“Apa yang kamu lakukan!!!” pekikku sambil memukulinya dengan bantal. Tan langsung membuka matanya, terkejut. “Apanya?” “Apanya-apanya! Di mana pakaianku?!” tanyaku menarik selimut. “Di jemur.” Tan menunjuk balkon, “Kamu tidak ingat semalam?” tanyanya sambil menggaruk leher. Leher? Mengapa ada tanda merah di lehernya? “A-apa yang terjadi?” tanyaku sambil mencoba mengingat. “Kamu muntah membasahi pakaian kita. Menyusahkan sekali! Aku harus menggotongmu ke kamar, melepas pakaian, mencuci.” “Mengapa tidak minta bantuan pelayan? Kenapa harus kamu yang melepaskan pakaian?!” “Memang kenapa? Aku kan suamimu! Lagi pula itu bukan pertama kalinya aku melihat tubuhmu.” Gumamnya. “Hanya itu-saja-kan?” tanyaku khawatir, semoga saja tidak terjadi apa-apa semalam. Aku

