Tidak seperti biasanya, kenapa meja makan belum di suguhi makanan? Ke mana si kepala batu itu. Apa dia sudah berangkat? Apa jangan-jangan tesnya gak jadi? Yay ... Kugoyangkan ke dua kaki di kolong bangku, bersenandung begitu riang. “Wah, wah, wah... Bahagia sekali. Sepertinya ada yang tidak sabar bertemu denganku.” Huh, baru juga senang sedikit, bencana malah datang. “Cih, siapa juga yang sudi bertemu denganmu!” Tan berjalan sangat aneh ke arah kursi. Kenapa dia? Dia terus memegangi pinggang belakangnya. Ketika menarik kursi pun gerakannya sangat kaku. Bahkan untuk duduk saja terasa sulit. Kututup mulut menahan tawa melihatnya persis Kakek-kakek yang encok. “Heh! Kenapa kamu tertawa?!” geram Tan, melihat tawaku tergelak-gelak. “Hoh, ternyata kamu buka

