Pagi ini, entah untuk keberapa ratus kalinya Kenzo menghela napas.
Di kampus saja, ia banyak sekali bengong bin melamun.
Pusing yang tak kunjung hilang, membuat wajahnya sedikit pucat.
"Anda baik baik saja, Pak Ken?" tanya salah satu mahasiswa dan mahasiswi yang kebetulan saja lewat.
"Ah, iya. Baik!" senyum Kenzo.
Lalu setelah mengatakan itu, ia langsung memalingkan wajahnya, kembali menatap buku.
Posisi Kenzo saat itu sedang di taman kampus, karena itulah semua yang ia lakukan, atau apapun yang terjadi padanya dengan otomatis akan terlihat dan terdeteksi oleh siapapun.
"Kenapa Papah harus menceritakan semuanya?" gumam Kenzo.
Betul. Setelah apa yang Papah dan Bunda bicarakan semalam pada Kenzo, Kenzo akhirnya bisa mengerti kenapa perjodohan itu bermula.
Dan karena itu juga lah awal mula kepalanya pusing. Semalaman, ia bahkan tak bisa tidur.
Buku yang saat ini tengah ia tatap, entah kenapa lambat laun seakan berubah menjadi sebuah video zaman dahulu.
Bayangan dimana ia melihat gambaran Papah dan juga Bunda yang saat itu tengah mengadung, begitu sangat kesusahan pada zaman itu.
Bahkan untuk makan saja mereka begitu sangat kesusahan.
Bayangan Kenzo dibuku itu, seakan membuatnya masuk ke dalam kehidupan Papah dan Bundanya saat itu.
Sebuah halusinasi yang berasal dari cerita Papah, membuatnya selalu membayangkan situasi keluarganya saat itu.
Begitu menyedihkan, hingga Om Rudi yang tak lain adalah Ayah dari Adena pun datang dengan membawa dua kotak nasi.
Begitulah awal mula Papah serta Bunda bisa mengenal Om Rudi yang saat itu masih belum berkeluarga.
"P-Pak Kenzo!" tegur seseorang dari belakang tubuhnya.
Sontak Kenzo pun kaget bukan kepalang. Kesadarannya kembali bersamaan dengan gambaran dihalaman bukunya itu kembali normal seperti sedia kala.
"Y-ya ..." jawab Kenzo, memutar tubuhnya menghadap kearah sumber suara berada.
Dan, Kenzo kembali dikagetkan, karena ..
"Adena?" ucap Kenzo, menelan salivanya dengan kesusahan.
Adena pun mengangguk. Sedikit ada senyuman di bibirnya, namun kembali memudar setelah melihat reaksi Kenzo yang tiba tiba saja berubah kembali seperti kesedia kala, dingin.
"Ada apa?" tanya Kenzo, datar.
Datar? Iya, datar.
Tapi itu hanyalah nampak dari luar saja, padahal yang sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya, ia begitu sangat ingin mengucap terimakasih yang amat besar pada Adena dan keluarganya.
Tapi lagi, gengsi lah yang menang. Gengsi menelan mentah mentah hidup Kenzo, Gengsi lah yang telah menguasai dirinya.
"Be-be .. Begini Pak, tentang perjodohan itu ... " ucap Adena menggantung, seperti ada keraguan dalam dirinya.
"Mengenai hal itu, kita bisa bicarakan di rumah. Tidak disini Adena. Dan saya harap, kamu bisa bersikap seperti biasa, seperti layaknya antara dosen dan mahasiswi ketika di kampus!" potong Kenzo, beranjak bangun dari duduknya, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Adena dengan segala kegundahannya.
*****
Kenzo memanglah sosok lelaki yang kejam. Hey itu sudah jelas, tak ada sangkalan apapun lagi mengenai itu.
Mungkin hanya segelintir orang yang ia kenal saja, yang dapat mengenali sisi baiknya Kenzo.
Tapi untuk kali ini, semakin ia memikirkan ucapan Papah dan Bunda, semakin ia merasa bersalah pada Adena tentang sikapnya tadi pagi.
Dan ini, tak seperti dirinya yang biasanya.
Kenzo yang memang mempunyai kelas bersama Adena, semakin dibuat merasa bersalah, tat kala mengetahui jika Adena absen hari ini.
"Kemana dia? Apa ... aku terlalu keras padanya tadi pagi?" gumamnya, tepat setelah kelas selesai.
Dan, ketika ia hendak pergi dari ruangan kelas itu, tiba tiba ia mendengar kegaduhan dari arah luar kelasnya.
Awalnya, Kenzo tak ingin peduli. Bahkan langkahnya saja terhenti kembali ketika mendengar kegaduhan itu. Kenzo benar benar sempat mengurungkan niatnya untuk pergi.
Ia malas jika berurusan dengan masalah orang lain.
Akan tetapi, disaat ia hendak kembali ke mejanya, seseorang datang dari arah luar dengan terburu buru.
Dan Kenzo sangat yakin jika orang itu tak lain adalah salah satu mahasiswi di kampus itu juga.
Kenzo bisa melihat dengan jelas jika gadis itu pastilah berlari untuk sampai di kelas dimana Kenzo berada.
Pertanyaannya adalah, kenapa ?
Ada apa ?
Karena dari sekian banyak kelas, kenapa harus ke kelas itu? Ke kelas dimana dirinya berada.
Tetapi, belum sempat pertanyaan itu Kenzo lontarkan pada gadis itu, nyatanya tanpa terduga, Kenzo sudah lebih dulu mengetahuinya dengan cepat.
"P-Pak .. Maaf!" seru gadis itu, terengah.
"Ya?" tanya Kenzo, heran.
"Maaf Pak, bisakah saya meminta bantuan?" tanyanya lagi, sedikit mendekat.
'ah seperti yang sudah aku duga!' batin Kenzo,
Jelas sekali bukan, dari awal Kenzo memang sudah tak ingin berurusan dengan masalah orang lain.
Apa lagi ini? Apa katanya tadi, meminta bantuan? padanya?
Mustahil sekali dirinya akan ikut serta. Awalnya.
Tapi, belum sempat Kenzo menolaknya, orang itu sudah membuka mulutnya lagi dan berkata .... "Adena. " ucap gadis itu dengan napas yang masih terengah.
Degh..
Tiba tiba saja dadanya terasa sakit ketika mendengar nama itu.
Yah, nama itu ... nama orang yang ada dipikirannya beberapa saat lalu.
"Ada apa dengan Adena?" ucap Kenzo yang malah balik bertanya. Cemas.
"Dia .. dia murid Bapak 'kan?" tanya gadis itu lagi.
"Y-ya." jawab Kenzo, sedikit ragu.
"Pak, tolonglah ... Adena sedang diseret oleh seseorang yang tak dikenal!" .. ucap gadis itu memohon.
Mendengar pernyataan itu, tak menunggu waktu yang lama, Kenzo langsung dengan sigap berlari pergi meninggalkan kelas itu, bahkan sebelum gadis itu menuntaskan ucapannya.
Sebetulnya, Kenzo tak mengetahui keberadaan Adena saat ini. Ia hanya menggunakan nalurinya saja, dan nyatanya memang seperti yang ia duga.
Adena,
Ia kini tengah berada di parkiran kampus dengan rambut yang ditarik kasar oleh seseorang yang Kenzo sendiri tak tau orang itu siapa.
"BERHENTI!!" teriak Kenzo, memacu langkahnya cepat.
Diteriaki seperti itu, tentu saja Adena dan orang yang menyeretnya itu pun menoleh serempak.
Dan tepat saat itu, Kenzo baru mengetahui jika ternyata orang yang menyeret Adena adalah seorang wanita juga.
Dilihat dari wajah dan penampilannya, walau memakai Hoody, Kenzo bisa menebak jika umur wanita itu tak jauh berbeda dengannya.
"Siapa lo?" tanya wanita itu, matanya meruncing disaat Kenzo mulai mengikis jarak antara mereka.
"P-pak ..??" seru Adena, lemah.
Kenzo bisa melihat, bahwa saat ini Adena sedang tak baik baik saja.
Matanya sembab, pipinya juga merah, lalu rambutnya? Ah ... sudah jelas sekali jika rambut itu tak akan serapih seperti diiklan sampo.
"Saya Dosennya, dan siapa anda?" ujar Kenzo balik bertanya.
"Dosen?" ulang wanita itu, lalu tergelak hebat.
Dengan tangan yang masih mencengkram rambut Adena kuat, wanita itu kembali menatap Kenzo dengan tatapan menyelidik.
"Lo hanya Dosen, maka ini tak ada kaitannya dengan lo. Ini urusan pribadi gw dengan wanita sundel ini !!!" jawab Wanita itu, menarik kembali rambut Adena dengan sangat kencang.
Saking kencangnya, Adena sampai harus meringis.
Melihat itu, tanpa sadar kedua tangan Kenzo telah mengepal di bawah sana. Ia berusaha dengan sangat kuat untuk menahan emosinya.
Bukan hanya pada wanita itu, tapi juga emosi pada Adena yang masih saja diam ketika diperlakukan begitu kejam.
Karena, bisa saja Adena berontak atau malah melawannya balik bukan ?
Tapi, kenyataannya tak begitu. Adena begitu diam. Patuh. Atau mungkin bisa disebut pasrah? Ah, bukan ... tapi lebih tepatnya 'menyerah.
Walau sesekali ia terlihat meringis menahan sakit, tapi tak ada perlawanan sedikit pun darinya.
Ia hanya menggenggam rambut yang wanita itu tarik. Tak lebih.
"Memang betul, tapi ini adalah wilayah saya. Dan .. " seru Kenzo, tertahan. "Dan .. Adena adalah murid saya, jadi saya masih mempunyai urusan dan wewenang terhadapnya!" lanjut Kenzo, sedikit ragu.
Akan tetapi, wanita itu malah menatap Adena dengan tatapan tak percaya, lalu kembali menatap Kenzo tak kalah herannya.
"Kalo begitu, tebus wanita sundel ini." seringai wanita itu, menatap Kenzo.
"Tebus?" ulang Kenzo, takut jika dirinya salah dengar.
"Iya, tebus. Maka gw akan lepasin dia dengan senang hati!"
Kenzo begitu heran mendengar penuturan wanita itu.
Kenzo tak tau Adena tengah terlibat dengan masalah apa hingga dirinya lah yang harus menebusnya.
Tapi, satu yang bisa Kenzo lihat.
Adena, ia menatap Kenzo dengan penuh harap. Walau kepalanya menggeleng keras menandakan penolakan, tapi netra itu berkata lain di mata Kenzo.
Seperti ...
Selamatkan aku ...
Tolong aku ...
Tolong bawa aku pergi ...
Seperti itu.
Dan Kenzo pun kembali mendekat, lalu menunjuk tangan wanita itu yang berada di rambut Adena.
"Lepaskan dulu itu, maka saya akan menebusnya!" pinta Kenzo, tegas.
Mendengar itu, Adena kembali menggelengkan kepalanya ... "ga usah Pak, s-saya ba-ik ba ... "
"DIAM!" bentak wanita itu, kembali rambut Adena ditariknya dengan sangat kuat hingga tubuh Adena pun sedikit melenting ke belakang.
Dengan ringisan Adena yang semakin keras, tak menghalangi wanita itu untuk menampilkan seringainya yang lebar, wanita itupun mengalihkan pandangannya pada Kenzo yang sudah sangat dekat dengan dirinya dan juga Adena.
"Ok, tapi gw minta tebusannya sekarang juga!" pinta wanita itu.
"Ok!" angguk Kenzo, lalu mengeluarkan dompetnya, dan menulis sesuatu disana. "Apa ini cukup?" sodor Kenzo.
Dengan langkah yang sedikit hati hati, wanita itu pun merebut kertas yang Kenzo sodorkan yang baru ia ketahui adalah sebuah cek dengan senilai ..
"Seratus juta?" ucapnya, tercekat. Matanya membelalak, tak percaya.
"A-apa??" ucap Adena juga yang tak kalah kagetnya.
"Apakah itu kurang?" tanya Kenzo kemudian.
"I-ini .. sudah cukup!" jawab wanita itu tertawa, matanya berbinar penuh kebahagiaan.
"Jadi, lepaskan Adena sekarang juga!" pinta Kenzo kembali.
Wajah Kenzo masih sangat datar untuk berucap begitu, akan tetapi apa yang keluar dari mulutnya, tak bisa menutupi rasa kesalnya.
"Dengan senang hati!" gelak wanita itu, lalu mendorong tubuh Alena kuat kuat.
Sangat kuat, sampai tubuh rapuh itu langsung terhuyung ke depan dengan sangat cepat.
Untuk beberapa detik, Adena sempat berpikir bahwa ia akan jatuh tersungkur begitu saja. Adena bahkan sudah menutup matanya kuat kuat, berusaha menahan sakit jika sewaktu waktu wajahnya lah yang akan terjatuh dahulu.
Tapi, ..
KEP ..
Adena salah, bukan wajahnya yang terjatuh ke tanah, melainkan tubuhnya lah yang jatuh dahulu tapi entah pada apa.
Karena yang ia yakini saat ini adalah, tubuhnya tak merasakan sakit sedikit pun, melainkan sebaliknya. Tubuhnya malah bisa merasakan sebuah kehangatan yang tak pernah Adena rasakan sebelumnya.
Dan saat Adena membuka matanya, ..
"P-pak ..??" ucap Adena, membelalakan matanya dan langsung berdiri seketika.
Kenapa?
Karena ia terkejut bukan kepalang. Ternyata sumber kehangatan yang ia rasakan tadi, tak lain dan tak bukan adalah berasal dari tubuh .. Kenzo !
Ya, Kenzo lah yang menangkap tubuh Adena agar tak terjatuh tadi.