"Tidak ada pernikahan kontrak atau pernikahan palsu yang kita jalani. Ini pernikahan nyata, kita menikah karena saling mencintai.”
“Bo-hong.” Kakiku berpijak sempurna pada lantai setelah Tan menurunkanku dari bufet.
“Berusahalah mengingatnya!”
“Bagaimana aku bisa mengingat?! Aaa ... Ini Menjengkelkan sekali!” kuentakkan kaki ke lantai. “Tolong beritahu aku, kapan dan bagaimana kita bertemu, mengapa kita saling menyukai hingga akhirnya menikah.”
“Ingin tahu?” Kuanggukkan kepala cepat. “Ehem. Ah, rasanya badanku pegal-pegal.” Tan menarik tangannya ke depan juga menekuk lehernya ke kiri dan kanan.
“Pergi saja ke panti pijat, kau kan banyak uang.” Rutukku.
“Heh! Ish. Benar-benar tidak peka! Jika kamu mau tahu, layani aku! Jalani tugasmu sebagai istri.”
“Layani? Seperti apa?!” pikiranku berlarian semakin jauh membayangkan hal yang membuat wajahku memanas.
Tan membuka jasnya, memberikannya padaku. Lalu menegakkan lehernya yang jenjang. “Jangan diam saja! Buka kancing kerahku dan bukakan dasinya!”
Yang benar saja! Manja sekali, dia kan bisa melakukannya sendiri. Kuikuti kemauannya sambil bergumam dalam hati. “Nih sudah! Cepat ceritakan.”
Sekarang ia duduk menyadarkan punggungnya pada sofa, menggulung lengan kemejanya. “Pijat.”
Ish, menyebalkan! Mau tak mau kuletakan tangan pada pundak Tan, mulai memijatnya. “Ayo cepat ceritakan!” kucubiti keras bahunya.
“Pelan-pelan! Kasar sekali! Jadi wanita itu yang lembut.” Kupelankan pijatan mengikuti keinginannya.
“Jadi kapan kita bertemu, di mana?” tanyaku lagi, sangat! Sangat! ingin tahu.
“Di halte bus, tujuh tahun yang lalu.” Otakku bekerja untuk mengingat apa yang Tan katakan, namun tetap saja tidak sedikit pun kejadian tujuh tahun yang lalu bisa kuingat. Jika pernikahan ini kontrak mengapa aku bisa menjalaninya sampai tujuh tahun lamanya?
“Tapi itu terdengar aneh, untuk apa kau naik bus. Tipe pria sepertimu, bukannya gak suka berada di tempat umum, berbaur dengan orang-orang biasa.”
“Saat itu dalam keadaan terdesak, mobilku mogok, pas sekali di depan halte. Sedangkan aku harus menghadiri Rapat umum. Ya sudah terpaksa naik bus dan bertemu wanita aneh sepertimu.” Aneh? Padahal dia yang lebih aneh mempunyai wajah kaku seperti itu.
“Yang lebih detail, aku mana ingat kalau ceritanya singkat!”
“Hufftt” ia membuang napasnya, “Nanti saja.”
“Kenapa nanti?!”
“Aku lelah, baru pulang kerja kamu sudah menodong pertanyaan. Sebaiknya kamu turun dan siapkan makan malam. Aku mau mandi dulu.” Tan mendorong lenganku agar segera keluar dari kamar.
Ih, bagaimana aku bisa mencintai orang semacam ini, kasar, dan suka memerintah. Jauh sekali dari kriteriaku memilih pasangan. Aku rasa dia hanya mengarang cerita saja. Pasti karena ada sesuatu yang mau dia sembunyikan.
“Kenapa gak turun?! Kamu mau ikut ke kamar mandi dan menggosok punggungku?”
Ish, yang benar saja! “Dalam mimpimu! Ini juga mau turun!”
***
“Semenjak mendengar kabar kau siuman, aku menghubungi mu terus. Tapi tidak ada jawaban, akhirnya aku mencarimu sampai ke sini. Syukurlah kau sudah sehat. Jadi kapan kau berencana kembali ke kantor?”
“Kan-tor? Maksudmu kantor yang mana?”
“Sun Enterprise. Aku dengar karyawan mengeluh karena penggantimu bukan lah orang yang piawai memonitori keuangan.”
“Aku masih harus istirahat, agar cederaku cepat pulih.”
“Cepatlah pulih, kau tidak tahu siapa yang menggantikanmu?”
“Siapa?”
“Anak dewan direksi, Clarisa. Tidakkah dia sengaja mengambil jabatanmu? lama kelamaan dia juga bisa mengambil suamimu. Jangan biarkan Moon!”
Apanya yang di bilang Tan kalau kami saling mencintai, buktinya dia menyukai wanita lain dan membiarkan wanita itu menggantikan posisiku di kantor. Apa peduliku jika wanita bernama Clarissa itu mengambil sumiku, bukannya malah bagus. Bukankah aku memang ingin terbebas dari Tan?
Kutusuk udang dengan garpu lalu menggigit nya, sambil sesekali melirik Tan yang berada di meja yang sama denganku.
“Tidak kah kamu mau cerita sekarang?” tanyaku pelan.
“Kalau makan jangan bicara.” itu dia juga bicara. Kaku sekali makan pun harus pakai tata kerama, padahal di sini hanya ada aku. Baiklah, kutunggu Tan menyelesaikan makannya.
Tak menunggu lama, ia melap mulutnya dengan tisue. Mendorong mundur kursinya lalu meninggalkan ruang makan. Kuikuti dia yang ternyata masuk ke dalam kamarnya kembali. Kuhentikan langkah di depan pintu. Haruskah aku ikut masuk? Aku rasa dia memang tidak ingin menjawab semua pertanyaanku.
“Kenapa berdiri di pintu? Masuk!”
Aku kembali mengikutinya. Dan duduk di ranjang. Sementara dia membuka laptop di meja kerjanya. Hih, sepertinya dia memang sengaja membuatku menunggu.
“Kamu menyuruhku masuk, Cuma ingin melihatmu bekerja?” tanyaku, mulai kesal menunggunya asik mengetik di laptop.
“Malam ini, tidurlah di kamarku.”
“Ap-a?!” sudahku duga, lelaki ini mau mengerjaiku saja! Membuatku semakin kesal di buatnya.
“Bukankah kamu tidak percaya kita saling mencintai? Memang apa yang bisa terjadi di kamar jika tidak saling mencintai?” Apa aku bisa mempercayai lelaki seperti dia, apa nanti dia tidak mengambil keuntungan? “Kalau tidak mau ya sudah. Lupakan keinginanmu mendengar ceritaku. Dan cobalah mengingat sendiri.” Tan menutup laptopnya, lalu menaiki kasur.
“Baiklah!” jawabku lantang, mencoba berani padahal ... Ish, aku harus berani! Tidak akan terjadi apa-apa.
“Tidurlah di sini.” Ia menepuk bantal di sebelahnya, menyuruhku mendekat.
“Kenapa aku harus mengikutimu?” gumamku, mengulum mulut.
“karena kamu istriku! Bukankah kamu mempertanyakannya? Mungkin dengan cara ini bisa menjawab semua keraguanmu.” Tan berbagi selimutnya denganku. Jujur saja, ada perasaan aneh ketika aku tidur di sebelahnya. Jantungku mulai berpacu cepat memompa darah.
Dug ... Dug ... Dug ... Dug ... Jantung pelankan suaramu ... Ssstt ...
“Cepat ceritakan, kan aku sudah mengikuti maumu!” tandasku sengaja mengalihkan perasaan yang tidak karuan.
“Hari itu tidak begitu ramai orang, sehingga aku bisa duduk di kursi bagian belakang di sebelah gadis yang sedang mendengar earphone menghadap jendela. Tidak kenal, tidak pernah bicara sebelumnya. Gadis itu menaruh kepalanya di bahuku. Kudorong kepalanya agar bersandar pada jendela, ku ulangi lagi berkali-kali tapi dia kembali bersandar lagi di bahuku, tertidur pulas. Membuat lukisan benua Antartika di jas mahalku dengan air liurnya.” Mengapa kesan pertamanya memalukan sekali? itu pasti tidak benar!
“Tidak mungkin seperti itu! Kau pasti menyontek adegan drama korea! Cobalah buat cerita yang lebih bagus lagi. Bukannya kita bekerja di kantor yang sama? Masa kita tidak mengenal ketika bertemu?”
“Dari mana kamu tahu?” Tan membuka sebagian selimutnya lalu duduk. Sedikit terkejut mendengar pertanyaanku.
“Makannya jangan coba-coba membodohiku! Selama ini kau menutupi kan kalau aku sebenarnya bekerja di perusahaanmu. Pasti supaya skandalmu di kantor tidak ketahuan. Makannya kamu menggantikan posisiku di sana dengan orang lain.”
Dia tertawa lebar lalu mengulum senyuman. Setelah itu wajahnya kembali serius. “Berapa usiamu?”
Kenapa dia bertanya usia, “tujuh belas tahun!” jawabku mengerucutkan bibir.
“Bagaimana anak kecil berusia tujuh belas tahun dapat bekerja di perusahaan besar? Jawab aku, Apa kamu bisa mengelola keuangan dan memimpin karyawan?”
Kugelengkan kepala pelan, merasa tersudutkan dengan pertanyaan Tan. “lalu, Kenapa kamu tidak memberi tahu karyawanmu kalau aku hilang ingatan?”
“Banyak rumor yang beredar setelah kecelakaan yang terjadi padamu. Banyak orang yang ingin menjatuhkan reputasiku. Aku tidak mau menambah buruk keadaan.”
“Reputasi lagi? Apa yang kamu pikirkan cuma itu?” katanya saling mencintai, bukankah dia hanya memikirkan reputasi dan kedudukannya saja.
“Wajahku adalah wajah perusahaan, reputasiku berimbas pada nama baik perusahaan. Bayangkan betapa banyak orang yang akan dirugikan karena reputasi burukku nanti.” Tan kembali meniduri bantalnya, memejamkan mata, menaruh telapak tanganku pada dahinya. “Kamu tidak akan mengerti bertapa sulitnya menjadi aku. Tutup lah telinga mu dari asumsi miring orang lain. Percaya padaku, karena aku, sumimu ...”
Benarkah aku harus mempercayainya? Tidak ... Tidak ... Dia tidak menipuku bukan? Iihh, mengapa aku ini?! Kenapa aku terperdaya dengan perkataannya.
Kuangkat telapak tanganku hati-hati, seperti nya dia sudah tidur pulas. Cepat sekali tidurnya? Apa dia sangat lelah?
“Kamu tidak akan mengerti bertapa sulitnya menjadi aku.” Ya, dia pasti lelah.
Kupandangi setiap lekuk wajahnya, dia seperti ukiran patung lilin. Kenapa wajahnya sempurna sekali. Aneh, Perasaan apa ini? kenapa hanya memandangnya saja seperti terkena sengatan listrik. Apa ini tandanya aku mulai membuka hati?
“Hoam...” tidak usah dipikirkan. Kasur nyaman ini membuatku jadi mengantuk. Sepertinya tidak apa-apa kalau aku tertidur di sini. Kuambil guling, memeluknya. Oh, ini sungguh nyaman ...