Kenzo hanya bisa mengusap telinganya yang merah dan panas akibat perbuatan dari Bunda.
Bunda, beliau datang ke rumah Kenzo malam malam dengan memasang wajah yang garang. Tak hanya mengomel, tapi juga menjewer dan mencubit disetiap kulit yang terlihat, termasuk telinga dan ketek.
Kenzo saat ini tengah mengenakan baju rumahan. Baju singlet warna hitam, dan kolor spongebob favoritnya.
Karena itulah, Bunda dengan mudahnya mencubit ketek anak lelakinya itu.
"Kamu ini, kalo memang ponsel kamu rusak ... ya benerin. Paling tidak, beli lagi!" keluh Bunda, berkacak pinggang dengan mata yang berapi api.
Bunda kesal pada Kenzo yang selalu sulit ketika dihubungi. Dan kekesalan itu semakin memuncak ketika dihadapkan dengan sesuatu yang penting seperti sekarang ini. Apalagi kalo bukan tentang perjodohan.
Namun anehnya, melihat Bunda-nya itu bereaksi demikian, Kenzo hanya bisa tersenyum getir.
"Yassalam, bukannya jawab malah nyengir kamu ini hem!" cerocos Bunda lagi, berkacak pinggang dengan kepala yang terus saja menggeleng.
Dan sekali lagi, bukannya menjawab Bunda ... Kenzo malah pergi meninggalkan Bunda di ambang pintu, lalu mengambil air dari kulkasnya dan memberikannya pada Bunda.
"Nyonya, ini sudah jam sebelas malam!" ucap Kenzo datar, sambil menyodorkan segelas air putih pada Bunda.
Mendapati sikap anaknya yang dingin, lebih dingin dari segelas air yang disodorkan Kenzo saat ini, Bunda tak punya pilihan lain selain menerima air itu lalu mengikuti langkah anaknya itu untuk masuk ke dalam.
Bunda tau, jika anaknya sudah berlaku demikian .. maka percuma saja bagi Bunda untuk mencak mencak. Tak ada gunanya sama sekali.
Setelah meneguk air itu sampai habis, Bunda pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Jadi, kapan kamu mau beli ponsel baru?" ucap Bunda mengulang pertanyaannya. Kali ini dengan nada yang sangat ramah.
"Besok!" jawab Kenzo singkat.
Bunda pun akhirnya mengangguk, lalu mendekati anaknya itu yang ternyata sedang terduduk di sofa dengan tatapan kosong ke depan.
"Kamu baik baik saja?" tanya Bunda tiba tiba.
Mendengar pertanyaan itu, Kenzo sontak menatap Bunda bingung. "Baik!" angguk Kenzo, "Memang apa yang tak baik denganku, Bunda?" lanjutnya lagi.
Bunda sempat menggeleng, lalu mengangguk kemudian. "Rumah kamu ini suram sekali, seperti orangnya!"
Mendengar jawaban itu, Kenzo tentu saja hanya membuang wajahnya sendiri dari tatapan tajam Bunda, lalu kembali menatap televisi yang sedari tadi ia ubah terus salurannya.
Entah mencari apa.
"Aku memang begini, Bunda. Jika kehadiran Nyonya hanya untuk semakin memperparah kerusaman ini, maka pulanglah!" ucap Kenzo, datar.
Diperintah begitu, tentu saja Bunda tak terima bukan?
Jelas sekali.
Bunda langsung pergi dari hadapan Kenzo detik itu juga.
Dan Kenzo yang sempat melihat itu dari sudut matanya, akhirnya memutar bola matanya. Mengintip, penasaran.
"Kenapa mudah sekali kali ini?" gumam Kenzo, tersenyum.
Karena yang ada dalam pikiran Kenzo, Bunda memang benar benar pergi dari rumahnya dan berhenti mengganggu privasinya.
Namun kenyataannya berkata tidak. Apa yang Kenzo sangka, ternyata salah total.
Karena, tepat setelah Kenzo bergumam begitu ... Bunda kembali terlihat dengan membawa sesuatu yang sangat aneh.
Sebuah benda yang membuat mata Kenzo membelalak hebat, dan membuat kaki Kenzo yang tadinya terurai ke lantai, kini ia naikan ke atas sofa dengan kedua tangan yang memeluk dengkulnya.
"B-Bunda ... jangan main main ah!" ucap Kenzo gelagapan.
Namun, bukannya berhenti ... Bunda malah semakin senang melihat reaksi anaknya itu.
Dengan langkah yang semakin dipercepat, tanpa menunggu waktu yang lama, Bunda akhirnya sudah tiba di hadapan Kenzo yang sudah menampilkan raut wajah ketakutan.
"Kamu usir Bunda, hem?" tanya Bunda, tersenyum sinis.
Ditanya begitu, tentu saja Kenzo menggeleng kuat kuat. "B-bukan begitu, Bunda ... tadi aku ... aku ..."
Byuuur ...
Belum sempat Kenzo menuntaskan ucapannya, nyatanya senjata Bunda sudah lebih dulu mendarat di tubuh Kenzo.
Memang apa senjata Bunda itu sehingga membuat Kenzo ketakutan?
Jawabannya adalah ... Air.
Air? Apa tidak salah?
Kenzo takut air?
Ya. Itu adalah senjata Bunda untuk menaklukan keegoisan Kenzo sedari kecil.
Tunggu. Lalu apakah selama Kenzo tak pernah mandi, jika air adalah kelemahannya?
Jawabannya adalah, Kenzo mandi.
Bukan air sembarang air yang menjadi kelemahan Kenzo.
Karena yang Kenzo takuti adalah air yang berasal dari sebuah gayung.
Kenzo pobia pada air yang berasal dari sebuah gayung. Karena sewaktu kecil, Kenzo pernah yang namanya diculik.
Kenzo pernah mengalami situasi yang tak mengenakan dikarenakan Kenzo adalah anak dari seorang pengusaha hebat di Jakarta.
Penculik itu sengaja membawa Kenzo demi mendapatkan uang. Lalu ia disekap disebuah kamar mandi yang berukuran sangat kecil.
Dan kalian tau kelanjutannya. selama penyekapan itu, penculik itu terus saja menyiramnya dengan air yang berasal dari sebuah gayung.
Karena itulah, selama ini ... Kenzo tak pernah yang namanya berteman dengan gayung.
Kenzo tak pernah mau masuk ke dalam toilet umum yang jongkok, karena pasti toilet jongkok itu sudah besty-an dengan sangat baik dengan yang namanya gayung.
"BUNDA !!!!" teriak Kenzo, kesal.
Tangannya sibuk mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup, sementara tubuhnya berusaha untuk menghindar dengan keadaan mata tertutup.
Alhasil, Kenzo terjatuh, terjungkel ke samping sofa.
Sebetulnya, Bunda sendiri merasa jeri ketika melihat Kenzo yang sangat ketakutan begitu.
Tapi, hanya itulah cara Bunda agar Kenzo tidak bersikap seenaknya pada siapa pun.
Bunda tak suka jika Kenzo memperlihatkan sikap sombong dan arogannya seperti tadi.
Bagi Bunda, Kenzo tetaplah anak kecil yang masih harus dibimbing dan diajari tentang tatakrama dan juga tentang kemanusiaan.
Otaknya yang sangat encer, terkadang membuat Kenzo seperti setan yang selalu meremehkan usaha dan tenaga orang lain.
"Mau Bunda guyur kamu lagi, hem?" tanya Bunda dengan entengnya. Kali ini, Bunda berhasil mengembalikan keadaan meski Bunda tau itu sangatlah menyakitkan bagi Kenzo.
Menyakitkan? Hey ayolah, itu hanyalah sebuah air, tak lebih. Kenzo hanya diguyur oleh segayung air, bukan dirajam apalagi ditusuk belati.
Pasti itu kan yang kalian pertanyakan?
Memang. Tapi, seperti yang sudah dikatakan tadi, Kenzo sangatlah pobia tentang apapun yang berbau gayung karena masa lalunya yang menakutkan.
Jadi, Bunda pastilah tau ... Jika Kenzo sudah menerima air dari gayung itu, Kenzo akan merasakan sakit di seluruh tubuhnya, seperti merasakan sakit yang luar biasa akibat sebuah cambukan yang bertubi tubi.
Tapi, lagi. Hanya itulah caranya agar Bunda bisa memanusiakan anaknya, Kenzo.
"Tidak Bunda. Maaf, ampun!" jawab Kenzo, sedikit meringis.
Matanya bahkan masih tertutup saat kedua tangannya terangkat di atas kepalanya sendiri, memohon ampun pada Bunda seperti anak kecil yang telah dihukum orang tuanya akibat nakal.
Melihat pemandangan menyedihkan itu, Bunda sempat mengusap kedua matanya yang sudah berair, lalu mendekati Kenzo yang masih bersimpuh di bawah sana.
Bunda usap kepala Kenzo dengan penuh kasih, lalu memeluk anaknya itu. Memperlakukannya seperti anak kecil.
"Maafin Bunda ya, Ken!" seru Bunda, serak.
Bunda sekali lagi menahan tangisnya. Tak ada maksud Bunda untuk menyakiti anaknya itu, sekali lagi ... Bunda hanya ingin mengubah sikap kurang ajar anaknya itu.
Meski begitu, Bunda tetaplah Bunda. Seorang Ibu yang akan ikut merasakan sakit juga jika melihat anaknya sakit.
Di dunia ini, tak ada seorang Ibu yang senang melihat anaknya kesakitan, terpuruk, apalagi merana.
Bunda pun begitu.
Bunda tak ingin Kenzo terpuruk terlalu lama akibat patah hatinya.
Tunggu, Bunda tahu ?
Ya. Bunda sangat tahu dengan anaknya itu.
Bunda tau jika Kenzo telah menjalin hubungan dengan seorang gadis semenjak SMA.
Bunda juga tau betul siapa Viona. Karena jauh sebelum Kenzo merana seperti ini, Bunda sudah lebih dulu mengetahui bagaimana tabiat Viona.
Bunda tahu jika Viona bukanlah wanita baik baik yang benar benar mencintai anaknya itu.
Sering kali Bunda melihat Viona jalan dengan lelaki lain ke sebuah hotel, dan Bunda juga tau jika Viona hanyalah memanfaatkan kebucinan Kenzo padanya.
Viona hanya menginginkan uang Kenzo saja, tak lebih.
Jadi, ketika Bunda melihat Kenzo yang dicampakan oleh Viona di taman, hati Bunda terasa sangat lega.
Saking leganya, Bunda bahkan menangis sesenggukan. Bunda bahagia mendapati anaknya terbebas dari jelmaan ular betina itu.
Lalu, tanpa pikir panjang lagi ... Bunda langsung menghubungi Papah dan memberitahukan semuanya.
Dan detik itu juga lah, Bunda dan Papah mempunyai ide untuk menjodohkan Kenzo dengan anak teman dari Papah dan Bunda.
Dan itulah Adena.
*****
Kenzo benar benar demam. Ia menggigil saat Bunda memboyongnya ke dalam kamar.
"Bun, Ken ga suka cara Bunda." seru Kenzo, menatap nyalang pada Bunda.
Melihat tatapan runcing anaknya itu, Bunda hanya mengangguk. "Kalo kamu bersikap baik, Bunda tak akan berlaku demikian!"
Kenzo pun berdecak lalu menelusupkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut.
"Bunda, maaf!" ucap Kenzo bergetar.
Kenzo tau dimana letak salahnya. Walau Kenzo keras kepala, tapi jika menyangkut Bundanya yang sudah begini, Kenzo akan langsung mengerti dan meminta maaf seperti barusan.
Katakanlah, bahwa Bunda adalah pawang Kenzo.
Bunda pun mengangguk, "baik. Bunda maafkan!" balas Bunda, lalu tersenyum licik. "Tapi dengan satu syarat!" lanjut Bunda.
Dengan mendengar Bunda-nya berbicara begitu saja, Kenzo langsung menghela napasnya. Ia paham betul apa yang akan terjadi selanjutnya.
'Matiin aku aja, Tuhan !' ...