Noa menekan tombol kirim di sudut layar. Cahaya biru dari layar ponsel rahasianya memantul di permukaan masker hitamnya. Pesan peringatan untuk pria berjaket kusam itu akan menjadi umpan terakhir yang akan menarik semua predator keluar dari sarangnya. Noa melepaskan headphone yang sedari tadi terpasang di telinganya.
Ia berdiri di tengah kegelapan paviliun yang sunyi. Lalu, Noa melepas seragam perawatnya yang membosankan—menggantinya dengan pakaian serba hitam—turtleneck dan celana kain taktis yang menyatu sempurna dengan bayangan malam.
Sementara itu, di sudut lain mansion, Sloan melangkah terburu-buru menuju garasi. Tangannya mencengkeram kunci mobil hingga buku jarinya memutih. Di dalam saku jasnya, ia bisa merasakan berat logam dari senjata api yang ia ambil dari brankas rahasia Jace. Ia tidak peduli lagi pada prosedur atau perintah Jace untuk tetap diam. Baginya, pria asing di gerbang itu adalah bom waktu yang harus dijinakkan dengan timah panas sebelum Rose menggunakannya untuk menendangnya keluar dari skema pembagian harta.
Mobil Sloan melesat membelah kabut malam, menuju koordinat terakhir tempat pria asing itu bersembunyi. Namun, setibanya di penginapan murah di pinggiran kota, Sloan hanya menemukan pintu yang terbuka lebar dan sebuah kamar yang kosong. Di atas meja kayu, ia menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan. “Dermaga Timur, Gudang 7. Bawa sisa uangnya atau seluruh kota akan tahu siapa Nyonya St. John sebenarnya.”
“Sial!” desis Sloan.
Ia menyambar kertas itu dan segera kembali ke mobilnya. Ia mengira pria itu mencoba memerasnya di tempat sepi. Ia tidak sadar bahwa setiap langkahnya sedang dipandu oleh tangan Noa yang tak terlihat.
Sementara itu, di kamar utama, Rose sedang mondar-mandir. Sebuah pesan anonim baru saja masuk ke ponsel pribadinya. “Sloan sedang membunuh kakakmu di Dermaga Timur sekarang. Jika kau tidak menghentikannya, Sloan akan menggunakan mayat kakakmu untuk mengancammu seumur hidup. Dia ingin membuangmu setelah urusan audit selesai.”
Paranoia Rose mencapai titik didih. Ia tidak bisa menelepon Jace—karena suaminya adalah orang yang memerintahkan pembersihan ini. Jika Sloan berhasil melenyapkan kakaknya, maka Sloan akan memegang kendali penuh atas dirinya. Dengan nekat, Rose menyambar kunci mobil cadangan dari laci riasnya. Ia berlari keluar lewat pintu pelayan, tidak peduli lagi pada riasannya yang mulai luntur oleh keringat dingin. Ia harus sampai di dermaga lebih dulu.
Dermaga Timur diselimuti oleh kabut garam yang tebal dan bau karat yang menyengat. Lampu-lampu remang menciptakan bayangan-bayangan panjang di antara kontainer-kontainer raksasa.
Sloan tiba lebih dulu. Ia memarkir mobilnya di balik tumpukan kayu tua, lalu melangkah menuju Gudang tujuh dengan senjata yang sudah dikokang. Di dalam gudang yang luas dan lembap itu, pria berjaket kusam sudah menunggu di bawah satu-satunya lampu gantung yang masih menyala. Pria itu memegang pisau lipat, matanya liar mencari celah untuk melarikan diri.
“Di mana uangnya, Sloan?” teriak pria itu parau karena ketakutan.
“Uangmu ada di sini,” jawab Sloan dingin sembari mengangkat senjatanya.
Tepat saat Sloan hendak menarik pelatuk, suara decit rem mobil yang memekakkan telinga terdengar di depan pintu gudang. Rose muncul dari balik kegelapan, wajahnya pucat pasi di bawah sorotan lampu mobilnya sendiri yang masih menyala.
“Sloan! Berhenti!” teriak Rose.
Sloan menoleh dengan kaget. “Rose? Apa yang kau lakukan di sini?!”
“Kau ingin membunuhnya dan menjebakku, kan?!” Rose mendekat dengan langkah limbung. “Kau pikir aku tidak tahu rencanamu dengan Jace? Kalian ingin melenyapkanku setelah audit ini selesai!”
“PENGHIANAT!”
“Apa yang kau bicarakan? Aku di sini untuk menyelamatkanmu!” Sloan balas berteriak—bingung dengan kehadiran Rose.
Konfrontasi segitiga itu pecah di tengah gudang yang sunyi. Namun, mereka tidak menyadari bahwa di atas balkon besi yang berkarat, sesosok bayangan sedang memperhatikan mereka dengan tenang.
Noa berdiri di sana, mengawasi setiap inci kepanikan mereka. Di tangannya, ia memegang sebuah pemantik api emas—benda yang ia curi dari meja kerja Jace malam sebelumnya. Ia menatap genangan solar yang bocor dari mesin derek tua di lantai gudang, tepat di bawah kaki mereka bertiga.
Noa menjatuhkan pemantik itu—meluncur di udara, memantulkan cahaya merkuri yang redup sebelum mendarat tepat di tengah genangan solar yang licin. Api kecil seketika menjalar, merayap tenang seperti ular yang lapar menuju tumpukan kayu tua di tengah gudang.
Sloan tersentak, matanya melebar saat melihat api mulai menjilat ujung sepatunya. “Rose! Keluar dari sini!” teriaknya sambil mencoba menarik lengan Rose.
“Lepaskan aku, Sloan! Kau yang menjebakku!” Rose meronta, ia justru terjerembap di atas lantai yang berminyak. Pria berjaket kusam itu, kakak kandungnya yang ia benci, tidak menolongnya. Ia justru sibuk memunguti beberapa lembar uang yang terjatuh dari saku Sloan di tengah kepulan asap yang mulai menebal.
Namun, bukan api yang menjadi ancaman utama malam itu.
Tiba-tiba, suara sirine yang memekakkan telinga memecah kesunyian dermaga. Lampu sorot raksasa dari mobil-mobil patroli polisi mendadak menyala serentak, menembus kaca-kaca jendela gudang yang kotor. Seluruh bangunan itu kini terkepung oleh cahaya putih yang menyilaukan, mengubah kegelapan menjadi panggung interogasi terbuka.
“Ini Kepolisian Sektor Timur! Letakkan senjata dan keluar dengan tangan di atas kepala!” Suara dari pengeras suara menggelegar, beradu dengan suara deru helikopter yang mulai mendekat.
Pintu besar gudang itu didorong terbuka dengan paksa. Di sana, di balik barisan petugas polisi yang bersenjata lengkap, melangkah maju sesosok pria dengan setelan jas abu-abu yang tetap rapi meski angin dermaga bertiup kencang.
Jace St. John.
Wajah Jace sangat pucat, matanya menatap horor ke arah istrinya yang bersimpuh di lantai gudang yang kotor di samping Sloan. Namun, Jace tidak datang sendirian. Di sampingnya berdiri Xaviera, yang menatap Rose dengan senyum dingin penuh kemenangan. Dan di belakang mereka, puluhan jurnalis dari media ekonomi terbesar di kota itu sedang sibuk mengarahkan kamera dan lampu flash mereka.
“Jace... tolong aku!” Rose berteriak, mencoba berdiri sambil menutupi wajahnya dari kilatan kamera.
Jace tidak bergerak maju. Ia menyadari bahwa kehadirannya di sini, bersama polisi dan wartawan, adalah skenario yang dirancang untuk menghancurkannya. Jika ia menolong Rose dan Sloan sekarang, ia akan dianggap sebagai bagian dari konspirasi pembunuhan dan pencucian uang yang sedang diselidiki.
Noa, yang berdiri di atas balkon besi yang mulai panas oleh api, mendekati alat pemancar suara tua yang menempel di dinding gudang. Ia menekan tombol aktif, suaranya terdistorsi oleh mesin namun sangat jernih bagi Jace yang berdiri di bawah.
“Selamat datang di pemakaman reputasimu, Jace,” bisik Noa.
Jace mendongak secara refleks. Matanya menangkap siluet wanita berbaju hitam yang berdiri di atas sana, di tengah kepulan asap hitam. Ia tidak bisa melihat wajah Noa, namun ia bisa merasakan aura Rose yang sesungguhnya sedang menatapnya dari balik kegelapan itu. Jace menyadari dengan rasa ngeri yang murni, dia bukan datang sebagai penyelamat, dia datang untuk menyaksikan kehancurannya sendiri yang disiarkan secara langsung ke seluruh negeri.
“Direktur St. John, apa komentar Anda mengenai dugaan keterlibatan istri Anda dalam pengalihan aset ilegal di Dermaga Timur?!” seorang jurnalis merangsek maju, mikrofonnya nyaris mengenai wajah Jace.
“Tuan Sloan, apakah benar Anda mencoba melenyapkan saksi kunci kasus kebakaran setahun lalu?!” teriak jurnalis lain.
Jace mundur selangkah, tangannya gemetar. Ia melihat Sloan yang kini diborgol dan Rose yang diseret keluar oleh petugas medis dengan wajah yang hancur oleh air mata dan debu. Xaviera menoleh pada Jace dan berbisik cukup keras untuk didengar oleh wartawan di dekat mereka.
“Sepertinya istrimu punya banyak rahasia yang tidak kau ketahui, Jace. Atau mungkin... kau memang sengaja menyembunyikannya?”
Jace menatap ke atas balkon sekali lagi, namun Noa sudah menghilang ke dalam pekatnya asap. Ia terjepit. Jika ia bicara, ia bisa terpeleset. Jika ia diam, saham St. John Corp akan terjun bebas besok pagi.
Saat Jace hendak masuk ke dalam mobilnya untuk melarikan diri dari kejaran jurnalis, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim masuk.