Tok
Tok
Tok
“Permisi, Tuan!”
“Ehem, Tuan Tan!”
“Hoam!” aku menguap, menggeliat kan tubuh. Kenapa Pak His memanggil Tan di kamarku, pasti dia salah kamar, biarkan saja lah. Aku masih mengantuk. Kuambil guling, kembali memeluknya.
Sebelah tanganku meraba. Mmm, sejak kapan guling tidak terasa empuk dan memiliki rambut?
“Hemm.” guling ini juga bisa bersuara.
“Tuan, ada telepon dari Ibu anda!”
“Ya.” Jawab seseorang dengan suara berat. Seseorang?!
Dia balik memelukku erat sehingga bibirku menempel pada sesuatu. Sepertinya ini bukan tekstur guling. Terasa hangat, dengan harum yang khas. Mmm ... Ap-a ya ini? Kubuka mata. Membelak, saat bibirku menempel pada d**a orang itu.
“Kyaaa!!!” refleks kakiku menendang pria itu hingga tersungkur di lantai.
BRAKKK
“Argh!” erangnya mengusap pinggang.
“Kenapa kau ada di sini?!” tanyaku sambil memegangi tubuh memastikan pakaianku masih lengkap. Mengingat-ngingat apa yang kami lakukan semalam.
“Ini kamarku!”
Kamarnya? Kulihat sekelilingku memastikan. “Oh iya aku lupa.”
“Kenapa kau memelukku! pasti kau bermaksud m***m!”
“Hehh, kamu yang memelukku! Otakmu yang kurang oksigen!”
“Aaa! Kenapa kau memelukku balik tadi!” kuusap bibir dengan kedua tangan, membersihkannya.
“Kamu pikir itu sengaja?!” teriaknya sambil menggoyangkan telunjuknya ke arahku.
“Tentu saja! Dari wajahmu saja sudah terlihat jelas!” jawabku melipat tangan pada d**a.
“Hish, mana mungkin! Kamu tahu.. jika aku mau, aku bisa saja mendapat hal yang lebih di luar sana dengan gadis lain!”
“Yaa! Dapatkan sana, dengan yang lain di luar!” aku pun beranjak dari kasur. Dia pikir dia siapa!
“Kau ini!” gumamnya. Mengertakkan gigi menahan kesal.
“Apa?!”
Kubuang wajah, melihat jam yang masih menunjukkan pukul lima. Ah, syukur lah, aku kira terlambat. Segera Kuturuni tempat tidur. Hendak membuka pintu. Namun terburu Tan yang meraih knop pintu. Dia melirikku tajam ketik pintu terbuka.
“Wlee..” kubalas dengan menjulur lidah.
Pak His terlihat terkejut, saat aku keluar kamar Tan dengan wajah cemberut. Semoga saja dia tidak berpikir yang aneh tentang kami.
Kakiku berlari kecil melewati mereka, kembali ke kamar untuk mandi, bersiap sekolah. Mengenakan seragam, lalu turun. Bertemu kembali dengan Tan di meja makan. Tanpa bicara, mata kami saling melirik lalu membuang pandangan lagi. Kenapa rasanya menjadi canggung. Kuambil segelas air putih meneguknya. Tan bangun dari kursi, tanpa menghabiskan sarapannya lebih dulu.
“Aku mau berangkat. Kamu ... Tidak ingin di antar?” tanyanya sambil melihat jam tangan. His, pertanyaan macam apa itu?!
“Enggak! aku biasa berangkat sendiri!” Jawabku yang masih merasa kesal. Dia pikir aku butuh bantuannya.
“Ya sudah kalau begitu.” Dia mengangkat dagu, membuang pandangan. Sok tampan! ih, rasanya aku ingin memukul kepalanya jika tidak ingat dia suamiku.
Tan menjinjing tasnya, hendak keluar berbarengan denganku. Ia membuka pintu yang sedang di ketuk seseorang dari luar. Seorang pemuda terkejut melihat wajah Tan dari balik pintu.
“Riu?” tanyaku, sama terkejutnya ketika melihat Riu dari balik tubuh Tan.
“Pagi, Maaf tiba-tiba datang.” Ia mengernyih memperlihatkan barisan giginya yang tersusun rapi. “Saya Riu, Kakak.” Lalu membungkukkan tubuhnya di hadapan Tan. “Mau mengajak Moon berangkat sekolah bareng.” Apa dia pikir Tan itu Kakakku? Yang benar saja.
Tan tertawa, melipat kedua tangannya di d**a. “Ya, bawa saja dia.” Jawabnya sambil melirik tajam ke arahku lalu pergi memasuki mobilnya.
“Apa Kakakmu marah?” tentu saja Riu merasa bingung melihat wajah Tan yang kaku. Bahkan terlalu bagus bila di sebut lelaki es, dia lebih beku dari itu. Manusia batu!
“Wajahnya memang selalu seperti itu, mau senang, lapar atau marah sama saja.” kutiru mimik wajah tanpa ekspresi milik Tan dan membuat Riu tertawa.
***
Jam 12:00 di toilet sekolah,
Dubb!
“Heh sini, mana uangnya!”
“Jangan Kak.”
“Cepet ambil uangnya.”
“Aakh! Ampun Kak!”
Terdengar suara berisik dari luar kubu toilet. Sepertinya ada yang gak beres, kuambil tisue dan menekan tombol flush pada toilet. Segera keluar mengecek apa yang sedang terjadi.
Kreak! Benar saja ada penindasan di sekolah ini. Siska dan teman-temannya mengelilingi adik kelas yang tidak kutahu namanya. Mendorongnya ke sudut ruangan, menggeledahi isi kantong anak perempuan itu. Mengintimidasi juga mengapit tubuhnya.
“Heh, beraninya kalian keroyokan!” kutarik gadis malang itu ke arahku. Melindunginya.
“Wah ada yang sok heroik!” kata Renata, menepuk tangannya.
“Dia lagi, sepertinya dia mau cari perhatian. Merasa hebat gitu, sudah berhasil dekat dengan cowok tampan di sekolah, terus sekarang sok jadi pahlawan buat ambil simpati guru baru di sekolah.” Siska melirik teman-temannya. “Eksekusi cepat!” menyuruh mereka mengerjaiku.
Kudorong tubuh tiga orang di hadapan, menerobos mereka untuk mendekati Siska. Menarik kerah seragamnya. “Jangan macam-macam ya! Kamu pikir aku gak bisa melawan!”
Kudorong kencang tubuh Siska keluar toilet. Sedangkan tiga temannya berusaha menarik tanganku. Ya, mereka berhasil memegang ke dua tanganku erat. Lalu Siska mendekat, menampar wajahku.
Plak!
Mataku membelak lebar, “Kurang ajar!”
Berani sekali dia! Kucoba untuk memberontak namun tenaga tiga teman Siska lebih menguasai tubuhku. Baiklah tidak bisa main tangan sepertinya, kita bermain dengan cara yang lain. Kubungkukkan tubuh untuk mengadukan kepala belakangku pada kepala salah satu teman Siska.
“Hiah!”
Dug!
“Argh”
Salah satu temannya melepaskan tanganku, memegangi hidungnya yang terasa sakit. Sehingga tinggal dua orang lagi yang lebih mudah untukku lawan. Mendorong mereka sampai terjatuh. Setelah ketiga temannya lengah, kutarik rambut Siska. Lalu Siska kembali menyerang hingga terjadi serang menyerang di antara kami.
Selang beberapa detik teman-teman Siska menghilang saat aku sedang memiting leher gadis itu. Tiba-tiba saja dia menangis. Membuatku melepaskannya. Ia menjatuhkan diri ke lantai. Menundukkan wajah, dan melukai pipi dengan kukunya sendiri. Aneh sekali.
“Eh, apa yang kamu lakukan!” seruku melihat Siska yang menangis berlebihan.
“Huuu uuu ... Jangan Moon! Jangan!” pekiknya, membuatku bingung.
Dia terus berteriak histeris hingga beberapa siswa berdatangan melihat kami, membantu Siska berdiri. Terdengar derap langkah seseorang yang membuat siswa lain meminggir memberi jalan.
“Ada apa ini?!” Bin datang menghampiri Siska yang sedang memegang pipinya. Dia tidak menjawab pertanyaan Bin, terus menangis sesenggukan.
“Saya lihat tadi Moon mencakar Siska dan mendorongnya sampai jatuh Kak.” Jawab Renata, padahal dia tadi ada di tempat kejadian dan menyerang lebih dulu.
Bin menatapku, memijit keningnya kemudian. “Apa Benar Moon?” tanyanya.
“Aku gak melakukannya, Dia yang mulai lebih dulu!”
“Ikut saya ke kantor sekarang!” wajah Bin tiba-tiba saja berubah serius.
Kenapa dia, apa dia tidak percaya padaku? Kuikuti Bin dari belakang memasuki kantor sekolah. Argh! Ini menyebalkan!
***
Wajahku tertunduk begitu malu. Bagaimana tidak malu, pihak sekolah menelepon Tan dan mengadukkan semua hal yang sebetulnya tidak benar kepadanya. Kututupi wajahku dengan buku, sesekali melirik Tan yang begitu tenang memberi penjelasan pada guru Bimbingan Konseling.
"Sebaiknya jangan di beri hukuman skorsing. Itu tidak akan membuatnya jera. Perlakukan saja Moon seperti siswi biasa." His ... ini orang, kenapa dia yang menawar.
"Baiklah akan kami beri hukuman sama seperti murid lainnya, Pak."
"Maafkan atas kegaduhan yang sudah Moon buat, saya pastikan dia tidak akan mengulanginya lagi." Tan berdiri membungkukkan tubuhnya meminta maaf.
Meminta Maaf karena aku? mengapa dia bisa begitu. Bukankah dia tidak terbiasa melakukannya? Apa sekarang dia sedang merendahkan dirinya?
Tan menarik tanganku keluar ruangan konseling. Menarik telingaku keras-keras.
“Sakit!” kulepaskan tangan Tan dari telinga.
“Ini tak seberapa! Setelah keributan yang kamu buat.”
“Aku tidak salah! Mereka yang menjebakku.”
“Apa keuntungan mereka menjebakmu? Bagaimana aku bisa percaya? Lihat catatan keterlambatanmu di sekolah saja banyak! Belum lagi yang bolos!”
“Aku bolos kan karena gerbangnya di kunci.”
“Masih menjawab saja!” Tan menarik telingaku kembali.
“A-ah!”
“Kamu sudah merugikan waktuku hari ini! ada rapat penting yang harus kudatangi.” Ia melepaskan tangannya. Mengetuk keningku. “Aku harap ini terakhir kalinya! Jika tidak, lebih baik kamu berhenti sekolah!” gertaknya sambil berlalu.
Kenapa tidak ada yang percaya padaku. Bahkan adik kelas yang kubantu malah berbalik membantu kebohongan Siska. Apa memang mereka sengaja menjebakku? Uwh, belum lagi hukuman di sekolah yang harus ku jalani. Bagaimana bisa aku membersihkan WC seorang diri. Menjijikan sekali mengingat kotoran yang berkerak itu bisa menempel di tanganku yang indah ini. Hiii!
“Kenapa masih di sini?!” tanya seseorang berdiri di ambang pintu, mengangkat sebelah alisnya. “Cepat kerjakan hukumannya.” Hoh, Bin terlihat galak kali ini. Jelas saja dia sekarang guru. Sepertinya aku harus terbiasa dengan Bin yang seperti ini.
“Ba-ik.” Aku berjalan lesu sambil menoleh, tidak menyangka lelaki itu berjalan di sebelahku. “Ken-apa ...?” tanyaku hati-hati, mengapa dia mengikutiku.
“Jam pelajaran olahraga sudah habis, jadi aku yang di beri tugas mengawasi hukumanmu.”
Benarkah? Bukankah ini sangat menguntungkan untukmu Moon? Kyaa! Akhirnya aku punya waktu berdekatan dengan Bin! Senyumku terkulum, tidak jadi merasa sedih. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku.