“Oh ...” wanita tua berjas hitam menutup mulutnya begitu melihat tanda lahir di punggung dan bekas luka milikku di panggul, rautnya menunjukkan kesedihan. Dia tertunduk dan berlutut di hadapanku. “Maafkan saya Nyonya, selama ini saya tidak mengenali Anda ...” wanita bernama Bu Ema itu menangis di kakiku. Dialah kepala pelayan di kediaman Anthony Dakhwan. Dia yang mengasuhku sedari bayi. “Jangan begini Bu Ema. Bangunlah ...” kupegang lengan Bu Ema agar dia segera bangkit. “Kalau tidak ada tanda di tubuhku juga semua orang tidak tahu, mungkin mereka tidak menemukanku.” Bu Ema bangkit dan bertanya, “Bolehkah aku memeluk Nyonya Sunny?” “Sunny?” tanyaku kembali. “Iya, itu nama yang di berikan mendiang Ibu Anda. Tuan Hoon dan Nyonya Hikari sangat menyayangi Anda. Mereka pasti bangga memp

