Membingungkan

1413 Kata
“Tante,  jangan bilang Guru itu orang yang selama ini tante cari?” Bisik Candy. Kujawab dengan anggukkan kecil sambil menggigit bibir. “Hohh,  ya ampun kenapa dunia sempit sekali.”   Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini.  Rasanya jadi serba salah,  apa aku harus menyapanya atau mengacuhkannya, mengingat kemarin malam, Bin tidak mau bicara padaku. lebih baik aku diam saja.  Tapi ... Perasaan ini sulit dikendalikan.   “Pak Bin,  eh maksudnya Kak Bin.  Aku Siska,  barang kali Kakak perlu bantuan tour guide untuk mengelilingi sekolah. Siska siap bantu.” Dengan rasa penuh percaya diri Siska mendatangi meja Bin bermodus dengan menawarkan bantuan. Dasar penjilat!   Tentu saja Bin menanggapinya dengan santai,  tersenyum tipis sambil melirik Siska, “Saya sudah hafal seluruh ruangan di sekolah ini,  terima kasih ya.” Bin merapikan buku dan kotak pensilnya. Sedangkan aku hanya bisa mengamatinya dari meja paling belakang.   Sebaiknya aku pergi saja dari sini,  dari pada melihatnya lama-lama. “Ayo,  Candy.” Kutarik tangan Candy berjalan melewati Bin, hendak ke luar kelas.   “Moon.” Seketika langkahku terhenti mendengar suara yang sangat kurindukan memanggil. “Ikut aku ke kantor.”   “A-ku? Kenapa?” Bin berjalan melewatiku tanpa menjawab pertanyaanku lebih dulu. Kulepaskan genggaman Candy lalu mengikuti Bin dari belakang.   Punggungnya begitu tegap, membuat aku ingin bersandar kembali di sana. Bisakah kita keluar dari suasana formil seperti ini.  Aku ingin memeluk Bin.  Kusatukan kedua alis, begitu terbebani menahan gejolak perasaan yang harusku kendalikan.   Tak sadar ternyata begitu jauh aku mengikuti langkah Bin,  melewati kantor staf pengajar. Bukankah tadi dia bilang,  agar aku ikut ke kantor. Kenapa malah melewatinya? Ia menuju halaman belakang sekolah melewati pintu kecil yang tidak banyak di ketahui orang.  Ya, sebab pintu itu terhalang pohon rambat, hanya beberapa orang yang tahu keberadaan pintu itu termasuk aku dan Bin. Tidak kusangka pintu menembus taman kompleks itu masih ada.   Bin duduk di bangku taman.  Meletakkan buku di sebelahnya.  Sementara aku mematung menunggunya bicara. Mulutku kelu untuk memulai percakapan lebih dulu.   “Awalnya aku terkejut saat kamu mencariku lagi. Apalagi masa lalu kita yang sudah kukubur dalam-dalam. Sampai akhirnya aku bertemu Pak Soe,  dan mengerti kesulitanmu sekarang.” Bin menghela napasnya menarik sebelah sudut bibirnya. “Mungkin ini akan membuatmu bingung. Tapi aku akan membantumu sebisaku, sebagai seorang teman dari masa lalu.”   “Teman?” aku tertunduk dengan bibir yang sedikit terangkat.  Ya bukankah dulu awalnya kami juga seorang teman? Tapi kenapa mendengar kata-kata itu membuat dadaku sesak.  Seharusnya aku tersadar,  bahwa kami tidak bisa lagi menjadi seperti dulu, karena statusku yang sudah bersuami, bukan?  Tapi kenapa ia datang seolah memberikanku harapan,  mengembalikan kenangan pada masa lalu yang kuanggap belum selesai.    “Di sekolah ini,  aku rasa kita bukan hanya menjadi teman.  Tapi menjadi guru dan murid. Ini terlihat aneh ya?” Aku berusaha menutupi kesedihanku dengan tertawa palsu. “Oya maaf, karena  sudah mengotori bahumu.”   “Tidak apa-apa,  lain kali jangan memanjat lagi.”   “Aku melakukan itu kan terpaksa. Lagi pula kenapa kamu mau bantu?”   “Aku gak tega melihatmu bergelantungan seperti kera.” Bin kini tertawa.  Setidaknya dengan kehadirannya membantuku merasa ringan dalam menjalani hari. Membuat rinduku terobati, meski hanya menjadi murid atau teman sekalipun. Meski harus mengorek memori lama yang usang dalam ingatan Bin.   ***   “Tumben. Apa yang membuatmu ingin magang di sini?” tanya Kak Naru yang sedang memakai apron. “Heh lagi pula kedai ini tidak  butuh karyawan baru.”   “Aku kan ingin punya uang hasil jeri payah sendiri.” Sebetulnya aku hanya ingin menunjukkan pada Tan kalau aku bisa mandiri dan tidak lagi merengek meminta uang padanya.   “Yang benar saja? Apa Ayah dangar? Anak ayah ingin kerja di sini dan di beri gaji!” teriak kak Naru agar suaranya terdengar oleh Ayah yang berada di dapur. “Itu sama saja kau minta uang jajan pada Ayah,  harusnya kalau mau bantu ya bantu saja. Kau kan suda kaya,  minta lah uang yang banyak pada suamimu. Lebih mudah,  dari pada harus kerja dulu. Wah rupanya amnesia membuat adikku banyak berubah.” Betul kah? Apa dulu aku memilih jalan mudah untuk mendapat uang.   “Husss ....  Kalian berisik sekali! Sudah biar kan saja Naru,  toh ini kabar baik. Moon mau menyapu,  mengepel dan mencuci piring kotor di kedai ini. Tak apa Ayah senang sekali putri Ayah saling membantu.” Ayah keluar dari dapur masih menggunakan celemek putih yang kotor terkena bumbu masakan.   “Ayahku memang baik! Ayah tahu anaknya ingin mandiri dan tidak ketergantungan terus pada suami.”  Kupeluk Ayah dengan erat.   “Apa kau bertikai dengan Tan?” tanya Ayah memegang kedua pundakku. “Aih,  jadi betul kau mau kerja di sini karena ribut dengannya. Dengar Moon,  suamimu orang yang sangat baik.  Sebaiknya minta ijin dulu padanya jika mau bekerja di sini. Ayah tidak mau Tan nanti salah paham.”   “Kenapa aku harus selalu minta izin padanya?!”   “Heh, dia itu suamimu. bagai mana kau bisa selalu melakukan apa-apa sesuka hatimu! Apa lagi sampai janjian dengan laki-laki lain yang membuatmu pingsan kehujanan!” sahut Kak Naru, dari belakang.   “Apa itu betul Naru? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Ayah?!” Ayah terkejut mendengar perkataan Kak Naru.  Masak sih hal sepele seperti itu begitu mengagetkan.   “Ibu yang cerita kemarin,  aku pikir Ayah sudah tahu.” Gumam Kak Naru.   “Aduh!” Ayah memegang kepalanya.  Kenapa dia? Bukannya itu terlalu mendramatisi. “Bagaimana bisa kau seperti itu Moon! Membuat malu saja!  Tan itu dari keluar terpandang,  pasti dia merasa di sepelekan dengan sikapmu yang seperti itu. Ish,  benar-benar!” Ayah mengambil gagang sapu dan mengangkatnya.   “Ke-napa,  Ayah mau memukulku hanya karena persoalan itu?!” kuangkat kedua tanganku menutup kepala.   “Tentu saja! Dengar jika kau berulah lagi Ayah tak segan-segan memukulmu!” Ayah mengayuhkan sapu ke arah bokongku,  membuatku lari menjauhinya.   “Kenapa Ayah lebih sayang pada Tan dari pada anak Ayah sendiri. Itu gak adil!”   CLEK!   “Selamat Datang!” Kak Naru berlari ke depan menyambut tamu yang datang. Ayah menaruh sapu dan kembali ke dapur. Sedangkan aku berpura-pura melap meja di sampingku.   “Moon!” suara wanita memanggil membuatku menoleh. Ternyata itu Mariana, “Akhirnya aku bertemu denganmu juga?!” dia menghampiriku lalu duduk di table yang sedang kubersihkan.   “Ada apa?” kutarik kursi untuk duduk bersamanya.   “Semenjak mendengar kabar kau siuman,  aku menghubungi mu terus.  Tapi tidak ada jawaban,  akhirnya aku mencarimu sampai ke sini.  Syukurlah kau sudah sehat. Jadi kapan kau berencana kembali ke kantor?”   “Kan-tor? Maksudmu kantor yang mana?”   “Sun Enterprise.  Aku dengar karyawan mengeluh karena penggantimu bukan lah orang yang piawai memonitori keuangan.”   Mengapa tidak ada yang bercerita padaku,  kalau aku bekerja di perusahaan yang Tan kelola. Mengapa mereka membiarkanku menghadapi kebingungan ini sendirian?   ***   Sepertinya Tan belum pulang. Ini bagus! Aku tidak menemukan surat perjanjian kontrak nikah di kamarku,  pasti ada di kamar Tan.  Biasanya pernikahan palsu seperti yang kujalani ini ada kesepakatan di antara dua belah pihak agar saling menguntungkan,  yang ku tahu di film-filem sih begitu.    Kreak!   Ctek!   Kunyalakan lampu, berkeliling kamar Tan yang lebih luas dari kamarku. Curang! Eh,  apa ini? Stik game? Ish,  ya ampun ternyata usianya saja yang tua! Pandanganku sekarang mulai berlari pada laci di meja kerja Tan.  Membukanya satu-satu.  Ah tidak ada! Di mana dia sembunyikan?   Apa mungkin di lemari pakaian? Kubuka lemari itu,  pakaiannya tersusun sangat rapi sesuai dengan warna,  dan jenis pakaiannya. Wah,  dia Perfectionist sekali. Biasanya ada dokumen yang di taruh di bawah susunan baju. Kuraba kayu di bawah tumpukan baju itu   Srekk Srekkkk ...   Iihh,  gak ada juga! Mungkin kah di belakang foto? ku naiki bufet yang lumayan tinggi,  mengecek belakang pigura besar yang terpajang di dinding.    CKLEK   “Sedang apa kamu di situ?!” pekik Tan, terkejut melihatku di kamarnya.   “Hiii.” Kutunjukkan deretan gigiku, melap foto dengan lenganku. Memberi uap dari mulut ke kaca foto, “Hah!” kenapa aku tak mendengar suara langkah kakinya tadi. Kan jadi ketahuan.   “Jangan berpura-pura! Aku tahu kamu pasti mencari sesuatu!”   Aku duduk di atas bufet sambil mengerucutkan mulut, “Aku mencari surat kontrak pernikahan kita.”   “Untuk apa?!”   “Aku Cuma ingin tahu isi perjanjiannya dan kapan berakhir kontraknya.”   Tan mengangkat sebelah simpul bibirnya,  menghampiriku. Mendekatkan wajahnya,  memegang pinggangku hendak menurunkanku. Membuatku jadi salah tingkah ketika mata kami bertemu.   “Akan Ku beri tahu sesuatu yang membuatmu senang.”   “Apa?”   “Tidak ada pernikahan kontak atau pernikahan  palsu yang kita jalani. Ini pernikahan nyata,  kita menikah karena saling mencintai.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN