Pagi itu, Noa melangkah keluar dari paviliun dengan seragam perawat abu-abunya yang rapi. Ia menuju dapur utama untuk mengambil jatah sarapan bubur gandum milik Eleanor. Biasanya, saat ia masuk, akan ada sapaan kecil atau setidaknya anggukan sopan dari para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan keluarga besar. Namun, saat pintu ganda dapur didorong terbuka, keheningan yang tajam segera menyambutnya. Mia, pelayan yang tangannya sempat Noa kompres kemarin setelah disiram sup panas oleh Rose, sedang duduk di meja panjang bersama tiga pelayan lainnya. Begitu mata Mia bertemu dengan masker hitam Noa, ia segera menarik nampannya menjauh. Ia menatap Noa dengan campuran rasa takut dan jijik yang tidak ditutup-tutupi. “Jangan dekat-dekat,” bisik seorang pelayan senior, cukup keras untuk d

