Bab 9. Tidur 'Bareng.

1709 Kata
Untuk sesaat, Adena hanya terdiam di pojokan ketika telinganya dengan tak sengaja mendengar percakapan antar anak dan Ibu itu yang hanya membahas tentang ponsel. Akan tetapi, dari situlah baru Adena mengetahui jika ponsel milik Kenzo ternyata rusak. "Pantas saja waktu itu aku tak bisa menghubunginya!" gumam Adena yang masih asik menguping di luar sana. Meski saat ini jarak Adena dengan pintu apartmen milik Kenzo cukup jauh, tapi tetap saja percakapan itu bisa Adena dengar karena Bunda yang dengan tak sengajanya membiarkan pintu itu tetap terbuka. Jadi, Meski samar, tapi tetap saja .. Adena bisa tau isi dalam percakapan itu. Hingga beberapa saat kemudian, terdengarlah Kenzo yang seperti merintih kesakitan. Karena suara itu juga lah, Adena akhirnya memberanikan diri untuk mendekati pintu apartment Kenzo. Sekilas, tak ada yang aneh. Tetapi, setelah Adena sedikit mengintip lebih dalam lagi ... di situlah, Adena melihat dengan sangat jelas bahwa Kenzo tengah dibopong oleh Bunda untuk masuk ke dalam kamarnya. Melihat itu apakah Adena hanya diam? Tidak. Dengan reflek, Adena melangkahkan kakinya semakin ke dalam. Perlahan namun pasti, Adena telah berhasil melewati ruangan yang cukup lebar dengan arsitektur yang elegant. Satu ruangan yang cukup besar hingga di jadikan sebagai ruang tamu dan ruang keluarga secara bersamaan. Hanya ada sebuah rak klasik yang dijadikan sebagai pembatas diantara kedua ruangan tersebut. Karena itulah, Adena bisa melihat dengan jelas bagaimana Bunda membopong tubuh Kenzo ke kamarnya hanya dari balik pintu saja. Tanpa terasa, kaki Adena saat ini sudah berada persis di ambang pintu kamar Kenzo. Dan kesan pertama saat Adena melihat kamar itu dari luar adalah ... sebuah ruangan yang kelam dan dingin. Rasa dingin itu tentu saja bukan berasal dari AC yang menyala. Bukan juga karena ruangan itu sedikit dibuat redup, hingga membuat nuansa gelap di sana. Tapi, entah kenapa, Adena bisa merasakan kesepian yang tak terkira dari sana. Dan Adena mengerti perasaan itu. Ia juga merasakan hal yang sama ketika ia berada di rumahnya. Bedanya, Kenzo masih memiliki keluarga yang utuh yang kapan saja bisa menghiburnya atau menjaganya. Namun, Adena tidak. Dalam nuansa yang gelap, kelam, dingin dan kesepian ... Adena sudah tak memiliki siapa siapa lagi di dunia ini untuk ia jadikan tempat berbagi. Adena benar benar sendirian di dunia ini. Dan saat lamunan Adena larut semakin dalam ... "Adena??" ucap seseorang yang tak lain adalah Bunda. Waktu itu Bunda ke luar dari kamar Kenzo untuk mencari es batu, namun tak terduga ... Bunda malah mendapati Adena yang tengah melamun di ambang pintu sana. Beberapa kali Bunda memanggil Adena waktu itu, namun anehnya ... Adena seperti sedang berada di dunianya sendiri. Ia tak bergeming dari lamunannya. Matanya kosong, namun terlihat sangat sedih. Sampai Bunda pun memutuskan untuk mengusap kedua bahu Adena, dan barulah ... "Aaa, i-iya Tan .." seru Adena kaget. Akhirnya ia kembali pada dunia nyata. Melihat reaksi itu, Bunda pun tersenyum lalu mengangguk .. "Temani Bunda nyari es batu, yuk!" ajak Bunda, menarik lengan Adena. "Loh, es batu untuk apa?" tanya Adena yang belum mengerti situasinya. "Kenzo demam, jadi Bunda harus kompres dulu anak itu!" seru Bunda. Jujur saja, saat Bunda mengatakan itu .. kening Adena sedikit mengerut. Pasalnya, Bunda mengatakan hal itu dengan sangat enteng dan ... tergelak? Aneh, bukan? Seperti tak ada rasa cemas atau sebagainya yang Adena tangkap dari nada bicara itu. Tapi, pikiran itu tentu saja hanya ada dalam kepala Adena saja. Ia tak berani berkomentar, yang ada Adena malah tetap mengekori Bunda menuju dapur. "Bersih banget." gumam Adena, menatap sekeliling. Takjub. Sebuah gumaman yang tentu saja Bunda bisa mendengarnya. Meski pelan, tapi itu cukup membuat Bunda tersenyum. "Iya, Kenzo ga bisa masak. Maklum, anak cowo!" sahut Bunda yang sekaligus mengejutkan Adena. Adena tak menyangka jika Bunda akan mendengar bisik bisiknya tadi. Dan terciduk seperti itu, membuat Adena merasa tak enak. Ia seperti ketahuan sudah bersikap sangat lancang ketika berkunjung ke rumah orang. Tak sopan. "M-aaf Tante, saya ..." "Kamu bisa masak, Adena?" sela Bunda, mengalihkan pembicaraan. Bunda tau bahwa maksud Adena tadi bukanlah wujud ketidak sopanan. Gadis itu hanyalah takjub dan tak sengaja mengutarakannya langsung lewat bibirnya. "Ah, i-iya bisa, Tante!" angguk Adena, pelan. Tak yakin. Dan Bunda yang saat itu tengah asik mengeluarkan semua es batu yang berada di kulkas pun akhirnya menatap Adena. "Nanti, tolong jaga Kenzo ya. Masakin dia makanan yang layak." geleng Bunda. "Yang sehat juga." pinta Bunda. Tersenyum. Mendengar Bunda itu, Adena sempat terperangah. Apa ini tandanya, ia akan benar benar menikah dengan Kenzo? Itulah yang Adena pikirkan saat itu. Akan tetapi, belum sempat Adena menjawab apapun, Bunda sudah lebih dulu mendekati Adena lalu memeluknya. Bunda usap pelan punggung Adena dengan sangat hangat ... "Bunda hanya ingin Kenzo mendapatkan seorang wanita yang baik. Seorang wanita yang bisa menjadikannya menjadi manusia. Kenzo memang sangat dingin, Adena .. tapi jika kamu sudah mengenalnya, ia hanyalah seorang lelaki yang kesepian!" ucap Bunda, tercekat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hati Bunda saat mengatakannya. Dan Adena menyadarinya. Entah kenapa, Adena seperti terbawa hanyut dalam perasaan Bunda itu, yang akhirnya balas memeluk Bunda lalu mengangguk tanpa sadar. "Adena janji akan masakin Pak Kenzo makanan yang sehat." jawab Adena, pelan. Adena tau ia akan menyesal mengatakn hal itu, tapi ia juga tak bisa menghancurkan perasaan seorang Ibu yang sangat berharap padanya. Sudah sangat lama sekali Adena tak merasakan pelukan hangat ini, karena itulah .. Adena terbawa perasaan dan membuatnya berjanji tentang sesuatu yang ia sendiri tak menginginkannya. ***** Bunda maupun Adena, akhirnya menginap di rumah Kenzo. Tentu saja keputusan itu tak mudah. Adena sempat menolak beberapa kali dan memutuskan untuk pulang segera, detik itu juga. Namun, setelah kembali terbuai bujuk rayu Bunda yang sangat menyedihkan ... Akhirnya, Adena pun mau tak mau meng-iyakan. "lo pasti akan menyesal, Adena!" rutuk Adena, mengetuk ngetuk kepalanya. "Bego banget." ucapnya lagi sembari menggigit bibir bawahnya. Yah walau Adena hanya menemani Bunda dan malah tidur di sofa depan televisi, dan Bunda lah yang berada di dalam kamar Kenzo, merawatnya, tetap saja Adena merasa ia akan sangat menyesali keputusannya kali ini. Tak biasanya ia akan goyah semudah ini. Malam pun semakin larut, dan Adena mulai memejamkan matanya. Dan entah di jam berapa, dan entah berapa lama ia sudah tertidur ... entah kenapa, Adena merasa ada sesuatu yang menyentuh pipinya saat itu. Ya, pipi. Awalnya. Karena lama kelamaan, tangan yang saat itu menyentuh pipinya, kini mulai beralih pada kepalanya dan mengusap rambutnya dengan sangat halus. Adena saat itu merasakannya, sangat. Tapi, untuk dirinya membuka kedua matanya, rasa rasanya sangatlah berat. Ia banyak mengalami kejadian menyakitkan hari ini, karena itulah jiwa dan raganya sangatlah kelelahan. Dan akhirnya ... Adena memutuskan untuk menerima perlakuan itu saja. "Tan-te .." racau Adena, menarik tangan yang berada di kepalanya lalu membawanya ke dalam pelukan Adena. Ya, dalam ketidak sadarannya Adena berpikir bahwa itu adalah Bunda. . . . Sinar mentari yang merangsak masuk lewat jendela, akhirnya membuat mata Adena mengerjap. Silau. Adena sempat mengerjap ngerjapkan matanya karena sinar mentari itu memanglah sangat menyilaukan matanya. 'siapa sih yang buka gorden pagi pagi begini?' batin Adena, kesal. Namun, saat ia berhasil membuka kedua matanya ... Hal di luar nastar, eh nurul .. aish .. hal di luar prediksi BMKB pun terlihat sesuatu yang sangat kontras dipadukan dengan sinar mentari itu. Adena ... Ia bahkan langsung bangun dan berdiri dari sofa itu hanya dalam hitungan detik. Ia tak menyangka jika apa yang ia lihat saat ini akan mengejutkannya sampai rohnya sendiri mungkin masih tertinggal di sofa itu. Bagaimana tidak, ketika ia berhasil membuka matanya tadi, tepat di hadapannya ... ia mendapati wajah seseorang yang tengah tertidur juga. Dan posisinya saat itu, wajah yang Adena lihat sangatlah dekat sekali dengannya. Saking dekatnya jarak mereka, Adena bahkan bisa merasakan hembusan napas yang sangat lembut dari orang itu. Memang apa yang Adena lihat? Siapa? "P-pak Ken!" seru Adena, ragu. Ya, Kenzo lah yang Adena lihat. Dan tak hanya sampai situ saja yang membuat Adena bingung sekaligus kaget. Adena menilik dan mencoba memastikannya lagi, dan benar saja itu adalah Kenzo. Adena tak mimpi dan tak mengkhayal juga. "Astaga, ngapain Pak Kenzo tidur di sana ... dan sejak kap-an?" gumam Adena, sedikit tertahan. Tiba tiba saja ia teringat akan kejadian semalam, dan tiba tiba saja pikiran gilanya muncul begitu saja saat melihat Kenzo yang masih tertidur di bawah sana. Posisi Kenzo saat itu tengah tertidur dengan kepalanya saja yang berada di sofa dengan kedua tangan yang menjadi bantalannya, sementara tubuhnya berada di karpet bawah sana. "Ga mungkin, kan?" ucap Adena lagi, menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dan saat Adena masih kebingungan, tiba tiba saja Bunda ke luar dari dapur dan tersenyum penuh arti. "Tante pikir, Kenzo akan menolak mentah mentah perjodohan ini, Dena!" ucap Bunda dari arah belakang Adena yang tentu saja sangat mengejutkan Adena kembali. "Ayam ayam!" ucap Adena, latah. Ia menutup matanya sejemang dan berdecak. 'Ada apa sih sama keluarga ini, doyan banget bikin jantung locat loncat!' rutuk Adena dalam hati sambil mengusap usap dadanya sendiri. Melihat reaksi lucu itu, Bunda tentu saja menahan tawanya keras keras. Tak menyangka jika perkataannya itu akan mengagetkan Adena sedemikian rupa. "Hayo .. sampe kaget gitu, lagi mikirin Kenzo ya?" tanya Bunda penuh selidik sekaligus menggoda. Dan tentu saja, Adena langsung membalikan tubuhnya menghadap Bunda, lalu menggelengkan kepalanya kuat kuat. Adena sangat menyangkal itu, walau memang apa yang dikatakan Bunda, itulah kenyataannya. Namun, gengsi dong jika harus mengakuinya. Ihik, mau di taruh dimana harga dirinya. Pikir Adena. Bunda pun kembali tersenyum, bahkan kali ini sedikit terkekeh. "Kamu pasti kaget kan saat bangun?" tanya Bunda, mendekat. Bunda mengatakan itu dengan raut wajah yang sangat gembira. Bunda juga mengatakan itu dengan tatapan yang terus terarah ke Kenzo. Dan untuk yang itu, Adena tak mengelaknya. Ia benar benar kaget, dan sangat ingin tau apa sudah terjadi semalam. Kenapa Kenzo tiba tiba saja tidur 'bersamanya di sofa. Bukankah semalam Bunda bilang kalo Kenzo sedang sakit? Melihat raut wajah Adena yang penasaran, Bunda pun tersenyum dan beralih menatap Adena lekat. "Bunda juga kaget." seru Bunda menepuk nepuk dadanya sendiri. "Semalam, Bunda berpikir Kenzo melakukan itu karena demam. Taunya, dia memang sudah memutuskan!" lanjut Bunda. Sebuah kalimat yang membuat Adena mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya bertautan. Ada kata 'memutuskan' di sana. Dan itu membuat Adena semakin kebingungan. Lalu, bagai Bunda tau apa isi hati dan kepala Adena, Bunda sekali lagi melangkah maju dan mengusap lembut pipi Adena. "Semalam Kenzo bilang, ia mau tidur bareng calon istrinya!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN