Bab 8. Beberapa Jam Sebelum Tragedi Gayung

1210 Kata
Pada akhirnya, Adena pun pasrah. Untuk saat ini, ia tak mau berpikir keras tentang hukuman apa yang akan ia terima nanti dari sang Ibu tiri jika mengetahui bahwa dirinya tak ada di tempat karaoke. Saat ini, Adena hanya ingin ke luar dari zona menakutkan itu, dan berharap jika keputusannya kali untuk mengikuti Bunda, adalah kebenaran. Adena terduduk di jok belakang, yang artinya bersebelahan dengan Bunda. Ia tatap lekat pemandangan di luar sana dengan seksama. Dan tanpa Adena sadari, air matanya sudah menetes cukup deras di pipi merah nan bengkak itu. Cukup banyak alasan bagi Adena menangis malam itu. Akan tetapi, nyatanya ... saat itu Adena hanya mempunyai satu alasan yang sangat kuat untuk dirinya yang sudah tak bisa lagi membendung air mata. Lalu, apakah alasannya karena pipinya yang sakit? Atau ... karena sikap kejam Ibu tirinya? Alasan itu sangatlah meyakinkan, 'bukan? Tentu saja. Tapi, sayangnya bukan itu alasan Adena menangis. Karena air mata yang jatuh di pipi Adena saat ini adalah suatu bentuk iri hatinya sendiri. Iri ? Ya. Adena iri dengan orang orang yang berada di luar sana. Sudah sangat lama sekali ia memipikan kebebasan seperti itu. Sebuah kebebasan yang tak pernah ia miliki semenjak Ayah nya meninggal, dan lantas membuat hidup Adena bagaikan milik Ibu tirinya sendiri. Adena seperti boneka yang setiap pergerakan sekecil apa pun, Adena selalu diawasi oleh Ibu tirinya. Dan ketika dirinya semakin terhanyut akan suasana menyedihkan itu, tiba tiba saja ... "Nak, ..." seru Bunda, mengusap lengan Adena dengan lembut. Mendapati ada sebuah sentuhan hangat di salah satu bagian tubuhnya, sontak saja Adena pun dengan cepat mengusap air matanya, lalu menatap Bunda dengan seulas senyuman palsu. "Kita ke Rumah Sakit dulu ya!" seru Bunda mengusap rambut Adena dengan penuh kasih. Bunda tau jika Adena menangis, namun Bunda sendiri tak bisa terlalu ikut campur dalam kehidupan seorang anak gadis yang berada di sampingnya. Bunda sangat paham betul situasi seperti ini, bukanlah hal yang pas jika Bunda bersikap so tau. Maka dari itulah, Bunda sengaja memberikan ruang dan membiarkan Adena untuk mengeluarkan sakitnya lewat air mata, dan mencoba menghentikannya disaat Bunda pikir itu sudah sangat cukup. Dan sekarang lah waktu yang pas untuk kembali membawa Adena ke dunia nyata yang sangat kejam ini. Namun apa reaksi Adena ? Ia hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Ga apa apa Tante, pipi saya besok juga kempis!" "Tidak ada penolakan mengenai hal ini." balas Bunda mendilek, judes, ketus, dan juga menyeramkan dalam bersamaan. "Tap .." "Anggaplah ini bentuk terimakasih kamu sama Tante!" potong Bunda, tegas. Mendengar kalimat demikian, Adena yang sudah mangap dan bersiap menolak kembali, akhirnya harus mengatupkan mulutnya rapat rapat. Adena tau sopan santun, dan itu membuatnya patuh untuk kali ini. Adena benar benar berterimakasih pada Bunda. Karena beliaulah, akhirnya Adena bisa sedikit menghirup udara segar di tengah kerumunan orang orang. ***** "Makasih, Tante!" ucap Adena, setelah selesai diobati oleh Dokter. Bunda tadinya akan mengangguk, tapi ... menurut Bunda sangatlah sayang jika semua inu berakhir begitu saja. Maka dari itu, Bunda pun tersenyum smirk .. lalu menggaet lengan Adena dan menuntunnya agar berjalan ke luar ruangan. "Habis ini, temani Tante ya!" ucap Bunda, riang. Seketika, langkah Adena yang terbilang sangat ringan itu, tiba tiba saja terhenti yang sekaligus menghentikan langkah Bunda juga. "Kenapa? Sakit?" selidik Bunda, cemas. Namun, bukannya menjawab pertanyaan Bunda, Adena malah memaku dan berkata .. "Ikut kemana, Tante?" tanya Adena, ragu. Alis Bunda sempat terangkat sebelah, dan reaksi Bunda sempat terheran heran dengan anak gadis cantik yang kini berada di hadapannya. Bukan apa apa, Bunda berpikir yang menjadi fokus Adena adalah tentang sakitnya. Jelas sekali, tadi Dokter saja sempat bicara bahwa bengkaknya pipi Adena tak akan sembuh dalam kurun waktu yang dekat. Akan tetapi, Bunda sekali lagi telah salah menduga. Adena malah lebih mengkhawatirkan ajakan dirinya. "Ke rumah Ken, calon suami kamu!" seru Bunda sambil menunjuk tepat di hidung Adena. Mendengar jawaban itu, mata Adena sontak saja membelalak, tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar. Tunggu, begini ... Apa tidak kaget Adena mendengarnya. Ia bahkan sesekali mengusap telinganya, takut jika apa yang ia dengar barusan adalah kesalah pahaman saja. 'Set dah, ini telinga benar benar ditutupin tuyul apa ya. Kenapa gw bisa salah denger gini sih? Ya kali ke rumah cowo malam malam!' batin Adena saat itu. Akan tetapi ... Jeng Jeng Jeng ... Ternyata telinga Adena masih berfungsi dengan bagus. Karena beberapa detik kemudian, Bunda pun kembali menggaet lengan Adena dan sekali lagi menuntun .. aish salah, kali ini Bunda tak menuntun Adena, melainkan menyeret dan memaksa Adena agar masuk ke dalam mobil. "T-tante ... Tunggu, Adena mau ke rumah Pak Ken dengan pakaian begini?" protes Adena, melotot. "M-maksud Dena, beliau masih Dosen Dena di kampus .. T-an..." "Iya, dan sebentar lagi akan jadi calon suami kamu!" sentil Bunda pada hidung Adena yang sekaligus menyela ucapan Adena tadi. Bunda bahkan mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Adena dengan sangat genit hingga membuat Adena semakin memperlebar mata dan juga mulutnya yang sudah mangap entah berapa meter. . . "Tante ..., Dena tunggu di luar aja ya!" ucap Dena lagi, menginterupsi saat mereka sudah sampai di depan pintu apartment Kenzo. Bunda yang saat itu sudah sangat lelah mendengar penolakan dan rengekan Adena pun hanya bisa menghela napas, lalu menatap Adena dengan mata yang menyipit. "Baiklah, tunggu di sini!" ucap Bunda, mengiyakan. Mendengar rengekannya di dengar, akhirnya Adena pun bersorak dan tanpa sadar telah memeluk Bunda erat. "Makasih, Tante!" balas Adena, tersenyum riang. Bunda yang saat itu sempat terkejut, akhirnya hanya bisa ikut tertawa dan menggelengkan kepalanya lemah. "Memang Kenzo semenakutkan itu ya di kampus, sampai kamu takut gitu kalo kalian bertemu?" celetuk Bunda sambil terkekeh. Sebuah celetukan ringan yang membuat tawa Adena terhenti seketika. Ia bahkan langsung melepaskan pelukannya pada Bunda, dan menunduk malu. "M-aaf Tante, bukan maksud Dena untuk ngejelekin Pak Kenz .." "Ga apa apa, memang tabiatnya itu sangatlah jelek. Makanya Tante berharap banget sama kamu," jawab Bunda, ringan "Loh ko saya?" tanya Adena, kaget. Bunda pun mengangguk, "Iya kamu. Karena sikap dan sifat kamu itulah yang nantinya akan merubah watak keras Kenzo. Kalian sangat .... bertolak belakang!" terang Bunda, nyengir. Nah loh, mendengar kalimat rumit itu Adena langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ini maksudnya bagaimana? Konsepnya bagaimana? Bukankah perkataan Bunda barusan sangatlah konyol? Mana ada di dunia ini, ada dua orang yang memiliki sifat yang bertolak belakang bisa sangat akur? Ngawur. Pikir Adena. Dan Bunda yang melihat reaksi lucu itu, sempat terkekeh lalu meraih kedua lengan Adena dan mengusapnya dengan halus. "Di dunia ini, bukan hanya tentang kesetaraan Dena," usap Bunda, tersenyum. "Kamu tau, bahkan warna hitam dan putih saja jika dipadukan dengan warna lainnya akan memiliki perpaduan yang sangat cocok dan cantik ketika di lihat, Dena. Di dunia ini juga ada maghnet yang saling tarik menarik karena kedua benda tersebut memiliki sifat yang berbeda. Jika plus bertemu dengan minus, maka maghnet itu akan saling melengkapi dan akhirnya akan bisa bersama!" jelas Bunda dengan sangat akurat. Adena pun mencoba menelaah ucapan Bunda barusan. Adena memang setuju dengan apa yang Bunda katakan, tapi ... jika materi barusan disangkut pautkan dengan hubungannya dengan Ken ... mmm, kesannya tetap sangat dipaksakan sekali. "Baiklah, karena kamu tak berkata apa apa, Jadi Tante pikir kamu satu pemikiran dengan Tante!" ucap Bunda lagi, tersenyum lalu mulai mengetuk pintu apartment yang dihuni oleh makhluk dingin nan kasat mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN