bisa terkontrol ini benar benar diluar kendalinya.
Zeline beralih menatap gelang pemberian mamanya saat masih sekolah, jari jarinya memainkan gelang tersebut. Ada kisah dibalik gelang tersebut saat mamanya memberikan gelang itu kepadanya.
Zeline ingat, kala itu hujan deras. Sudah pukul 5 sore namun dirinya belum dijemput oleh novi, gadis itu memutuskan untuk pulang dan menerobos derasnya hujan.
Belum melangkah zeline melihat mamanya sudah datang, seperti tau niat anaknya. Novi mengisyaratkan zeline untuk tetap diam ditempat, saat itu keluarganya belum punya mobil. Mamanya menjemputnya menggunakan sepeda motor dan memakai jas hujan, zeline tersenyum saat tau mamanya mulai mendekatinya.
Gadis itu bertanya "mengapa baru menjemputku?."
Novi hanya tersenyum lalu mengeluarkan gelang emas dari kantong plastik dan ia berkata sebelum menjemputnya, mama novi mampir dulu ditoko emas milik sahabatnya untuk membeli gelang cantik ini.
Karna novi sejak lama ingin membelikan anak gadisnya gelang dengan hasil uang kerja kerasnya sendiri, apalagi sejak kecil zeline tidak pernah dibelikan perhiasan.
Zeline tersenyum lebar lalu memeluk tubuh sang mama yang masih pakai jas hujan, hal itu sontak saja mendapat penolakan dari novi karna berakibat seragam anak gadisnya basah.
Zeline terkekeh mengingatnya, hal yang sangat ia rindukan adalah saat bersama keluarganya.
Pandangannya kembali menengok keluar jendela, bila ditanya bagaiamana hubungannya dengan gabino? zeline tidak melupakan gabino, tapi ia masih kesal dengan perilaku gabino yang keterlaluan.
Jujur ia rindu, sangat rindu. Terkahir mereka bertemu pada saat zeline bercerita tentang masalahnya, setelah itu tidak ada pertemuan lagi. Memang gabino beberapa kali menghubunginya melalui telfon dan mengirim pesan tapi, zeline berusaha mengabaikan walau sejujurnya ia ingin membalas pesan tersebut.
Kekasihnya memang bukan pria yang mudah peka bila tidak digertak dulu, itulah sebabnya mengapa zeline sering kesal terhadapnya ditambah lagi sifat egois gabino yang tak pernah hilang.
Zeline memutuskan, biarlah gabino intropeksi diri. Kalaupun dia bisa sadar zeline sangat bersyukur jika tidak? Ahh sudahlah pusing juga kalau terlalu difikirkan.
"Zeline" panggil seseorang dengan suara seraknya.
Zeline menoleh sebelah alisnya terangkat seperti berkata 'apa'.
"Tidak tidur?" Tanya pria itu.
Zeline menggeleng "tidak, aku tidak bisa tidur rel" jawabnya.
Farel menepuk pundaknya "tidurlah dipundakku, perjalanan agak lama. Aku tau perasaanmu gelisah, maka dari itu cobalah beristirahat sejenak." Titah farel.
Zeline mengulas senyum, memang hanya laki laki disampingnya lah yang memahami keadaannya. Zeline mengangguk lalu menyandarkan kepalanya dipundak farel.
Gadis itu memejamkan matanya, mencoba menentralkan hati dan fikirannya agar mau beristirahat sejenak.
Farel yang melihat zeline menurut hanya tersenyum, tangan kananya menyelipkan anak rambut zeline. Siapapun yang melihat mereka pasti mengira sepasang kekasih, padahal hanya sebatas adik dan kakak.