PERANGKAP SIDIK JARI

792 Kata
Rose menyipit, pikirannya berputar menyusun potongan rencana di balik sorot matanya yang tajam. “Agh!” Rose memekik saat merasakan serpihan kaca menggores kulit tangannya hingga berdarah. Ia mengangkat tangannya, menatap garis-garis halus di ujung jarinya yang terluka. Bedah plastik tercanggih di dunia telah memberinya tulang pipi serta hidung bangir terbagus, bahkan lekuk bibir Rose yang paling spesifik. Namun, di bawah permukaan kulit itu, ia tahu ada satu hal yang tidak akan pernah bisa dimanipulasi—identitas biologis yang terkunci di ujung jemarinya. Jika brankas itu benar-benar hanya merespons sidik jari, maka brankas itu bukan sekadar tempat penyimpanan dokumen. Itu adalah hakim yang akan menjatuhkan vonis hukuman mati atas seluruh sandiwaranya. Itu adalah bukti nyata yang akan menamatkan riwayatnya dan membongkar kedoknya karena perawat sialan itu. Kegelisahan terus menyelimutinya, membuat Rose tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di tengah kamar, sementara pikirannya terus tertuju pada luka kecil di jarinya—sebuah celah kecil yang bisa meruntuhkan posisinya. Langkah kakinya yang gelisah tidak berhenti, membayangkan bagaimana perawat itu mungkin sudah mulai menaruh curiga. Tak tahan lagi, ia memutuskan untuk menyelinap keluar sebelum keadaan semakin tak terkendali. Ia melangkah pelan dengan sandal rumahan berbulu, sehingga setiap derap langkahnya menyatu sempurna dalam keheningan tanpa menimbulkan sedikit pun derap langkah. Jubah tidur hitam berbahan sutra yang dikenakannya itu menyatu dengan kegelapan koridor. Ia harus mengambil amplop merah itu. Ia harus menghancurkan surat wasiat Eleanor sebelum cahaya matahari pertama menyentuh mansion ini. Rose membawa sebuah botol kecil berisi cairan kimia khusus dan lapisan silikon tipis yang sering ia gunakan untuk memalsukan tanda tangan pada dokumen audit yang rumit. Ia berharap lapisan itu cukup untuk menipu pemindai biometrik brankas Eleanor yang sudah tua. Rose menyelinap masuk lewat pintu samping. Ia hampir mencapai brankas di pojok ruangan saat ia menyadari ada siluet seseorang di balkon paviliun yang terbuka. Rose membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Itu Jace, berdiri di sana—mengenakan kemeja yang kancing atasnya terbuka, sedang menyesap cerutu dalam diam. Asap putihnya mengepul, menghilang ditelan angin malam. Jace tidak menoleh, namun kehadirannya di sana cukup membuat jantung Rose hendak melompat dari tempatnya. “Kau tidak bisa tidur, Rose?” suara Jace memecah kesunyian. Rose encoba menormalkan suaranya, meski lututnya terasa lemas seperti jely. “Aku merasa haus, Jace. Aku tidak tahu kau ada di sini.” Jace berbalik perlahan. Ia menyandarkan punggungnya pada pagar balkon, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam di bawah temaram lampu taman. “Aku sedang memikirkan kata-kata Eleanor tadi, tentang brankas itu. Teknologi biometrik di dalamnya sangat akurat, Rose. Eleanor memesannya khusus dari Jerman sepuluh tahun lalu. Katanya, mesin itu tidak pernah salah mengenali pemiliknya, bahkan jika kulitnya tergores sekalipun.” Rose meremas botol kimia di saku jubahnya. Ia merasa Jace sedang mengulitinya hidup-hidup. “Kenapa kau membicarakan itu sekarang? Brankas itu milik Ibu. Bukan urusan kita.” “Benarkah?” Jace melangkah mendekati Rose hingga aroma tembakau itu menyerang indra penciuman sang wanita. “Eleanor bilang seluruh sahamnya akan jatuh ke tangan yayasan Noa jika terjadi sesuatu padanya. Itu berarti, jika kau tidak bisa membuka brankas tersebut untuk membuktikan hakmu, kita akan kehilangan segalanya. Segala kemewahan ini, posisi kita, identitasmu... semuanya akan hilang.” Jace mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Rose dengan punggung jarinya yang dingin. “Tidurlah, Rose! Besok pagi, pengacara Eleanor akan datang. Aku harap jarimu sudah sembuh untuk memberikan pembuktian yang diinginkan Eleanor.” Jace berlalu pergi, meninggalkan Rose yang gemetar di tengah kegelapan paviliun. Jace tidak membantunya, ia justru memberinya tekanan yang lebih mematikan. Jace ingin menonton bagaimana boneka yang ia pasang di ranjangnya ini bisa bertahan dari ujian sang Matriark atau tidak. Setelah memastikan langkah kaki Jace menjauh, Rose menoleh ke arah brankas baja itu. Tatapannya berkilat dengan keputusasaan yang nekat. Ia tidak punya pilihan lain, selain mencoba. Keputusasaan mengalahkan logikanya, Rose mengeluarkan botol kecil berisi cairan pembersih kimia dan lapisan silikon dari sakunya. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengoleskan lapisan tipis itu di ujung telunjuknya. Ia mencoba meniru pola sidik jari yang ia pelajari dari dokumen lama yang pernah ia curi. Rose menarik napas dalam, memejamkan mata rapat-rapat hingga kelopak matanya bergetar. Ia menempelkan ujung telunjuknya ke atas kaca pemindai. Suara mekanis halus terdengar dari dalam mesin. Rose menahan napas, menanti denting tanda pintu terbuka atau alarm yang akan membangunkan seluruh penghuni mansion. Panel kecil di atas pemindai itu berkedip. Namun, bukan hijau seperti Rose inginkan, melainkan berkedip merah di kegelapan. Akses ditolak. Namun, tidak ada sirine yang meraung. Keheningan yang menyusul justru jauh lebih memekakkan telinga. Tiba-tiba, secara mengejutkan, seluruh lampu di ruangan itu menyala serentak, menyapu habis kegelapan. Rose tersentak mundur, tangannya menabrak rak buku hingga beberapa dokumen terjatuh. “Kau baru saja membuktikan siapa dirimu yang sebenarnya.” “Upaya ilegal akan mendeteksi pesan darurat yang telah dikirim ke Detektif dan Kantor Audit.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN