Bab 7. Penilaian Bunda

1306 Kata
Setelah sepulang kuliah tadi sore, Adena banyak merenung di dalam kamarnya. Bukan ini yang ia harapkan. Bukan. "Kenapa jadi begini sih?" desah Adena, menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya karena saking pusingnya. Yang lebih membuat dirinya prustasi adalah reaksi Kenzo yang seperti sudah sangat yakin akan keputusannya. Mengingat itu semua, membuat tubuh Adena terkulai lemas dan akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah lusuh. Adena pun menatap atap langit langit kamarnya yang menampilkan beberapa lingkaran hitam di setiap sudut bekas rembesan air hujan dengan tatapan yang sendu. "Andai Papah dan Mamah masih hidup ..." desah Adena, menerawang "Apa aku masih akan mengalami hal ini?" lanjutnya lagi, berbicara sendiri. Semua pikiran itu membuat kepala Adena semakin pusing, rasanya seperti hendak meledak. "Aarrrgh ... Entahlah Dena, mungkin dikehidupan lo sebelumnya, lo udah bunuh orang makanya hidup lo saat ini begitu sial!" ucap Adena lagi, yang kali ini mencoba untuk memejamkan matanya. Namun, belum sempat Adena terjatuh dalam tidurnya ... "ADENA!!!" teriak seseorang di balik pintu. Yang alhasil, membuat Adena terperanjat dan membuat mata Adena kembali terbuka serta kesadarannya pun kembali terjaga. Adena tau betul siapa yang ada di balik pintu itu. Adena sangat hapal betul dengan suara itu. Dan mendengar nada suaranya setinggi itu, membuat tubuh Adena menggigil hebat. Sungguh pertanda kemurkaan yang tiada tara. Pikirnya. Jika saja ia bisa memilih, ia benar benar tak ingin membuka pintu kamarnya itu yang saat ini hampir rusak karena pukulan tangan yang tak kunjung berhenti menggedor pintu itu. Namun, kenyataan memang selalu tak berpihak padanya. "ADENA, KELUAR! GUA TAU LU ADA DI DALAM, KAN?" suara itu kembali terdengar semakin menakutkan. Tubuh Adena yang saat itu masih dalam posisi tidur, akhirnya mulai bangun dan turun dari ranjang lusuh itu. Ia kumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu itu dan ... PLAK !! Sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi Adena, bahkan sebelum Adena benar benar membuka pintu dengan menyeluruh. "I-ibu ..." isak Adena, memegang pipinya yang merah. Ya. Orang yang berada di balik pintu itu adalah Ibu Adena. Lebih tepatnya, Ibu tiri Adena. "Iya, gua ..!" ucap Salma yang tak lain adalah Ibu tiri Adena itu. Matanya nyalang. Bagaikan belum puas akan tindakannya pada Adena, tanpa memberi kesempatan bagi Adena untuk mengerti situasi, Salma langsung saja mendorong tubuh Adena semakin ke dalam hingga dirinya terjatuh dan terduduk di lantai. "Lagi ngapain lu, hah? kenapa lu ga ke tempat karaoke?" tanya Salma, emosi. Matanya bahkan sudah melotot hingga terlihat akan ke luar. "Ma-af Bu, aku ... aku ...." "Belum cukup tamparan gua, hah?" sela Salma semakin emosi. Mendengar itu, Adena sontak saja menggelengkan kepalanya kuat kuat. Ia tak sanggup jika terus mendapatkan tamparan demi tamparan lagi. Tamparan g***o saat di kampus saja belum sembuh dan masih terasa cenat cenut, dan sekarang Ibu tirinya itu malah menanyakan ketersediaannya untuk menerima tamparan lagi ? Tidak. Tak mau. Dua tamparan dihari ini saja sudah sangat cukup membuat pipi Adena bengkak, bibirnya bahkan sudah berdarah karena tamparan Ibu tirinya barusan. Dan, Ibu tirinya malah menawarkannya lagi? Oh tidak. Dengan wajah yang tertunduk lemah, Adena pun berkata ... "Maaf, Bu. Aku sedang tak enak badan hari ini, jadi ... jadi ... aku tak bisa ke tempat karaoke dulu." ucap Adena mencoba menjelaskan keadaannya. Berharap jika Ibu tirinya itu akan mengerti. Namun, seperti kesialan terus menerus menempel pada hidup Adena, reaksi Ibu tirinya tentu saja tak sesuai dengan apa yang Adena harapkan. Salma berjalan mendekati Adena, lalu menjambak rambut Adena itu kuat kuat dan menariknya agar segera berdiri .. "Aaaaargh ... Bu, sakit!" isak Adena, memejamkan matanya, menahan sakit. Sementara tangannya sibuk untuk melepaskan rambutnya dari genggaman Ibu tirinya itu. "Memang gua peduli?" gelak Salma. Sungguh, walau ini bukan yang pertama kalinya bagi Adena, namun ... entah kenapa setiap Ibu tirinya itu memperlakukan dirinya seperti sekarang ini, Adena masih saja menangis dan merasa sangat kecewa. Namun, ia lagi lagi tak bisa berbuat apa apa. Dan Adena hanya bisa menangis dalam diam. Hanya ringisan lah yang berhasil ia persuarakan saat itu. Adena tak bisa marah atau pun membantah kata kata Salma, Ibu tirinya itu. Karena, setiap ia melawan ... atau membantah, maka kejadian barusan aku terulang kembali. Bahkan mungkin akan lebih parah dari itu. "Lu lupa, jika tanggung jawab lu adalah beri gua duit setelah Bapak g****k lu itu mati?" ucap Salma lagi yang semakin menarik rambut Adena ke belakang. Dan Adena pun mengangguk pada akhirnya. Ia berharap, semua penderitaannya akan cepat berakhir dengan cara itu. Dan untuk kali ini benar saja. Melihat reaksi Adena, tentu saja Salma tersenyum puas. Ia lepaskan rambut Adena itu dan meniup beberapa helai rambut yang ternyata ikut tercabut dan menempel di tangannya. "Good. Pergi sekarang!" seru Salma, mendorong dorong tubuh Adena yang sudah sangat lemah. Tentu saja Adena hanya bisa terisak diperlakukan begitu. Tanpa berkata apa apa lagi, Adena pun langsung pergi ke luar dengan pakaian sekenanya. Adena bahkan belum sempat menyisir rambutnya yang sudah acak acakan. Hingga di persimpangan jalan, tiba tiba saja langkah Adena terhenti saat sebuah mobil menepi dan memotong langkahnya. "Adena??" seru seseorang dari balik kaca mobil yang sedikit turun. Sontak saja Adena sedikit kaget dan mengangguk sekali ketika melihat sosok yang berada di dalam mobil itu. Dan orang itu adalah Bunda, Ibu dari Kenzo alias calon mertuanya kelak. "T-tante .. " seru Adena, balik menyapa. "Ya ampun, kamu ngapain di luar kaya gini hanya pake kaos tipis gini, hem?" seru Bunda, turun dari mobil itu dengan sedikit tergesa gesa. "Ayok, naik! Di luar dingin, sayang." ajak Bunda, lembut. Namun, Adena hanya bisa memaku ketika Bunda sedikit menarik tangannya agar masuk ke dalam mobil. Merasakan itu, Bunda kembali membalikan tubuhnya lalu menatap Adena penuh selidik. "Apa ajakan Tante kurang sopan?" tanya Bunda, merasa tak enak. Tentu saja Adena menggeleng, jelas ... bukan itu alasan yang sebenarnya kenapa ia tak bisa menerima ajakan Bunda. Jauh dalam lubuk hatinya, Adena sangat amat ingin sekali menerima tawaran atau ajakan itu. Bahkan, sebelum bertemu dengan Bunda pun ... Adena sempat mempunyai pikiran untuk kabur. Tapi, lagi. Saat ini ia masih tinggal dengan Ibu tirinya. Dan jika saja ia tak menuruti permintaannya, maka mungkin ... Adena akan benar benar mati di tangan Ibu tirinya itu suatu saat nanti. "Lalu ada apa?" tanya Bunda lagi, mendekati Adena dan mengusap rambut Adena yang tergerai acak acakan. Dan, belum sempat Adena membuka mulutnya ... nyatanya Bunda sudah lebih dulu kaget dengan apa yang beliau lihat saat ini. "Astaga, pipi kamu kenapa?" tanya Bunda panik. Sadar akan itu, Adena langsung menepis tangan Bunda yang saat ini sudah berada di pipinya. "Ga apa apa, Tante." kilah Adena, mencoba memalingkan wajahnya. "Apanya yang ga apa apa, jelas banget pipi kamu bengkak kaya gitu." cerocos Bunda, yang mencoba membawa kembali Adena untuk menghadapnya. "Ibu tiri kamu lagi?" lanjut Bunda, menahan amarah. Sebuah pertanyaan yang akhirnya berhasil membuat Adena menatap Bunda penuh. Adena kaget, kenapa Bunda bisa mengetahui akan itu. Seingat Adena, ia tak pernah menceritakan apa apa pada Bunda. Memang, Bunda pernah bertemu dengan Ibu tirinya untuk meminta ijin membawa dirinya dengan alasan perjodohan yang sudah disepakati oleh suami mereka masing masing. Tapi, hanya itu. Ya, setidaknya hanya itulah yang Adena ketahui. Makanya, Adena sangat kaget jika Bunda mengetahuinya. Akan tetapi, nyatanya tak begitu di sudut pandang Bunda. Jangan berpikir jika semua berjalan lancar dan baik baik saja. Karena sangatlah susah membawa Adena saat itu, bahkan Bunda sendiri harus mengeluarkan uang yang cukup pantastis demi membawa Adena ke luar dari rumah neraka itu. Tentu saja, itu tanpa sepengetahuan Adena. Karena itulah, menilik dari sikap Ibu tirinya yang menghalalkan anaknya hanya untuk uang waktu itu, Bunda langsung bisa menerka bahwa Ibu tirinya lah yang berada di balik pipi bengkak Adena saat ini. Dan penilaian Bunda sangatlah akurat. Semua sudah terbukti. "Ayo masuk dulu, biar Bunda obatin luka kamu ya!" seru Bunda yang sekali lagi mengajak Adena untuk masuk ke dalam mobil. "Tap- ... " "Mengenai Ibu-mu, biar Bunda yang urus!" potong Bunda, tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN