KEPULANGAN SANG MATRIARK

1308 Kata
“Lepaskan tangan kotor itu dari perawatku, Sloan!” Sloan membeku. Gunting medis yang ia genggam terlepas dari tangannya. Ia segera menarik tangannya dari leher Noa. Eleanor melangkah masuk dengan bantuan tongkatnya. Sloan mundur hingga punggungnya membentur rak buku. Napasnya memburu, wajahnya pucat pasi. “Nyonya Besar... saya... saya hanya mencoba mendisiplinkan staf yang membangkang.” Eleanor mengabaikannya sepenuhnya. Ia berjalan melewati Sloan seolah pria itu hanyalah debu yang mengotori pemandangan. Matanya tertuju pada Noa yang sedang merapikan kerah seragamnya dan menarik napas untuk menormalkan detak jantungnya. “Noa, kau baik-baik saja?” “Rapikan seragammu! Aku butuh laporan strategi kuartal terakhir yang kusepakati dengan tim analis kemarin. Bawakan ke meja kerja sekarang!” Noa membungkuk singkat. “Baik, Nyonya Besar.” Ia bergerak dengan tenang, melewati Sloan yang masih gemetar di sudut ruangan. Noa mengambil map-map tebal dari atas meja dan membukanya di hadapan Eleanor. Tidak ada kepanikan di wajah Noa, setelah percobaan pembunuhan yang baru saja dialaminya. Sikap dinginnya justru membuat Sloan merasa semakin terhina, seolah nyawanya bahkan tidak cukup penting untuk dilaporkan. Tepat saat itu, Jace dan Rose muncul di ambang pintu paviliun. Rose tampak nyaris pingsan melihat Eleanor berdiri dengan tegak. Ia segera memasang wajah cemas yang dipelajari dengan sangat baik. “Ibu! Demi Tuhan, kenapa Ibu sudah pulang?” Rose mencoba melangkah maju, tangannya terulur seolah ingin memeluk Eleanor. “Kami sangat khawatir. Jace bilang kondisi Ibu masih kritis di rumah sakit.” Eleanor tidak bergeming. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Rose. Matanya tetap terpaku pada dokumen yang disodorkan Noa. “Jace hanya mendengar apa yang ingin ia dengar, Rose. Dan kau... berhentilah berakting. Bau parfummu yang menyengat itu membuat kepalaku pusing.” Langkah Rose terhenti seketika. Tangannya menggantung di udara, wajahnya memerah karena malu di depan para detektif dan suaminya sendiri. “Ibu,” Jace mencoba masuk ke tengah percakapan. “Setidaknya beri tahu kami jika Ibu ingin pulang. Kami bisa menyiapkan penyambutan yang layak.” “Penyambutan seperti apa, Jace? Racun lain di dalam tehku? Atau surat wasiat palsu yang sudah kau siapkan di bawah bantal?” Eleanor akhirnya menatap anaknya. Tatapannya dingin, tanpa ada jejak kasih sayang seorang ibu. Jace terdiam. Ia meremas jemarinya di balik saku jas. Eleanor duduk di kursi kayu besar di belakang meja. Ia memberi isyarat pada Noa untuk duduk di sampingnya—sebuah posisi yang seharusnya milik Rose sebagai menantu atau Jace sebagai anak. “Noa, bacakan poin-poin tentang divestasi aset di sektor properti. Aku ingin Jace dan Rose mendengar bagaimana seharusnya sebuah dinasti dikelola.” Noa membuka map hitam itu. Ia berdehem pelan, lalu mulai membacakan data finansial dengan lancar. Analisisnya tentang pergerakan saham, risiko likuiditas, dan strategi hedging terhadap mata uang asing terdengar sangat mahir. Rose berdiri mematung di ambang pintu. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Ia tidak mengerti istilah-istilah yang diucapkan Noa. Baginya, kekuasaan St. John hanyalah tentang kartu kredit tanpa batas dan perhiasan berlian. Melihat Noa berbicara sejajar dengan Eleanor dan Jace tentang angka-angka miliaran membuat nyalinya menciut. “Rose,” panggil Eleanor tiba-tiba, memutus penjelasan Noa. “Iya, Ibu?” Rose menyahut cepat, berharap Eleanor akan memberinya peran dalam diskusi itu. “Kau berdiri di sana seperti patung yang tidak berguna. Pergilah ke dapur! Siapkan teh melati, tapi kali ini pastikan kau sendiri yang menyeduhnya. Jangan biarkan staf menyentuhnya. Aku ingin melihat apakah kau masih ingat cara melayani orang tua.” Wajah Rose memucat. “Tapi Ibu... ada pelayan yang—” “Aku tidak bertanya,” potong Eleanor tajam. “Atau kau ingin aku meminta perawat ini yang melakukannya, sementara kau yang membacakan laporan audit ini di depan Jace?” Rose menelan ludah. Ia tahu ia tidak akan bisa membacakan satu lembar pun dokumen teknis itu tanpa mempermalukan dirinya sendiri. Dengan kepala tertunduk dan hati yang penuh dendam, ia berbalik menuju dapur. Meninggalkan Jace yang mulai protes. “Ibu, ini urusan internal perusahaan. Terlalu berisiko jika staf medis ikut campur dalam angka-angka sensitif ini,” Jace mencoba memotong. Eleanor tidak menatap anaknya. Ia justru mengetuk permukaan meja dengan jemarinya yang berhias cincin zamrud. “Risiko sebenarnya adalah membiarkan perusahaan ini dikelola oleh orang-orang yang hanya pintar membakar uang dan membungkam saksi. Noa, lanjutkan analisismu tentang akuisisi Vargas Group!” Noa menarik napas pendek. Ia menunjuk pada kolom arus kas di halaman empat belas. “Struktur modal yang Tuan Jace ajukan terlalu bertumpu pada utang jangka pendek. Jika kita memaksakan akuisisi bulan depan, likuiditas perusahaan akan mencapai titik nadir. Kita akan rentan terhadap pengambilalihan paksa oleh pihak ketiga.” Jace tertegun. Ia melangkah mendekat, matanya menyipit menatap skema yang ditunjuk Noa. “Dari mana kau belajar membaca laporan konsolidasi seperti itu?” Noa tetap tenang. Ia memberikan masukan yang sangat teknis, membedah celah hukum dalam kontrak vendor yang selama ini luput dari pengawasan Sloan. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah hasil didikan keras Eleanor selama bertahun-tahun saat ia masih menjadi Rose. Ia menggunakan istilah-istilah ekonomi makro yang tajam, lugas, dan sangat akurat. Jace merasa ada yang salah. Kecerdasan ini bukan sesuatu yang didapat dari kursus kilat atau agensi perawat. Ia menatap Noa, mencoba mencari celah di balik masker hitam itu, namun ia hanya menemukan sepasang mata yang dingin. Ia tidak bisa membantah argumentasi Noa karena secara logika bisnis, Noa benar. Tepat saat itu, pintu paviliun terbuka pelan. Rose masuk dengan langkah hati-hati. Ia membawa baki perak berisi teko keramik dan dua cangkir teh melati yang masih mengepul. Ia berdiri di ambang pintu, terpaku melihat pemandangan di depannya. Di sana, di meja kekuasaan St. John, Noa sedang duduk berdampingan dengan Eleanor, sementara Jace berdiri mendengarkan dengan wajah yang pucat. Rose merasa jantungnya seolah diremas. Ia hanya bisa melihat dari jauh, terasing oleh pembicaraan tentang saham, margin keuntungan, dan aset likuid yang sama sekali tidak ia mengerti. Ia menyadari posisinya sebagai Nyonya sedang diguliti. Takhtanya bukan digeser oleh wanita cantik yang lebih muda, melainkan oleh sosok bermasker yang kini mengendalikan pikiran dan keputusan mertuanya. “Tehnya, Ibu,” bisik Rose sambil mendekat ke meja. Tangannya sedikit gemetar saat meletakkan cangkir di depan Eleanor. Eleanor bahkan tidak melirik teh tersebut. Ia menutup map di depannya dengan dentuman yang keras, membuat Rose tersentak. “Sudah cukup untuk kali ini,”ucap Eleanor. Ia merogoh laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna merah darah. Ia menyerahkannya kepada Noa. “Noa, simpan ini di dalam brankas pribadiku di pojok ruangan. Kau adalah satu-satunya orang yang memegang kuncinya sekarang.” Jace dan Rose menatap amplop itu dengan tidak percaya. “Apa itu, Ibu?” tanya Jace. Eleanor berdiri perlahan, bersandar pada tongkat peraknya. Ia menatap Jace dan Rose bergantian dengan senyum tipis yang mematikan. “Itu adalah surat wasiat baru yang kusepakati dengan Noa dan pengacaraku sore tadi,” jawab Eleanor datar. “Di dalamnya aku menyatakan bahwa jika terjadi sesuatu yang tidak wajar padaku lagi—sekecil apa pun itu—seluruh saham mayoritasku di St. John Corp akan jatuh ke tangan yayasan yang dikelola sepenuhnya oleh Noa. Kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun.” Prang! Cangkir teh di tangan Rose terlepas dan pecah berserakan di atas lantai marmer. Cairan panasnya menciprat ke gaun mahalnya, namun ia tidak peduli. Ia menatap Eleanor dengan mata yang membelalak ngeri. Dunianya baru saja runtuh dalam satu kalimat. Eleanor hanya melirik dingin ke arah pecahan porselen itu. Ia menatap Rose dengan tatapan menghakimi. “Bersihkan itu, Rose!” perintah Eleanor. ”Seorang Nyonya St. John tidak seharusnya seceroboh itu. Dan ingat, kau bukan lagi orang yang paling penting di rumah ini.” Eleanor kemudian berbalik arah, berjalan menuju kamarnya dengan didampingi Noa, meninggalkan Jace yang mematung dan Rose yang mulai berlutut untuk memunguti pecahan kaca dengan tangan gemetar. Jace justru melangkah pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Rose sendirian. Di tengah kesunyian, Rose mendengar bisikan pelan dari arah lorong gelap paviliun. “Brankas itu hanya bisa dibuka dengan sidik jari Rose, bukan kuncinya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN