“Huaaaa aaaa aaaa ...”
Srrottt! Kutekan sebelah cuping hidung, memicitnya.
“Masih ada lagi gak tisuenya?” tanyaku sambil melempar bekas tisue ke tempat sampah, aku sudah menghabiskan satu kotak tisue.
“Habis.” Riu mengibaskan bungkus tisue yang kosong. “Pakai ini aja.” Ia memberi ujung kausnya untuk mengusap air mataku, sekaligus kupakai membersihkan ingus.
“Eh.” Ia terkejut melihatku benar mengelap ingus di pakaiannya.
“Hoh, ya ampun ... Aku belum pernah sakit hati seperti malam ini.” Aku rasa hidungku terlihat merah saat ini, rasanya sakit! Sakit meski hanya mengeluarkan ingus! Bahkan menggerakkan tangan pun terasa sakit. Semua rasa sakit itu berkumpul di dalam hati, membuat seluruh tubuhku sakit.
“Memang pria seperti apa dia? Berani sekali menolak wanita cantik sepertimu.” Gumam Riu yang mencoba menghiburku.
“Mana cantik! Wajahku terlihat tua!” ah rupanya pujian hanya bisa membakar perasaan yang terkoyak. Mungkinkah karena wajahku terlihat tua, Nao Bin jadi tidak mau berbicara padaku? Kupegang kedua sisi wajah merasakan kulitku yang tidak lagi kenyal. Ah! Kenapa aku harus menjadi Moon dewasa?!
“Tidak, cantik itu tidak terlihat dari wajah, tapi dari ketulusan. Moon Chanku tetap cantik meski dia sedang menangis.” Moon Chanku? Mendengarnya membuat bibirku terangkat kembali.
“Benar kah?”
“He hem.” Riu menganggukkan kepala. Manis sekali, dia seperti anak anjing yang menggemaskan.
“Maaf ya Riu, membuatmu terlambat pulang malam ini. Tapi kalau kamu mau pulang duluan gak papa.”
“Aku gak keberatan kok, lagi pula ini sudah malam mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri. Ayo kita pulang?” Riu melebarkan telapak tangannya, membantuku berdiri.
Beruntungnya malam ini aku tidak sendirian menghadapi pahitnya kenyataan hidup. Betapa banyak masalah yang harus kuhadapi. Menata kembali perasaan juga harus mulai menerima kenyataan. Apa aku sanggup seperti ini? Haruskah aku menerima pernikahan yang aneh ini? Bagaimana jika aku meminta berpisah saja pada Tan? Tapi, bagaimana nanti, aku tidak bisa sekolah lagi? Sekolah kan satu-satunya hiburanku. Terus bagaimana jika Tan tidak mengirimkan uang jajan lagi? Dari mana aku mendapat uang.
Ish! Kenapa sekarang aku seperti Moon dewasa yang terlena pada fasilitas yang Tan berikan. Tidak boleh seperti ini! Aku harus mandiri!
***
“Wah rumahmu besar sekali?” Riu mengantarku sampai ke depan rumah.
“Tidak juga, kalau sudah di dalam, rumah itu menjadi sempit dan terasa sesak. Sampai-sampai Membuatku tercekik.” Rutukku mengungkap perasaan terdalam.
“Apa iya? Seperti rumah hantu saja.” Riu menggaruk kepalanya sambil tertawa.
“Mmm, aku masuk dulu? Terima kasih sudah mengantar.” Kupegang teralis gerbang, menyandarkan kepalaku.
“Iya, sampai bertemu besok di sekolah!” anak itu melambaikan tangannya, tersenyum.
Kulihat rumah sudah gelap, bahkan lampu kamar Tan pun sudah di matikan. Baguslah kalau dia sudah tidur. Kakiku kini melangkah memasuki rumah sambil menunduk lesu. Melewati ruangan gelap yang seketika berubah terang.
Ctek! Ada seseorang yang menyalahkan lampu ruang utama.
“Binggo!” seru lelaki yang sedang duduk di sofa sambil mengangkat sebelah kakinya, mengagetkan saja! “bukannya kamu pergi bersama Candy? Mengapa yang mengantarmu laki-laki?” Tan membungkukkan punggungnya, mengaitkan masing-masing jemarinya menopang dagu sambil menoleh ke arahku.
“Dia teman sekolah.”
Pria itu tertawa, membuat pundaknya berguncang. Menundukkan kepalanya. “Jadi, lelaki yang kamu cari di taman itu anak SMU?” kini tawanya semakin kencang.
“Apa pedulimu?! Urus saja wanita simpananmu!”
“Oh ya? Bukannya kamu yang berselingkuh dengan daun muda?” Menjengkelkan sekali lelaki ini. Sudah jelas-jelas dia yang selingkuh malah menuduh balik aku.
“Hei! Siapa yang selingkuh?! Aku tahu kamu yang melakukannya, kenapa menuduh Balik aku! Kalau kamu menyukai perempuan lain sebaiknya akhiri saja pernikahan Palsu ini! Toh kita tidak saling menyukai.” Lontarku, membuang wajah.
“Wah, aku tidak menyangka kamu seberani ini sekarang.” Kenapa dia, apa dia menganggap perkataanku hanya gurawan. Darahku mulai naik ke ubun-ubun, mengulum bibir, menyengitkan hidungku menahan kesal.
“Aku serius! Ceraikan saja aku!” pekikku membuat Tan tertegun.
Karena pernikahan ini, aku kehilangan semua kebahagiaan. Aku kehilangan teman-teman, aku kehilangan masa remaja, aku kehilangan Bin dan aku kehilangan ingatan. Mengapa aku harus menikahi Tan? Pernikahan yang hanya membawa ke sialan dalam hidupku. Pernikahan yang tidak pernah aku harapkan. Lebih baik kehilangan harta, dari pada kehilangan kebahagiaan.
Ia berdiri mengusap pundakku, “Sebaiknya kamu simpan angan-angan itu, karena aku mulai tertarik pada pernikahan ini semenjak istriku hilang ingatan. Ah, ini semakin seru! Sepertinya akan menyenangkan bermain dengannya, meski ia merasa bosan.” Tan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu berjalan meninggalkanku.
Ke-kenapa dia begitu? Apa-apaan ini?! Apa yang ia rencanakan sebetulnya?!
***
Keesokan harinya, Pukul 07:00
Seperti singa yang sedang mengejar rusa, seperti itu juga aku berlari mengejar waktu agar tidak terlambat sekolah. Kulihat dari kejauhan, security akan menutup gerbang. Aku berlari secepat kilat ketika tinggal sedikit celah yang terbuka pada gerbang.
“Pak Mur! Pak Mur! Jangan kunci gerbangnya du-lu.” Gerbang pun tertutup sempurna. Pagi yang sial! Padahal tinggal sedikit lagi sampai! Ih!
Duk duk duk!!!
Kutendangi gerbang, sambil berpikir apa yang harus kulakukan. Pulang ke rumah? Hih, tidak mungkin, membosankan sekali berada di rumah itu. Pulang ke rumah ibu atau ke kedai? Ah, aku pasti di marahi. Apa lagi kemarin Tan melihatku bersama Riu, apa dia tidak mengadu sama Ibu?
Aku tahu! Sepertinya tubuhku masih ringan seperti dulu, tak ada salahnya mencoba trik 14 tahun yang lalu.
Hap!
Kupanjat gerbang, menaikinya seperti orang yang sedang berolah raga climbing. Sedikit sulit ternyata, tanganku tak sekuat dulu untuk menopang tubuh. Mungkin berat badanku bertambah, atau tenagaku yang berkurang karena usia yang bertambah dewasa.
“Argh!” sial betul! Tubuhku malah tersangkut di atas gerbang, kesulitan untuk naik lagi ke atas. Keseimbanganku mulai goyah. Membuatku bergelantungan di gerbang.
Brem! Cittt!
Terdengar suara motor dari bawah. Pria itu mematikan mesin motornya. Turun dari kemudi. Tanpa membuka helm dia berdiri di bawahku.
“Mau aku bantu?!”
“Tentu saja! Tolong bantu aku melewati gerbang!” akhirnya ada juga yang mau menolongku. Pria itu memberikan pundaknya untuk aku injak. “Jangan mengintip ya!” tandasku memperingatinya. kuambil pertengahan rokku mengapitnya dengan tangan.
“Iya!” kata pria itu dari balik helm. Akhirnya aku bisa berada di atas menduduki ujung gerbang. Sehingga tidak harus berpijak pada pundak pria tadi
“Eh, terima kasih ya?!” kuberikan senyuman lebar pada pria baik hati itu sebelum melompat ke lapangan sekolah.
Hap!
Tap tap tap!
Kakiku berpijak pada lantai aspal, berlari tanpa memeperdulikan hal lain di sekeliling.
SRETT! Di belakang seperti ada suara tarikan gerbang.
Membuatku penasaran untuk menoleh. Rupanya pria yang menolongku tadi masuk ke area sekolah. Itu, dia boleh di bukakan gerbang oleh Pak Mur? kenapa aku harus susah-susah melompati pagar segala? Tahu gitu tadi mengekor saja dengan dia. Ah, ya sudah lah yang penting sekarang sudah berhasil masuk.
Kutaiki tangga dan memasuki kelas 12A yang ternyata masih ramai dengan suara candaan teman-teman. Berati belum ada pengganti Pak Soe, pasti pelajaran praktik diubah menjadi mengerjakan soal teori. Asik, bebas!!!
“Tante ke mana saja? Tadi Riu cari.”
“Ada apa?”
“Dia memberikan ini untuk tante. Dan yang ini untuk aku katanya.” Candy memeluk coklat yang di berikan Riu padanya, sebelah tangannya mendorong sepucuk kertas beserta permen loly besar. Kubuka lipataan kertas itu, untuk membacanya.
Semangat Moon Chan! (^_^)
Tulisnya berserta emotikon yang ia buat. Kuangkat kedua simpul bibir, memandangi permen Loly bulat yang berwarna warni. Beruntungnya aku memiliki teman dekat seperti Riu Chan.
Tap
Tap
Tap
Terdengar suara langkah yang membuat suasana kelas menjadi hening, sesosok lelaki berkemeja biru datang membawa beberapa buku. Semua siswi menyambut pesonanya dengan decap kagum. Sementara para siswa hanya bisa mematung memandang sosok lelaki yang karismatik dan ramah itu tersenyum.
“Selama Siang, salam kenal semua! Saya guru Olah raga pengganti Pak Soe. Maaf sedikit terlambat, karena tadi harus menghadapi siswi yang terlambat. Saya harap tidak ada lagi kejadian melompat pagar seperti barusan.” Lelaki itu mengernyih sambil menggaruk alisnya.
“Oh, Ya. Perkenalkan nama saya Binar. Jangan panggil Bapak, karena saya masih muda. Panggil saja Saya ... Kak Bin.”
Bin ... Mataku membulat seketika. A-pa yang barusan aku dengar? Apa tidak salah? Apa pendengaranku baik-baik saja? Apa ini benar Bin bukan mimpi?
Apa ... aku harus senang? Atau bertanya?
Atau, hanya diam saja? menunggu apa yang ingin kamu lakukan kepadaku, Bin ...