ANCAMAN

1610 Kata
Jace mencengkeram ponsel Noa dengan kekuatan yang sanggup meremukkan layar kacanya. Ia tidak menatap ke arah gerbang belakang lagi, melainkan menatap ke dalam iris mata Noa yang tenang. Di balik masker hitam itu, Jace merasa sedang berhadapan dengan sebuah cermin yang memantulkan seluruh dosanya. “Ada rahasia yang lebih baik tetap terkubur bersama abu, Noa,” bisik Jace mengancam. “Tuan Jace, saya hanya melakukan tugas saya untuk melindungi keamanan Nyonya Besar dari orang asing. Jika Tuan merasa pria itu adalah rahasia yang berharga, maka sayalah yang seharusnya merasa terancam, bukan Anda.” Jace tidak menjawab. Ia memasukkan ponsel Noa ke dalam saku jasnya, lalu memberikan isyarat pada dua pengawal yang berjaga di dekat paviliun. “Bawa dia masuk! Dan pastikan dia tidak keluar dari kamarnya sampai aku memberi perintah.” Jace segera berbalik, melangkah cepat menuju gerbang belakang sebelum Eleanor sempat menyadari ada keributan. Ia melihat pria berjaket kulit kusam itu masih berdiri di sana, menatap bangunan mansion dengan tatapan lapar. Jace mengeluarkan dompetnya, mengambil seikat uang tunai tanpa menghitungnya, dan melemparkannya melewati jeruji besi gerbang. “Pergi dari sini!” perintah Jace dingin. “Jika aku melihat wajahmu lagi di radius satu kilometer dari rumah ini, kau tidak akan pernah sampai ke desa asalmu dalam keadaan bernapas.” Pria itu memungut uang tersebut, menyeringai memperlihatkan deretan giginya, lalu menghilang ke dalam kegelapan jalanan pinggiran kota. Jace menarik napas panjang, merapikan jasnya, dan kembali ke dalam rumah dengan wajah yang kembali menjadi topeng porselen yang sempurna. Sementara itu, di dalam ruang makan utama, Rose sedang duduk menghadapi sarapan pagi yang sudah mendingin. Ia tidak menyentuh makanannya. Pikirannya dipenuhi oleh rasa tidak aman yang mendalam sejak insiden kalung safir. “Nyonya, apakah Anda ingin saya memanaskan sup ini kembali?” tanya seorang pelayan muda bernama Mia. Dia sudah bekerja di rumah ini selama beberapa tahun dan tahu persis perubahan temperamen majikannya. Rose mendongak. Matanya merah karena kurang tidur. Ia menatap mangkuk porselen di depannya, lalu menatap Mia. Tanpa peringatan, Rose meraih mangkuk tersebut dan menyiramkan isinya ke arah tangan Mia. “Aaaakh!” Mia menjerit pelan, segera menarik tangannya yang kemerahan karena terkena cairan panas. Mangkuk itu jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. “Kau pikir aku punya waktu untuk menunggu kau bolak-balik ke dapur?!” teriak Rose. Ia berdiri, wajahnya yang cantik kini tampak terdistorsi oleh amarah yang tidak terkendali. “Kalian semua sama saja! Tidak becus! Kalian sengaja melakukan ini untuk mengejekku, kan? Karena perawat cacat itu lebih disukai Eleanor, kalian pikir bisa meremehkanku?” Pelayan-pelayan lain yang ada di ruangan itu tertunduk kaku. Keheningan yang sangat pekat menyelimuti ruang makan. Bau kaldu ayam yang tumpah bercampur itu menyeruak. “Bersihkan ini sekarang! Dan aku tidak mau melihat wajahmu di rumah ini lagi mulai besok!” Rose menunjuk Mia dengan jari yang bergetar. “Pergi!” Mia menangis sesenggukan sambil memunguti pecahan porselen dengan tangan yang melepuh. Di kejauhan, di ambang pintu menuju area servis, Noa yang baru saja masuk, berdiri mengamati adegan itu. Ia melihat bagaimana Rose sedang menghancurkan reputasinya sendiri di depan orang-orang yang selama ini melayaninya. Rose sedang menggali lubang kuburnya sendiri dengan setiap makian yang keluar dari mulutnya. “Nyonya Rose dulu tidak pernah seperti ini,” bisik salah satu koki senior di balik meja pantry, cukup keras untuk didengar oleh Noa. “Dia berubah seperti orang asing yang memakai wajah Nyonya kita. Dia iblis.” Noa menyeringai tipis. Ia melangkah masuk ke ruang makan, melewati Rose yang masih terengah-engah karena amarah. Noa berlutut di samping Mia, mengambil kain serbet dan membantu pelayan itu membersihkan lantai tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tindakan diam Noa adalah penghinaan paling telak bagi Rose. Noa menunjukkan empati yang seharusnya dimiliki oleh seorang Nyonya rumah, sementara Rose hanya menunjukkan kegilaan. “Berhenti!” teriak Rose pada Noa. “Siapa yang menyuruhmu membantunya? Biarkan dia yang mengerjakannya sendiri!” Noa mendongak sejenak, lalu kembali menunduk. “Nyonya Besar Eleanor meminta saya untuk segera menyiapkan ruang tengah untuk tamu sore nanti. Saya hanya ingin pekerjaan di sini cepat selesai agar tidak mengganggu jadwal Anda.” Sebut nama Eleanor selalu berhasil membungkam Rose. Rose mendengus, menyambar tas jinjingnya, dan melangkah keluar menuju lantai atas. Namun, saat ia sampai di bordes tangga, ia menoleh ke bawah. Ia melihat Jace sedang berdiri di aula, menatapnya dengan tatapan yang sangat asing—bukan tatapan seorang suami, melainkan tatapan seorang penonton yang sedang mengevaluasi kualitas akting pemeran utamanya. Rose merasa dinding-dinding mansion ini sedang berbisik padanya. Ia merasa bayangan pria dari gerbang tadi pagi kini mengikutinya masuk ke dalam rumah. Ia berlari masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu, menguncinya dari dalam seolah-olah pintu kayu itu bisa melindunginya dari masa lalu yang mulai mengetuk. Malam merayap. Kabut tebal menyelimuti taman labirin di bawah jendela kamar utama. Rose berdiri mematung di dekat jendela—balik tirai sutra. Tiba-tiba, di bawah sorotan lampu taman, sosok itu muncul lagi. Pria berjaket kusam itu berdiri tepat di tengah jalan setapak, menatap lurus ke arah jendela kamar Rose. Wajahnya yang kasar tampak jelas di bawah cahaya lampu, seringainya seolah bisa menembus kaca setebal apa pun. “Tidak mungkin...” bisik Rose. Napasnya memburu. Ia segera berbalik dan menekan tombol panik di dinding. “Security! Ada penyusup di taman bawah kamarku! Cepat!” Dalam hitungan detik, sirene kecil berbunyi dan lampu sorot eksternal menyala serentak, menyapu seluruh area taman. Rose terus menatap ke bawah dengan mata melotot, namun taman itu kini kosong. Hanya ada dahan pohon yang bergoyang tertiup angin malam. Pintu kamar terbanting terbuka. Jace masuk dengan napas terengah, disusul dua pengawal bersenjata. “Mana? Di mana dia?” tanya Jace, matanya menyapu seluruh ruangan sebelum beralih ke jendela. “Dia di sana, Jace! Berdiri tepat di bawah lampu itu!” Rose menunjuk dengan jari yang bergetar hebat. “Dia memakai jaket kulit... dia terus menatapku!” Jace melangkah ke jendela, melihat ke bawah selama beberapa saat, lalu menoleh ke arah pengawal. Salah satu pengawal menggeleng. “Kami sudah menyisir sensor gerak, Tuan. Tidak ada aktivitas manusia di sektor ini sejak satu jam lalu.” Jace menghela napas panjang, menatap Rose dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan dan rasa jijik yang ditekan. Ia mengendikkan kepala, memberi isyarat agar pengawal keluar. “Kau berhalusinasi, Rose? Stres karena audit dan kepulangan Ibu membuat kepalamu kacau,” ucap Jace datar. Ia tidak mendekat untuk memeluknya. “Minum obat tidurmu dan berhentilah membuat drama tengah malam.” Jace berbalik pergi, meninggalkan Rose yang kini jatuh terduduk di atas karpet. Ia tidak gila, ia tahu apa yang ia lihat dan pria itu nyata. Masa lalunya yang berdarah di desa itu tidak mungkin hanya sekadar bayangan. Keesokan paginya, suasana kamar utama masih berantakan. Sebuah vas porselen dinasti Ming pecah berserakan di lantai, hasil dari kemarahan Rose saat Jace menolak sarapan bersamanya. Noa masuk dengan langkah tenang, membawa peralatan kebersihan. Ia berlutut di lantai, memunguti serpihan tajam porselen itu satu per satu dengan tangan yang terbungkus sarung tangan kain. Rose sedang duduk di depan meja rias, menatap pantulannya yang tampak kuyu meski sudah ditutupi riasan tebal. “Bersihkan itu sampai tidak ada setitik pun debu yang tersisa, perawat!” desis Rose. “Atau aku akan memastikan tanganmu yang melepuh itu benar-benar busuk di penjara.” Noa tidak berhenti memungutinya. Ia justru merangkak sedikit lebih dekat ke arah kursi rias Rose. Suasana kamar sangat sunyi, hanya ada suara denting porselen yang dimasukkan ke baki. Noa menegakkan punggungnya sedikit, lalu membungkuk seolah sedang mengambil pecahan kecil di bawah kursi Rose. Ia mendekatkan wajahnya yang bermasker ke telinga Rose, sangat dekat hingga napasnya terasa di leher wanita itu. “Tuan ada di gerbang kemarin...” bisik Noa. Suaranya rendah, nyaris tidak terdengar, namun mengandung daya ledak yang mematikan. “Dia bilang dia sangat merindukan adiknya.” Rose membeku seketika. Kuas rias di tangannya terjatuh ke atas meja. Warna di wajahnya memucat. Rose berbalik dengan sentakan kasar, tangannya melayang siap untuk menampar Noa. Namun, Noa dengan sigap menangkap pergelangan tangan Rose di udara. Cengkeraman Noa sangat kuat, jari-jarinya menekan titik saraf yang membuat tangan Rose lemas. Noa menatap ke dalam mata Rose. Tatapan itu sangat dalam, penuh dengan pengetahuan gelap yang membuat Rose merasa seolah jiwanya sedang dikuliti. “Jangan pernah mencoba menyentuhku lagi, Nona Valerius!” ucap Noa tenang, lalu melepaskan tangan Rose dengan sekali sentak. Noa berdiri, membawa baki berisi pecahan vas, dan melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi. Rose hanya bisa terdiam kaku, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa sesak napas. Bagaimana perawat ini bisa tahu? Malam itu, di bagian terdalam mansion—ruang bawah tanah yang pengap dan jarang digunakan—Jace berdiri di balik bayangan pilar beton. Sloan berdiri di hadapannya, wajahnya tampak kaku. Jace menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang berisi tumpukan uang tunai dan sebuah paspor palsu dengan identitas baru. “Bawa pria itu ke pinggiran kota! Pastikan dia tidak pernah bicara pada siapa pun, terutama pada pengacara Eleanor,” instruksi Jace. “Jika dia melawan atau mencoba kembali ke sini... kau tahu apa yang harus dilakukan, Sloan. Jangan biarkan ada satu pun saksi yang tersisa dari masa lalu istriku.” Sloan menerima amplop itu dan mengangguk pelan. “Akan saya laksanakan, Tuan.” Mereka berdua tidak menyadari sebuah benda kecil berwarna hitam pekat menempel pada kancing jas belakang Sloan—mikrofon mini yang dipasang Noa saat menyajikan teh pagi tadi. Di dalam paviliunnya yang gelap, Noa duduk di depan laptopnya, mengenakan headphone. Ia mendengar setiap kata, rencana pembersihan yang direncanakan Jace. Noa segera mengetik sebuah pesan anonim dan mengirimkannya ke nomor ponsel seseorang. “Lari sekarang! Pergilah ke gudang tua di dermaga timur pukul satu pagi. Aku akan memberikanmu uang yang lebih banyak dan tiket keluar dari negara ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN